Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Domique


__ADS_3

Hutan di sekitar Pegunungan Kaskas teramat lebat. Namanya disamakan dengan nama pegunungan itu. Walaupun pepohonannya rapat dan dedaunannya lebat, sinar mentari masih dapat menembus permukaan tanahnya.


Kicauan burung yang awalnya berkonser ria di hutan tiba-tiba berhenti. Sebuah aura mencekam datang menyelimuti suasana di sana. Seekor serigala raksasa berjalan angkuh di setapaknya. Seakan ia tak sadar bahwa seorang pria tua berjubah putih duduk mengendalikannya.


"Hormat kepada Penyihir Agung, sang Pemilik Menara Penyihir," sapa seorang pria paruh baya berpakaian pemburu. Sorot mata pria itu tajam setajam pedangnya. Wajahnya keras sekeras tanah coklat Pegunungan Kaskas. Perawakannya gagah bahkan saat ia berlutut hormat.


"Sir Domique, angkat kepalamu," ucap Voxnus berkarisma. Citranya sebagai penyihir agung dan pahlawan sangat kental di luar. Orang-orang tidak akan pernah tahu bahwa dalamnya adalah keserakahan dan kebengisan.


"Aku mengucapkan selamat padamu," Voxnus menunjukkan senyumnya yang bangga seakan ia sendiri yang mendapat penghargaan itu, "Kamu sudah mendapat kepercayaan yang lebih di sana."


"Katakan saja! Apa perintah selanjutnya?" seru Domique tanpa takut dengan sosok bermuka dua di hadapannya. Toh, ia juga sudah tahu wajah asli pria berjubah putih yang dianggap sebagai pahlawan itu. Sebenarnya, ia tak ingin memberi hormat padanya.


"Ck, Seperti biasa. Kamu selalu terburu-buru," senyum munafik di wajah Voxnus menghilang, "Kemarilah!"


Domique mendekat. Voxnus pun menyentuh jidatnya. Suatu perasaan yang aneh segera mengalir ke tubuh Domique, tapi ia berusaha menahannya.


Saat Voxnus menarik tangannya, Domique langsung mundur dan membangun kuda-kuda. Ia sigap menarik pedangnya. Matanya menyapu sekitar. Mereka telah dikepung sekumpulan serigala.


"Kalahkan dia!" Voxnus menunjuk salah satu serigala yang paling besar. Domique pun menoleh ke sana. Serigala besar berbulu abu-abu melotot tajam ke arahnya. Sorot matanya itu mengandung permusuhan yang amat dalam.


Tanpa aba-aba, serigala abu-abu itu langsung melesat maju. Domique menghindari serangannya lalu memperkuat kuda-kuda. Saat serigala itu ada di hadapannya, ia mengayunkan pedang untuk memenggal lehernya.


Pedang Domique menyibak udara kosong. Lawannya dengan lincah menghindar kembali menyerang. Domique terdorong ke belakang beberapa langkah, tapi kali ini ia bisa menusukkan pedangnya ke jantung serigala itu.


Darah predator berkelompok itu mengalir di bilah pedang. Serigala-serigala lain menggonggong seolah tidak menerima hasil pertarungan. Mereka membuat kuda-kuda, siap untuk menyerbu bersama.

__ADS_1


Voxnus terkekeh. Dilihatnya Domique yang masih terengah-engah berusaha mengatur napasnya. Ia pun mengangkat tangan ke angkasa seraya berteriak, "Baiklah kalau itu keinginan Kalian. Serang bocah ini bersama-sama!"


Para serigala mulai menerkam. Domique menggeram dan memperkuat pegangan pedangnya. Dalam sekali tarikan napas, ia pun mengayunkan pedangnya dan membunuh salah satu serigala itu.


Seekor serigala berhasil menyerang titik buta Domique saat pria itu menebas kawanannya. Dengan gigi-giginya yang tajam, ia menggigit pundak Domique. Kuku-kukunya kuat mencengkram pria itu seakan ada dendam di antara mereka.


Serigala lain menggigit kaki kanan Domique, tapi pria itu dengan cepat memukulnya. Ia pun menarik serigala yang menggigit di pundaknya dan melemparnya kuat-kuat hingga terbentur pohon.


Sampai mentari naik ke puncak cakrawala, Domique masih berusaha bertahan dari serangan serigala. Beberapa predator itu sudah tumbang di sekitarnya. Tubuhnya pun sudah di penuhi darah dan luka. Pakaiannya terkoyak-koyak di mana-mana. Voxnus dan Raja Serigala hanya terus diam dan mengamati.


"Mati Kau, Bulu Bau!" Domique membanting serigala terakhir ke tanah. Pedangnya telah jatuh sejak tadi. Napasnya naik turun tak karuan. Rambutnya tergerai berantakan. Dengan setengah berlutut, ia menatap Raja Serigala yang balas menatapnya dengan tatapan menghina.


