Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Kegelapan Keluarga Puliu


__ADS_3

Baron Perres Puliu berlutut di sebuah ruangan yang sempit. Dia menggabungkan kedua tangannya dengan mengepal. Dalam tunduknya, ia berkomat-kamit memohon pada sebuah patung seorang wanita yang dikuduskan.


Preves Puliu memandang konyol perbuatan ayahnya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia mengepalkan tangan lalu menggeram dalam hening. Dengan hati yang diliputi kemarahan, ia mengumpati kebodohan ayahnya.


Sejak kecil, ia dididik dengan tegas. Tak ada hari tanpa bentakan. Pendidikan yang keras itu membuat kepribadiannya sama-sama keras.


Air matanya sudah habis sejak dini. Hatinya membatu. Sifatnya angkuh dengan segala kekuatan dan kekuasaan yang ia miliki. Ia pun pernah berambisi untuk memanjat ke hierarki sosial yang lebih tinggi.


Sekalipun ia bekerja keras, tak ada satu pun hal baik yang didapatnya. Setidaknya, itulah yang ia rasakan. Ia malah semakin banyak mendapat tekanan dari berbagai sisi. Harta dan kekayaan selalu membuatnya gundah gulana. Pengikut dan bawahan selalu membuatnya cemas akan pengkhianatan. Segala yang ia punya tak sedikit pun membuatnya puas maupun senang.


Sejak Serikat Dagang Saville membuka cabang usaha baru di Kota Aurelis, bisnis yang dipegang Keluarga Puliu mengalami resesi yang parah. Ia tak dapat lagi memonopoli pasar. Lebih banyak pemasok yang tertarik untuk bekerja sama dengan serikat raksasa itu. Lambat laun, dominasi pasar Keluarga Puliu di Kota Aurelis pun sirna. Mereka pun mencari dan mengupayakan beberapa cara.


Keluarga Puliu tak dapat sedikit pun menemukan celah pada Serikat Dagang Saville. Mereka adalah serikat besar yang sudah terkenal sejak lama. Mereka bahkan memiliki koneksi dengan Keluarga Kerajaan el Vierum dan bangsawan-bangsawan ternama. Sungguh Keluarga Puliu tak pernah dapat menemukan retak padanya.


Preves semakin marah saat menyadari dirinya sangat kecil dibanding dengan serikat raksasa yang berusaha dilawannya itu. Awalnya, semua berjalan lancar. Ayahnya berhasil menghasut para amtenar kota untuk menarik mereka ke sisinya.


Preves dan begundal-begundalnya berhasil menekan para pemasok yang bekerja sama dengan Serikat Dagang Saville. Alhasil, Serikat Dagang Saville mengalami banyak kerugian. Sekali pun mereka mengadu pada pemerintah kota, aduan mereka tidak diterima dengan alasan bukti yang tidak nyata. Tuntutan serikat pun tidak dapat sampai ke tangan penguasa kota. Baron Puliu telah mengisi tangan orang tua gembul itu dengan berbagai kenikmatan duniawi yang fana.


"Apa tidak ada yang bisa Kalian lakukan, hah?" tanya Preves dengan membentak, "Aku sudah banyak memberi pengorbanan, tapi hasilnya tidak pernah memuaskan.

__ADS_1


Orang-orang di hadapan Preves terdiam membisu. Mereka menatap tajam pemuda itu dari balik tudung yang menutupi sebagian wajah mereka. Dalam hati, mereka mengumpati keserakahannya.


"Aku bahkan sudah rela mengorbankan adik perempuanku sebagai persembahan. Apa itu belum cukup?" pekik Preves dengan hatinya yang keras. Walaupun ia mengingat wajah adiknya yang tak bernyawa dengan mata terbelalak beberapa tahun lalu, ia tidak menangis rindu sama sekali. Menyesal pun tak pernah terbesit dalam hatinya.


"Tuan Muda Puliu benar," akhirnya salah satu orang berjubah itu angkat suara, "Anda telah memberikan persembahan yang besar. Darah gadis perawan adalah material berharga yang disukai mereka."


"Cenayang busuk! Bisnisku akan bankrut sekarang. Bagaimana Kalian akan bertanggung jawab?" Preves terus berteriak-teriak menagih, "Bukankah Kalian bilang, aku akan berjaya selamanya?"


