Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 007: Bertemu Ibunda


__ADS_3

"Aku sudah lama menunggu untuk dapat bertemu denganmu, Alice." Sebuah suara lembut melintas di telinga Alice.


Putri kecil itu pun berusaha membuka mata. Akan tetapi, gelap masih saja enggan melepaskannya. Ia pun berusaha menggerakkan tubuh. Badannya menggigil.


Sebuah sentuhan lembut mengelus keningnya. Sentuhan itu membuatnya merasa nyaman. Hatinya pun menjadi tenang. Rasanya seperti mendapatkan berkah dan perlindungan.


Ketika sentuhan tersebut menghilang, Alice kembali menggerakkan tubuhnya. Tangannya pun gemetar. Ia berusaha meraih kembali sentuhan yang menenangkannya.


Tak lama kemudian, sentuhan itu datang lagi dan menggenggam tangannya. Sentuhan itu terasa lembut dan hangat. Alice pun kembali merasa tenteram.


Telinga putri kecil itu mendengar sebuah suara lagi. Itu adalah suara lantunan halus yang mengalir masuk menyejukkan hatinya. Lantunan itu sangat merdu. Alunannya terasa sangat familiar.


Alice pun mengingatnya. Sudah lama sekali ia tidak mendengarnya. Sang putri kecil amat merindukan lantunan itu.


Seberkas cahaya muncul. Habis gelap, terbitlah terang. Alice pun berlari ke sumber cahaya itu. Ia menutupi matanya dengan kedua tangan. Cahaya yang memancar itu teramat terang sampai menyilaukannya.


Ketika cahaya telah benar-benar meliputi sekitar, Alice perlahan menurunkan tangannya. Betapa terkejutnya ia. Sebuah taman yang indah terhampar lapang sejauh mata memandang. Ia pun berlari dengan riang menyusuri taman nan luasnya tak terbilang itu.


Sampailah Alice di dekat sebuah pohon yang besar dan rindang. Akarnya kuat mencengkram bumi, dahannya tinggi mencakar langit. Buah-buahannya rimbun nan mudah dipetik. Bebungaannya indah nan harum memanjakan mata dan menenangkan jiwa.


Pohon itu menaungi sebuah bukit yang tidak terlampau tinggi. Di bukit itu terdapat sebuah ayunan perak yang tengah berayun-ayun pelan. Seorang wanita yang cantik jelita duduk tenang di atasnya. Alice pun dengan penasaran menghampirinya.


"Alice," panggil wanita itu ramah, "Akhirnya kamu sampai."


Alice terpana melihat wanita itu. Senangnya bukan main bertemu kembali dengan ibundanya, Evianna el Vierum. Ia pun langsung berlari memeluk sang ibunda dan melepas rindunya.


Sudah lama sekali mereka tidak saling bertemu. Mungkin sudah sampai lima tahun lamanya mereka tak saling bersua. Saat Evianna pergi meninggalkan dunia, usia Alice baru menginjak tujuh tahun.


"Ya ampun, kamu pasti sangat rindu dengan bunda," kata Evianna sambil mengelus kepala putrinya dengan gemas, "Bagaimana kabarmu, Sayang?"

__ADS_1


"Baik, Bunda," jawab Alice riang, "Alice senang sekali bertemu Bunda."


"Bunda juga senang bertemu Alice," Evianna membalas jawaban Alice dengan seulas senyuman indah di wajahnya, "Kak Derrick bagaimana kabarnya?"


"Kakak selalu keren," ucap Alice dengan bangga, "Kakak sudah bisa mengurus wilayah dengan baik. Orang-orang menghormatinya. Dia menggantikan ayah dengan sempurna. Pokoknya, tak ada orang yang lebih keren daripada kakak."


Evianna tertawa ringan mendengar cerita Alice yang bersemangat itu. Ia amat bangga dengan putra-putrinya. Putranya telah menjadi pemimpin yang cakap dan disegani, sementara putrinya menjadi gadis yang cerdas dan hebat.


"Tapi, ayah …." Suara Alice tertahan sesaat ketika mengingat ayahnya, Duke Cassander vi Alverio. Ia bercerita sambil cemberut, "Ayah sering sakit-sakitan. Kesehatannya terus menurun, tapi ayah malah terus-terusan bekerja. Katanya, ayah mau menyusul bunda."


"Itu terlalu cepat. Ayahmu harus bertahan setidaknya sampai kamu menikah," ucap Evianna berusaha menghibur putri kecilnya, "Ingatkan juga dia untuk tidak berlebihan bekerja. Alice pasti bisa melakukannya, ‘kan?"


"Pasti!" jawab Alice yang kembali tersenyum riang. Ia duduk di pangkuan ibundanya. Mereka berdua menikmati indahnya taman bersama-sama. Betapa tenang dan sejuknya tempat itu. Saking tenangnya, tak ada kata yang cocok untuk mengungkapkannya lebih jauh lagi.


Evianna mencium rambut putrinya. Wangi harum semerbak tercium darinya. Ingin sekali ia kembali bersama putrinya yang manis itu. Akan tetapi, waktunya sudah habis. Hidupnya pun sudah tiada lagi di dunia sana. Sekarang, ia hanya bisa kembali menunggu keluarganya dengan sabar.


"Bunda," panggil Alice, "Apa Bunda tak akan pulang?"


