Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 010: Media Dokumentasi Ilmu Pengetahuan


__ADS_3

Kantor Pusat Serikat Dagang Keluarga Saville


"Ini jurnal penelitian yang dibuat oleh gadis bernama Mainne itu?" tanya seorang wanita berkerudung besar yang tengah sibuk bekerja di kantor direktur. Ada banyak sekali tumpukan kertas di mejanya. Seperangkat alat tulis juga tergeletak di sana, lengkap dengan cap lilin dan tinta berkualitas tinggi.


Terdapat rak-rak besar di sisi kanan dan kiri ruangan itu. Setiap rak menyimpan begitu banyak buku dengan ukuran yang berbeda. Ada pula arsip berbentuk gulungan. Semuanya ditata dengan rapi dan elok.


"Dia gadis yang hebat," puji wanita itu dengan senyuman senang di wajahnya, "Pantas saja tuan putri ingin membantunya. Kalau serikat berinvestasi pada penelitian gadis ini, serikat akan mendapat keuntungan yang besar di masa depan."


"Apa penelitian kertas bisa sehebat itu, Nona Maria?" tanya seorang gadis yang usianya kira-kira hampir dua puluhan. Ia juga memakai busana yang tertutup, sama seperti Maria, Direktur Utama Serikat Dagang Saville di Kerajaan El Vierum.


"Tentu saja, Eliz," jawab Maria dengan senyuman secerah pagi di bibirnya. Ia jelas sedang bersemangat hari ini. "Bukankah serikat lebih unggul dengan kemajuannya di bidang analisis keuangan dan akuntansi? Analisis yang baik itu membuat kita bisa menyusun strategi yang tepat untuk bersaing dengan asosiasi atau kamar dagang lainnya. Produksi kertas yang berkualitas dan murah akan sangat berpengaruh dalam hal itu."


"Ah, saya mengerti," Eliz mengangguk kecil. Nama lengkapnya adalah Elizabeth Alie. Ditatapnya kertas di tangannya itu dengan teliti. Itu adalah kertas berkualitas tinggi yang diimpor dari timur. Jika gadis bernama Mainne itu bisa memproduksinya di sini dengan baik, tentu itu akan sangat membantu serikat dan juga kerajaan.


"Lalu, kertas sangat penting untuk dokumentasi ilmu pengetahuan," lanjut Maria sembari menatap buku-buku yang tertata rapi di kantornya, "Dengan produksi kertas yang masif, kemajuan ilmu pengetahuan akan semakin cepat. Itu adalah kabar gembira bagi para sarjana dan ilmuan. Aku akan mengirim surat kepada tuan putri. Bagaimanapun juga, aku harus bertemu dengan gadis ini di pesta nanti. Tolong segera disampaikan nanti."


"Baik, Nona," jawab Eliz yang kemudian segera melanjutkan tugasnya.


...***...


Taman Adiratna, Istana Mutiara


"Anna!" teriak Alice mengagetkan Anna yang baru saja menutup suratnya. Gadis berusia dua puluh tahunan itu pun tersentak. Ia mengelus dada melihat tingkah kekanakan nonanya ini. Yah, meskipun Alice terkenal dewasa di pergaulan sosial, ia tetaplah gadis biasa.


"No-nona?" Anna memperbaiki kerudungnya dan menatap Alice heran. Alice pun balas menatapnya dengan senyuman polos tak berdosa. Ia lalu berkata, "Apa itu surat dari Maria? Bagaimana jawabannya?"


"Dia setuju untuk ikut mendanainya, tapi kita harus melihat gadis bernama Mainne itu dulu," Anna memberikan surat di tangannnya. Sudah lima tahun ia bekerja melayani Alice. Betapa cepatnya waktu berlalu. Saat itu, Alice masih sangat kecil.

__ADS_1


"Em ... Nona, Anda ada pertemuan dengan Baginda Raja el Vierum hari ini," ucap Anna mengingatkan. dilihatnya Alice yang masih memakai piyama. "Bukankah Anda harus bersiap-siap?"


"Aku kabur, hehe," jawab Alice santai, "Aku bukan boneka yang bisa dimainkan para pelayan itu."


Anna tersenyum paham. Para pelayan memang sangat bersemangat saat mendandani Alice. Mereka selalu berusaha untuk membuat Alice menjadi yang tercantik di seluruh kerajaan. Dalam pertemuan para pelayan dari berbagai keluarga, mereka akan sangat membanggakan nonanya.


Itu melelahkan bagi Alice. Apalagi ia tipe gadis yang tidak suka bersolek dan mencolok. Yah, dia pun sudah sangat mencolok dengan status dan penampilan standarnya. Ia berkali-kali marah dan minta yang lebih simpel dan nyaman saja. Pakaian yang terlalu rumit itu membuatnya sesak.


"Lagi pula, aku hanya akan menemani ayah hari ini. Paman tidak akan terlalu peduli," tambah Alice. Anna pun berkomentar, "Justru karena itu Anda harus segera bersiap."


"Mari saya antar," Anna mengulurkan tangan. Alice meraihnya dan menjawab dengan senang hati, "Oke!"