Para cenayang yang menyokong Keluarga Puliu dalam pesugihannya terdiam. Mereka tak dapat menjawab apa pun. Padahal kesalahan terletak pada Preves sendiri.


Preves mengulurkan tangannya seakan hendak meraih udara. Ia pun mengepalkannya dengan cepat kemudian. Seketika, suara-suara pedang yang dihunus terdengar. Hati para cenayang bergetar saat melihat bala Keluarga Puliu mengacungkan pedangnya kepada mereka.


"Apa Kalian bodoh? Jika Keluarga Kerajaan el Vierum mendengarnya, Kita semua bahkan tak akan bersisa nama!" Preves berseru kesal. Rencana cenayang itu terlalu ceroboh. Kalau mereka melukai Putri Mahkota el Vierum sedikit saja, nyawa merekalah taruhannya.


"Tuan Muda tidak perlu khawatir. Selama tidak bukti, mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa," hasut cenayang itu. Ia merapalkan sebuah mantra yang mampu mengacaukan pikiran targetnya. Preves pun dengan seringainya setuju.


"Aku akan mengaturnya. Hanya sehelai rambut, ya?" Preves manggut-manggut. Ia benar-benar telah lupa tempatnya. Setelah ulahnya terungkap, ia tidak akan memiliki tempat lagi di tanah Kerajaan el Vierum.


"Jika Tuan Muda berkehendak, kami akan membuat tuan putri itu menjadi milik Tuan," si cenayang meniupkan angin yang lebih segar.

__ADS_1


Prever mencibir, "Heh, aku tidak tertarik dengan anak kecil. Ambil saja dia sebagai tumbal."


"Tuan Muda sangat bermurah hati," puji si cenayang. Senyum picik terukir di balik tudungnya. Ia adalah penipu ulung yang mempelajari ilmu hitam. "Anda akan segera menuju ke puncak hierarki."


...***...


Dorothy Magansei terkekeh mendengar cerita dari kaki tangannya itu. Ia duduk di sebuah singgasana berkayu hitam yang penuh dengan ornamen rumit. Rival dari Voxnus Audrew itu adalah ratu dunia bawah. Ia memiliki mata dan telinga hampir di mana-mana.


"Dasar para cenayang rendahan. Kalau cara itu berguna, Menara Penyihir akan menggunakannya sejak lama," Dorothy kembali terkekeh dengan tawanya yang terdengar mengerikan. Murid-muridnya hanya dapat terdiam sambil menunduk. Bulu kuduk mereka selalu berdiri setiap mendengar tawa mencekam itu.


"Preves Puliu. Sungguh bocah yang menarik. Dia pasti akan gagal dan kebenciannya pun akan semakin merasuk," Dorothy lagi-lagi terkekeh. Ia selalu suka melihat tatapan penuh dendam di mata manusia. "Awasi dia. Jika dia benar-benar gagal, seret dia ke mari. Dia akan menjadi boneka yang lucu."


Dorothy jadi ingat dengan Nana. Gadis penyihir yang mewarisi marganya itu adalah gadis yang paling ia suka. Saat umurnya masih sangat kecil, tangannya berlumuran darah kedua orang tuanya. Bukannya takut dan bersedih, gadis itu malah menunjukkan amarah yang berapi seakan ingin melahap orang-orang yang menjarah desanya.


Saat Dorothy menemukannya, ia mendapati gadis itu dengan keadaan lemah. Air matanya sudah habis, tapi api amarah itu tidak pernah padam. Mata itulah yang membuat Dorothy mau memungutnya.


"Sekarang gadis itu sudah menjadi penyihir terhormat," gumam Dorothy. Murid-muridnya keheranan, tapi mereka tak berani bertanya. "Sungguh aku tidak pernah menyangka. Voxnus tua itu sangat licik merebut murid terbaikku."


Mata Dorothy perlahan tertutup. Para muridnya pun semakin keheranan. Saat salah seorang dari mereka hendak bangkit memeriksa, mata Dorothy kembali terbuka, "Apa yang Kalian lakukan di sini? Cepat pergi laksanakan tugas Kalian!"

__ADS_1


Para murid penyihir itu pun serentak bangun. Mereka memberi hormat sebelum keluar dari ruang singgasana Dorothy. Begitu mereka keluar, nenek sihir itu kembali menutup mata.


__ADS_2