Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Diskusi Para Gadis Cendekia


__ADS_3

"Keselamatan atas Baginda Ratu el Vierum," para gadis cendekia kompak menyapa Ratu Clara yang hari ini melakukan peninjauan khusus di Istana Mutiara. Walaupun sudah menerima laporannya, Ratu Clara masih penasaran dengan para gadis yang dipilih Alice. Ia jadi mengingat masa-masanya saat menjadi seperti mereka. Rasanya menegangkan saat bertemu sosok yang begitu tinggi seperti ratu dulu. Hari ini, ia sendiri yang menduduki posisi itu.


"Ke atas Kalian pula keselamatan itu," balas Ratu Clara. Ia memberikan senyum hangat pada kelima gadis di hadapannya itu. Putri-putri terbaik di kerajaan itu memancarkan kharisma dan kewibawaan yang khas kecuali satu orang.


Mainne. Gadis biasa yang melakukan penelitian atas kertas nabati berkualitas tinggi. Gadis itu mempelajari ilmu dari negeri yang amat jauh di timur. Kemampuannya dalam mempelajari bahasa sangat tinggi.


"Alice, keputusan yang tepat menempatkannya di Istana Mutiara ini. Ia kelak akan menjadi sahabat yang dapat diandalkan," batin Ratu Clara. Ia lalu berkata pada gadis-gadis itu, "Karena Kalian sudah beberapa hari di sini, Kalian pasti sudah mendapat arahan tertentu, bukan?"


"Benar, Baginda Ratu," jawab Akilla van Ryvat, sepupu jauh Alice. Ia adalah gadis yang akan mempelajari urusan admistrasi bersama Alice. Beberapa hari lalu, ia syok ketika melihat gunungan perkamen yang biasanya diurus oleh Alice sendirian. Ia hampir menyesal menjadi salah satu gadis cendekia di Istana Mutiara. Untungnya, Sarjana Florence menjelaskan bahwa tugas itu tidak akan ia jalankan sendiri.


"Alice pasti telah menyuruh Kalian untuk bersikap santai dan memanggilnya dengan nama, bukan?" Ratu Clara berkata ramah, "Sama seperti Alice, selama Kalian tidak berada di depan umum, panggil aku Bibi Clara."


"Suatu kehormatan bagi kami," sambut kelimanya. Mereka pun berkeliling komplek Istana Mutiara. Ratu Clara banyak berbincang santai dengan mereka. Ia menceritakan pengalaman-pengalamannya selama di Istana Mutiara dulu.


"Ini sudah lebih dari seminggu, bukan?" seorang gadis berambut pirang panjang mengingat sesuatu, "Harusnya Putri Alice akan datang beberapa hari lagi."


"Benar juga. Jujur saja, aku sempat kaget ketika ia memutuskan untuk pulang ke Duchy vi Alverio sehari setelah menyambut Kalian," Ratu Clara menampakkan wajah menyesal. Akan tetapi, ia tahu perasaan dan alasan Alice melakukan itu. Jadi dia tidak akan menyalahkannya nanti. "Kalian tak apa dengan itu kan?"


"Tentu saja, Baginda Ratu. Kita baik-baik saja." gadis berambut pirang itu masih belum terbiasa. Di rumahnya, ia bahkan harus memanggil ibunya dengan gelar. Jadi sulit baginya menerima keramahan sang ratu itu.


"Hm? Namamu Aristia de Clarence kan? Santai saja. Panggil aku bibi," tegur Ratu Clara hangat. Dulu ia juga kesulitan memanggil Marchioness van Ryvat yang merupakan ratu terdahulu dengan panggilan santai. Baru setelah beberapa kali ditegur, ia bisa terbiasa. Jadi ia maklum dengan sikap putri Count de Clarence itu.

__ADS_1


"Baik, Ba...," Aristia sedikit gugup, "Maksud saya, Bibi Clara."


"Bagus! Begitulah yang kuinginkan," Ratu Clara tersenyum senang. Sekarang mereka telah berada di Taman Aster, salah satu taman dari taman kembar di Istana Mutiara. Pesta teh kecil diadakan di sana. Camilan-camilan cantik diletakkan di atas meja. Ratu Clara mengajak para gadis cendekia untuk berdiskusi.


"Kudengar, Istana Mutiara berinvestasi untuk panti-panti asuhan di pinggiran ibu kota," Ratu Clara memulai topik, "Akilla, bagaimana perkembangannya?"


Akilla tersentak. Siapa sangka ia yang disebut pertama. Walau ia sudah menyiapkan hati, ia masih merasa sedikit gugup sama seperti kawan-kawannya. Rata-rata mereka masih di bawah usia 15 tahun. Meskipun itu terdengar hebat untuk anak seusia mereka, prestasi Alice membuat mereka seperti bukan apa-apa.


"Kami baru bisa memulainya di satu tempat sejak tiga hari yang lalu," Akilla memulai penjelasannya. Ia harus bisa menunjukkan bakatnya di hadapan ratu. "Dengan sensus yang tersedia, kami baru bisa akan melanjutkannya beberapa hari lagi setelah Alice kembali."


