
"Mary, Kalian sudah sampai sini?" Solid berbasa-basi setelah masalah selesai untuk sementara. Rosemary menatapnya kesal. Pemuda yang usil itu telah tercatat dalam daftar hitamnya sebagai pria yang patut dihindari. Dia pun membalas dengan ketus, "Apa bagimu kami hanyalah khayalan?"
"Apa?" Solid tak mengerti perasaan gadis yang ada di hadapannya. Ia hanya mengetahui sebuah fakta bahwa gadis itu memusuhinya. Ia benar-benar lupa kalau dirinya telah banyak berbuat ulah di masa lalu.
"Apa yang senior lakukan di sini?" Aristia menggantikan Rosemary bertanya.
"Oh, aku sedang melakukan survei," jawab Solid santai. Ia merasa lebih nyaman dengan gadis berambut pirang yang ceria itu. Senyumnya mempesona sampai hampir membuat hati Aristia berdegup, tapi gadis itu segera menampiknya. Rosemary pun menatapnya jijik.
"Salam, Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum," sapa Solid dengan sopan saat Alice mendekat. Pemuda itu tulus menghormati sang putri. Tak satu hal pun yang disembunyikan olehnya. Padahal ia selalu bersikap kurang ajar kepada Antonio.
"Kamu di sini, apa dia juga di sini?" tanya Alice setelah menjawab salam Solid. Pemuda itu mengerutkan keningnya. Hanya satu orang yang mungkin ditanyakan oleh Alice darinya.
"Putra mahkota masih menjalani ujian di Akademi Kerajaan sekarang. Beliau tidak ingin diganggu. Jadi, saya diusir untuk pergi. Betapa jahatnya, bukan?" Solid menunjukkan wajah sok memelasnya yang membuat Rosemary kesal. Ia tidak ingin tuan putrinya dekat dengan calon kesatria yang menyebalkan itu. Apalagi saat ia lebih-lebihkan aktingnya dan berkata, "Yang Mulia Putri, tolong bimbing putra mahkota dengan baik di masa depan."
"Kau! Menjauh dari tuan putri!" seru Rosemary galak. Seruannya sukses membuat Solid tersentak dan bergidik takut. Putra Keluarga van Denburg itu pun bangkit dan segera membangun jarak. Ia sangat tidak mengerti maksud permusuhan gadis cendekia tertua itu.
"Wakil Ketua OSIS, Anda tidak berubah sama sekali," Solid menghela napasnya dan kembali memamerkan wajah yang membuat Rosemary emosi, "Padahal suksesi pergantian jabatan akan berlangsung tak lama lagi."
"Diam dan segera pergi dari sini!" tegas Rosemary.
"Tidak bisa. Aku adalah saksi. Aku orang penting di sini," dalih Solid menolak, "Harusnya Kamu mengirim pengawal untukku agar tidak di bunuh oleh oknum tidak bertanggung jawab."
"Oh, begitu, ya? Jadi, seorang calon kesatria muda paling berbakat sekaligus tuan muda dari keluarga terhormat butuh pengawal saat dia sedang dalam masa rehat dari studinya. Itu logika yang bagus dan tepat," Rosemary menyungging senyum yang tajam sampai membuat Solid merinding. Entah apa yang direncanakan gadis berambut cokelat terang itu. Ia pun segera menarik kata-katanya.
"Saya juga percaya kalau Anda dapat mengatasinya sendiri, Senior Solid," ucap Alice dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
Solid tersenyum canggung. Ia tidak bisa berlama-lama menghadapi Putri Musim Dingin itu. Apalagi dengan aura intimidasi Rosemary yang tak kunjung mereda. Pandangannya pun tertuju ke Aristia yang menatap ia heran. Lalu, ia pamit untuk undur diri tanpa banyak berkata-kata lagi.
"Ayo kita ke Balai Pengawas Wilayah," ajak Alice yang langsung disambut dengan semangat oleh kawan-kawannya. Sudah tiga bulan mereka menjadi gadis cendekia dan mulai mempelajari banyak hal. Ini akan menjadi kunjungan perdana mereka ke badan yang berada dikelola langsung oleh Istana Mutiara.
Perjalanan kembali ke ibu kota pun tertunda. Balai Pengawas Wilayah di kota tiba-tiba gaduh. Mereka baru saja mendengar kabar kunjungan Putri Mahkota el Vierum yang mendadak. Para petinggi di sana pun kalang kabut. Padahal sebelumnya mereka sudah memastikan bahwa putri kecil itu hanya akan singgah sebentar di kota.
"Keselamatan atas Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum," sambut direktur Balai Pengawas Wilayah dengan topeng ketenangan. Tak ada getaran sedikit pun di tubuhnya. Sorot matanya tenang. Tindak tunduknya biasa, tapi hatinya masih tidak karuan.
Kasus Balai Pengawas Pusat dan Wilayah Kota Marianna sudah tersebar di setiap cabang wilayah lainnya. Mereka sudah mendengar ketegasan sang putri dalam menindak para amtenar yang korup.
