
Laboratorium Rekayasa Genetik
"Bagaimana perkembangannya?" tanya seorang pria berjubah gelap. Ia menutup wajahnya dengan tudung sehingga hanya terlihat mata ungunya yang berkilat tajam.
"Masih dalam masa penjinakan, Ketua Shermann," jawab pria di sampingnya. Ia mengenakan pakaian yang sama. Tudungnya dilepas dan menampakkan wajahnya yang penuh kerutan lelah dan nyaris tak terawat. Kumis dan janggutnya panjang berantakan mengembang lebar. Mereka berdua berjalan dalam sebuah lorong gelap ditemani secarik obor yang temaram.
"Wanita iblis itu terus mendesak," gerutu Shermann kesal. Ia menggertakkan giginya sebal. Siang tadi, sebuah surat sihir sampai kepadanya. Ketika membukanya, tangan pria itu tersengat. "Ia tidak mengerti bagaimana sulitnya menangani hewan-hewan liar ini."
Itu jelas surat penting dari Menara Penyihir. Isinya menegaskan untuk segera menyelesaikan tugas yang Lab. Rekayasa Genetik emban. Proyek ini memang sudah lama berjalan. Bahkan sebelum kasus hilangnya Putri Srikandi Elianna el Vierum.
"Tetap saja ini bukan tugas yang mudah," Shermann terus memuntahkan kekesalannya. Asisten di sampingnya hanya dapat terdiam. Di sini, ialah yang paling menderita bersama kawan-kawannya.
Setiap hari mereka harus mengurus hewan-hewan buas. Tidak! Lebih tepatnya monster ganas. Tim di laboratorium rahasia itu setiap hari memberi makan, merawat, dan mengoyak-oyak monster demi mengambil material yang dimilikinya. Mulai dari gen sampai tulang-tulangnya.
Monster yang berpotensi akan ditempatkan di kurungan yang berbeda. Ke sanalah Shermann dan asisten kusut itu menuju. Suara lolongan dan geraman terdengar tak jauh lagi. Sebuah jeruji besi yang kokoh mulai tampak di kegelapan. Sepasang mata yang semerah darah menatap keduanya tajam.
"Raja serigala kah?" Shermann tersenyum puas kali ini. Matanya saling bertatapan dengan raja serigala itu. Mereka seakan beradu siapa yang paling tajam tatapannya. "Kamu melakukan pekerjaan ini dengan baik, Dasku. Siapa yang menangkapnya?"
"Domique," jawab Dasku singkat.
"Bocah keparat itu ya," Shermann mengangguk senang, "Dia memang pawang yang hebat."
"Ketua Shermann, gawat!" teriak seorang anggota tim penelitian lainnya, "Sekumpulan kreebs kabur dari kandangnya. Mereka tiba-tiba lepas dan melukai semua orang."
__ADS_1
"Apa!?" geram Shermann mengepal kedua tangannya. Ia membentak, "Bagaimana bisa?"
Orang yang melapor itu terbata-bata menjelaskannya. Monster kreebs yang merupakan penyilangan dari serigala dan hyena itu kabur dengan menggerogoti jerujinya. Entah bagaimana hal itu dapat terjadi. Monster berkepala panjang dan bercakar tajam itu jelas-jelas akan menjadi masalah serius bagi kerajaan.
"Aku akan segera menghubungi Menara Penyihir," Shermann memutuskan. Mereka tidak memiliki cukup tim pemburu untuk menangkap para kreebs itu. Jadi biar Menara Penyihir yang mengatasinya langsung. "Kalian pastikan jangan sampai ada hewan lain yang kabur lagi."
"Baik, Ketua," seru Dasku dan kawannya kompak. Setelah itu mereka penuh kebingungan dan ketakutan di antara suara-suara monster yang kelaparan mencium bau darah segar. Hanya tinggal mereka berdua yang tersisa setelah para kreebs itu kabur.
Para kreebs membuat keributan kurang dari 24 jam sejak mereka kabur. Sebuah desa yang tak jauh dari Lab. Rekayasa Genetik itu menjadi korbannya di esok hari. Ternak mereka diterkam habis. Beberapa warga desa tewas mengenaskan dan sisanya mengurung di rumah atau mengungsi ke kota terdekat.
Seminggu kemudian populasi di desa itu tandas. Desa itu menjadi desa mati yang penuh darah. Para kreebs melanjutkan pemburuannya dengan mengikuti bau warga desa yang kabur. Mereka lekas sampai di Kota Ilios dan membuat keributan di sana. Seandainya kota itu tidak memiliki benteng, mereka akan cepat binasa seperti desa sebelumnya.
...***...
"Dasar bodoh!" seru Voxnus geram begitu menerima pesan dari Shermann. Penyihir berjanggut dan kumis panjang menjuntai itu tampak menyeramkan di dalam Menara Penyihir. Sosoknya berbanding terbalik dengan apa yang masyarakat ketahui. Di mata masyarakat, ia adalah pahlawan besar dan penyihir bijak yang ramah. Hanya beberapa eksekutif Menara Penyihir yang tahu fakta itu.
...***...
