
"Kak Mellie, apa yang Kamu lakukan pada benda itu?" Charlotte berseru panik mendapati benda kenyal yang tadi dibentuknya terpantul-pantul cepat ke sana-sini. Benda kenyal itu sudah memecahkan beberapa benda penting di laboratorium istana. Charlotte terus meminta Melissa untuk segera menghentikannya.
"Aku hanya memberinya sedikit mana," jelas Melissa. Ia dan Charlotte sedang bersembunyi di bawah kolong meja sekarang. "Mungkin kontrol sihirku masih kurang tepat pada benda itu. Di dalamnya, manaku sedang meledak-ledak sehingga memberinya gaya untuk bergerak seperti itu."
"Apa yang Kamu katakan? Bukan saat menjelaskan itu sekarang!" bentak Charlotte, "Cepat cari cara untuk membuatnya berhenti. Kyaa...!?"
Benda kenyal itu baru saja membentur lantai tepat di depan Charlotte. Beruntung lintasannya tidak mengarah kepada gadis cilik itu. Melissa melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Ia terus mengamati pergerakan benda itu, tetapi bukan untuk menghentikannya.
Brakk! Pintu laboratorium dibanting keras.
"Mellie! Lottie! Apa yang kalian lakukan di sini?" seorang wanita berkeriput tiba-tiba masuk sambil marah-marah, "Kalian ribut sekali. Padahal si biang masalah itu sedang pergi. Aduh!"
Sesuatu menyerang kepala wanita berkeriput itu dari belakang. Ia terjatuh lalu menemukan Charlotte dan Melissa sedang bersembunyi di bawah meja. Mereka memberi senyum canggung sementara si wanita berkeriput itu menatapnya tajam keheranan.
"Bibi Lislie, Awas!" seru Charlotte saat wanita itu baru saja mau bangkit.
Lislie masih bingung dan belum siap. Benda kenyal kembali menimpanya sehingga ia terjatuh kembali. Ia mengaduh untuk kedua kalinya. Tatapan jengkelnya kini membara seakan ingin memangsa Charlotte dan Melissa yang terus mengesot ke tengah kolong meja.
Suara sebuah pecahan kembali terdengar. Lislie sontak menoleh ke asal suara itu dan melihat sebuah benda aneh berisi mana yang tidak teratur di dalamnya. Ia pun mengerti dan tahu apa yang sejak tadi menyerangnya. Mulutnya komat-kamit membaca mantra dan mengarahkannya kepada benda kenyal itu.
Puussh...!
Benda kenyal itu tiba-tiba kehilangan mananya dan terjatuh ke lantai seperti bola warna yang pecah. Charlotte menghela napas lega tetapi Melissa malah terlihat kecewa sementara Lislie menatap tajam ke arah mereka.
"Dasar! Berapa banyak kekacauan yang ingin Kalian buat?" bentak Lislie berkacak pinggang. Charlotte dan Melissa berlutut di hadapannya. Melissa tampak tak peduli, ia sudah biasa.
__ADS_1
Berbeda dengan Charlotte. Ia terus merutuki Melissa karena gadis seumuran Nana itu yang selalu membuat ulah. Ia pun jadi ikut kena getahnya. Walau begitu, ia tidak dapat serta-merta mencacinya. Bagaimanapun, penemuan-penemuannya sangatlah hebat.
"Kalian harus melaporkan semua kerugian di sini pada penanggung jawab nanti," omel Lislie sambil sesekali melihat sekitarnya yang berantakan. Perangkat alkimia pecah dan berserakan. Senyawa-senyawa berbahaya bertumpahan. Juga, gumpalan aneh yang mirip dengan benda kenyal itu. "Semua biaya perbaikan Kalian yang menanggungnya."
"Baik," Melissa menjawab lesu. Charlotte menghela napasnya saat Lislie pergi. Ia pun memalingkan wajahnya saat Melissa menunjukkan mata berkaca-kaca.
"Tanggung sendiri semua kesalahanmu! Jangan libatkan aku," kata Charlotte berusaha bangkit dari duduknya. Sesaat kemudian ia terjatuh, "Aduh... kakiku kesemutan. Nenek Lislie terlalu lama mengomel."
Charlotte membacakan mantra ke kakinya. Dengan cepat, keadaannya membaik. Ia pun berdiri dan menepuk-nepuk jubah penelitiannya yang kotor. Sekali lagi ia melihat ke arah Melissa. Gadis muda itu tampak meratapi sesuatu. Pasti bukan pada uangnya yang akan terbuang banyak~gaji penyihir sangat besar~, tetapi penelitiannya yang dihancurkan Lislie dalam sekejap.
"Hah, itu bukan urusanku," gumam Charlotte lirih. Sebenarnya ia ingin mengembangkan alat komunikasi yang dibuat Nana. Sayangnya, bola kristal itu sudah pecah sekarang. "Ya ampun, bagaimana aku akan mengatakannya kepada Kak Nana nanti?"
"Lottie, apa yang Kamu lakukan di sini? Kamu tidak membantu Mellie?" omel Lislie ketika melihat Charlotte berjalan-jalan di lorong. Charlotte tersentak karenanya. Gadis kecil itu memalingkan wajah sambil dengan lirih membacakan mantra penenangnya.
