
"Putri Aria, hari sudah senja. Lebih baik kita kembali dan membuat rencana terlebih dahulu," bujuk Jasmine yang khawatir kalau-kalau Aria akan bertindak gegabah. Aria pun menoleh dan menatap Jasmine dengan datar, "Memang itu yang akan kita lakukan."
"Oh, jadi begitu, ya?" Jasmine malah merasa serba salah. Mereka sedang mengantar Nenek Yulia untuk pulang ke tempatnya. Wanita tua itu menolak saat diajak untuk pergi ke hotel dan menemui Alice.
"Aku sungkan untuk menemuinya sekarang. Wanita tua ini hanya ingin segera kembali ke tempatnya," begitulah kata Nenek Yulia.
Jasmine menoleh ke belakang dengan matanya yang menatap tajam. Ia merasa telah dibuntuti sejak keluar dari kedai tadi. Aria juga sama. Walau ia terlihat biasa saja dan tenang tanpa menoleh ke kanan-kiri, matanya sangat waspada mengawasi sekitar.
"Kalian cukup mengantarku sampai sini saja. Aku akan berjalan sendiri ke sana," ucap Nenek Yulia di pangkal gang. Ia tersenyum simpul dengan rupa tuanya yang ramah. Tangannya disimpan di belakang punggung.
"Tidak, Nek. Biarkan kami mengantar sampai sana," tawar Jasmine dengan cemas. Firasatnya sudah buruk sejak tadi. Ia tidak tahu apa yang menunggu di ujung gang yang gelap itu. Padahal di sana hanya ada kediaman Nenek Yulia.
"Ikutlah dengan kami saja," Aria turut membujuk, "Saya memohon dengan sangat."
"Tidak, akan lebih baik kalau aku tinggal di tempatku," Nenek Yulia bersikeras untuk tinggal. Aria juga tidak mau menyerah, "Putri mahkota sangat membutuhkan informasi dari Nenek. Ayolah ikut dengan kami."
"Kamu kan bisa melaporkannya dengan lebih baik dariku," Nenek Yulia tetap menolak. Aria menggeleng. Ia sangat ingin wanita tua itu ikut dengannya.
"Nenek harus ikut. Sekarang juga nenek harus ikut," paksa Aria. Jasmine sampai keheranan. Ternyata Aria yang dingin padanya itu bisa bersikap kekanak-kanakan juga. Ia jadi rindu rumah untuk bersua dengan adik-adiknya.
"Kalian tidak perlu khawatir padaku. Aku baik-baik saja," Nenek Yulia seakan mengerti kekhawatiran kedua gadis muda yang menemaninya seharian ini.
"Tidak, Nek. Tempat ini berbahaya," Aria memperingatkan. Ia tahu ada yang aneh di sekitarnya. Jalanan menjadi jauh lebih sepi dari tadi pagi. Tak seorang pun yang berkeliaran walaupun mentari masih belum tenggelam. Di kota yang besar ini, itu bukan hal yang wajar terjadi sekalipun di daerah pinggiran.
"Ha... ha... ha... kita sudah ketahuan rupanya," suara gelak tawa seorang pria memecah keheningan di daerah itu. Orang-orang yang sejak tadi bersembunyi pun bermunculan. Jumlahnya ada sembilan orang dengan pemimpinnya yang sok berlagak di atap rumah. Masing-masing dua dari setiap arah mata angin.
Mereka membawa bermacam senjata seperti golok dan pedang. Semuanya terhunus siap ditebaskan. Seringai-seringai mereka bak wajah hyena yang kelaparan. Sungguh pemandangan yang ngeri dan menjijikkan.
Aria dan Jasmine sigap mencabut senjatanya. Putri Keluarga de Ernest itu menggenggam erat rapier yang pagi ini diterimanya. Jasmine menghunuskan belati yang panjangnya hampir setengah meter. Keduanya memasang kuda-kuda siap bertarung.
