
"Aku tidak menyangka dia dapat keluar dari jangkauan kita," ucap Ziyad dengan teropong yang masih terpasang di dapan kedua matanya, "Aku yakin bocah itu berlari ke arah sana."
"Sudahlah, itu hanya misi cadangan. Ayo fokus pada misi utama saja," Aly memasang senapan runduknya di tanah, "Ini lumayan untuk olahraga. Lagian sudah lama kita tidak muncul."
"Yah, sejak misi di Arun, kita hanya bekerja sebagai pegawai di Serikat Dagang Saville," Ziyad setuju. Mereka sedang mengintai di atas bukit sekarang. Target mereka berada di satu setengah kilometer jauhnya, tepatnya di tengah hutan para cenayang.
"Wow, para kesatria itu sudah bergerak," komentar Aly saat melihat rombongan Calastine yang memulai pengepungan, "Kita hanya memastikan agar tidak ada satu cenayang pun yang kabur bukan?"
"Yah, begitulah. Kita akan menangkap mereka yang lolos dari para kesatria," Ziyad membenarkan. Agen berkacamata itu pun menyalakan gawainya. Ia mengatakan beberapa kode komunikasi dengannya. Dalam sekejap, sinyal saling terpaut, "Lapor, Kilat. Di sini Mata Pertama. Para kesatria telah bergerak. Persiapkan komando selanjutnya."
"Kilat di sini. Laporan diterima. Lanjutkan pengintaian!" Murad di seberang membalas. Seperti biasa, ia berperan komandan agen penyerbu Biro Rahasia.Ia dan pasukannya bersiaga di bagian lain hutan, bagian yang kemungkinan dapat menjadi jalur kabur bagi para penyihir guna-guna itu.
"Hai, mereka sudah saling bertemu," Aly melaporkan pengamatannya. Terlihat Calastine yang sedang berbincang dengan seorang yang mengenakan jubah serba gelap. Ia terlihat sedang tawar menawar. Aly pun iseng bertanya, "Kira-kira, apa yang mereka bicarakan, ya?"
"Nyalakan saja penyadap di zirah kesatria itu," usul Ziyad mengingatkan.
"Benar juga," Aly pun menekan gawainya. Dengungan nyaring terdengar memekikkan telinga. Dengan sedikit penyesuaian, Aly menjernihkan suaranya.
"Ini peringatan terakhir," suara Calastine terdengar tegas, "Ikutlah bersama kami dengan tenang. Jika Anda terbukti bukan bagian dari para cenayang itu, maka Anda akan dibebaskan."
"Apa maksudmu? Sudah kubilang aku tidak bersalah!" bentak lawannya yang bersuara parau, "Aku sudah lama hidup di sini. Kamu ingin mengusirku, hah?"
"Nyonya, kami hanya ingin melakukan pemeriksaan. Itu tidak akan lama. Keselamatan Anda akan kami jamin," bujuk Calastine untuk terakhir kalinya.
"Enak saja! Ini rumahku," seru wanita itu bersikeras.
"Komandan, sepertinya wanita kurang akal," salah seorang kesatria berpendapat. Wanita itu pun menyeringai saat Calastine dan pasukan kesatrianya tengah sibuk berdiskusi. Ia lalu menghentakkan tongkatnya ke tanah.
Seketika itu juga, belasan lingkaran sihir terbentuk di udara. Setiap lingkaran menyemburkan api yang meledak saat menabrak sesuatu. Para kesatria dengan sigap menghindar, tapi tak sedikit pula terluka.
Gawai Aly mendengung. Ia spontan melepaskannya agar tidak memekakkan telinga. Distabilkannya alat penerima gelombang itu. Ia pun berdecak kesal dan kembali memakai teropongnya.
__ADS_1
"Lihat itu! Bukankah itu sungguh brutal?" seru Aly di tempat pengintaiannya. Ia merasa seakan melihat film fantasi yang nyata. Ia pun berkomentar, "Sihir itu sungguh mengerikan. Itu mungkin setara dengan granat medium."
"Tetap fokus! Amati sekitar dengan teliti. Jangan sampai ada satu pun yang kabur. Kita harus menangkapnya hidup-hidup kali ini," tegas Ziyad. Si agen berkacamata itu memiliki tatapan yang tajam dan misterius. Banyak pelanggan cenderung menghindarinya saat ia bekerja sebagai pegawai biasa di serikat.
"Mereka benar-benar para cenayang busuk itu!" seru seorang kesatria. Suaranya terdengar sangat marah di gawai Aly. Agen itu pun dengan santai menikmatinya seperti mendengar sebuah audio berisi cerita dongeng sambil tetap mengawasi.
"Cabut pedang Kalian dan tangkap siapa pun yang melawan! Jangan biarkan mereka membuat kekacauan di Kerajaan el Vierum lagi," seru Calastine menyerukan perlawanan.
Berbagai sihir datang dari segala arah. Para kesatria pun berusaha untuk menahannya. Mereka mati-matian bertahan dan menyerang.
"Hai, apa kita akan terus menonton saja?" tanya Aly dengan iba. Sejak tadi, ia tak dapat melepas teropong dari matanya saking serunya. Ia mengamati pertarungan dengan cermat.
"Fokus saja pada misi. Mereka pasti bisa mengatasinya," ujar Ziyad santai. Ia juga mengenakan sebuah teropong. "Lagi pula, mereka akan segera mendapat bantuan dari pihak mereka sendiri."
Dilihatnya rombongan kesatria lain yang datang dari tiap penjuru mata angin. Mereka melangkah dengan segera begitu mendengar sinyal darurat dari Calastine. Keadaan pun mulai berbalik dalam waktu singkat.
