
"Sejak dulu, Menara Sihir sudah menyimpan dendam pada Istana Mutiara," jawab Anna tanpa keraguan sedikit pun, “Kami menemukan jubah ini tak jauh dari tempat tuan putri diduga menghilang. Jadi, kami menduga—”
"Apa!?" seru Derrick memotong penjelasan gadis itu, "Maksudmu, Menara Sihir ada di balik kasus ini?"
"Besar kemungkinannya, Yang Mulia. Kami menduga bahwa merekalah yang sudah menculik tuan putri,” jelas Anna yang kemudian mengeluarkan barang lain dari sakunya, “Sayangnya, kami tidak bisa menemukan banyak bukti selain hal-hal ini. Sangat sulit mendekati Menara Penyihir sekarang. Entah mengapa, mereka menutup diri sejak dua bulan yang lalu,"
Barang yang dikeluarkan oleh Anna itu adalah sebuah kitab hitam berukuran saku. Saat Derrick membaca bagian yang Anna tunjukkan, tangannya langsung gemetaran marah. Hampir saja ia merobek-robek kitab itu.
Di sana tertulis bahwa setiap generasi penerus Kerajaan el Vierum harus berkorban demi kelangsungan kerajaan. Korban yang diterima hanyalah seorang gadis perawan berdarah keluarga kerajaan. Itu adalah syarat yang diminta Menara Sihir saat menandatangani perjanjian dengan Keluarga el Vierum ratusan tahun lalu.
"Mungkinkah paman dan sepupuku juga terlibat di sini?" gumam Derrick geram, "Mereka berniat mengorbankan Alice untuk hal tidak masuk akal begini?
“Kita tidak bisa menuduh sembarangan tanpa bukti, Yang Mulia. Selain Itu, kemungkinan tuan putri masih hidup juga kembali terbuka,” kata Anna dengan nada bicaranya yang tenang, “Kita harus bergerak dengan hati-hati untuk menginvestigasi masalah ini. Menara Sihir memiliki pengaruh yang besar di kerajaan. Kalau sampai salah langkah, Ducy vi Alverio akan dicap sebagai pemberontak..”
"Kamu benar," Derrick menekan kembali amarahnya. Duke muda itu sudah berniat untuk memusnahkan Menara Sihir barusan. Ia bahkan tak segan untuk memerangi Keluarga el Vierum apabila mereka benar-benar terlibat dalam insiden ini, "Awasi mereka lebih teliti. Kita akan bertindak ketika bukti benar-benar telah ditemukan."
"Baik, Yang Mulia," Anna menjawab lirih.
Sebulan kemudian, Anna kembali menghadap Derrick. Gadis dari Keluarga Saville itu mengajukan pengunduran diri. Ia mendapat panggilan dari keluarganya untuk kembali ke negara asal. Ada tugas lain yang menantinya di sana.
“Bagaimana dengan tanggung jawabmu?” tanya Derrick semakin kecewa pada kinerja Anna Saville, padahal ia adalah gadis berbakat yang bisa diandalkan dalam situasi apa pun.
“Hasil penyelidikan kami kembali nihil. Menara Sihir tidak bisa dimasuki. Keluarga Kerajaan el Vierum pun enggan bekerja sama lebih jauh,” jelas Anna dengan wajah yang datar. Di balik mata biru lautnya yang dalam, tersimpan sebuah rahasia besar yang tak pernah Derrick vi Alverio bayangkan.
__ADS_1
“Baiklah,” balas Derrick pasrah. Ia tak punya hak untuk menahan Anna.
Kesetiaan gadis bukanlah pada Kerajaan el Vierum maupun Keluarga vi Alverio, tapi kepada Alice vi Alverio, putri dari Evianna el Vierum. Saat sang putri pergi, maka ia pun akan pergi. Tak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk membantu Duke Muda vi Alverio.
Di sisi lain, Solid van Denburg menghadap pada Derrick. Ia yang baru saja pulih tak membuang banyak waktu di wilayah keluarganya. Rasa tanggung jawabnya yang tinggi sebagai kesatria meronta-ronta. Pemuda berambut cokelat itu datang dengan tekad di hatinya.
"Saya akan tetap mencari tuan putri," kata Solid ketika Derrick membubarkan tim pencarian, "Saya bersumpah tidak akan kembali sampai menemukan petunjuk mengenai tuan putri."
"Lakukan sesukamu," Derrick menjawab tak peduli.
“Anda tidak perlu risau, Tuan Duke—”
Belum habis ucapan Solid, Derrick sudah lebih dulu memotong, “Lakukan saja sesukamu. Kami akan berterima kasih kalau kamu memang bisa membawa informasi mengenai adikku.”