__ADS_1
"Nenek, tolong berhati-hati...," sebelum Jasmine menyelesaikan kalimatnya, Nenek Yulia sudah lebih dulu melempar sebilah belati pendek. Hanya dengan sekali lemparan, belati itu tepat menusuk dada dua orang yang datang dari gang rumahnya.
"Kalian sungguh anak-anak yang tidak sopan!" bentak Nenek Yulia. Pemimpin para penyergap itu sampai terkejut. Ia nyaris kehilangan keseimbangannya di atas atap.
"Tua bangka itu sudah membunuh saudara kita, jangan biarkan dia kabur," seru si pemimpin. Para penyergap yang tersisa pun mulai maju. Belum selangkah mereka bergerak, Nenek Yulia sudah kembali melempar belati yang disembunyikannya dan berteriak, "Diam Kau, dasar begundal jahat!"
Belati yang dilempar Nenek Yulia kali ini tidak membunuh targetnya. Belati tajam itu hanya menggores sedikit leher si pemimpin dan membuat hampir terjatuh. Pemimpin begundal itu pun menyentuh lehernya yang berdarah lalu berseru marah, "Cepat bunuh tua bangka itu!"
"Jangan harap bisa macam-macam di hadapanku," Jasmine mengayunkan satu teknik belati yang langsung melukai musuh terdekatnya. Begundal yang lain pun terpaksa mundur menghindar.
Di sisi lain, Aria sedang berduel dengan begundal yang mengincarnya. Ia menangkis setiap serangan begundal itu dengan rapiernya. Permainan pedangnya seperti penari yang anggun. Untung salah satu musuh yang berhadapan dengannya lebih memilih untuk menonton daripada membantu. Tampaknya ia diremehkan.
"Cih, padahal Kau terlihat cantik tanpa pedang yang kurus itu," ejek si begundal, "Tapi, memang lebih seru bermain dengan gadis yang agresif daripada yang polos."
"Lancang!" seru Aria lirih. Peluh keringat membasahi wajahnya. Rambut peraknya yang dikepang di balik tudung tergerai. Tubuhnya jadi lebih sulit bergerak, tapi ia tetap berhasil menjaga ekspresi yang dingin dan menusuk.
"Akh...!?" sebuah belati tertancap di dada begundal yang melawan Aria. Nenek Yulia dengan tepat mengenainya. Begundal yang sejak tadi hanya menonton terkejut. Ia segera mengangkat senjata dan mengincar Nenek Yulia.
Aria ingin menghadangnya, tapi jarak di antara keduanya terlalu jauh. Begundal dari arah lain juga mulai menyerangnya. Lengannya tergores oleh sebuah serangan yang datang tiba-tiba. Untuk ia dapat menghindar tepat waktu.
Bruk!
Pemimpin para begundal terjatuh dari atap. Kepalanya pecah. Ada belati yang menembus dadanya. Begundal yang berusaha menyerang Nenek Yulia jadi mundur saking kagetnya.
"Bos!?" seru begundal itu dengan tangan yang bergetar. Ia ngeri melihat tubuh pemimpin yang mengenaskan. Darahnya muncrat ke mana-mana. Kemarahan pun menguasai dirinya. Dengan wajahnya yang memarah marah, ia kembali maju untuk membunuh Nenek Yulia.
Aria terlempar ke belakang. Rapiernya terlepas dari genggaman. Beberapa memar muncul di tubuhnya. Ia terluka parah tak mampu bertarung lagi.
"Putri Aria!" seru Jasmine yang baru saja menangani seorang begundal. Jaraknya terlalu jauh untuk menolong. Ia pun terpaksa mengeluarkan senjata yang selama ini disembunyikannya.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Tembakan Jasmine tepat mengenai kepala tiga begundal yang tersisa. Satu jatuh di hadapan Aria. Satu tersungkur di depan kaki Nenek Yulia. Satu yang terakhir mati dengan kepala yang pecah tak jauh dari agen Biro Rahasia Saville itu.