"Wilayah Viscounty Ilios dalam masalah besar," kata Raja Claudius sambil menatap dua orang yang menggenggam angkatan militer kerajaan. Seorang pria yang jenggotnya sudah memutih dan seorang wanita muda berambut pendek yang runcing. Mereka berlutut di hadapan Raja el Vierum itu.
"Sir Arthurian von Denburg, Madam Nana Magansei, aku mengutus Kalian untuk menumpas masalah ini," kata Raja Claudius tegas. Rinciannya telah dijelaskan diawal. Kudua orang itu segera memberi hormat dan menjalankan perintah.
"Ck, ini gara-gara si Shermann bodoh itu," gerutu Nana kesal. Padahal ia menyuruh pria tua itu untuk menyelesaikan tugasnya, ia malah membuat masalah yang tidak perlu. Ini menambah beban bagi Menara Penyihir yang kekuatannya mulai melemah.
__ADS_1
Nana menyusuri lorong menuju laboratorium istana sebelum berangkat ke Akademi Sihir. Selain menjabat sebagai Kepala Penelitian Sihir, Nana juga menduduki posisi sebagai Panglima Angkatan Sihir di militer karena tidak ada seorang pun yang sepintar dan sekuat dirinya. Memang jarang ia menjalankan tugas militer, tapi sekali ia diutus, itu berarti ada masalah besar.
"Kak Nana, apa yang terjadi?" tanya Charlotte cemas. Ia sedang bersama Nana di laboratorium istana saat tiba-tiba seorang pesuruh memanggilnya untuk bertemu raja.
"Aku akan ada urusan di luar kota sebentar," jawab Nana dengan wajah bangga. Itu membuat kekhawatiran Charlotte menguap. Ia tahu bahwa Nana adalah penyihir yang kuat. Saat ia meminta untuk ikut, Nana buru-buru memotong, "Kamu di sini saja bersama Melissa melanjutkan penelitian."
"Hai, tapi aku ingin melihat aksi penyihir terhebat sekerajaan," protes Charlotte sengaja membuat Nana bertambah bangga. Biasanya ini akan membuat Nana luluh dan mengajaknya. Akan tetapi, kasus kali ini berbeda.
Nana dan Angkatan Sihir akan ke tempat berbahaya bersama para kesatria. Tidak baik kalau Charlotte yang spesialis pada sihir penenang ikut dalam ekspedisi ini. Apa lagi usianya masih sangat di bawah umur.
"Baiklah, aku mengerti. Lakukan sesukamu," Charlotte mengalah dengan ekspresi yang pura-pura kesal dan masih berharap akan diajak. Tapi itu tetap percuma. Ia sudah membereskan barang bawaannya dengan asal dan bergegas meninggalkan laboratorium. Charlotte pun mengikutinya untuk mengantar.
"Kamu ingin dekat dengan Putri Mahkota el Vierum, bukan?" tanya Nana tiba-tiba. Charlotte mendadak antusias. Mata hijaunya berbinar-binar. Ia mengangguk pelan. Nana tersenyum dibuatnya, "Kalau begitu, dekatilah Putra Mahkota el Vierum dan jadilah temannya. Dengan begitu Kamu akan menjadi teman tunangannya."
"Teman ya?" Charlotte awalnya sempat curiga dengan senyum manis Nana. Jelas sekali ada yang disembunyikan di balik senyumnya itu. Akan tetapi, kalau hanya berteman dengan Putra Mahkota el Vierum itu tidak masalah. Itu bisa menjadi awal baik dalam hubungannya dengan Putri Mahkota el Vierum.
"Aku pergi dulu, Lottie," Nana melambaikan tangan pergi meninggalkan istana, "Jaga dirimu baik-baik. Aku menanti pertemananmu."
"Tenang saja, Kak," Charlotte membalas lambaiannya dan berkata dengan percaya diri, "Aku bisa berteman dengan siapa saja."
"Oh, Kamu penyihir yang waktu itu," sebuah suara mengagetkan Charlotte. Ia membalik badan dan mendapati Antonio di sana bersama seorang ajudannya. "Bagaimana kondisimu sekarang? Aku sudah sempat melihatmu beberapa kali, tapi aku belum sempat menyampaikan permintaan maaf Alice padamu."
"Berkat Yang Mulia, saya baik-baik saja. Saya sudah tidak memikirkan masalah itu lagi. Lagi pula, itu salah saya," jawab Charlotte dengan senyum peri yang begitu menawan. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru saja Charlotte mau mencari cara untuk berteman dengan Putra Mahkota el Vierum, sekarang sosok itu sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
"Pas sekali aku sedang senggang," Antonio membalas senyuman peri Charlotte itu dengan senyum hangat, "Bagaimana kalau Kamu menemaniku minum teh di Taman Baugenvillaea."
"Yang Mu...," ajudan Antonio mau mengingatkan, tetapi Antonio menolaknya. Harusnya sekarang adalah latihan ilmu pedang bersama ajudannya itu. Tapi ia sedang bosan. Jadi minum teh bersama gadis penyihir yang cantik adalah solusinya. Ia tidak sadar, sisa-sisa sihir Charlotte beberapa hari lalu masih membekas.