
Derrick mengayunkan tangannya dan menerbangkan Ayya ke langit. Dengan cepat, ia naik ke kuda dan memacunya untuk berlari. Dua orang kesatria pengawal mengikutinya dari belakang. Sisa kesatria lainnya mengawal kereta kuda yang ditumpangi Alice, Akilla, dan Anna.
“Madam, ada apa?” tanya Akilla spontan. Ia sudah sangat khawatir sejak tadi. Alice pun tidak berbeda jauh dengannya. Di raut wajahnya yang dingin, terkandung rona selidik yang menunggu penjelasan Anna.
“Maaf, lebih baik kalian tidak tahu,” Anna memalingkan muka. Biasanya, ia tak akan seemosional ini. Kepala Agen Saville itu juga sudah beberapa kali menerima laporan kegagalan misi. Bahkan misi yang menelan korban. Namun, ini pertama kalinya ia merasa sangat sedih dan gelisah mendengarnya.
“Nggak masalah kalau Kakak nggak mau bilang,” terdengar nada kecewa pada ucapan Alice. Mata merahnya tak melepaskan tatapan selidik. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ada orang lain yang bisa ia interogasi setelah ini. Ia pun berkata, “Kami akan mampir ke Kediaman vi Alverio dulu. Jadi, Kakak bisa pulang duluan ke Istana Mutiara.”
“Terima Kasih, Nona,” Anna menerimanya tanpa curiga. Ia memang ingin segera berkomunikasi dengan markas cabang yang bersangkutan. Kantornya di Istana Mutiara adalah tempat yang paling tepat untuk itu. Ia bisa lebih leluasa berkomunikasi bahkan dengan pihak pusat di Saville.
“Sama-sama, aku juga mau cepat-cepat ketemu ayah, kok,” Alice tersenyum imut bak peri yang manis. Raut selidiknya yang dingin hilang seketika dengan senyuman itu. Anna pun membalas dengan sulaman senyum yang indah di bibirnya. Ia merasa terhibur dengan kebahagiaan gadis itu.
Tanpa terasa, mereka sampai di Kediaman vi Alverio. Alice dan Akilla bergegas turun untuk menjenguk tuan duke yang masih terbaring di kasur atas perintah putrinya. Mereka melambaikan tangan pada Anna yang melanjutkan perjalanan ke Istana Mutiara.
“Ayah sudah sembuh?” tanya Alice di kamar pribadi Duke vi Alverio. Gadis yang sangat perhatian itu duduk di samping ranjang sang ayah. Ia membawakan teh pahit yang diseduhnya sendiri. Mata tajamnya memperhatikan secarik lipatan aneh di selimut ayahnya. Senyumnya yang tersungging menandakan bahwa ia tahu kalau Duke vi Alverio diam-diam bekerja saat gadis itu pergi.
“Ya, ayah sudah sangat sembuh,” Duke vi Alverio menunjukkan senyum yang sama. Ia tidak mau terlalu lama ditahan di kamar begini. Namun, ia tak bisa melawan larangan Alice yang terus memaksa. Pria paruh baya yang nyaris masuk usia senja itu berusaha bernegosiasi dengan putrinya. Sayangnya ….
“Uhuk!!!”
__ADS_1
“Ayah masih sakit,” Alice berseru nyaring. Raut mukanya sekarang terlihat sebal. Pipinya menggembung besar, lalu kembali menyusut begitu Alice meniupnya. Kedua tangannya disatukan ke dada. Putri kecil itu langsung menuntut ayahnya, “Berikan kertas-kertas itu! Biar Kak Derrick yang mengerjakannya.”
“A, Alice …,” Duke vi Alverio masih berusaha membujuk, “Ayah benar-benar sudah sembuh. Ayah mungkin akan bertambah sakit kalau terus berbaring di kasur.”
Alice terdiam. Ia mencari akal untuk menyangkalnya. Wajahnya sangat serius mengusut cara agar ayahnya tetap beristirahat. Saking lamanya ia berpikir, Duke vi Alverio sampai menego lagi, “Sudahlah. Ayah sudah terlalu banyak beristirahat. Kakakmu juga sudah bisa kembali ke duchy sekarang.”
“Ayah mengusir kakak?!” Alice spontan berteriak. Rona mukanya menunjukkan ekspresi tidak percaya. Duke vi Alverio gelagapan melihat itu, sementara Akilla tertawa kecil, geli dengan keimutan Alice saat mengisi waktu dengan ayahnya.
“Ti, tidak, kamu bisa bermain dengannya lebih lama jika mau,” sangkal Duke vi Alverio buru-buru.
