
Saat rombongan Rosemary dan Solid hampir keluar dari Hutan Kaskas dengan bantuan Ulu, rombongan Antonio dan Charlotte malah semakin tersesat. Bukannya berjalan keluar, rombongan bocah itu malah berjalan semakin ke dalam. Suasana di sekitar pun jadi semakin menyeramkan.
"Hai, apa kita berjalan ke arah yang benar?" tanya seorang gadis yang meragukan kepemimpinan Putra Mahkota el Vierum. Gadis yang ada di sampingnya pun menggeleng pelan dengan wajah sayu. Ia pun berkata, "Entahlah. Kita bahkan tidak tahu di mana kita berada."
"Apa kita akan selamat?" tanya gadis lainnya. Matanya merah dan bengkak. Ada bekas tangis yang sangat jelas di sana. Andai tak ada kawan yang menyemangatinya, sudah pasti ia putus asa sejak awal.
"Pasti, kita pasti akan selamat," jawab kawannya dengan jawaban yang tidak disertai keyakinan kuat. Para murid Akademi Kerajaan itu sudah semakin merana. Mereka bahkan belum makan sejak kemarin. Di hutan yang mengerikan ini, mereka tidak bisa makan sembarangan.
"Hai, kami dapat buah," seru seorang pemuda yang baru datang dari belakang. Ia datang bersama dua orang lainnya. Mereka menenteng banyak buah yang mirip dengan apel.
"Apa buah itu aman?" tanya Charles memastikan, "Salah satu dari kita hampir saja keracunan jamur kemarin."
"Aku melihat seekor rusa memakan buah ini," jawab pemuda yang membawa buah itu. Namanya adalah William. Ia calon kesatria muda sama seperti Charles. "Kata master, buah yang dimakan hewan herbivora seperti rusa itu aman."
"Kenapa kamu tidak menangkap rusanya?" Antonio mendekati pemuda itu, "Rusa itu bisa menjadi cadangan makanan yang tepat untuk kita."
"Maaf, Yang Mulia," wajah William seketika berubah masam, "Sayangnya, kita tidak punya senjata untuk berburu. Pedang yang kebetulan kita bawa tidak cocok untuk melakukan itu. Mohon pengertiannya."
William menatap pedang yang ia bawa di tangan kirinya. Pedang itu hanya sebatas pedang latihan. Selama tidak ada situasi mendesak, ia tak boleh gegabah menggunakannya.
"Aku mengerti," Antonio mengalihkan pandangannya ke sekitar, "Aku hanya berharap agar kita mendapat makanan yang layak. Bagikan buah itu. Pastikan semuanya mendapat bagian."
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia," William mengangguk patuh. Ia pun melapor bahwa masih tersisa lagi buah di pohon yang ditemukannya tadi. Mendengar itu, Antonio segera membuat kelompok untuk mengambilnya.
"Makan dan isi tenaga kalian terlebih dahulu," ucap Antonio sembari menatap kawan-kawannya yang jelas sudah sangat lemah dan kelelahan, "Setelah itu, barulah kita berangkat ke tempat yang William maksud."
Tanpa Antonio perintah pun, para murid sudah melakukannya. Mereka bahkan memakan buah itu dengan sangat lahap saking laparnya, bahkan walaupun rasanya sangat masam.
Mereka pun berangkat tak lama kemudian. William dan ketiga kawannya yang memimpin jalan. Anak-anak itu baru sampai di tempat yang dimaksud setelah agak lama berjalan.
"Ah, gawat," keluh Charles kesal. Matanya menatap tajam sekawanan kera yang sedang bergelantungan dan bermain di atas pohon.
Kera-kera itu bersenda gurau, melempar buah-buahan ke sana-ke mari, dan berseru-seru ria. Seruan mereka yang terkesan seram membuat anak-anak Akademi Kerajaan enggan maju lebih jauh lagi. Para kera itu tidak bisa didekati sembarangan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Antonio yang tampak tertekan. Penampilannya sudah sangat berantakan, padahal ia menggunakan pakaian yang mewah.
"Hm, benarkah?" Antonio dan murid-murid lainnya langsung menatap kepada Charlotte. Charlotte sendiri jadi tertegun karenanya. Ia merasa gugup karena tatapan-tatapan yang seolah mempertanyakan itu–yah, memang mereka meragukannya sih. Meski begitu, Charlotte tetap memaksakan diri untuk mengangguk. "Iya, saya bisa."
"Lakukanlah!" titah Putra Mahkota el Vierum.
Charlotte pun berlutut di tempatnya. Ia menundukkan kepalanya sedikit, lalu merapalkan mantra. Sekejap kemudian, Balqis datang menghampirinya–tentu hanya Charlotte yang dapat melihatnya. Gadis penyihir itu pun meminta pada kawan astralnya untuk mengambilkan semua buah yang ada di pohon.
"Apa hanya untuk itu saja kamu memanggilku?" tanya Balqis sebelum menuruti perintah itu. Charlotte yang masih tertunduk pun mengangguk. Sekejap kemudian, Balqis menghilang dari pandangannya. Dalam beberapa detik, ia kembali lagi dengan puluhan buah bersamanya.
__ADS_1
Di pandangan para murid akademi, buah-buah itu tampak seolah muncul dari ruang hampa. Mereka berdecak kagum dan berterima kasih pada Charlotte. Buah-buah ini akan menjadi persediaan mereka selama beberapa hari.
"Ayo kita menjauh sebelum para kera itu mengetahui keberadaan kita," usul Charles. Para murid pun serempak mengangguk. Mereka semua memungut buah-buah yang Charlotte ambilkan agar tidak sia-sia. Beruntungnya, sore itu mereka menemukan sebuah gua.
"Kita istirahat di sana," ucap Antonio antusias.
"Tunggu, Yang Mulia," Charles menggeleng tegas, "Biar saya memeriksanya dulu."
"Ah," Antonio sedikit terkejut, tapi ia pun mengangguk setuju, "Baiklah."
Charles segera masuk ke dalam gua. Ia mendapati ada banyak lubang kecil di sana. Karena terdesak, ia pun hanya punya pilihan untuk menutupi semua lubang itu. Mereka akan kesulitan jika harus mencari tempat istirahat lainnya.
"Teman-teman, tempat ini sudah aman," seru Charles setelah selesai menutup semua lubang, "Kalian bisa masuk sekarang. Kita istirahat dulu di sini."
"Hai, siapa yang masih punya tenaga untuk mencari kayu bakar?" tanya Antonio begitu masuk ke dalam gua. Gua itu memiliki hawa yang dingin rupanya. Mereka akan dalam bahaya kalau tidak punya api unggun.
"Biar saya saja," Charles menawarkan diri.
"Oke," Antonio setuju. Lagi pula, Charles adalah orang paling kuat di antara mereka.
"Si–Sir Charles," tiba-tiba Charlotte memanggil, "Izinkan saya untuk ikut. Saya bisa membantu dengan sihir."
__ADS_1
"Terima kasih," Charles memberikan seulas senyum hangat, "Bantuan Anda amatlah berarti."
Antonio tertegun melihat kedua orang itu pergi. Ia mengepalkan tangannya, mengekspresikan emosi yang bergelora di dalam dada. Entah mengapa, ia tak suka saat melihat Charles dan Charlotte bersama.