Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Cerita Marchioness


__ADS_3

"Kakak, ada apa?" Alice terheran melihat tubuh Anna yang gemetaran. Gadis bermarga Saville itu tersentak ketika mendengar panggilan orang yang dilayaninya sejak kecil. Ia baru saja menutup sambungan telepon.


"Nona, apa yang Anda lakukan di sini?" Anna spontan bertanya. Alice pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia yang berhak bertanya begitu. Mereka sedang berada di sekitar halaman kediaman ibu suri.


"Aku baru saja selesai berbincang dengan nenek," jawab Alice ringan lalu balik bertanya, "Kakak sendiri mengapa di sini? Apa yang membuat Kakak sampai gemetaran seperti tadi."


Anna baru menyadari kalau Alice sudah memperhatikannya sejak tadi. Ia pun menghela napas menyesali kecerobohannya. Lagi-lagi, ia ketahuan oleh Alice saat sedang melakukan perbincangan penting.


"Maaf, Nona," Anna melipat kedua tangannya menjadi satu, "Itu bukan sesuatu yang bisa saya beri tahukan kepada Anda."


"Ayolah... beri tahu aku," paksa Alice halus. Keimutannya tetap tidak dapat membuat Anna buka mulut. Dayang berkerudung itu menggeleng tegas. "Tidak bisa, Nona. Saya harap Anda mengerti."


"Kakak sudah banyak membantuku. Katakan saja!" bujuk Alice tak ingin menyerah, "Aku juga ingin membantumu."


"Cara terbaik Anda untuk membantu saat ini adalah berbuat baik," Anna tersenyum simpul, "Saya akan sangat senang jika Anda melakukannya, Nona."


"Apa aku hanya akan menjadi beban?" tanya Alice dengan murung. Ia memiliki tebakan yang akurat di benaknya. Jadi, ia tidak akan memaksa.


"Anda bukanlah beban, Nona," hibur Anna lembut, "Anda adalah harapan kami. Karena itu, Anda harus tumbuh dengan baik."

__ADS_1


"Hm," angguk Alice tetap terlihat murung. Anna sampai merasa tidak enak dengannya, tapi itulah yang terbaik. Tugas utamanya adalah menjaga satu-satunya putri Kerajaan el Vierum itu.


"Terima kasih pengertiannya," Anna menyungging senyum lega, "Saya harus bertemu dengan Nyonya Marchioness van Ryvat setelah ini. Maaf, saya tidak bisa menemani Anda."


"Ya, cepatlah kembali," kata Alice lirih. Ia pun pergi meninggalkan sosok yang sudah seperti ibu kedua sekaligus kakak terbaiknya itu. Tangannya mengepal. Ia bertekad untuk tidak menjadi beban bagi orang lain lagi.


"Nyonya, saya datang menghadap," sapa Anna setelah mengucapkan salam. Marchioness van Ryvat menjawabnya lalu mempersilakan Anna untuk duduk.


"Kamu sudah besar dan bertambah cantik, Anna," Marchioness van Ryvat memandang Anna dengan lembut seakan ia melihat putrinya sendiri, "Padahal saat pertama kali bertemu, Kamu masih seumuran Alice. Rasanya seperti baru kemarin. Waktu sungguh cepat berlalu. Apa Kamu masih belum menemukan 'sahabat sejati'?"


Pertanyaan Marchioness van Ryvat membuat Anna hampir tersedak. Walaupun ia sering mendengar pertanyaan itu akhir-akhir ini, ia tak menyangka Marchioness van Ryvat akan menjadikannya pertanyaan pertama. Ia pun mengatur napas agar tenang.


"Tugas saya masih belum selesai, Nyonya," ucap Anna beralasan. Tugasnya untuk melindungi Alice memang belum selesai dan entah kapan akan selesai.


"Di negeri saya," Anna masih belum tidak terpengaruh dengan omelan Marchioness van Ryvat, "Usia ini memang usia yang pas untuk menikah bagi seorang gadis, tapi masih belum terlambat jika menunda sampai beberapa tahun ke depan."


"Benarkah? Bukannya waktumu idealmu tinggal dua sampai tiga tahun lagi?" Marchioness van Ryvat menatap selidik. Anna tersenyum pahit. Apa yang dikatakan oleh wanita tua itu tidak salah. Walaupun tidak masalah juga jika ia ingin menikah di usia yang mendekati kepala tiga.