"Bibi, aku hanya melihat saja. Aku tidak bersalah. Sungguh," kata Charlotte merayu. Kedua tangan mungilnya meraih jubah Lislie. Wanita berkeriput yang sebenarnya sudah sangat lebih tua dari tampangnya itu segera terpengaruh. Matanya seakan melihat bidadari imut yang turun dari langit. Tanpa sadar, tangannya mengusap rambut pirang platinum Charlotte, "Tidak apa-apa, Lottie. Kamu memang tidak bersalah. Sini makan siang dengan bibi."
Charlotte dengan senang menurut. Gadis cilik berusia 10 tahun itu sebenarnya sedang tidak tertarik makan siang bersama. Akan tetapi, ia tidak ingin terlibat lebih banyak dengan masalah yang dibuat oleh rekan kerjanya.
Sihir Charlotte masih aktif sampai di kantin. Dengan cepat, sihir itu pun mempengaruhi para penghuni kantin lainnya. Mereka melihat Charlotte dengan haru yang entah sejak kapan sudah di dalam gendongan Lislie.
"Seperti biasa, Lottie kita selalu imut," orang-orang mulai membicarakannya.
"Aku juga ingin menggendongnya."
"Aku ingin dia jadi muridku saja. Ya ampun, dia pasti menderita di sisi gadis iblis itu." seorang penyihir mengatai Nana.
__ADS_1
"Kamu tidak ada bedanya. Lebih baik ia jadi muridku," timpal penyihir yang lain. Wajahnya muda tetapi usianya jauh lebih tua dari penampilannya.
"Apa katamu? Dasar nenek tua!" penyihir yang mengatai Nana tidak terima. Walau mereka membuat keributan, perhatian utama tetap kepada Charlotte yang ada di gendongan Lislie. Gadis itu merapalkan sesuatu dan seketika dua penyihir yang hampir bertengkar tadi terdiam. Entah mengapa mereka menangis?
"Kamu ingin makan apa, Lottie?" tanya Lislie lembut. Charlotte menunjuk menu favoritnya. Ia merasa senang. Akan tetapi, terkadang ia meraba dadanya. Ia merasa masih ada yang kurang. Ia tidak mengerti apa itu. Sekejap pandangannya menunduk sedih.
"Lottie, Lottie," panggil Lislie heran, "Apa ada yang membuatmu tidak enak, Sayang?"
Charlotte segera menggeleng dan kembali menunjukkan senyumnya. Orang-orang di kantin mulai ribut lagi memuji keimutannya. Mereka seperti melihat bunga yang bermekaran di sisi gadis kecil itu.
"Terima kasih, Bibi," Charlotte pun pamit untuk kembali ke ruang kerjanya. Ia sangat kenyang sekarang. Walau senang, ia masih merasakan ada yang kurang di hatinya. Selalu saja begitu. Ia selalu merasa ada kekosongan dalam hidupnya. Padahal ia dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan ramah.
"Lottie," panggil sebuah suara akrab dari belakang. Suara itu mengagetkan Charlotte. Pemilik suara itu menawarkan sesuatu, "Ayo temani aku minum teh."
"Ah, maaf, Yang Mulia," Charlotte tertunduk. Ia teringat dengan Putri Mahkota el Vierum ketika melihat pemilik suara itu. Dengan buru-buru, ia menonaktifkan sihirnya yang sejak tadi masih aktif. Sihirnya itu memberi rasa nyaman kepada orang-orang di sekitarnya. "Saya masih sibuk. Saya tidak bisa menemani Anda."
Charlotte adalah gadis yang peka dan beradab. Ia tidak pernah ingin menjadi celah antara Antonio dan Putri Mahkota el Vierum. Ia bukan antagonis sejahat itu. Keinginannya hanyalah berteman dengan siapa saja di dunia ini.
"Yang mulia?" Antonio menatap heran Charlotte yang tertunduk dalam, "Bukannya Kamu sudah berjanji akan menghilangkan honorifik itu?"
"Saya tidak akan berlaku tidak sopan seperti itu, Yang Mulia," Charlotte mundur saat Antonio berusaha meraih tangannya. "Saya permisi dahulu."
"Lottie, tunggu!" Antonio berdiri tertegun tak percaya. Rasanya seperti gadis itu sedang menghindarinya. Ia bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya.
Dari kejauhan, Alice dan Anna melihat kejadian itu. Mereka berada di lantai dua di komplek istana yang berlawan dengan Laboratorium Penelitian Sihir. Komplek yang diberlakukan larangan penggunaan sihir karena sering dilewati para putri.
__ADS_1
"Nona, apa perlu saya menyelidikinya?" tanya Anna begitu melihat Charlotte berlari menjauhi Antonio. Alice juga melihatnya dengan dingin. Ia lalu berpaling dan kembali berjalan. "Tidak perlu. Sepertinya, dia gadis yang tahu diri. Tambahkan saja kunjungan putra mahkota dalam surat yang akan kita berikan kepada Bibi Clara nanti."
"Biar Bibi Clara saja yang mendidik bocah itu," tambah Alice kemudian. Mereka menerima undangan Ratu el Vierum untuk menemaninya minum teh tadi pagi. Jadi, kesempatan itu Alice gunakan untuk mendidik Antonio secara tidak langsung.