Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Kemalangan Mainne


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya?" tanya Alice cemas. Tabib yang datang paling awal menggeleng. Ia meminta maaf yang sebesar-besarnya.


"Saya tidak mengetahui penyakit yang diderita Putri Hamra. Gejala ini belum pernah muncul sebelumnya," ucap tabib itu dengan berlutut dan tangan yang gemetar. Di kanan dan kirinya, para kesatria berbaris membuat pagar betis. Mereka siap menerima perintah apa pun dari tuan putri mereka.


"Benar, Tuan Putri. Jika kami bertindak gegabah, bisa jadi malah semakin melukai Putri Hamra," tabib lain buka suara. Ada tiga tabib di sana. Seorang yang tinggal di Kota Aurelis dan dua lainnya adalah tabib keliling yang kebetulan lewat.


"Aku mengerti. Terima kasih atas kerja keras Kalian," Alice mempersilakan mereka pergi. Ia pun menghela napas lalu saling berpandangan dengan Rosemary yang menemaninya di dalam hijab. Mereka jelas sama-sama cemas.


"Tabib dari Saville sedang memeriksa. Semoga mereka dapat menemukan sesuatu," ucap Rosemary lirih.


Auditorium tetap dibuka setelah waktu istirahat habis. Di sesi siang ini, para warga terdengar lebih tenang. Rumor tentang penyakit dari salah seorang gadis cendekia telah menyebar dengan cepat. Bagai api yang membakar minyak. Mereka turut bersimpati dengannya. Bisa jadi, gadis itu sakit kelelahan karena mengurusi mereka.


Saat bayang-bayang tubuh sudah lebih panjang dari inangnya, auditorium pun ditutup. Orang-orang pergi tanpa banyak protes seperti pagi tadi. Mereka memahami masalah yang sedang menimpa harapan mereka. Jadi, mereka tidak bisa terus mengganggu.


"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Alice sesampainya di hotel.


"Dia sedang tidur sekarang. Sepanjang siang ini, dia terus merasa kesakitan," jelas Akilla. Tampak jelas kesedihan dan kekhawatiran di wajah gadis berkerudung itu. Ia sangat kebingungan saat melihat Mainne kejang-kejang dan menderita. "Tabib dari Saville memberinya bius agar tenang."


"Apakah tabib dari Saville dapat menyembuhkannya?" Rosemary bertanya cemas. Akilla menggeleng tidak tahu, "Mereka membicarakan hal yang tidak aku ketahui. Mungkin itu bahasa Saville. Aku hanya tahu bahwa mereka sangat serius memeriksanya."


"Maafkan aku. Aku membuat Kalian terlalu banyak bekerja," gumam Alice lirih. Rosemary dan Akilla terdiam. Mereka melihat air mata yang tergenang di pelupuk mata Alice.


"Tidak, itu bukan salahmu, Alice," Akilla panik. Ia tak tega melihat Alice menangis, "Kita tidak berlebihan dalam bekerja. Kita semua baik-baik saja."


"Ta ... tapi, Mainne ...," Alice terisak. Air matanya benar-benar tumpah. Rasa bersalah membuncah. Rosemary dan Akilla pun dengan susah payah menenangkannya.


"Itu benar-benar bukan salahmu, Alice," hibur Aria yang baru keluar dari kamar Mainne, "Mainne bukan gadis yang lemah seperti itu. Dia sangat kuat dan aktif. Aku yakin ada faktor lain yang mempengaruhi kesehatannya."

__ADS_1


"Benar, tolong jangan menyalahkan dirimu seperti ini. Kami jadi sedih kalau Kamu bersedih," kata Rosemary dengan lembut, "Lebih baik kita menjenguknya sekarang."


Aristia menoleh saat kawan-kawannya masuk. Ia mendengar samar-samar obrolan mereka di luar. Pandangannya pun tertuju kepada Mainne. Wajahnya pucat. Air wajahnya keruh oleh penderitaan sepanjang siang ini. Kini ia tertidur pulas di balik selimut putih yang lembut.


"Apa mungkin dia keracunan?" Akilla bertanya memastikan. Aristia menggeleng, "Tabib bilang, tidak terdeteksi racun tubuhnya. Jika dia keracunan, kita pasti juga keracunan. Kita semua makan makanan yang sama sejak pagi."


"Lalu, apa yang terjadi dengannya?" Rosemary terus menanyakan hal yang sama sejak tadi siang. Aria, Akilla, dan Aristia kompak menggeleng. Mereka juga tidak tahu.


"Muntah darah disebabkan oleh berbagai hal. Saat ini, piranti untuk diagnosa penyakit kurang memadai," Anna datang membawa kabar, "Kita harus segera membawa Mainne ke ibu kota besok. Saville akan mengupayakan yang terbaik untuk merawatnya. Kesembuhan itu dari Tuhan."


"Bagaimana dengan urusan di sini?" Rosemary mengingat pekerjaannya yang belum selesai.


"Kita sudah menerima kabar kalau Count de Bourne akan segera kemari. Beliau adalah orang kepercayaan Duchess Evianna. Jadi, kita bisa percayakan padanya," Anna pun duduk di samping Alice, ia mengelus pundak gadis yang kini terdiam itu.


