Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Rosemary yang Dewasa


__ADS_3

"Syukurlah Putri Aria baik-baik saja, beliau hanya kelelahan," ujar tabib wanita yang memeriksa Aria. Ia bagian Serikat Dagang Saville. Di kasus sebelumnya, ia juga memeriksa penyakit Mainne. "Luka dan memarnya akan segera sembuh. Tolong katakan padanya untuk banyak beristirahat."


"Terima kasih, Madam. Saya pasti akan menyampaikan pesan Anda," balas Rosemary dengan tulus. Ia sangat kaget saat melihat Aria pulang dengan keadaan tidak sadarkan diri dan tubuh dipenuhi luka. Jasmine yang menemaninya sampai amat menyesal karena tidak dapat melindungi gadis berambut perak itu dengan baik.


"Kalian adalah gadis-gadis yang baik. Bersabarlah. Tuhan bersama orang-orang yang sabar," tabib wanita itu berucap dengan lembut. Usianya mungkin sudah kepala tiga. Ia datang ditemani seorang putrinya yang masih kecil. Gadis itu terus menghibur Rosemary selama proses pengobatan Aria tadi.


"Kakak jangan khawatir. Dia pasti baik-baik saja," begitulah yang dikatakan gadis kecil itu, "Ibuku adalah tabib yang paling hebat."


"Terima kasih, Aul. Kamu anak yang pintar. Putri Alice pasti akan dengan senang hati menerimamu di Istana Mutiara kelak," puji Rosemary dengan senyum tipis, "Belajarlah ilmu pengobatan yang paling hebat dari ibumu. Ilmumu pasti akan berguna untuk banyak orang."


"Ya, aku pasti bisa," gadis bernama Aul itu berseru semangat. Ia pun menghampiri ibunya dan berkata dengan percaya diri, "Ibu, aku akan menjadi tuan putri seperti kakak itu."


"Sst... Aul, bicaralah yang sopan!" ucap tabib wanita itu cemas. Ia pun menunduk pada Rosemary dan memohon, "Tuan Putri, mohon maafkan putri saya. Dia terlalu muda untuk mengerti."


"Itu tidak masalah. Dia memang memiliki kesempatan untuk menjadi seorang putri di Istana Mutiara beberapa tahun ke depan," Rosemary tersenyum menenangkan tabib wanita yang terlihat sangat gugup itu, "Istana Mutiara adalah tempat berkumpulnya para gadis berbakat. Kami tidak memandang latar belakang dan status seseorang. Ajarilah putrimu ilmu medis dengan baik. Jika Tuhan berkehendak, ia dapat masuk ke Istana Mutiara dipemilihan gadis cendekia selanjutnya."


"Terima kasih, Tuan Putri. Saya pasti akan mengajarinya sebaik mungkin," tabib wanita itu berterima kasih dengan sangat. Walau ia bekerja di Serikat Dagang Saville, bukan berarti ia mengetahui bermacam teknologi canggih yang dimiliki keluarga misterius itu. Hanya orang-orang asli merekalah yang mengetahuinya. Wanita itu hanyalah orang lokal biasa.


Tak lama setelah tabib wanita itu pergi, Aria membuka matanya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Wajahnya tampak kebingungan. Dilihatnya Rosemary yang datang mendekat. Ia pun bertanya pada gadis cendekia yang paling itu dengan suara parau, "Kak Mary, di mana ini?"

__ADS_1


"Aria!? Kamu sudah sadar?" Rosemary amat senang saat melihatnya siuman, "Kita ada di hotel sekarang. Apa Kamu sudah merasa baikan?"


"Bagaimana dengan Kak Jasmine dan Nenek Yulia?" Aria malah bertanya balik. Ingatannya berhenti di saat rapiernya terlepas. Ia tidak ingat kejadian apa pun yang terjadi setelah itu. Kepalanya juga masih terasa pening sekarang.


"Nenek Yulia? Aku tidak tahu siapa beliau, tapi kalau Kak Jasmine ... dia sedang bersama Kak Anna tadi," jawab Rosemary, "Dia baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang, beristirahatlah dengan baik terlebih dahulu."


"Aku terlalu lemah," gumam Aria lirih, "Apa aku pantas berada di sini?"


