
Sejak sehari setelah datangnya surat dari rakyat Kota Marianna, Balai Pengawas Pusat sudah mulai bergerak. Mereka mengirim pengamat rahasia yang ditugaskan untuk mengonfirmasi kebenaran surat tersebut. Agen yang dikirim merupakan petugas inspeksi terbaik dari Balai Pengawas Rahasia.
Keberadaan balai ini tidak diketahui bahkan oleh sebagian besar eksekutif Balai Pengawas Pusat. Mereka hanya dapat digerakkan melalui titah sang pemilik Istana Mutiara. Berhubung kekuasaan Alice belum sebesar itu, Agen itu digerakkan atas perintah Marchioness van Ryvat sekaligus ibu suri dan Wali Istana Mutiara saat ini. Alice dapat segera memintanya dengan koneksi yang ia miliki melalui Serikat Dagang Saville.
Walau Serikat Dagang Saville sudah mengonfirmasi kebenaran kondisi di Kota Marianna, buktinya masih kurang untuk membersihkan dan mengatur ulang Balai Pengawas Pusat dari kutu-kutu busuk yang bersembunyi di dalamnya. Tak lupa yang di wilayah.
"Laporan bukti lapangan dari Balai Pengawas Rahasia akan sampai kurang lebih tiga hari lagi," bisik Anna tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Ia masih terus fokus memperhatikan berjalannya persidangan, "Bagian Inspeksi akan mengambilalihnya saat dibawa ke pengadilan."
Alice mengangguk paham. Baginya, ini adalah panggung kesempatan menumpuk pengalaman. Alice hanya akan mengamati dengan serius berjalannya persidangan. Ia tidak akan mencampuri keputusan itu karena Raja el Vierum sendiri yang akan memutuskannya.
Bisa dibilang, tugasnya sudah selesai kemarin saat memberikan laporan bukti yang diterima Istana Mutiara kepada raja. Tugas akhirnya adalah mengawasi proses persidangan dan eksekusinya di lapangan nanti. Ia bahkan tidak diwajibkan untuk melakukan hal itu melihat usianya yang masih belia.
"Proses seperti ini memakan waktu terlalu lama," komentar Alice yang juga dengan berbisik, "Bisa jadi, di kota itu sedang terjadi masalah saat sidang ini berlangsung."
Mau Bagaimana lagi? Beginilah prosedurnya. Jika pemerintah langsung bertindak gegabah dan asal bergerak, kondisinya malah bisa lebih gawat. Apalagi dicurigai bahwa ada masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam internal Balai Pengawas. Itu tidak dapat dibiarkan.
"Kita sudah berbuat sesuai yang kita bisa, Tuan Putri," hibur Anna mendengar komentar tidak biasa nonanya itu. Biasanya Alice akan sangat memperhatikan segala prosedur yang ada dan tidak terburu-buru. Yah, itu wajar menimbang kepeduliannya yang tinggi dan tulus terhadap rakyat. Tentu ia tidak ingin berlama-lama membuat rakyat menderita sedangkan beritanya sudah pasti.
Sidang hari itu berakhir di siang hari. Lut sempat dipersilakan untuk menjelaskan kondisi di sana selaku saksi. Saat melihatnya, ada satu dua bangsawan mencibir. Saat mendengar penjelasannya, orang-orang yang memiliki jiwa humanisme tentu saja bersimpati. Tidak semua orang memang. Ada sebagian yang skeptis dan meragukan kebenaran kabar itu.
"Madam, apa teman-temanku sudah pulang siang ini?" tanya Alice begitu keluar dari gedung Balai Pengawas Pusat. Mereka menuruni tangga yang terdapat taman cantik di kedua sisinya. Anna terlihat mengingat-ingat. Ia lalu berkata bahwa mungkin sebentar lagi.
"Apa Anda ingin berkunjung ke Akademi Kerajaan?" balas Anna menawarkan. Alice mengangguk. Anna pun menghubungi Profesor Alverous yang baru kembali tadi pagi ke ibu kota dengan gawainya. Tentu saja, ia melakukan itu saat di kereta kuda.
Para gadis cendekia pun tertahan di akademi. Yah, bukan masalah buruk bagi mereka. Akilla dan Aria bahkan memang masih berniat menemani Rosemary yang sebenarnya akan pulang terlambat. Gadis paling tua itu memiliki tugas sebagai anggota OSIS. Aristia dan Mainnelah yang benar-benar tertahan.
__ADS_1
Aristia justru senang mendengar Alice akan berkunjung. Beritanya cukup menggemparkan. Terlebih di siswa kelas satu sebab Aristia dengan sembrono mengabari Mainne di kelasnya dengan semangat begitu guru kelas itu pergi.
Para siswa di kelas itu pun menjadi antusias. Beberapa di antaranya mencibir keberuntungan Mainne. Gadis dari rakyat jelata itu menjadi lebih terhormat dari mereka sejak menjadi bagian dari gadis cendekia. Beberapa lagi berusaha mendekatinya demi dapat bertemu Alice.
Antonio tentu mendengar hal ini. Ia sedikit banyak berharap tujuan utama Alice adalah mengunjunginya. Akan tetapi, melihat kakak kelasnya, Aristia yang merupakan gadis cendekia seantusias itu, berarti tamu terhormat itu datang untuk mereka. Apalagi hubungannya dengan Alice masih belum membaik sejak hari itu.