Butuh waktu satu jam lebih bagi Alice untuk berdandan. Alice sudah siap dengan gaun berwarna marunnya sekarang, hanya tinggal sedikit menata rambutnya yang segelap malam kemerahan. Ia sampai terkantuk-kantuk menunggunya. Walau begitu, ia tetap anggun menutup matanya tanpa sedikit pun terlihat mengantuk saat didandani.


"Tuan duke telah tiba, Nona," lapor seorang pelayan. Untunglah dandannya sudah selesai saat sang ayahanda datang. Ia bisa langsung turun tanpa membuat Duke vi Alverio menunggu lebih lama.


"Alice," panggil Duke Cassander vi Alverio begitu melihat putrinya turun dari lantai dua. Wajahnya terlihat lelah. Ia memaksakan diri untuk bekerja walau akhir-akhir ini kesehatannya menurun.


"Apa ayah baik-baik saja?" tanya Alice khawatir melihat kondisi ayahnya, "Kenapa tidak istirahat saja? Ayah harus menjaga diri baik-baik."


"Ayah tak apa," bohong Duke vi Alverio dengan senyuman simpul di wajahnya. Ia pun berkata bangga, "Kerajaan ini butuh orang berbakat seperti ayah dan Alice. Karena itu, ayah tidak boleh lama-lama bersantai."


"Hmph!" Alice memalingkan wajahnya, pura-pura marah, "Bilang saja Ayah terlalu sibuk. Aku bisa memakluminya selama Ayah baik-baik saja."


"Kamu sangat pengertian dan peka seperti ibumu," ujar Duke vi Alverio senang. Ia pun menggandeng tangan Alice untuk pergi, "Ayo berangkat."


...***...

__ADS_1


Ruang Tahta Kerajaan, Istana Ruby


"Keselamatan atas Yang Mulia Raja Claudius el Vierum II," salam Duke vi Alverio dengan menunduk sopan, "Duke Cassander vi Alverio dan Putri Mahkota Alice vi Alverio menghadap Yang Mulia Raja."


"Atasmu pula keselamatan itu, Duke vi Alverio," jawab Raja Claudius, "Angkat kepalamu. Kamu adalah temanku yang setia. Mari kita bercakap santai saja. Lagi pula, kekerabatan kita akan semakin erat setelah Antonio dan Alice menikah nanti."


"Saya menerimanya dengan senang hati, Yang Mulia," kata Duke vi Alverio tetap sopan. Alice di sampingnya hanya berdiri menunggu. Lalu, Raja Claudius pun menyapanya, "Bagaimana kabarmu, Putri Mahkota? Kudengar kamu sibuk mempersiapkan acara di Istana Mutiara akhir-akhir ini. Tetap jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit."


"Begitu pula seharusnya Yang Mulia Raja dan Perdana Menteri," sindir Alice halus, "Saya harap Anda sekalian cukup beristirahat."


"Tentu saja kami cukup beristirahat, Putri," jawab Raja Claudius santai. Alice pun kembali menyindir, "Kalau begitu, izinkan saya berjalan-jalan bersama ayah barang sehari saja. Tentu tidak akan merepotkan Yang Mulia, bukan?"


"Sayang sekali, ada yang harus kudiskusikan dengan Perdana Menteri Alverio," kata Raja Claudius dengan tawa ringan. Tumpukan dokumen terbayang di kepalanya. Dulu, hanya kedua saudarinya yang berani memberi sindiran hangat yang terang-terangan seperti itu. Ia merasa nostalgia sekarang, "Pas sekali putra mahkota telah tiba. Kamu bisa berjalan-jalan saja dengannya."


"Eh?" Antonio yang baru mau menyapa ayahnya kaget melihat tatapan dingin Alice. Ia pun membiarkannya dan tetap menyapa Raja Claudius seperti biasa. Setelah itu, ia pergi bersama dengan Alice dari ruang takhta.


"Alice, bagaimana kalau kita minum teh di taman?" Antonio menawarkan. Ia cukup menjaga jarak. Gadis yang berjalan di sampingnya itu menyebarkan aura yang dingin sejak tadi.


"Baiklah," jawab Alice singkat, "Anna, ayo ikut juga."


"Eh?" Antonio menatap Anna dengan heran. Entah sejak kapan pengasuh itu ada di samping Alice. Kehadirannya tidak terasa sama sekali.


Sebelum ke taman, Alice mampir dahulu ke perpustakaan bersama Anna. Antonio sempat menggerutu karenanya. Namun, ia tak punya pilihan lain selain mengikuti dan meminjam beberapa buku juga. Pesta teh kecil-kecilan itu berakhir menjadi acara belajar bersama.


"Masa depan kerajaan ini sangat cerah. Putra dan putri mahkota kita sangat rajin belajar," kata para bangsawan yang melihat mereka. Itu membuat Antonio merasa terbebani karena yang ia baca hanya buku legenda saja.


"Kamu membaca babad?" tanya Alice kemudian. Kepekaannya memang tinggi kecuali terhadap perasaan cinta.  "Itu bacaan yang mendidik. Kamu tidak perlu merasa terbebani seperti itu."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita berdiskusi setelah ini?" ajak Alice hangat. Antonio menerimanya dengan senang hati, "Tentu!"


__ADS_2