Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Perjalanan Pulang


__ADS_3

"Sudah saatnya saya pulang," kata Alice meninggalkan Antonio dengan senyum yang tipis. Matahari sudah mulai condong ke barat. Harusnya sekarang waktu istirahat para pejabat pemerintah.


"Berhati-hatilah. Aku akan menunggumu dua Minggu lagi," kata Antonio lembut memasang senyum yang ramah. Alice menatapnya datar. "Apa bocah ini sudah lupa dengan diskusi kami tentang menjaga kehormatan dan menundukkan pandangan?" begitulah maksud wajahnya.


"Lebih baik perhatikan saja pendidikan Anda," komentar Alice, "Kerajaan lebih butuh pemimpin yang bijak daripada kisah romansa."


"Apa?" Antonio tidak begitu mendengarnya. Alice sudah lebih dulu masuk ke kereta kuda. Perdana Menteri Duke vi Alverio juga sudah duduk di sana. Kereta kuda beremblem Keluarga vi Alverio itu pun melaju pergi meninggalkan istana.


Sebelum kembali ke wilayah, Alice meminta Duke vi Alverio untuk makan siang bersama. Mereka kembali ke Kediaman vi Alverio di ibu kota.


"Kelihatannya ayah terlalu khawatir dengan hubunganmu dan putra mahkota," kata Duke vi Alverio hangat selama di perjalanan. Melihat putrinya dapat tersenyum seperti itu di depan tunangannya walau sangat tipis sudah membuat perdana menteri itu senang. Apa lagi sepertinya putra mahkota tidak menunjukkan penolakan.


"Ya, begitulah," jawab Alice singkat dan dingin. Saking dinginnya, Duke vi Alverio sampai hampir mencabut semua ekspektasinya kembali.


"Bagaimana dengan Ayah?" tanya Alice balik bertanya, "Ayah beristirahat dengan baik kan? Jangan memaksakan diri."


"Tentu saja, Putriku," kata Duke vi Alverio menghibur. Tentu saja Alice melihat ketidakseriusan dalam jawaban itu. Jelas sekali wajah ayahnya makin pucat dan berkeriput dari hari ke hari.


"Kami baru saja mendapat kabar terbaru dari wilayah Count de Aries tadi," Duke vi Alverio bercerita, "Syukurlah masalah di sana dapat teratasi. Sayangnya kita tidak memiliki banyak informasi untuk menangkap dalangnya."


"Apa tidak ada jejak sama sekali?" tanya Alice penasaran. Nanti ia akan bertanya pada Anna. Dengan koneksinya, pasti lebih banyak informasi yang dapat diraih.


"Kami menemukan reaksi sihir pada orang-orang yang diculik. Sayangnya penyihir itu menghilang entah ke mana bersama pemimpinnya. Menara Penyihir telah dihubungi terkait hal ini," kata Duke vi Alverio, "Alice, berhati-hatilah saat pulang nanti. Ayah tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Apa lebih baik ayah menyewa penyihir dari Menara Penyihir saja?"


"Jangan!" bentak Alice. Wajahnya langsung marah menunjukkan ketidakpercayaan. Ia hampir berdiri di kereta kuda kalau Duke vi Alverio tidak segera memeganginya. Tangannya mengepal erat saking murkanya. Matanya menahan tangis saking kecewanya, "Apa Ayah masih berhubungan dengan mereka setelah apa yang terjadi pada ibunda? Mengapa Ayah tidak mengerti? Bunda melarangmu berinteraksi dengan penyihir bukan tanpa alasan!"


"Tidak, bukan begitu, Alice," Duke vi Alverio menarik kembali kata-katanya. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran melihat Alice yang mulai menumpahkan air mata. Ia baru ingat kalau putrinya itu sangat membenci hal-hal yang berkaitan dengan sihir. Sejak Duchess Evianna vi Alverio meninggal, Alice semakin menutup hatinya dari sihir.


"Cukup!" Alice menutup matanya dengan kedua tangan. Ia menangis tersedu-sedu. Bagaimana mungkin ayahnya itu mengungkit lagi tentang penyihir setelah beberapa tahun lamanya?

__ADS_1


Itu bukannya tidak wajar. Dalam urusan politik, Duke vi Alverio tak jarang berinteraksi dengan penyihir. Apa lagi ia adalah faksi keluarga kerajaan yang juga didukung Menara Penyihir.


"Mungkinkah ayah juga dimanipulasi?" batin Alice dalam tangisnya. Ingatan terakhirnya tentang hari itu muncul kembali. Senyum terakhir Duchess Evianna terlukis di benaknya. Suara tangisnya waktu itu juga samar-samar terdengar di hatinya. Amat perih dan menyayat hati.


Tanpa terasa, perjalanan singkat itu berakhir. Kereta kuda telah sampai di depan kediaman. Alice buru-buru menghapus tangisnya, tetapi masih tersisa bekas sembab di sana.


Duke vi Alverio tidak dapat berbuat banyak. Saat ia turun, acara makan siang yang harusnya menjadi momen perpisahan bahagia itu berubah suram. Perasaan canggung menyelimuti sekitar.


Saat dan setelah selesai makan siang pun tak ada yang Alice dan Duke vi Alverio bicarakan. Hawa suram itu sampai dapat dirasakan oleh para pelayan. Apa lagi Anna yang setelah ini akan ikut bersama Alice ke Duchy vi Alverio.