"Tenang, itu karena tuan putri berada di ibu kota saat itu. Ada raja dan ratu yang mendukungnya," seorang petinggi berusaha menghibur diri dengan spekulasi yang menurutnya masuk akal, tapi itu sama sekali tidak menenangkannya, "Sekarang dia hanya ditemani kawan-kawannya, beberapa dayang, dan kesatria. Ia tidak akan bisa bertindak terlalu banyak."
"Ya, ya. Semoga begitu," petinggi lain manggut-manggut cepat penuh harap.
Direktur berkumis panjang itu segera menuruti perintah Alice. Topengnya masih terpasang kokoh di wajah. Ia pun menyerahkan sejilid dokumen yang masih menggunakan kertas lama.
Alice memeriksanya dengan cepat. Anna membantunya memeriksa dokumen lain yang ia minta pada direktur. Direktur itu terus berdiri menunggu Alice dan Anna memeriksa. Ia tidak diperkenankan pergi kecuali setelah Alice mengizinkannya.
Kaki pria paruh baya itu mulai pegal. Ia mengeluh dalam hati sambil terus berusaha mempertahankan topeng munafiknya. Hatinya pun berbunga saat Alice membalik halaman terakhir tanpa berkomentar sedikit pun di akhir hari.
"Ambilkan laporan keuangan setiap amtenar dan bangsawan di kota. Bawa setiap dokumennya ke Wisma Adenium kami secepatnya," Alice menatap kaki pria di hadapannya yang mulai terlihat bergetar, "Setelah itu Kamu boleh istirahat."
"Baik, Yang Mulia," direktur bersyukur sekaligus mengeluh dalam hati. Kabar baiknya, ia dapat segera beristirahat. Kabar buruknya, ia belum menemukan cara menyembunyikan laporan keuangan yang ia manipulasi selama ini, sedangkan para kesatria Istana Mutiara mengawasinya.
"Apa ini?" Aristia menatap penasaran tumpukan dokumen yang dikirim ke tempat para gadis cendekia menginap. Mainne dan Akilla sama penasarannya. Florence pun menjelaskan dengan enteng dan riang, "Ini ujian praktek Kalian malam ini."
__ADS_1
"Apa!?" seru para gadis cendekia kompak.
"Ya, ini adalah dokumen administrasi kota. Sebagai ganti ujian akhir semester, Kalian akan mengevaluasi dokumen-dokumen ini," jelas Florence dengan santai, "Tenang saja, Kalian sudah sering melakukannya di Istana Mutiara, bukan? Terutama Kalian berdua, Akilla dan Mary."
"Mungkin kita akan tinggal di sini selama beberapa hari," Alice keluar dari ruangannya bersama Anna. Madam yang membantu Florence mengayomi para gadis itu membawa setumpuk dokumen lainnya. "Jadi, aku mohon bantuannya."
"Serahkan pada kami," jawab para gadis cendekia kompak, termasuk Aria yang sejak tadi sudah mulai membaca.
...***...
"Semua arsip keuangan sudah diserahkan kepada putri mahkota," lapor butler yang melayani Baron Perres Puliu, salah satu bangsawan yang berkolusi dengan penguasa kota. Ia menggertakkan gigi. Wajahnya amat terlihat kesal.
"Kami tidak bisa menolak pemeriksaan dari Sang Pemilik Istana Mutiara," butler itu beralasan melihat air muka majikannya yang semakin keruh tiap waktunya.
"Dasar anak bodoh!" Baron Perres menggebrak meja. Anaknya, Baron Muda Preves Puliu tersentak kaget. Ia sudah berlutut selama berjam-jam di kantor ayahnya. Baron Preves pun kembali membentak Preves, "Harusnya Kau berpikir sebelum bertindak! Aku sudah bilang padamu untuk hati-hati selama tuan putri singgah di kota, tapi Kamu tetap saja membuat masalah."
"Cih, padahal ayahlah yang sudah mengajariku melakukan hal itu," keluh Preves dalam hati. Ia juga geram. Apalagi kakinya sudah mulai keram dan kesemutan. Ia tidak bisa menghindar dari hukuman. Kekesalannya sampai membuat ia berpikir bodoh, "Apa tuan putri tidak bisa disogok dengan hadiah dan uang?"
"Katakan! Apa semua bukti transaksi sudah dilenyapkan?" Baron Perres menanyakan perintah yang diberinya siang ini. Butler pun menjawab dengan menyembunyikan keraguan, "Semua sudah hangus terbakar."
Butler itu tak berani bertatapan dengan Baron Perres. Ia juga tidak mau melaporkan bahwa dokumen transaksi yang dipegang pihak klien sudah dipegang Istana Mutiara. Ia terlalu takut untuk mengakuinya.
"Bagus, selama bukti itu tidak ditemukan, kita akan tetap aman," Baron Perres sedikit merasa lega. Matanya pun menatap tajam anaknya seperti seekor predator yang hendak menangkap mangsanya. "Jika kita tertangkap setelah ini, Kaulah yang harus bertanggung jawab seutuhnya."
Ancaman Baron Perres membuat kebencian di hati Preves semakin tumbuh. Ia tidak terima disalahkan atas apa yang terjadi. Ia hanya melakukan sesuai yang ayahnya ajarkan. Ia pun bersumpah dalam hati, "Kalau aku tidak selama setelah ini, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."
__ADS_1