
"Kamu sudah mau pulang, ya?" ucap Nenek Rubia dengan senyum sendu, "Padahal, rasanya baru kemarin Kamu sampai. Ternyata sudah seminggu Kamu di sini. Nenek yakin ada banyak yang Kamu pelajari selama ini. Jangan berhenti untuk belajar. Teruslah semangat untuk meraih cita-citamu. Nenek menunggumu sembilan tahun lagi."
"Bukannya tujuh?" protes Alice. Ia ingat usia minimal yang disyaratkan neneknya adalah 17 tahun.
"Ah, benarkah?" Nenek Rubia pura-pura lupa. Ia pun tak memberi toleransi sama sekali, "Pokoknya nenek tunggu sembilan tahun lagi, jika Tuhan berkehendak."
"Tujuh," Alice bersikukuh.
"Sembilan, Sayang," tegas Nenek Rubia dengan lembut. Nadanya sama seperti saat menegaskan keputusannya kepada Alicia. Semua orang di Keluarga van Ryvat paham, jika marchioness sekaligus ibu suri itu sudah menegaskan, maka tak ada lagi penawaran yang diterima.
"Kalau aku menikah 5 tahun lagi, berarti sudah boleh, kan?" tawar Alice.
"Tidak! Maka itu menjadi sepuluh sampai lima belas tahun lagi," Nenek Rubia sama sekali tidak menyerah, "Kamu harus membesarkan cicitku dengan baik terlebih dahulu."
"Oke-oke. Aku tidak akan buru-buru. Sembilan tahun lagi," akhirnya Alice yang menyerah. Ia menggelembungkan pipi dan menatap kesal. Orang-orang yang melihatnya tertawa gemas seakan lupa bahwa itu topik yang aneh dibicarakan oleh gadis berusia sepuluh tahun.
"Kita lihat saja nanti," Nenek Rubia menyungging senyum kemenangan. Ia pun mengecup kening dan memeluk cucunya itu. Para gadis cendekia juga mendapat kecupan dan pelukan yang sama. Mereka mendapat bonus berupa pesan dari sang marchioness.
"Tolong jaga dia. Aku memang kagum dengan hobi Keluarga vi Alverio dalam bekerja," Marchioness Rubia berpesan kepada Rosemary, "Tapi jangan sampai Alice memaksakan dirinya sampai sakit seperti kemarin."
"Saya akan menjaga tuan putri, Nyonya Marchioness," Rosemary menyanggupi. Ia memberi hormat secara formal seperti biasa. Keanggunan memancar dari dirinya.
__ADS_1
Mereka pun pulang ke ibu kota dengan rute yang berbeda. Perjalanan pulang ini akan lebih cepat menurut perkiraan Florence. Mereka akan melewati jalur umum antar negara yang biasa dipakai para saudagar.
"Patung apa itu?" Mainne menunjuk sebuah patung berbentuk seorang wanita yang dipajang di pusat kota. Wanita itu membawa sebuket bunga. Detailnya sangat indah. Orang-orang berkerumun di sekitarnya. "Apa yang mereka lakukan?"
Itu adalah hari ketiga mereka sejak berangkat dari March van Ryvat. Mereka melewati sebuah kota perdagangan yang ramai. Tidak hanya pasar, banyak juga kawasan wisata di sana. Salah satunya adalah taman pusat kota yang ada patungnya itu.
"Itu patung Saintess Arabella. Penduduk sekitar dan saudagar yang lewat kadang memanjatkan doa padanya," jelas Rosemary. Aristia menatap dengan wajah bertanya-tanya. Begitu pula Mainne. Aria tidak tertarik, sementara Alice menatap patung itu dengan tajam.
"Buat apa mereka berdoa pada patung? Memang apa gunanya bagi mereka?" kritik Aristia. Mainne mengangguk setuju. Ia mempertanyakan hal yang sama.
Rosemary pun menghela napas baru kemudian menjawab, "Saintess Arabella adalah wanita yang telah berjasa besar pada penduduk di sekitar sini. Kuil Suci menganugerahinya gelar saintess beberapa tahun setelah ia meninggal. Mereka pun membuatkan patung untuk menghormatinya. Awalnya itu hanyalah monumen yang dijadikan figur publik di kota ini."
Rosemary berhenti sejenak untuk menata napas.
"Begitulah orang-orang terdahulu menjadikan para saleh dan raja di antara mereka sebagai Tuhan," sambung Alice, "Mereka telah tersesat amat dalam. Mereka bahkan tidak mau menerima nasihat."
"Di daerah lain juga ada praktek serupa berupa pemujaan terhadap makam wali atau orang yang dikuduskan," Akilla bergabung dalam diskusi. Gadis berkerudung putih itu mampu mengekpresikan perkataannya melalui gerakan tangan. Tangannya dengan lincah ikut menjelaskan. "Dasar pemikiran mereka tak jauh berbeda. Mereka berdoa dan menyembah makam-makam itu agar doanya disampaikan kepada Tuhan padahal orang mati tidak dapat berdoa lagi sama sekali, tapi masih banyak orang yang tidak mengerti."