Jasmine pun kembali menyembunyikan pistolnya di balik jubah. Ia melihat Aria yang gemetaran dengan wajah datarnya. Ia hampir saja celaka. Sungguh tidak dapat dipercaya seorang nenek tua dengan dua orang gadis dapat mengalahkan gerombolan pria begundal yang jumlahnya tiga kali lipat. Yah, itulah yang mereka alami.
"Putri Aria," Jasmine menghampiri Aria yang mulai kehabisan tenaga. Nenek Yulia menyaksikan dengan wajah cemas yang di sembunyikan. Ia baru saja hampir membiarkan gadis cendekia dari Istana Mutiara celaka.
"Nyonya Yulia," panggil seorang berpakaian petani yang membawa pedang besar di pinggangnya. Ia diikuti oleh beberapa pria lainnya yang juga membawa pedang. Tangan Jasmine dengan siaga siap menarik kembali pistolnya.
"Mengapa Kalian baru datang?" bentak Nenek Yulia dengan suara keras diliputi kemarahan. Para pria itu pun segera berlutut dan memohon maaf. Sikap mereka membuat Jasmine bernapas lega. Mereka adalah pahlawan kesiangan yang berada di pihak Istana Mutiara.
"Kalian hampir membuat Putri Aria terbunuh. Apa Kalian tidak malu sebagai pasukan rahasia dari Istana Mutiara?" omel Nenek Yulia. Untung benar-benar tidak warga di sekitarnya. Mereka segera kabur saat mendapat ancaman dari para begundal itu.
"Ini salah kami, Nyonya. Kami pantas dihukum," kata pria paling depan mewakili teman-temannya.
"Sudahlah! Cepat bereskan para begundal kotor itu! Juga, bawakan kereta kuda untuk Putri Aria," Nenek Yulia mengakhiri omelannya. Ia adalah Kepala Balai Pengawas Rahasia di Kota Aurelis yang sudah pensiun. Saat ini posisinya hanya sebagai informan untuk orang-orang resmi Istana Mutiara.
"Siap, Nyonya," pasukan rahasia yang tersisa di kota itu menjawab kompak. Yah, mereka adalah yang tersisa. Walau dapat diandalkan, mereka tidaklah sekuat yang terlihat. Apalagi jumlahnya sangatlah sedikit. Mereka harus saling berkomunikasi dan berhimpun dulu tadi.
"Nona Jasmine, cepat bawa Putri Aria. Biar saya yang mengurus sisanya di sini," ucap Nenek Yulia dengan lembut. Kesannya sangat berbeda dengan yang tadi. Ia memohon maaf karena tidak dapat mencegah musibah yang sudah diperkirakannya itu.
"Terima kasih, Ne... ah, maksud saya Nyonya Yulia," Jasmine gelagapan. Aria sudah pingsan di pelukannya. Saat kereta datang, ia pun segera berangkat kembali ke hotel tempat para gadis cendekia menetap.
"Ya ampun," Jasmine memangku kepala Aria yang dibaringkannya di kursi. Ia menghela napas dan tertunduk dalam. Wajahnya pucat diliputi ketakutan, "Bagaimana aku akan menghadap pada Madam Anna natinya?"
Mentari telah tenggelam, tapi semburat senja masih terlihat tipis di ufuk barat. Kasus yang menimpa Mainne telah terungkap, tapi Aria jadi terluka karenanya. Saat Alice mengetahui hal itu, ia sangat marah besar. Padahal ia baru saja bersedih.
"Jangan biarkan mereka lolos. Siapa pun yang mengirim mereka, ia harus dihukum dengan setimpal," kata Alice sambil menahan amarahnya yang tersimpan selama menetap di kota ini. Rosemary sampai tak tega melihatnya, tapi tak banyak yang bisa dilakukannya.
__ADS_1