"Jaga kesehatanmu, Ayah," akhirnya Alice berbicara sebelum menaiki kereta kuda untuk pulang ke wilayah. Ia masih tak mau menatap Duke vi Alverio. Duke vi Alverio pun hanya dapat tersenyum tipis. Ia mengelus kepala Alice dan mencium kening putrinya itu sebelum pergi. "Tentu saja, Kamu tidak perlu khawatir."


Kereta kuda Alice pun berangkat. Puluhan kesatria Keluarga vi Alverio mengawalnya. Mereka melaju dengan rapi selama perjalanan.


"Putri kecil itu telah berangkat," seorang berjubah yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Alice melapor. Ia mengamati dari sebuah mansion kosong tak jauh dari Kediaman Duke vi Alverio. Saat ia melaporkan pengamatannya, matanya saling bertemu pandang dengan Anna yang menatapnya tajam.


"Mungkin hanya imajinasiku," batin mata-mata itu. Hatinya berdebar takut. Tatapan wanita yang dilihatnya itu sungguh menakutkan.


"Apa ada masalah, Nona?" tanya Anna setelah melihat kondisi Alice mulai membaik. Sebelumnya ia tak pernah melihat nonanya semerajuk itu. Ia berpikir mungkin dapat memberi bantuan.


"Bukan apa-apa," Alice menolak menjelaskan lalu menanyakan sesuatu yang lain, "Bagaimana kondisi di County de Aries?"


"Apa maksud Nona?" Anna tak menyangka. Ia jelas tahu informasi itu, tetapi tentu saja ia tidak bisa membocorkannya pada siapa saja.


"Bukankah tadi pagi Kakak menghubungi Nona Maria Saville lagi?" kata Alice membuat Anna semakin terkejut. Lagi-lagi ia ketahuan oleh Alice. Tidak! Dia menghubunginya saat berada di kereta kuda menuju Kediaman vi Alverio sedangkan Alice masih di istana waktu itu.


"Benar, kan?" tanya Alice dengan senyum peri yang berbunga-bunga. Rupanya ia hanya menebak-nebak saja. Dengan melihat reaksi Anna itu, Alice cukup yakin, "Lalu bagaimana situasinya?"


"Ehm... walau Nona yang bertanya, itu cukup merepotkan untuk diceritakan," Anna beralasan. Bagaimanapun, ia tidak dapat berbohong.

__ADS_1


"Begitukah? Kalau begitu, apa tempat itu sudah benar membaik?" tanya Alice kemudian.


"Nona tenang saja, tempat itu sangat aman sekarang," jawab Anna kelepasan tanpa sadar. Alice jadi semakin yakin. Anna melanjutkan, "Tidak ada tanda-tanda penculikan baru akhir-akhir ini."


"Itu bagus," kata Alice seolah sudah tahu semuanya, "Lalu bagaimana dengan penyihirnya?"


"Eh!? Bagaimana Nona tahu kami menangkap penyihir itu?" Anna lagi-lagi kelepasan. Alice tersenyum cerdik. Ia mendapatkan info lebih dari yang dibutuhkannya. Telah terkonfirmasi bahwa keluarga Saville terlibat dalam kasus ini.


"Tunggu, Nona! Apa maksud Anda telah terkonfirmasi?" kaget Anna merasa dipermainkan.


"Tenang saja, Istana Mutiara tidak akan melaporkannya," kata Alice hendak membuat Anna lega tetapi itu justru membuatnya semakin gugup.


"Seberapa banyak Anda tahu tentang kami?" Anna akhirnya mengaku dan mempertanyakan.


"Sebanyak yang Kakak ajarkan padaku," jawab Alice santai.


"Eh!? Maksudnya?" Anna tidak mengerti.


"Bukan apa-apa," tagih Alice, "Lebih baik jelaskan kondisi penyihir itu padaku. Aku bisa menjaga rahasia."


"Maafkan saya, Nona," kata Anna lembut sekaligus tegas, "Informasi itu tidak perlu Anda ketahui."


"Tapi aku harus bisa tahu bagaimana pergerakan mereka," kata Alice serius, "Aku tidak ingin dijadikan tumbal oleh mereka?"


"Tunggu! Sebenarnya bagaimana Nona dapat mengerti hal-hal tersebut?" Anna tidak dapat lagi menahan keterkejutannya. Ia mengerutkan kening khawatir. Misi terbesarnya adalah melindungi gadis kecil itu.


"Aku membaca jurnal Putri Elianna," jawab Alice jujur. Ia mengeluarkan sebuah buku tua dari tasnya. Ia tau putri itu adalah bibinya. Akan tetapi, ia tak pernah bertemu dengannya selain dari lukisan yang dipajang besar-besar di Istana Mutiara. Tercatat bahwa ibunya dan putri itu adalah pemilik pertama Istana Mutiara.


Mendengar nama srikandi itu, Anna langsung tercengang. Sudah lama nama itu tak terdengar di telinganya. Kenangan masa lalu pun mampir menghampirinya. Ia buru-buru mengusirnya. Ia harus memikirkan putri di depannya sekarang. Jangan sampai ia bertindak gegabah karena mengetahui fakta itu.

__ADS_1


"Nona tolong berhati-hatilah," harap Anna lirih tapi Alice masih bisa mendengarnya. Ketakutan pun menghiasi wajahnya. Bayangan orang yang penuh dengan luka dan darah menghantui dirinya.


"Kakak, ada apa?" tanya Alice khawatir.


__ADS_2