Aristia dan Mainne manggut-manggut paham. Mereka bersyukur tidak pernah mengikuti acara yang konyol dan memalukan itu. Untungnya mereka sudah mendapatkan ilmunya lebih dahulu.
"Apa tidak ada orang yang mengajarkan atau memberitahu mereka?" tanya Mainne kemudian dengan nada khawatir. Ia sudah mengerti esensi orang sesat. Itu berarti mereka sudah keluar dari kodrat penciptaan manusia, yaitu untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa tanpa mempersekutukan-Nya.
__ADS_1
"Sudah banyak orang yang melakukannya," jelas Alice, "Tapi, mereka sama sekali tidak mau mendengarkannya bahkan walaupun pemberi peringatan itu merupakan orang terhormat dari keluarga ternama."
"Apakah para bangsawan tidak dapat menggunakan kuasanya?" tanya Mainne lagi.
"Dalam tubuh keluarga bangsawan sendiri ada perbedaan paham. Ada juga bangsawan yang mengambil kesempatan," kata Alice kemudian menunjuk orang-orang di pusat kota, "Kamu lihat itu. Mereka melemparkan uang dan sesembahan kepada patung yang tidak dapat mendengar dan melihat itu. Apalagi memberi manfaat atau mengutuk."
"Aku mengerti," seru Aristia, "Jadi, mereka memanfaatkan kebodohan orang-orang itu sebagai bisnis. Merekalah yang memakan dan mengambil sesajen itu. Itu sungguh cara yang licik dan tidak tahu diri."
"Pusat dari praktek itu adalah Kuil Suci. Merekalah yang paling mendapat keuntungan. Konon, setiap orang berdosa yang ingin menebus kesalahannya harus membeli surat penebusan dosa dari mereka," Rosemary kembali aktif dalam diskusi, "Itu adalah omong kosong yang membuat Kuil Suci terbelah menjadi dua, Kubu Konservatif dan Kubu Revolusioner. Walau begitu, kekuatan mereka tidak serta merta hilang begitu saja. Pusat Kuil Suci saat ini masih dikuasai oleh Kubu Konservatif."
"Benar, mereka memiliki pasukan Kesatria Suci yang kuat setara dengan kekuatan beberapa negara," Florence yang sejak awal tertarik dengan diskusi murid-muridnya masuk dalam diskusi, "Dengan mandat yang mereka miliki, mereka bahkan dapat mengambil alih pasukan kesatria suatu negara."
"Apakah Kerajaan el Vierum termasuk salah satu di antaranya?" tanya Aristia.
"Ya, termasuk Kerajaan el Vierum. Raja el Vierum yang sekarang naik takhta dengan dukungan Kuil Suci dan Menara Penyihir," Florence melanjutkan, "Itu adalah suatu aliansi yang aneh dalam dunia perpolitikan kerajaan. Dalam sejarah dikatakan bahwa Kuil Suci dan Menara Penyihir selalu bertentangan, tapi Raja el Vierum saat ini mampu menyatukan dan mendapat dukungan dari keduanya."
Alice merutuk dalam hati. Itu adalah salah satu kekecewaan yang ia pendam terhadap pamannya. Saat muda dulu, pengaruh Raja Claudius tidak sekuat Istana Mutiara. Jadi, ia berinisiatif merangkul kedua kekuatan itu untuk bersaing dengan keluarga-keluarga besar yang mendukung putri kembar.
Kekuatan Raja Claudius sudah kokoh saat Putri Elianna menghilang, sedangkan Duchess Evianna tidak tertarik dengan takhta. Karena itu, ia mengirim Ratu Clara ke sisi Raja Claudius dengan dalih menyatukan dua kekuatan politik sekaligus menghindari masalah yang tidak perlu. Penyatuan itu pun berimbas pada Alice dan Antonio sekarang.
Alice menghela napas dan menatap keluar jendela. Ia tidak masalah dengan pertunangan itu. Kalau bisa, ia ingin membimbing Antonio dengan ajaran yang lurus, lalu menjauhkan pengaruh Kuil Suci dan Menara Penyihir dari Kerajaan el Vierum.
__ADS_1
Di luar, Anna menaiki kuda sebagai pengawal. Ia berjalan tepat di samping kereta kuda yang ditumpangi para gadis cendekia. Sambil terus berjalan dan mengamati sekitar, ia mendengarkan laporan dari Biro Rahasia terkait pergerakan Menara Penyihir dan Kuil Suci.
"Kalau saja Kekaisaran Langit dapat ikut campur secara langsung, tentunya mereka bukanlah masalah yang besar," gumam Anna dalam hati. Ia bisa saja menggerakkan para Agen Saville untuk menguasai sebuah kota dalam semalam, tapi ia butuh izin dari otoritas di atasnya. Ia tidak bisa sembarang mengintervensi konflik yang ada di permukaan bumi walaupun ia sudah lama menjejakinya. "Jika aku diizinkan untuk melakukannya, tentu Alice tidak harus berada dalam situasi yang berisiko seperti ini."