"Dan guru-guru untuk mereka, bagaimana Kamu mengatasinya?" Ratu Clara menanyakan apa yang terlintas di benaknya. Ia belum sempat menanyakan hal itu pada Alice kemarin.


"Alice bilang akan membawa para guru itu dari Duchy vi Alverio bersamanya saat kembali," Akilla menyusun perkataannya dengan hati-hati agar tidak menyinggung Ratu Clara, "Saat ini, Kami fokus melanjutkan persiapan fasilitas yang sudah Istana Mutiara tentukan."


"Jadi begitu ya? Kalian tentu tidak dapat meminta para guru elit dari kalangan bangsawan seperti Akademi Kerajaan," Ratu Clara berkomentar.


"Baginda... ah! Maksud saya Bibi Clara," panggil seorang gadis berambut cokelat. Ia si gadis yang memiliki kharisma bangsawan yang tinggi. Seorang dari Keluarga vi Cornelia yang setara dengan Alice, Rosemary vi Cornelia.


"Ya, Mary?" Ratu Clara menoleh. Putri Duke vi Cornelia itu merupakan yang paling tua di antara gadis cendekia. Usianya 15 tahun. Ia mengingatkan Ratu Clara pada keponakannya yang hebat, Derrick vi Alverio.


"Mengapa kita harus memberi pendidikan pada rakyat jelata?" tanya Rosemary dengan menunduk. Ia tahu mungkin pertanyaannya menyinggung sang ratu yang dikenal merakyat itu. Akan tetapi, ia hanya ingin memuaskan rasa penasarannya, "Bukannya kita cukup mengarahkan mereka agar mengasah kemampuan yang mereka miliki secara turun-temurun untuk memakmurkan kerajaan?"

__ADS_1


"Itu karena mereka berhak menerimanya," jawab Ratu Clara santai. Rosemary memerhatikan dengan cermat penjelasan wanita nomor satu sekerajaan itu. Ia pasti mengambil pelajaran darinya.


"Di antara rakyat itu ada adiratna-adiratna yang tidak terduga seperti Mainne," Ratu Clara menoleh pada Mainne yang hanya menunduk sejak tadi. "Mereka adalah salah satu dari fondasi kerajaan selain pemerintahan dan wilayah. Para bangsawan tidak akan bisa hidup tanpa adanya rakyat. Jadi kita harus memperhatikan mereka dengan baik."


"Selain itu, ini juga bisa memiliki fungsi pengawasan," lanjut Ratu Clara. Kali ini ia menatap seorang gadis berambut perak yang termasuk unik di kerajaan. Gadis itu mendengarkan dengan tenang sejak tadi. Ia adalah putri dari Keluarga de Ernest, Aria de Ernest. Salah satu keluarga yang memiliki kedekatan dengan mendiang Duchess Evianna.


"Pendidikan itu akan melindungi rakyat dari ideologi-ideologi yang mungkin mengancam kerajaan," Ratu Clara memberi jeda sejenak. Ia menyeruput tehnya sebelum melanjutkan, "Jadi tidak ada alasan untuk menolaknya."


"Oh ya, Mainne," panggil Ratu Clara. Gadis yang dipanggil itu segera menegakkan kepalanya. Teh yang diseduhkan untuknya masih penuh. Sejak tadi ia tidak menyentuhnya karena sungkan.


"Bagaimana perkembangan kertas nabatimu?" tanya Ratu Clara langsung pada intinya.


"Kami masih terus melakukan peninjauan dalam hal ini, Baginda Ratu," jawab Mainne masih tidak bisa melewati batas statusnya. "Kami sudah mengumpulkan catatan hasil risetnya. Rencananya, Tuan Putri akan membangunkan laboratorium di Istana Mutiara nanti. Jadi kami akan segera melanjutkan penelitiannya sesegera mungkin."


"Bagus! Aku sungguh tidak menyangka," Ratu Clara mengelus rambut gadis biasa itu dengan hangat, "Kamu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Pantas saja Alice tak ragu mengundangmu."


Mainne tersipu.


...***...


"Sampaikan surat ini pada Mainne," kata seorang pria tua berbadan kekar. Ia adalah penjaga di sebuah kota pelabuhan di selatan Kerajaan el Vierum. Anak gadis semata wayangnya amatlah cerdas sampai mendapat perhatian dari seorang profesor di Akademi Kerajaan. Sekarang anak gadisnya itu bahkan mendapat perhatian dari Putri Mahkota el Vierum.

__ADS_1


"Kita tidak bisa membiarkan Kota Marianna terus seperti ini," penjaga tua itu memberikan selembar surat pada seorang pemuda, "Kudengar Istanan Mutiara memiliki pengaruh yang besar di pemerintahan. Biar putri mahkota dan baginda ratu yang bersuara atas kita. Mainne pasti bisa menyampaikannya kepada beliau."


Penculikan, perampasan, perbudakan, dan banyak skandal lain telah menjangkiti Kota Marianna yang strategis itu. Kesewenangan penguasa kota amat meresahkan penduduk. Tak ada yang berani berkomentar karena di balik pemimpin baru itu, ada keluarga bangsawan besar dan perampok yang menguasai lautan.


__ADS_2