"Aku akan tetap di sini," ucap Aria dengan lirih seperti biasa, tapi masih bisa didengar. Ia pun langsung mengungkapkan alasannya, "Aku yakin ada yang tidak beres di kota ini. Mainne bukan gadis yang selemah itu sampai muntah darah karena kelelahan."


"Apa yang akan Kamu lakukan?" Anna bertanya tak yakin.


Ikatan itu adalah iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak mempersekutukan-Nya, dan berserah diri pada-Nya. Sebagai putri dari Keluarga de Ernest, Aria sangat mengerti dengan paham itu. Keluarganya adalah bagian dari keluarga yang menganut keyakinan monoteisme murni.


"Nona Aria, itu berbahayanya," Anna memperingatkan. Ia mengucapkan dengan serius. Penyelidikannya memang mulai membuahkan hasil, tapi bukan suatu yang bijak dengan melibatkan gadis cendekia itu.


"Aku juga akan tinggal," ucap Alice yang mulai dapat mengendalikan emosinya mendukung Aria, tapi dengan motif yang berbeda, "Aku harus memantau langsung peninjauan di kota ini."


"Kalau begitu, aku akan menemanimu," Rosemary ikut untuk tinggal. Ia pun memandang Akilla dan Aristia, "Kalian berdua kembalilah duluan. Kami serahkan Mainne pada Kalian. Semoga Tuhan segera memberinya kesembuhan."


"Kami mengerti," Akilla dan Aristia menjawab kompak. Diskusi selesai tanpa melibatkan pendapat Anna. Dayang putri mahkota sekaligus pengayom para gadis cendekia itu hanya dapat pasrah.

__ADS_1


"Hah ...," Anna menghela napasnya sayang, "Aku juga akan menemani Kalian kalau begitu. "Tolong jangan bertindak gegabah. Madam Florence akan mengantar Mainne pulang."


...***...


"Satu tersampaikan, satu lainnya gagal," gumam seorang cenayang bertudung gelap. Ia menggedor-gedor meja kayunya kesal. Di atas meja itu, ada perkakas sihir dan santet yang berantakan.


Termasuk di antaranya dua jenis rambut yang sama-sama gelap. Satunya cenderung kecokelatan, satunya lagi kemerahan. Dua jenis gulungan rambut itu diberikan oleh pesuruh Preves Puliu. Padahal ia hanya butuh satu, tapi malah diberi dua. Dia jadi bingung mana milik targetnya. Kalau salah, bisa rugi besar dia.


"Momo, Kamu sangat bodoh. Sedari tadi, rambut yang kemerahan itu tidak bisa Kamu sihir. Padahal satunya jadi dalam sekali coba," ejek seorang cenayang lain. Ia pun terkekeh seram. Seringainya akan membuat setiap anak kecil yang melihatnya ketakutan.


"Bibu, Kamu juga tidak bisa tadi. Jangan ledek aku begitu. Rambut ini harusnya sudah bisa kena, tapi jinku langsung kabur saat melihat pemiliknya," Momo berdalih. Bibu kembali terkekeh. Ia pun maju untuk mengambil alih pekerjaan temannya, "Dasar Momo bodoh. Sini aku ambil."


"Cih, sombong sekali. Padahal tadi Kamu sudah gagal dan langsung menyerah," ledek Momo. Ia berkacak pinggang di samping Bibi dengan wajah kesal.


"Diam! Aku gagal karena Kamu terus mengoceh tadi," kilah Bibu. Ia pun kembali fokus ke rambut gelap kemerahan itu dan berkomat-kamit merapalkan mantra.


Momo menunggu. Lalu, ia menunggu. Kemudian, ia menunggu. Ia pun kesal saat melihat Bibu tak henti-hentinya merapal mantra sejak siang tadi. Sekarang, mentari hampir tenggelam dan cenayang sombong itu juga belum selesai.


"Cukup! Kamu juga sama bodohnya," omel Momo kemudian. Ia pun menepuk pundak Bibu saking kesalnya. Cenayang sombong itu langsung tersentak kaget dan memasang wajah dongkol.


"Kau! Kau membuatku gagal lagi," tuduh Bibu.


"Omong kosong! Sejak awal Kamu sudah gagal," balasan Momo telak menusuk Bibu, "Cepat katakan! Berapa kali Kamu sudah merapal mantra?"


Bibu terdiam. Mana dia tahu. Ia sudah merapalnya berkali-kali, tapi tidak ada respon. Jadi, ia tidak menghitungnya lagi.


"Lihat! Kamu sama bodohnya denganku," tuding Momo. Bibu memandang rendah. Mulutnya melongo, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin mengakuinya.

__ADS_1


Dorothy terkekeh melihat dua cenayang bodoh itu. Tawanya teramat seram sampai para binatang liar di hutan ketakutan. Ia sudah menduga kalau mereka tidak akan bisa menyihir Alice.


Jauh di bagian hutan yang lain, dua orang juga sedang mengamati cenayang-cenayang itu dengan teropongnya. Mereka menghitung jumlah penyihir yang ditemukan dan melaporkannya dengan gawai tipis. Dicatatnya juga data geografis lingkungan sekitar. Setelah laporan sampai ke atasan, penyergapan pun akan segera dijalankan.


__ADS_2