
"Bagus, Kamu tinggal menariknya," Marchioness Rubia mengawasi langsung pelatihan panah para putri cendekia. Sekarang adalah giliran Alice untuk mencoba.
"Ketiga jarimu cukup mengaitnya, tidak perlu digenggam," koreksi Marchioness Rubia. Tangan Alice gemetar menahan gaya pegas tali busur. Walaupun panah itu didesain untuk anak seusianya, itu masih saja terasa berat.
Alice tak kuat lagi menahannya. Ia pun spontan melepas jemarinya dari tali busur. Anak panah melesat jauh dari sasaran. Tali busur bahkan menyabet lengan kiri Alice sampai membuatnya merintih kesakitan, tapi ia bisa bertahan untuk tidak berteriak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aria. Ia segera mengecek lengan bawah Alice yang terkena tali busur itu. Kulitnya membiru lebam. Itu pasti sakit sekali.
"Istirahatlah lebih dulu, tabib akan segera datang," Marchioness Rubia mendekat. Ia mengamati lebam di lengan Alice. "Apa Kamu masih ingin belajar memanah? Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi seperti bibimu."
"Aku mau. Aku pasti bisa seperti bibi," Alice tidak kapok. Hatinya sudah teguh untuk mulai mempelajari ilmu militer, beladiri, dan seni-seni bersenjata. Sejauh ini, yang ia bisa adalah mengendalikan belati sesuai ajaran Anna.
"Kamu pantang menyerah, ya. Mirip seperti dia," puji Marchioness Rubia. Alice bisa menebak, pasti yang dimaksud sang nenek adalah bibinya, Putri Elianna.
"Aria, sekarang giliranmu," Marchioness Rubia mengalihkan pandangannya ke gadis berambut perak itu.
Aria mengangguk. Rambutnya dikucir kuda. Ia menarik anak panah pada busur dengan mantap. Ekor anak panah itu tepat berada di bawah matanya. Ia terdiam sejenak untuk mengincar sasaran. Tanpa tarikan napas, ia melepas anak panah itu hingga melesat tepat ke sasaran.
Para gadis cendekia bertepuk tangan. Anna dan Florence juga. Marchioness Rubia tersenyum puas, "Seperti yang diharapkan dari anak-anak Keluarga de Ernest. Kamu putri yang berbakat."
"Terima kasih, Nyonya," balas Aria sopan.
Selanjutnya giliran Rosemary. Dia bisa mengatasi busur dan anak panah itu, tapi akurasinya tidak sehebat Aria. Akilla juga menunjukkan hasil yang lumayan. Hanya Mainne yang butuh pembiasaan seperti hal Alice. Ia lebih suka berkutat dengan tulisan-tulisan dari pada senjata-senjata mengerikan itu.
Para gadis cendekia bermain panahan sampai siang. Anna dan Florence juga ikut bergabung. Tembakan Anna selalu tepat sasaran, tidak kalah dengan Aria, sedangkan kemampuan Florence sama seperti Rosemary.
"Jari-jariku jadi sakit," keluh Akilla. Ia menatap jari-jemarinya yang memerah. Rasanya perih. Itu biasa terjadi saat bermain panahan, apalagi bagi para pemula.
Alice sudah beristirahat sejak tadi, jadi sakitnya sudah tidak terasa. Mainne juga sama. Keduanya minum teh bersama Marchioness Rubia.
__ADS_1
"Bagaimana kabar An?" tanya Marchioness Rubia membuka percakapan. Walaupun bukan cucu sedarah, pangeran muda itu tetaplah cucunya.
"Saat aku berangkat, dia baik-baik saja," jawab Alice yang kemudian menggigit sepotong bolu cokelat.
"Kudengar dia mengirimkan surat," Marchioness Rubia ingin informasi lebih lanjut. Sebenarnya, semua informasi di ibu kota sudah di dengar wanita tua itu di kediamannya bahkan sebelum Alice datang. Termasuk rumor yang meliputi Antonio akhir-akhir ini, tapi ia ingin mendengar pendapat cucu kesayangannya.
"Dia minta maaf di surat itu," jawab Alice tanpa menunjukkan ekspresi khusus. Wajahnya biasa saja, tidak berubah sedikit pun. "Sepertinya dia membuat masalah yang merepotkan. Ada banyak rumor yang beredar. Jadi, dia menyuruhku untuk tidak percaya rumor-rumor itu."
"Begitu, ya? Lalu, mana yang Kamu percaya?" lanjut Marchioness Rubia, "An atau rumor-rumor itu."
"Aku percaya padanya," Alice menatap langit saat menjawab pertanyaan itu. Entah apa yang dipikirkannya, tapi tidak berbohong sama sekali. Ia percaya pada tunangannya itu.
