Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Merenungkan Alam


__ADS_3

Alice menatap langit berawan di angkasa. Awan-awan hitam berhimpun seakan mendekat ke bumi. Sore itu, matahari bersembunyi di baliknya, tapi sinarnya masih sudi menerpa bumi.


Sudah hampir seminggu Alice tinggal di kediaman neneknya. Ia sangat sibuk walaupun sebenarnya tidak ada jadwal resmi. Kerabat-kerabatnya dari Keluarga van Ryvat sering datang untuk bertemu dengannya.


Sore ini mungkin sore paling tenang baginya. Ia duduk di tepi sebuah danau sendirian menikmati kedamaian. Burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya. Alice penasaran dan diam-diam mendekat ke pohon yang tak jauh darinya.


Burung-burung itu berkicau dengan ria seakan-akan mereka memanjatkan syukur untuk Tuhan Yang Maha Esa. Alice pernah membaca sebuah buku tentang berpasrah diri ke atas Tuhan seperti percayanya burung dengan sepenuh hati kepada Tuhan. Mereka pergi di pagi hari dengan perut lapar dan kembali di sore hari dengan perut kenyang.


Setiap makhluk di dunia telah ditentukan rezekinya oleh Tuhan. Mereka tinggal mencari jalan untuk mengambilnya. Ada banyak cara yang dapat mereka usahakan. Ada jalan yang baik ada pula yang buruk. Manusia tinggal memilih antara keduanya.


Tuhan telah memerintahkan pada manusia untuk memakan dari yang halal dan baik. Ini bukan sekadar perintah dan batasan. Ada hikmah di balik setiap aturan dan larangan Tuhan.


Alice kembali menatap ke langit. Ia pun merenungkan ajaran yang selama ini dipelajarinya. Agama bukanlah permainan maupun olok-olokan. Bukan pula alat untuk berpolitik dan memeras harta orang.


Agama adalah tuntunan hidup manusia sebagai tanda kasih sayang Tuhan. Ia adalah petunjuk bagi orang-orang yang beriman agar lulus dari setiap ujian kehidupan. Baik dalam perihal rumah tangga yang paling sederhana sampai politik yang rumitnya luar biasa. Segala sesuatu ada aturannya. Tuhan Mahabijaksana lagi Mahateliti.


Setiap aturan dan larangan yang Tuhan perintahkan kepada seluruh makhluk-Nya adalah untuk kebaikan mereka sendiri. Tuhan tidak membutuhkan hamba-hamba-Nya, melainkan merekalah yang membutuhkan Tuhan. Hanya orang bodoh yang berpikir bahwa Tuhan membutuhkan hamba untuk mengisi kekuatan ilahi-Nya.


"Ada sebagian ahli kitab yang membengkokkan lidah mereka dan menulis kitab yang palsu demi keuntungannya sendiri," Duchess Evianna pernah bercerita kepada Alice. Ia seakan kembali mendengarnya sekarang. Seolah-olah ibundanya itu ada di sampingnya. "Mereka menjual agama dan mengatakan, 'Ini dari Tuhan,' padahal itu hanyalah angan-angan mereka."

__ADS_1


"Bunda, benar," gumam Alice sambil memungut sebuah kerikil berbentuk pipih. Ia pun melemparnya ke danau. Kerikil itu melesat seperti cakram dan terpental sebanyak tiga kali di permukaan danau, baru kemudian tenggelam. "Kuil Suci yang mengobrak-abrik ajaran lurus telah mendapat imbasnya. Kredibilitas mereka semakin menurun sejak ada yang sadar banyaknya ketidakbenaran dalam ajarannya. Sayangnya, orang-orang yang sadar itu malah berpikir bahwa semua agama adalah sama. Memandangnya sekadar cara orang terdahulu untuk mengajari etika hidup pada orang setelahnya."


"Alice, apa yang Kamu lakukan di sini?" suara Aria terdengar dari belakang. Alice pun menoleh dan mendapati gadis berambut perak itu berdiri tak jauh darinya.


"Merenung," jawab Alice singkat. Ia pun kembali menatap danau yang tenang. Ada beberapa teratai yang bunganya siap mekar di malam hari nanti.


Aria pun duduk di sampingnya. Ia menatap Alice yang kini terlihat sedang banyak pikiran. Ia pun mengikuti arah mata putri kecil itu memandang.