"Bagus! Itu bagus!" Voxnus bertepuk tangan puas, "Mulai hari ini, setiap purnama terbit di angkasa, Kau akan belajar untuk mengendalikan serigala-serigala itu. Persiapkan dirimu. Jangan sampai mereka malah memakanmu nanti."


Domique menatap penyihir tua berjubah putih itu dengan tajam. Tangannya mengepal dan seringai pun tersungging di bibirnya. Sejenak kemudian ia terkekeh keras membayangkan begitu banyak kenikmatan yang akan didapatnya nanti.


...***...


"Terima kasih sudah menemani kami selama beberapa hari ini, Countess de Ernest," Alice langsung yang mengucapkan terima kasih itu. Countess de Ernest pun memeluknya erat. Ia juga bagian dari gadis cendekia di masa lalu. Nama gadisnya Leticia de Eckart. Ia mengambil peran yang sama dengan Rosemary dulu.


"Tuan Putri, Anda adalah harapan kami," Countess de Ernest menatap Alice dalam. Seulas senyum menghias wajah cantiknya. Sekali lagi, ia memeluk Alice.Aria tersenyum saat melihatnya.


Selanjutnya, Countess de Ernest pun juga memeluk gadis cendekia lainnya satu per satu. Ia memeluk lama putri kebanggaannya. Sebelum melepas pelukannya itu, ia pun berpesan kepada putrinya, Aria, "Jagalah tuan putri, Sayang."


"Ya, aku pasti menjaganya," jawab Aria, "Dengan izin Tuhan."

__ADS_1


Rombongan Alice kembali berangkat menuju tempat tujuan utama di wilayah Keluarga van Ryvat, keluarga asal ibu suri yang merupakan wali dari Istana Mutiara.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke wilayah paling barat dari Kerajaan el Vierum itu. Mereka berangkat pada pagi hari dan tiba di sebuah desa sore hari. Paginya, mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di wilayah wilayah perbatasan barat yang dijaga oleh Keluarga van Ryvat.


"Selamat datang, Tuan Putri," seorang pria paruh baya telah menunggu rombongan di gerbang kota yang kokoh dan tinggi, "Yang Mulia Ibu Suri sudah menunggu Anda. Mari saya antar."


Pria itu menuntun di depan rombongan Alice. Ia merupakan salah satu paman Akilla sekaligus paman Alice dari pihak ibu. Sikapnya terlihat tenang dan berwibawa. Ia menundukkan pandangan saat berhadapan dengan para wanita.


Seperti yang diduga, warga di kota perbatasan ini lebih antusias menyambut kedatangan Putri Mahkota el Vierum di banding kota-kota dan desa lainnya. Mereka sudah menantikan kedatangan Putri mahkota yang masyhur prestasinya itu. Di kota ini, Akilla dan Alice sendiri yang menyapa para warga dengan melambaikan tangan dari dalam kereta kuda sambil tersenyum.


"Kita hampir sampai," seru Akilla saat melihat kastil besar yang merupakan pusat kota., "Alice, kita akan segera bertemu nenek."


"Iya, Kamu benar," Alice mengangguk. Ia juga melihat kastil besar itu. Di masa lalu, ibu dan bibinya pernah menjalani masa kecil di sana walaupun hanya sebentar. Ada perasaan yang mengalir di dadanya. Sejak ibunya meninggal, ia mulai jarang ke sana.


"Keselamatan atas Kalian," Alice menyapa seorang wanita tua yang sudah mulai berkeriput, "Nenek, saya datang menghadap."


"Atas Kalian pula keselamatan itu," wanita tua yang merupakan Marchioness van Ryvat sekaligus ibu suri itu menjawab, "Kemarilah, Alice! Sudah lama nenek tidak bertemu denganmu."


Alice pun mendekat. Marchioness van Ryvat memeluknya sangat lama. Wanita itu seakan baru saja menemukan sesuatu yang telah lama hilang sehingga ia tidak ingin kehilangannya lagi.


"Nenek sangat senang Kamu akhirnya sampai," ucap Marchioness van Ryvat. Para gadis cendekia masih menunggu. Mereka melihat pemandangan itu dengan haru.


"Kamu sudah semakin besar rupanya," Marchioness van Ryvat akhirnya melepaskan pelukannya, lalu mengelus rambut biru gelap Alice yang hilirnya kemerahan. "Padahal nenek sangat ingin menggendongmu seperti dulu."


Alice tersenyum. Kali ini, ia yang memeluk Marchioness van Ryvat. Wanita tua yang kepalanya dililit hijab dengan rapi itu sangatlah mirip dengan ibunya. Rindunya pun timbul dan lega secara bersamaan saat di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2