Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bilah Pedang yang Paling Tajam


__ADS_3

"Ya ampun, Kamu selalu saja mementingkan pekerjaanmu," keluh Ratu Clara sedikit kecewa, tetapi sama sekali tidak ada keberatan di sana, "An, antarkan Putri Mahkota."


"Baiklah," Antonio menurut. Ia menyusul Alice yang sudah mulai berjalan. Saat sampai di sampingnya, perasaan canggung kembali menyelimuti. Entah mengapa, gadis itu memiliki wibawa keanggunan yang kuat. Dirinya memang pantas menyandang gelar putri mahkota.


Sampai setengah perjalanan, hawa kecanggungan itu tidak hilang juga. Apalagi terlihat Anna yang sangat mengawasi gerak-gerik Antonio. Tatapannya yang mengerikan di hari itu masih belum hilang dari benak si pangeran muda. Dia merutuki diri dalam hati karena tak mampu melawannya.


"An, Kamu harus jadi raja yang bijak dan kuat," Alice tiba-tiba memulai pembicaraan. Jaraknya dengan Antonio selebar satu meter, sementara di kanannya Anna berjarak setengah meter.


"Kuharap kedamaian selalu meliputi dunia ini agar tidak perlu ada pertumpahan darah," Alice yang terus bercakap tanpa sedikit pun menoleh kepada tunangannya, "Karena itu Kamu harus tumbuh baik dan kuat. Dengan begitu, aku bisa bernapas lega saat bersamamu."


"Tentu aku akan menjadi lebih kuat," Antonio menatap tangannya yang terkepal sambil terus berjalan. Alice tersenyum mendengarnya. Tingginya tidak lebih dari pundak Antonio. Ia juga gadis paling pendek sekaligus paling muda di Istana Mutiara. Akan tetapi, tanggung jawab yang dipanggulnya paling besar di antara anak-anak seusianya.


"Kamu juga jangan sampai lupa diri," kali ini Antonio yang memberi nasihat. Pasangan itu sangat kaku dan terkesan lebih patriotis ketimbang romantis. "Raja dan ratu sudah sering bilang, jangan terlalu memaksakan dirimu apalagi di usiamu yang masih belia ini."


Antonio ingin membelai kepala tunangannya tetapi urung karena jelas gadis itu akan menunjukkan ketidaksukaannya lagi. Apalagi Anna sudah menatapnya dengan tajam. Ia tidak bisa apa-apa selain menjaga jarak seperti ini.


"Aku hanya berusaha yang terbaik," begitulah Alice menjawab seperti biasanya. Antonio mengerutkan kening nyaris tidak percaya bahwa putri yang rapuh dan kecil di sampingnya itu akan mengindahkan nasihatnya.


"Terima kasih sudah mengantar, An," tanpa terasa, Alice sudah sampai di tempat kereta kencananya menunggu. Ia berpamitan kepada tunangannya dan segera pergi meninggalkan Istana Ruby.


Antonio menghembuskan napasnya lega. Hari yang dikiranya sulit telah berlalu. Masalahnya dengan Alice sudah selesai dengan lancar. Tinggal memperbaiki hubungannya dengan Charlotte. Masalahnya, ia tak tahu harus berbuat apa karena tiba-tiba gadis yang menghindarinya.

__ADS_1


"Yo, Yang Mulia. Anda sudah tiba," sambut seorang pemuda berambut cokelat bermata biru gelap. Tangan kanannya yang menghunuskan sebuah pedang melambai-lambai di atas kepala.


"Bocah kurang ajar! Jangan alihkan perhatianmu," bentak seorang anak seusianya yang tengah mengayunkan pedang. Solid dengan santai membelokkan jalur serangan pedang itu. Alhasil, pedang itu hanya menghantam tanah yang kosong.


"Kita cukupkan dulu, Charles," Solid menyarungkan pedangnya, "Yang Mulia Putra Mahkota sudah datang."


"Selamat datang, Yang Mulia," anak bernama Charles itu memberi hormat kepada Antonio. Sikapnya lebih sopan daripada Solid. Ia adalah putra Marques von Martinez yang menjaga wilayah perbatasan Selatan, satu-satunya wilayah yang memiliki pantai dan laut. Di sana pula tempat Kota Marianna berada. Bisa dibilang, Viscount Illumity yang merupakan penguasa kota itu merupakan kepanjangan tangan dari Marques von Martinez.


"Jadi, bagaimana pertemuanmu dengan tuan putri?" Solid tanpa tahu malu bertanya. Charles jelas langsung menyikut lengannya agar bersikap lebih sopan. Antonio tersenyum tidak keberatan dan menceritakan pertemuannya.


"Eh? Kurasa tuan putri terlalu bermurah hati," komentar Solid begitu selesai mendengarnya. Saat ini mereka beristirahat di bawah sebuah pohon besar yang rindang dekat lapangan latih tanding. "Harusnya beliau bisa menarik ulur lebih lama."