“Bunda?” Alice mendongak. Dilihatnya Evianna menangis. Ia pun berpaling menghadap pada ibunya. Kedua tangan mungilnya mengusap air mata tangis sang bunda.


"Seandainya bisa, ingin sekali bunda pulang bersamamu, Sayang,” kata Evianna penuh kerinduan, “Akan tetapi, bundalah yang harus menunggu kalian pulang ke mari. Kita akan berkumpul kembali. Itu tak akan lama lagi. Sungguh, itu tak akan lama lagi. Alice, bunda selalu menyayangimu."


“Alice juga sayang Bunda,” balas Alice dengan tulus. Dilukisnya senyum yang manis. Ia pun berdiri, lantas menempelkan keningnya pada kening sang bunda.


"Alice," ucap Evianna hendak berpesan, "Kalau Kamu pulang kepada kakak dan ayahmu, ingatkanlah keduanya untuk tidak menyekutukan Allah Yang Maha Esa. Sungguh tiada Tuhan selain Allah dan kepada-Nyalah kita kembali. Mahasuci Ia yang di tangan-Nyalah kerajaan langit dan bumi."


Evianna terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Ialah yang mempertemukan dan memisahkan kita. Tidaklah Ia menciptakan maut dan hayat melainkan untuk menguji siapa di antara kita yang paling bagus amalnya.


Maka, janganlah engkau terbuai dan terpedaya oleh dunia yang fana. Sungguh nikmat dunia hanyalah setetes air di antara luasnya lautan. Akhirat itu tempat yang abadi. Hiduplah di surga, jangan sampai engkau jatuh ke dalam neraka.

__ADS_1


Jangan ada setitik pun kesombongan di hatimu. Sungguh, penciptaanmu itu tidaklah lebih hebat dari penciptaan tujuh langit yang berlapis-lapis.


Lihatlah langit-langit itu! Apakah ada cacat di sana? Lihatlah lagi dan lagi. Niscaya, pandanganmu itu akan kembali tanpa menemukan retak di sana, sedangkan ia akan merasa letih.


Dihiasi-Nya langit dunia dengan bintang-bintang yang indah bak mutiara. Ia juga menjadikannya sebagai petunjuk jalan bagi para pengembara lautan.


Sungguh, tempat bagi mereka yang menutup hati atas kebenaran adalah kobaran api yang menyala-nyala. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali.”


Evianna terus bercerita sambil berpesan panjang-lebar kepada Alice. Gadis kecil itu pun dengan tenang menyimaknya. Selepas sang bunda selesai berbicara, giliran Alice yang meneteskan air matanya.


Dulu, Alice selalu mendengar cerita dan nasihat ibundanya  setiap malam. Cerita itu diantarkan oleh Evianna dalam berbagai cara. Melalui syair, lagu, dan lantunan-lantunan ayat yang merdu.


Dari situ, wawasan Alice pun berkembang. Ia mengerti bagaimana manusia akan menyesal di masa depan. Ia juga jadi tertarik untuk melihat dunia luar nan luasnya tak terbilang.


Lantunan yang dulu didengarnya setiap malam itu penuh dengan pengetahuan.


"Sayang," panggil Evianna sembari berdiri dari ayunan. Ia menggendong Alice yang masih menangis dalam dekapannya. Dengan lembut, wanita itu pun menawarkan, "Sebelum pergi, maukah kamu menemani ibunda untuk melihat-lihat tempat ini?"


Alice tidak menjawab. Ia mengalungkan tangannya memeluk Evianna. Jari-jemarinya mencengkeram kuat gaun sang bunda. Ia tidak ingin pergi dari sisi ibundanya sama sekali. Kepalanya pun ia sandarkan ke dada sang bidadari ayu itu. Mereka lantas berjalan menyusuri taman nan cemerlang.


Sungai-sungai mengalir tenang di sana. Amat bermacam warnanya. Ada yang seputih susu, seelok madu, dan seharum jahe. Rasanya benar-benar sedap memanjakan mata dan lidah. Sungguh nikmat yang tiada terkiranya.


Burung-burung berterbangan, menari, dan berkicau riang. Merdu nian suaranya. Mereka menghampiri Alice dan Evianna dengan wajah yang cantik dan imut. Tangan Alice pun menggapai-gapai mereka, berusaha menangkapnya.


"Waktu kita sudah habis," kata Evianna meletakkan Alice dari gendongannya. Senyum terukir manis di wajah keduanya. Evianna pun mengecup kening Alice untuk terakhir kalinya. Begitulah ia menyampaikan kasih sayangnya.


Semilir angin yang sejuk berhembus lembut. Rambut Alice yang biru kemerahan melambai-lambai dibuatnya. Putri kecil itu merasa tubuhnya menjadi ringan. Seakan diangkat ke langit, pandangannya pun melihat Evianna dari ketinggian. Jiwanya akan dikembalikan. Untuk terakhir kalinya, ia memandang kepada sang bunda dan saling bertukar senyum nan haru.


Gelap pun kembali datang. Hawa nan hening menyelimuti Alice. Hampa nian tempat putri kecil itu berbaring.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit, indranya mulai kembali berfungsi. Telinganya pun dapat mendengar. Kulitnya merasakan. Sensor-sensor sarafnya kembali merespon perintah jiwa sehingga jari-jemarinya bisa ia gerakkan.


Di tengah kondisi yang setengah sadar, Alice mendengar suara asing seorang gadis, "Kapan dia akan siuman?"


__ADS_2