Alice malah semakin bermuka masam. Cemberut di wajahnya terlihat jelas. Ia kembali protes dengan suara nyaring, “Aku sudah sering bermain dengan kakak. Ayah yang harus menghabiskan waktu dengannya!”
“Terima kasih, Ayah,” Alice mengecup pipi ayahnya, kemudian langsung pamit untuk pergi, “Aku akan ke Pusat Serikat Dagang Saville setelah ini. Dadah, Ayah!”
“Apa?! Jangan main terlalu lama. Cepat pulang sebelum gelap,” pesan Duke vi Alverio sebelum Alice dan Akilla menghilang ditelan pintu. Putri kecil itu langsung menjawab, “Okey!”
***
“Madam Maria, apa kabar?” sapaan Alice membuat Maria yang sedang pusing tujuh keliling amat terkejut. Ruang kerjanya yang sedang sangat berantakan jadi terekspos di hadapan Putri Mahkota el Vierum itu. Dokumen-dokumen dari berbagai cabang di kota lainnya menumpuk setinggi gunung. Berbagai alat tulis berserakan di lantai. Suasananya pengap seperti gua sempit yang ditumbuhi tanaman liar. Direktur Pusat Serikat Dagang Saville itu hanya dapat menghela napas dan merutuki kemalasannya dalam hati. Namun, ia tetap senang karena kehadiran putri kecil itu menjadi penyejuk bagi hatinya.
__ADS_1
“Putri Alice, Nona Akilla, selamat datang. Maaf, ruang kerjaku sangat berantakan sekarang,” Maria langsung menuntun kedua tamunya untuk duduk di sofa, “Kenapa tidak memberi kabar dulu? Aku bisa membersihkannya sedikit kalau kalian bilang akan datang.”
“Kakak terlalu heboh setiap kali aku berkunjung,” Alice menjawab asal. Namun, itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Maria selalu membuat ribut setiap kali mitra imutnya datang. Wanita karir yang masih melajang itu mungkin sudah mengidamkan seorang anak. Karena itu, Alice berkomentar sekaligus memberi saran, “Kenapa Kakak tidak segera menikah? Serahkan saja serikat ini pada junior Kakak yang paling ahli.”
Ucapan Alice amat menusuk di telinga Maria. Wanita berjilbab rajut itu tersenyum getir. Ia pun heran karena sampai detik ini masih belum ada yang melamarnya. Selama bekerja di Pusat Serikat Dagang Saville ini, ia tinggal di asrama besar yang dibangun tak jauh dari gedung serikat. Pekerjaannya juga selalu menumpuk. Karena itu, hidupnya tak lepas dari kantor dan asrama. Ia pun menjawab komentar Alice dengan bercanda, “Haha … aku bukan gadis yang populer. Mungkin masih butuh waktu lama sampai seseorang melamarku.”
“Benarkah? Madam kan orang nomor satu di sini?” Akilla membalas spontan. Kata-katanya membuat Maria gelagapan. Apalagi tanggapan Alice yang didengarnya kemudian, “Kakak paling banyak dibicarakan di sini. Mana mungkin Kakak tidak populer. Aku akan meminta Kak Anna untuk memberi Kakak libur kalau mau. Mungkin kakak bisa berjodoh setelah itu. Ataukah ada orang yang sedang Kakak tunggu?”
“Tu, Tuan Putri tidak perlu repot-repot. Saya lebih suka bekerja di sini,” Maria membalas cepat tanpa menjawab pertanyaan Alice. Ia malah segera balik bertanya untuk mengalihkan perhatian, “Tuan Putri sendiri, sebenarnya ada perihal apa datang tiba-tiba menemuni saya?”
“Kak Anna,” Alice langsung menjawab, pengalihan Maria berjalan lancar, “Dia tahu-tahu sangat sedih pagi ini. Apa Kakak tahu sesuatu?”
“Anna? Apa dia sesedih itu mendengar laporan pagi ini?” Maria tanpa sadar keceplosan, “Wajar sih, adiknya terluka parah.”
“Apa?! Kak Anna kan anak tunggal?” Alice merasa janggal.
Maria menepuk jidat seakan merasa bersalah. Padahal ia benar-benar telah melakukan kesalahan besar yang lebih fatal dari itu. Ia pun meluruskannya, “Adik sepupunya. Dia bekerja di cabang Kota Wina. Anak itu sedang menjalani perawatan serius di rumah sakit serikat di sana.”
“Sebenarnya, misi apa yang dia ambil?” pertanyaan Alice pun membuat Maria tersadar dari kesilapannya dan mengakhiri sesi interogasi singkat siang itu.
__ADS_1