"Mainne, ayo! Kamu tidak ada kegiatan lagi kan setelah ini?" seru Aristia dengan semangatnya. Ia memang gadis supel. Di Istana Mutiara, ia yang paling dekat dengan gadis biasa itu.
"Ah, baiklah. Biarkan aku membereskan barang-barangku dulu," ujar Mainne masih belum hilang kagetnya. Aristia mengangguk. "Kutunggu di kelasku. Ayo sambut tuan putri bersama."
Berita itu dengan cepat menyebar bahkan membuat geger kantor para guru sekaligus Kepala Akademi. Pria jangkung itu tidak ingat ada surat dari Istana Mutiara yang datang kepadanya. Profesor Alverous pun menggeleng dan menghela napasnya sambil tersenyum. Ia menjelaskan bahwa gadis istimewa itu datang hanya untuk mengunjungi para gadis cendekia dan berjalan-jalan biasa. Jadi, tidak perlu ada kehebohan tak berarti.
Di akademi ini, Alice merupakan doktor termuda sepanjang sejarah. Kemampuannya dalam menganalisis dan memperbaiki sistem akuntansi membawa keuntungan besar bagi kerajaan. Ia adalah anak ajaib yang sangat langka.
"Tetap saja itu berlebihan," Alice menghela napasnya. Sebentar lagi mereka sampai. Gedung akademi yang terlihat seperti kastil itu sudah terlihat di jendela.
"Itu benar-benar tuan putri," bisik para gadis yang pernah bertemu Alice. Para siswa dan siswi lain segera menyahut.
"Ya ampun, dia sangat imut," gadis kelas dua berseru gemas.
"Ya, juga kecil. Aku tidak bisa percaya bahwa dia adalah doktor." gadis di sampingnya ikut-ikutan.
"Kalau aku tidak melihat langsung penobatan itu tahun lalu, aku pun tidak akan percaya," komentar seorang pemuda yang terlihat seperti kutu buku.
"Seperti rumornya, ia dingin dan anggun," seorang gadis seumuran Rosemary mengamati perilaku Alice. Dari cara berjalan sampai caranya bersikap memang sangat patut menjadi panutan para bangsawan.
__ADS_1
"Sang Putri Musim Dingin itu, ada apa datang kemari?" pemuda dari kelas kesatria terlihat penasaran.
"Kau lupa? Tunangannya ada di sini," sahut kawannya. Ia adalah anak yang menganggap Antonio sebagai rival dalam ilmu berpedangnya.
"Tidak, kudengar ia hanya ingin mengunjungi para gadis cendekia," bantah seorang gadis di dekatnya. Gadis lain menyahut, "Betapa beruntungnya, aku juga ingin jadi bagian dari mereka."
Mereka semua melihat Alice dari lantai atas. Jadi, suara berisiknya tidak sampai terdengar di telinga Alice, tetapi tetap saja tatapan mereka mengganggu. Lagi pula, saat gadis itu datang, sebagian pelajar akademi sudah pulang. Sebagian besar yang tinggal adalah yang penasaran dengannya atau memang tinggal di asrama.
Antonio berjalan di lorong sambil memikirkan banyak hal. Ia tinggal cukup lama di kelas tadi. Solid bahkan sampai menghampirinya. Pelatih sekaligus kesatria pengawal yang tidak sopan pada pangeran itu memerhatikan Antonio dengan heran.
"Kamu memikirkan tuan putri? Kudengar dia berkunjung siang ini," Solid tidak kuasa menahan rasa penasarannya. Sebelum Antonio dapat menjawabnya, mereka bertemu dengan gadis itu. Solid pun memberi isyarat agar tuannya segera maju.
Pandangan mata Alice dan Antonio bertemu. Mata gadis itu seperti biasa, dingin dan tajam. Berbeda jauh dengan anak-anak seusianya. Antonio memang ingin mendekatinya bahkan walau tidak melihat isyarat dari Solid.
Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, Aristia dan Mainne lebih dulu muncul dari lorong lain. Tatapan kedua gadis itu juga bertemu dengan Antonio. Aristia yang biasanya ceria langsung memanyunkan bibirnya, sedangkan Mainne langsung mengalihkan pandangan seolah tidak suka. Mereka segera mengajak Alice untuk mengunjungi ruang OSIS.
Saat itulah pandangan Antonio bertemu dengan Anna. Tatapan dayang itu sama dinginnya dengan Alice. Itu membuat Antonio teringat bagaimana wajah Anna saat mengusirnya di Istana Mutiara. Tatapan-tatapan itu menambah beban di hati Antonio.
Solid menahan tawa melihat hal itu. Ia ingin menggoda Antonio tetapi urung setelah melihat ekspresi tuannya yang terlihat buruk itu. Ia pun menghela napas dan berpikir bahwa lebih baik menghiburnya.
"Ayo ikut aku," Solid menepuk pundak si pangeran, "Akan kuajari Kamu teknik berpedang."
Biasanya Antonio akan senang mendengar hal itu. Solid adalah calon kesatria berbakat. Metode pengajarannya lebih hebat dari para mentor di istana. Sayangnya, ia kadang pelit berbagi ilmu. Selalu ada saja maunya kalau Antonio meminta teknik baru.
Kali ini berbeda. Sekalipun Solid yang menawarinya duluan, Antonio tetap tidak bersemangat dan hanya menerimanya saja. Anak itu sedang ditimpa banyak masalah walau jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan masalah yang menimpa Alice. Benar-benar berbeda. Tidak perlu ada simpati.
__ADS_1