Satu per satu cenayang yang bersembunyi di pohon berjatuhan. Mereka terkena panah yang entah sejak kapan bersarang di dadanya. Matilah mereka dengan seketika.
"Target ditemukan!" seru Aly begitu melihat wajah seorang penyihir yang kabur menjauh dari pertarungan. Dia pun menembak kakinya di momentum yang tepat.
"Akh... akh...," jerit penyihir itu. Matanya berair. Rasa sakit telah membuatnya kesakitan sekaligus ketakutan. Ia pun melihat seorang berlari ke arahnya. Orang itu mengenakan jubah, jadi mungkin sekutunya.
Bruk!
Orang itu jatuh tepat di depan penyihir yang ditembak Aly. Punggungnya dipenuhi anak panah. Luka sayatan dan lebam memenuhi seluruh tubuhnya. Ia pun menghembuskan napas terakhirnya dengan amat tersiksa.
"Mo... Momo!?" teriak Bibu histeris. Kawannya telah mati tepat di hadapannya. Tak hanya itu, hutan tempatnya bernaung juga hampir lenyap. Api dari para penyihir telah membuatnya terbakar. Ia tidak akan lagi punya tempat untuk kembali.
"Apa itu target kita yang lainnya?" tanya Ziyad yang sudah menyiapkan senapannya.
"Kurasa begitu, tapi dia sudah mati," balas Aly. Ia pun menghela napas, "Apa mau dikata, kita tidak boleh membiarkan yang tersisa bunuh diri."
__ADS_1
"Apa tidak ada lagi yang berhasil kabur dari Kesatria el Vierum?" Ziyad memperhatikan sekitar area pertarungan. Keributan masih tejadi di sana. Para cenayang kalah jumlah. Banyak dari mereka yang sudah tumbang. Dari para kesatria pun sudah banyak yang terluka.
"Ada serombongan yang berhasil kabur ke selatan," lapor Aly, "Beri tahu Murad untuk bersiap!"
"Kilat, sekumpulan target berlari ke arahmu. Bersiaplah!" ucap Ziyad dengan gawainya. Dalam sekejap, laporannya diterima Murad. Ia pun menjawab, "Oke, dimengerti."
Tak lama setelah laporan Ziyad diterima, rombongan penyihir yang kabur benar-benar lewat. Mereka berlari dengan tergesa-gesa untuk minggat dari para Kesatria el Vierum. Beruntung tak ada yang mengejar, sayangi mereka telah dijemput oleh orang-orang yang tidak pernah mereka duga.
Entah bagaimana kesadaran mereka dapat menghilang begitu saja. Satu per satu mereka tersungkur di tanah. Tak ada lagi yang tersisa.
Aly dan Ziyad tak sempat melaporkan keberadaan Bibu. Cenayang malang itu pun ditangkap oleh para kesatria. Ia satu-satunya yang tersisa dari Asosiasi Para Cenayang.
...***...
"Ini bekas sihir," ujar Dorothy saat memeriksa bekas markas para cenayang, "Mereka menggunakan sihir besar untuk menghancurkan jejak mereka di sini dan melarikan diri."
Kondisi markas itu sangat berantakan. Bangunan-bangunan kayu yang awalnya berdiri menjadi rata dengan tanah. Pohon-pohon di sekitarnya tumbang. Bekas kebakaran terlihat di mana-mana.
"Aku sudah menunggu di markas cadangan mereka selama satu malam, tapi tak ada satu pun yang datang," gerutu Dorothy, "Sungguh tidak seru. Apa mereka tak mau menyambutku? Aku adalah Ratu Dunia Bawah. Huh, dasar!"
Tak butuh waktu lama bagi Dorothy sampai ia menemukan bekas pelarian para penyihir. Ia menyeringai kejam seperti biasa. Tawanya yang seram menghantui hutan yang misterius itu. Ia pun bergumam, "Huh, mereka ingin bermain-main denganku. Akan kulayani permainan mereka. Awas saja. Akan kubalik setiap markas-markas Kalian nanti."
Akan tetapi, Dorothy tak pernah dapat menemukan mereka. Jejak para penyihir itu hilang di selatan hutan. Nenek sihir tua itu pun dengan kesal mengomel, "Kurang ajar! Berani-beraninya mereka mempermainkanku. Jangan-jangan mereka lewat di jalur lainnya? Awas saja Kalian."
"Hei, ternyata ada yang tersisa dari mereka," Aly memeriksa layar pengintai di Markas Komando Biro Rahasia cabang Aurelis. Kamera tersembunyi dipasang di beberapa sudut pada hutan itu. Mereka menggunakannya untuk jaga-jaga.
"Mana?" Murad menyahut. Dilihatnya seorang wanita di layar pengintai. Ia pun segera mengenali wajah wanita itu. "Dia Dorothy Magansei!? Mantan penyihir dari Menara Penyihir yang meracuni Duchess Evianna."
"Apa!?" Aly kebingungan. Ia menoleh ke Murad yang menampakkan amarah. Sosok petinggi itu pun segera memberi perintah, "Jangan sampai dia kabur! Kita harus segera menangkapnya."
"Anu..., tapi dia sudah pergi," lapor Aly yang amat terkejut saat melihat Dorothy sudah tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
"Dia pasti masih di sekitar hutan," Murad bersikeras, "Kerahkan Tim Pemburu!"
"Siap!" para agen yang berada di ruang pengintaian dengan tegas menerimanya. Tim Pemburu benar-benar dikerahkan. Akan tetapi, mereka tak pernah dapat menemukannya.