"Aria, apa maksudmu?" tanya Rosemary cemas. Dilihatnya Aria yang mulai meneteskan air mata. Ia terlihat hendak menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata itu, tapi tangannya tak mau bergerak.


"Kak, aku terlalu lemah. Apa aku pantas berada di tempatku sekarang?" gumam Aria lagi. Air matanya semakin deras. Ia sangat ingin mengusapnya, tapi ia tidak bisa. Selama ini, ia adalah gadis yang selalu kuat dan tak pernah menangis. Ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya pada siapa pun karena ia adalah seorang pelindung.


"Tapi...," Aria terisak, "Aku hanya menjadi beban di sana. Nenek Yulia baik-baik saja kan? Dia diincar karena melindungiku?"


"Aku...," Rosemary benar-benar tidak mengenal orang yang dipanggil Nenek Yulia itu. Jadi, ia tidak tahu bagaimana kondisinya. Jika Jasmine pulang dengan selamat, kemungkinan Nenek Yulia itu juga pulang dengan selamat.


"Beliau baik-baik saja," Alice yang menjawab. Ia baru saja sampai untuk melihat kondisi Aria. Wajahnya terlihat datar menyembunyikan kecemasan.


"Apa yang terjadi?" Alice bertanya pada Rosemary. Gadis dari Keluarga vi Cornelia itu pun menceritakan percakapannya selama ini. Dengan mendengarnya, Alice cukup memahami situasi.

__ADS_1


"Kak Aria, apa Kamu pikir kesuksesan itu datang begitu saja?" tanya Alice dengan senyum tipis di wajahnya. Senyum itu mengandung kasih sayang dan kelegaan. Ia pun melanjutkan, "Sedangkan Kamu belum mendapat ujian seperti orang-orang terdahulu."


Tangis Aria sudah berhenti saat Alice masuk. Ia mendengar pertanyaan Alice tanpa menjawabnya. Hatinya berdenyut saat mendengar pertanyaan itu. Ia pun memilih untuk mencerna saja kalimat-kalimat dari tuan putrinya itu.


"Para pahlawan tidaklah muncul begitu saja, Putri Elianna tidak menjadi kuat begitu saja, aku pun tidak menjadi pemilik Istana Mutiara begitu saja," ucap Alice. Jari-jemari membelai tangan Aria yang terbujur lemah. Matanya menatap sendu. "Ada usaha keras dan ujian yang harus dilaluinya. Kak, ujian itu akan datang kepada siapa saja. Tuhan tidak akan menguji kecuali menurut kesanggupan hamba-Nya. Jangan menyerah. Bukannya Kamu bilang, kita tidak sendiri."


"Itu benar. Kamu memiliki kami. Kita akan menjadi kuat bersama," sambung Rosemary.


Aria terdiam. Matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih kapur. Pening di kepalanya masih terasa, tapi ia cukup menyerap maksud Alice dan Rosemary. Ia perlahan memejamkan mata. Kesadarannya kembali hilang meninggalkan tubuh saking lelahnya.


"Ini tidak boleh terjadi lagi," gumam Alice. Kini, air matanya yang menetes. Kelemahannya telah membuat kawan-kawannya menderita. "Aku harusnya bisa melindungi Kalian, tapi aku malah terus merepotkan Kalian."


"Tidak, Alice," Rosemary meraih tangan mungil Putri Mahkota el Vierum itu, "Itu tidak seperti yang Kamu bayangkan. Kamu tidak boleh menanggung beban itu sendiri. Kami tidaklah menderita karenamu. Ini adalah suatu kehormatan dapat berjuang denganmu"


Alice reflek memeluk Rosemary. Sisi kekanak-kanakannya muncul begitu saja. Yah, umurnya masih sepuluh tahun. Tidak masalah untuknya menangis seperti itu. Tangisan itu berasal dari hati yang lembut. Hati yang sangat peka dengan keadaan.


Rosemary mengusap rambut panjang Alice dengan lembut. Ada kehangatan dalam belaiannya. Kehangatan itu membawa Alice kembali ke masa lalu. Ia pun berangan, seandainya ia memiliki seorang kakak perempuan, mungkinkah rasanya akan seperti ini?


Matanya terpejam. Perlahan ia menjadi tenang. Di pelukan Rosemary, ia pun terlelap dalam kadamaian.

__ADS_1


__ADS_2