Selama berbulan-bulan, putra kedua dari Marquez van Denburg itu mengembara di dalam belantara Hutan Kaskas. Solid menempa diri dan terus bertahan untuk menepati sumpahnya. Berbekal ilmu yang dimilikinya, ia bertahan di belantara Hutan Kaskas nan ganas dan menyeramkan.
“Penyelidikan kali ini juga gagal,” lapor James Smith di musim dingin tahun itu, “Namun, ada informasi yang kami dapatkan mengenai Menara Sihir dan Keluarga Kerajaan.”
“Katakan!” kata Derrick yang sebenarnya tak pernah berhenti melakukan penyelidikan terhadap kasus yang menimpa adiknya. Ia diam-diam terus menggali informasi dari sisa-sisa penyelidikan Anna. Selain itu, Duke Muda vi Alverio juga meningkatkan kekuatan militernya guna bersiap melawan Kerajaan el Vierum.
“Tampaknya, Menara Sihir sedang kacau. Kami mengonfirmasi bahwa Voxnus Audrey telah tewas,” lapor James, sang Kepala Pelayan yang selalu setia pada Keluarga vi Alverio. “Nana Magansei sedang berusaha mengendalikan para penyihir di sana, sedangkan Charlotte de Vool kabarnya akan diangkat sebagai Putri Mahkota el Vierum yang baru.”
“Ini bahkan belum setahun sejak Alice menghilang,” gumam Derrick kesal, “James, bagaimana persiapan para kesatria?”
__ADS_1
“Pasukan Kesatria vi Alverio terus melakukan perekrutan sejak wilayah ditutup,” kata James menyinggung kebijakan Ducy vi Alverio yang melakukan lockdown sebulan selepas dibubarkannya tim pencarian Alice. Hal tersebut tentu saja akan merugikan perekonomian ducy. Namun, mereka memiliki cara untuk terus bertahan.
“Perdagangan dan pasokan dari Kerajaan el Grandia masih terus berlangsung. Syukurlah serikat dagang itu bisa mengatasinya dengan baik,” ujar Derrick selepas mendengar kekhawatiran kepala pelayannya. “Jangan sampai ada serikat lain yang masuk. Kita hanya akan bertransaksi dengan mereka sesuai kesepakatan.”
“Bagaimana kalau serikat itu menipu kita dan bekerja sama dengan musuh?” tanya James tak dapat mengenyahkan kegelisahannya, “Sangat berisiko kalau kita bertransaksi dengan satu serikat saja.”
“Bersabarlah, James,” pinta Duke Muda vi Alverio, “Tidak lama lagi, kita akan mulai melaksanakan rencananya.”
“Tolong jangan gegabah,” kata James tetap saja khawatir, “Anda bisa membuka kembali wilayah seolah tidak terjadi apa-apa. Keluarga Kerajaan el Vierum bukanlah lawan yang mudah, apalagi dengan para bangsawan yang mengikutinya.”
“Para bangsawan adalah sosok yang pragmatis,” ungkap Derrick vi Alverio, “Mereka tidak akan menolong jika tidak mendapatkan manfaat. Lagipula, nenek ada di sisi kita. Dia sudah berjanji untuk membantu.”
“Ibu Suri el Vierum dan Keluarga van Ryvat pun sudah menutup dirinya sejak lama, Tuan.” James dengan tulus memperingatkan, “Meskipun pengaruh mereka masih tersisa, tapi tak sebesar Keluarga Kerajaan el Vierum.”
“Bagaimanapun juga,” ucap Derrick bersikukuh. Ia menatap ke luar jendela kantornya yang pengap seraya berkata, “Aku juga termasuk dari Keluarga Kerajaan el Vierum. Kalau sampai fakta kejahatan orang-orang di singgasana itu terungkap, mereka pasti akan kehilangan kepercayaan dari para aristokrat dan rakyat.”
“Ah, rumor itu masih terus tersebar hingga sekarang,” gumam James pelan, mengingat senjata rahasia yang sudah Derrick gunakan lebih awal. Ia menyebarkan keraguan pada para penduduk kerajaan, menggerus loyalitas mereka sedikit demi sedikit.
“Pengelolaan negara juga sedang kacau sekarang,” tambah Derrick penuh keyakinan, “Para bangsawan menaikkan pajak. Beberapa daerah mengalami gagal panen. Sepupuku yang bodoh pun dengan entengnya menghamburkan uang untuk gadis penyihir itu …”
Sore itu, persiapan perang Keluarga vi Alverio hampir lengkap. Tinggal sedikit langkah pendahuluan lagi. Namun, apakah mereka benar-benar akan mampu merebut kekuasaan dari sang raja?
“Saat fakta itu terungkap,” kata Derrick sambil mencengkeram sebuah salinan dari kitab kesesatan, “Maka rakyat akan berpihak pada kita.”
__ADS_1