"Hah... saya akan memikirkannya nanti, Nyonya. Ada yang harus saya laporkan kepada Anda," Anna menegakkan posisi duduknya dan mulai menceritakan laporan yang diterimanya. Marchioness van Ryvat pun menyimak dengan seksama.

__ADS_1


"Jadi begitu, ya. Aku turut berduka cita. Ini adalah kasus yang jarang bagi Agen Saville," simpati Marchioness van Ryvat setelah Anna menyelesaikan laporannya, "Mereka sudah mulai bergerak lagi. Bagaimana dengan penyelidikannya?"


"Masih kami usahakan, Nyonya," Anna melaporkan, "Semua sumber yang dikumpulkan oleh Putri Elianna telah diverifikasi kebenarannya. Sayangnya, kami masih belum bisa menemukan bukti yang kuat untuk kejahatan itu seakan semua bukti yang tuan putri kumpulkan dulu tidak pernah ada."


"Aku bisa memakluminya," Marchioness van Ryvat menatap gadis cantik berhijab di hadapannya. Tatapannya teduh. Pengalaman hidup puluhan tahun telah membinanya menjadi pribadi yang bijak. "Bagaimanapun, mereka sudah memiliki pengaruh yang kuat sejak dulu. Aku akan sedih jika fakta menyatakan kalau kerajaan ini dibangun dengan pengorbanan kepada setan."


"Apakah separah itu?" tanya Anna tak percaya.


"Tidak, untungnya itu hanya kekhawatiranku yang berlebihan," Marchioness van Ryvat menggeleng. Seulas senyum tersimpul di wajahnya. "Kerajaan ini dimulai dari nol. Ia telah mengalami pasang surut sejak ratusan tahun lamanya. Saat dunia sihir mencapai puncak kejayaannya, hampir seluruh benua dijamahnya. Sisa-sisa mereka di zaman ini menjadi suatu yang istimewa bagi orang-orang biasa di daerah-daerah tertentu. Termasuk kerajaan ini."


Marchioness van Ryvat terdiam. Anna pun juga diam. Ia merasa wanita yang menjaga perbatasan barat Kerajaan el Vierum itu belum selesai dengan ceritanya.


"Padahal kerajaan ini pernah diperintah oleh orang-orang yang beriman," pandangan Marchioness van Ryvat terlihat sedih, "Tetapi perebutan takhta selalu menjadi bencana yang membalikkan segalanya."


"Bagaimana dengan raja generasi sebelumnya?" maksud Anna adalah Mendiang Raja Herkulius el Vierum yang merupakan kakek dari Alice.


"Suamiku berhasil mengambil alih takhta dari pemberontakan Jenderal Phors dengan dibantu berbagai pihak," jelas Marchioness van Ryvat, "Termasuk Menara Penyihir dan Kuil Suci. Dia tidak dapat mengabaikan peran keduanya," ia pun menatap langit. Pandangannya jauh menembus cakrawala masa lalu, "Jadi, tidak banyak yang bisa ia lakukan walau ia berjalan pada jalan yang sama denganku pada akhirnya."


"Aku tidak melahirkan seorang putra, tapi aku punya dua putri yang cerdas dan pemberani," Marchioness van Ryvat mengingat bagaimana kehidupannya di masa lampau. Kenangan-kenangan yang pahit dan masam telah banyak dirasakannya. "Aku merawat Cloude seperti anakku sendiri setelah ibunya meninggal dengan harapan ia akan memimpin kerajaan dengan jalan yang lurus. Saat itu, aku tidak pernah sadar kalau ia memiliki kedekatan dengan Menara Penyihir."

__ADS_1


"Walaupun tidak seberbakat Alice sekarang, Elianna dan Evianna menunjukkan bakat yang brilian semenjak keduanya beranjak dewasa," kini Marchioness van Ryvat mengingat putri kembar yang telah tiada mendahului dirinya, "Suamiku membangunkan istana untuk keduanya sebagai ganti kasih sayang seorang ayah yang amat jarang mereka temui, tapi mereka malah membangun kekuatan di sana. Dibantu teman-temannya yang tidak kalah berbakat dan setia, keduanya mengguncangkan seantero kerajaan bahkan sampai Kekaisaran Suci. Aku tidak pernah menyangka akan berpisah begitu cepat dengan mereka."


Marchioness van Ryvat kembali terdiam. Bibirnya masih menyungging senyum. Senyum yang teduh seakan diliputi kerelaan.


__ADS_2