"Alice-ku tidak seperti itu," sanggah Antonio. Ia melotot tajam kepada sahabat sekaligus pengawalnya yang kurang ajar itu. "Dia hanya dingin dan kaku."


"Charl, Laksamana von Martinez sedang memimpin armada menuju Pelabuhan Marianna, bukan?" Antonio lebih tertarik dengan upaya pembebasan Kota Marianna daripada meladeni gurauan Solid.


Charles yang tengah berbaring santai membuka sebelah matanya. Ia membenarkan ucapan Antonio saat bangkit duduk. "Kata kakak, ayah sangat terkejut saat mendengar penguasa kota pelabuhan itu berganti. Padahal ia yang gubernur wilayah Selatan tidak menyetujuinya sama sekali."


"Pergantian penguasa itu telah disadari oleh para saudagar asing," Charles menjelaskan dampak yang diterima wilayahnya karena ulah para perompak, "Mereka mengalihkan perdagangan mereka melalui Pelabuhan Pusat di Martinez. Karena meningkatnya jumlah pengunjung itu, ayahku jadi lengah dan tidak menyadari situasi di Kota Marianna."


"Untung Sang Putri Musim Dingin dapat melirik kasus berbahaya itu," Solid ikut menimbrung setelah gagal menggoda Antonio, "Kalau terlalu lama dibiarkan, bisa-bisa wilayah Selatan dikuasai seluruhnya oleh para penjahat."

__ADS_1


"Itu tak akan terjadi," Charles menjawab dingin. Pernyataan Solid itu sama saja meremehkan wilayahnya. Yah, walau itu tak benar-benar salah.


"Itu karena ada rakyat Kota Marianna yang berani melaporkannya kepada Istana Mutiara," jelas Antonio. Sebagai seorang pangeran, ia wajib mengetahui arus politik di kerajaannya. Jadi, ia mendengar banyak mengenai kasus yang diangkat oleh Alice-nya itu.


"Kudengar ia adalah kerabat dekat seorang gadis cendekia," Charles juga sudah mendengar kabarnya, "Sekarang orang itu menjadi orang kepercayaan di Keluarga van Ryvat. Mungkin aku harus berterima kasih padanya kapan-kapan."


"Ya, itu harus," Solid menekankan dengan senyum santainya yang khas, "Orang itu sudah menyelamatkan wilayah Selatan secara tidak langsung."


"Hai, bagaimana menurut Kalian jika kita harus maju ke medan perang suatu saat nanti?" Antonio tiba-tiba memikirkan hal yang tidak diinginkan oleh tunangannya tadi. Pertumpahan darah. Itu adalah yang tidak pernah diinginkan tetapi tetap saja terjadi.


Solid dan Charles terdiam sejenak. Mereka tampak berpikir. Dengan cetak optimis di wajahnya yang tampan, Solid menjawab, "Tentu saja, kita harus maju dan tidak boleh menyerah."


Charles mengangguk setuju. Ia punya kehormatan yang tinggi dalam jiwa kesatrianya. Jadi, ia sama sekali tidak boleh takut dengan yang namanya perang. Dalam ekspedisi kali ini pun, sebenarnya ia ingin ikut dengan ayahnya melawan para perompak itu, tetapi umurnya masih belum cukup untuk itu.


"Bagaimana kalau yang lawan kita adalah orang terdekat atau yang kita sayangi?" entah mengapa Antonio menanyakan hal itu. Pertanyaan itu muncul tiba-tiba di benaknya.


Solid dan Charles kembali terdiam. Ini pertanyaan yang cukup sulit. Kali ini, Charles yang duluan mengutarakan pendapatnya, "Aku akan berusaha bernegosiasi dan berdamai dengannya. Jika ia adalah orang yang kusayangi seperti keluarga dan saudara-saudaraku, maka aku akan mengalah jika itu dapat membuat kami berdamai."


"Intinya, Kamu bukan yang ambisius ya, Charl," komentar Solid, "Yah, aku juga sama. Lagi pula, hal-hal seperti politik itu sangat rumit dan mengesalkan. Aku sebagai anak kedua tidak tertarik akan hal itu. Biar kakakku saja yang kerepotan. Lalu, Yang Mulia."


Solid tidak seperti biasa menunjukkan sopan santunnya pada Antonio. Ia berlutut di hadapan pangeran muda itu dan mengatakan, "Jangan risau. Jika suatu saat nanti Kamu harus menghunuskan pedang, maka aku akan menjadi bilah pedangmu yang paling tajam. Ini adalah sumpahku."

__ADS_1


Antonio pun tersenyum dan menerima sumpahnya dengan senang hati. Jiwa muda sang pangeran tentu tidak akan menolak kesetiaan orang-orangnya.


__ADS_2