"Bagus, Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya," Marchioness tersenyum senang, "Kalau rumor itu benar, Kamu hanya tinggal bertindak dengan semestinya. Ada banyak orang bersamamu."
"Hm," Alice hanya mengangguk kecil. Ia paham maksud neneknya. Istana Mutiara memiliki kekuatan yang bersaing. Ia bebas membatalkan pertunangan kapan saja jika mau.
"Aku tidak ingin melakukannya dan kuharap itu terjadi," batin Alice. Ia menggigit lagi sebuah camilan. Itu adalah makaron merah muda kesukaannya.
Akademi Kerajaan, Ruang Kantor Profesor Alverous
"Selamat datang, Yang Mulia Putra Mahkota," sambut Profesor Alverous. Pria berjanggut putih itu memiliki wajah yang teduh. Senyum hangat menentramkan. Mukanya penuh dengan kerutan yang menandakan usia senjanya. Ia adalah profesor paling dihormati di Akademi Kerajaan.
"Ada apa, Profesor?" tanya Antonio begitu duduk di kursi yang disediakan oleh Profesor Alverous.
"Kamu tidak suka basa-basi, ya. Mirip sekali dengan ayahmu," Profesor Alverous tersenyum mengingat masa lalu. Ia pernah menjadi mentor seorang anak yang bandel dan angkuh walau hanya sebentar. Siapa sangka anak itu akan menjadi raja yang bijaksana sekarang.
"Apa Kamu merasa ada yang aneh akhir-akhir ini?" Profesor Alverous pun langsung masuk ke intinya.
Antonio terlihat bingung. Ia tidak mengerti maksud orang tua itu. Tanpa ingat dengan pusing yang dirasakannya tadi, ia menggeleng. Ia juga lupa dengan hatinya yang akhir-akhir ini sedang galau.
__ADS_1
"Benarkah?" Profesor Alverous memastikan.
"Ya, Profesor," tegas Antonio.
"Syukurlah kalau begitu," Profesor Alverous terlihat menghela napas lega, "Aku mendengar ada aktifitas sihir yang mencurigakan akhir-akhir ini. Itu bertepatan dengan munculnya rumor yang berkaitan denganmu. Kamu harus waspada."
"Saya mengerti, Profesor," balas Antonio singkat.
"Yang Mulia, apa pendapatmu tentang Menara Penyihir dan Penyihir Agung Voxnus Audrew?" Profesor Alverous beralih ke topik selanjutnya.
"Seperti yang diketahui oleh umum," Antonio pun mengutarakan pendapatnya, "Menara Penyihir adalah tempat yang hebat dan Penyihir Agung Voxnus Audrew adalah pahlawan berjasa."
"Apa Kamu mengagumi mereka?" lanjut Profesor Alverous.
Antonio menggeleng, "Aku hanya menghormati orang-orang berjasa sebagaimana mestinya. Aku tidak begitu tertarik dengan mereka."
"Kamu yakin?" tatap Profesor Alverous menyelidik.
Antonio mengangguk. Ia benar-benar melupakan obsesinya terhadap Charlotte yang merupakan seorang gadis penyihir. Seakan-akan, eksistensi gadis itu tak pernah ada di benaknya.
"Kita akan melakukan perburuan nanti, apa Kamu sudah siap?" Profesor Alverous kembali mengubah topik. Kemudian, ia bercerita banyak hal. Antonio sampai merasa kebas karena terlalu lama duduk mendengarkan cerita. Ia ingin segera pergi dari sana. Wajahnya sama sekali tidak menyembunyikan keluhan itu.
"Ah, sepertinya aku terlalu lama mengambil waktu, Yang Mulia," Profesor Alverous tersadar melihat air muka keruh di wajah Putra Mahkota el Vierum itu, "Intinya, aku hanya ingin menyampaikan pesan agar Kamu tidak terjatuh ke jalan yang salah. Ingat! Berhati-hatilah dengan sihir!"
Antonio kembali mengangguk tanda mengerti. Saat ia keluar, Profesor Alverous mengetuk mejanya dengan jari telunjuk beberapa kali. Sebuah layar hologram pun muncul di pelupuk matanya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya seseorang di seberang. Suara itu muncul dari handsfree di telinganya. Profesor Alverous pun menjawab, "Semua aman. Tidak ada yang aneh dengan putra mahkota. Kamu tidak perlu khawatir."
"Itu melegakan," balas orang di seberang.
__ADS_1
Mereka tidak tahu bahwa buhul-buhul sihir telah dipasangkan ke tubuh anak itu.