Mentari sore terlihat muncul di balik awan-awan hitam. Sinarnya mewarnai awan yang masih putih dengan warna kemerahan. Sebentar lagi, ia akan tenggelam.


"Aria, apa yang Kamu lihat tentang petang?" tanya Alice tanpa menoleh. Ia memandang ke bayang-bayang matahari yang dilukiskan oleh danau. Sesekali riak gelombang menggetarkannya sehingga terlihat lebih menarik.


"Petang?" Aria menatap Alice, kurang mengerti dengan maksud pertanyaannya.


"Oh, itu. Petang adalah pergantian siang dan malam," kali ini Aria yang menjelaskan. Ia ikut melihat matahari yang semakin memerah tajam, tapi cahayanya kian redup ditutup awan. "Keduanya tak dapat saling mendahului. Ketika terbit terang, habislah malam. Begitu pula sebaliknya. Itu adalah fenomena alam yang Tuhan atur sedemikian rupa. Tak akan berubah kecuali Tuhan menghendakinya."


"Bagaimana menurutmu dengan kegiatan hari ini?" Alice kembali bertanya. Kali ini, ia menoleh kepada Aria, gadis berambut perak itu pun juga menghadap kepadanya.


"Itu seru," jawab Aria. Seulas senyum teduh tersungging di bibirnya. Rambut peraknya melambai-lambai bersama semilir angin, turut merasakan kedamaian petang ini. "Ini pertama kalinya aku berlayar di danau."

__ADS_1


Alice terkekeh, "Aku juga. Dulu aku sudah pernah diajak untuk naik ke perahu, tapi aku sangat takut saat itu."


"Aku mengerti perasaanmu. Tadi itu sangat menegangkan saat perahunya bergoyang," Aria ikut tertawa, "Kukira kita akan jatuh. Untung saja perahu itu aman."


"Ya, Mainne sangat lihai mengendalikannya. Aku sempat kaget," Alice mengingat kejadian tadi siang. Topi salah satu gadis cendekia tiba-tiba tertiup angin. Ia pun spontan berusaha mengambilnya sehingga kapal bergoyang.


"Kota Marianna adalah kota pelabuhan yang strategis," Aria membayangkan kota yang hanya pernah dibacanya lewat buku itu, "Tidak hanya sekadar pusat perdagangan yang ada di sana, pantai nelayan juga menjadi daya tariknya. Mainne pasti sudah terbiasa bermain perahu di lautan."


"Tidak, aku hanya sesekali ikut dengan pamanku berlayar," suara Mainne membuat Alice dan Aria kompak menoleh. Gadis Keluarga Hamra itu berdiri di belakang mereka kemudian duduk bergabung.


"Di Kota Marianna, Kamu selalu melihat kapal berlalu lalang, kan?" Alice membenarkan posisi duduknya. Kini, mereka duduk melingkar saling menghadap.


"Yah, itu benar. Kapal-kapal itu sangat besar dan hebat. Bentuknya macam-macam," Mainne semangat bercerita, "Kapal dari negeri timur adalah yang paling unik. Layarnya besar dan lebar. Mereka membawa komoditas perdagangan yang bermacam-macam, termasuk rempah yang sedap. Aku juga belajar dasar membuat kertas dari mereka."


"Kapal-kapal itu...," Aria bergumam. Ia yang selama hidupnya belum pernah melihat laut hanya dapat membayangkan cerita Mainne. Ia jadi ingin bertualang di lautan bersama kawan-kawannya suatu saat nanti. "Sangat ajaib, bukan?"


"Ya, mereka membawa banyak manfaat untuk kita," Alice menambahkan, "Tuhan telah mengatur angin untuk bertiup dan menata bintang dengan sedemikian rupa sehingga kita dapat mempelajari yang namanya waktu dan arah dengannya."


"Sungguh Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia," Aria menutup matanya sembari merenungkan kata-kata Alice, "Segala sesuatu memiliki perannya masing-masing."

__ADS_1


Mainne terdiam. Ia berusaha mencerna maksud kedua sahabatnya itu. Di tengah-tengah renungannya, ia pun teringat, "Kita harus segera kembali. Tadi Madam Anna menyuruhku mencari Kalian. Aku malah lupa. Maaf, ya."


"Tidak masalah," Alice bangkit diikuti yang lain, "Ayo kita segera kembali."


__ADS_2