
"Apa?" Anna kembali sadar dari lamunannya. Wajahnya dengan cepat membaik. Jejak ketakutan itu seolah tak pernah ada. Alice menatapnya penuh tanya. Harusnya, putri kecil itulah yang ketakutan mengetahui fakta dari jurnal Putri Elianna el Vierum.
"Wajah Kakak tiba-tiba aneh," kata Alice memberi tahu.
"Benarkah?" ucap Anna seakan lupa. Ia sebenarnya tetap mengingat ingatan itu, tetapi sekarang ia sudah dapat mengendalikan dirinya. "Itu bukan apa-apa. Nona tak perlu cemas."
"Aku benar-benar serius," Alice membalas kesal, "Kalau itu berkaitan denganku, aku juga harus mengetahuinya."
"Itu berkaitan dengan para putri kerajaan," Anna mulai menjelaskan mekanisme kejam Menara Penyihir. Sebagian penjelasan itu sudah Alice baca di buku. Jadi, ia tidak terlalu terkejut mendengarnya.
"Nenek yang mengirim Kakak kepada kami?" Alice baru mengetahui fakta itu. Selama ini, ia dan Derrick yang merupakan cucu kandung ibu suri jarang mengunjungi perbatasan wilayah yang dijaga Keluarga von Ryvat. Mereka lebih sering berinteraksi dengan saudara-saudaranya dari cabang Keluarga vi Alverio.
"Benar," Anna mengangguk. Ia tidak lagi menyembunyikan gawainya di depan Alice. Toh, Alice juga sudah sedikit tahu tentang teknologi-teknologi itu. "Marchioness van Ryvat dan Almarhum Raja Herkulius membuat perjanjian dengan Keluarga Saville sejak mengetahui fakta itu."
"Kalau begitu, mengapa harus sembunyi-sembunyi sampai Paman Claudius bahkan tidak pernah mengetahuinya?" tanya Alice heran. Ia tahu kakeknya adalah sosok hebat yang membangkitkan kerajaan ini setelah masa pemberontakan. Dengan pengaruhnya, ia tak perlu takut dengan ancaman dari dalam. "Bukannya kakek dapat mengeluarkan dekrit pelarangan sihir?"
"Kondisinya tidak sesederhana itu," jawab Anna. Pintu kereta kuda dikunci. Gordennya ditutup rapat-rapat. Gadis dari Keluarga Saville itu menunjukkan sebuah gawai tipis yang menerangkan laporan dari tahun menghilangnya Putri Elianna el Vierum.
"Menara Penyihir memiliki pengaruh yang lebih kuat dan luas saat itu. Mereka memiliki pandangan yang baik di mata rakyat," kata Anna menunjuk sebuah foto berwarna yang diambil oleh agen Saville saat itu. Ia menjelaskan, "Kalau raja terdahulu tiba-tiba menyatakan dekrit permusuhan terhadap Menara Penyihir, mereka akan menggunakan topeng penolong dan mengarahkan rakyat untuk memberontak."
"Aku mengerti," Alice menatap foto yang ditunjukkan Anna. Di sana tampak sosok kakeknya tengah bersalaman dengan Voxnus Audrew, kepala penyihir yang berkuasa sejak masa pemberontakan. Dikatakan bahwa raja terdahulu dan penyihir itu saling bahu-membahu untuk menumpas pemberontakan. Oleh karena itu Menara Penyihir memonopoli simpati rakyat.
__ADS_1
"Akan tetapi, hubungan raja terdahulu dan Voxnus merenggang sejak hilangnya Putri Elianna," Anna menerangkan, "Pada tahun itu pula perjanjian dengan Keluarga Saville dibuat."
"Raja terdahulu memperkuat otoritas Istana Mutiara. Ia juga memberinya dana yang besar untuk mulai membangun kekuatan," Anna membuka laman berikutnya. Kali ini foto Mendiang Duchess Evianna muda dan Istana Mutiara terpampang di sana.
"Itu ibunda?" kata Alice saat melihatnya.
"Benar," jawab Anna memulai kembali penjelasannya, "Mendiang Duchess Evianna mulai menjadi pengurus tunggal Istana Mutiara sejak saat itu. Beliau tidak dapat berkabung terlalu lama atas kehilangan saudarinya. Bersama para sahabat cendekianya, ia memperkokoh kedudukan Istana Mutiara di kerajaan."
"Di sisi lain, Voxnus mendekati Raja Claudius yang saat itu merupakan putra mahkota," kali ini muncul foto Menara Penyihir di gawai Anna, "Sebelumnya, ia pernah beberapa kali berusaha membangun relasi dengan Istana Mutiara, tetapi Istana Mutiara selalu menolak uluran tangan itu."
"Ibunda juga tahu rencana Menara Penyihir?" Alice mengamati jurnal Putri Elianna yang dibawanya. Anna mengangguk, "Putri Kembar menyelidiki kasus itu bersama-sama. Akan tetapi, sejak hilangnya Putri Elianna, Mendiang Duchess Evianna seakan kehilangan separuh kekuatannya."
Pintu kereta kuda diketuk. Seorang di luar lalu melaporkan bahwa rombongan Putri Mahkota el Vierum telah sampai di pemberhentian pertama. Anna segera menutup gawainya lalu membukakan pintu kereta kuda.
"Kita akan menginap di Hotel Marine," kata Anna melaporkan. Alice buru-buru menyelanya, "Tidak, mari kita ke hotel yang dikelola oleh Keluarga Saville."
"Tuan Putri, itu tidak sesuai dengan jadwal yang direncanakan," Anna menolak. Akan tetapi, Alice memaksa sampai Anna mau menerimanya. Ia bilang ingin bertemu saudara Anna di kota ini walau motif sebenarnya adalah teknologi-teknologi mutakhir Keluarga Saville.
"Hah, baiklah," Anna akhirnya menyerah. Direktur Hotel Marine tampak kecewa mendengar pembatalan pesanan Putri Mahkota el Vierum itu. Ia meminta berkali-kali kepada kesatria yang mengirimkan pesan dari Alice untuk bertemu putri itu. Ia bahkan menawarkan beberapa penawaran bagus. Akan tetapi, itu sama sekali tak dapat mengalahkan minat Alice pada teknologi Keluarga Saville.
"Madam, apa ini baik-baik saja?" kepala cabang Serikat Dagang Saville bertanya ragu. Ia sekaligus merangkap sebagai pemimpin Biro Rahasia di wilayah itu. Saat ini, mereka telah berada di Ruang Instalasi Rahasia Keluarga Saville.
__ADS_1
"Aku juga tidak yakin sebelumnya," jawab Anna menghembuskan napas, "Tetapi pemimpin tertinggi sudah mengizinkannya. Jadi, apa boleh buat?"
Alice sedang dipandu oleh seorang teknisi muda yang juga merupakan eksekutif di markas cabang Biro Rahasia itu.Ia mempelajari setiap hal baru dengan cepat. Saat mencoba hal-hal yang belum pernah dilihatnya, ia bertingkah seperti anak seusianya. Sering kali kagum dan bingung.
Anna merekam tingkah Alice itu dengan gawai di lensa matanya. Ini akan menjadi dokumentasi yang bagus untuk dilaporkan kepada Marchioness van Ryvat dan pemimpin tertinggi yang selalu memperhatikan Alice.
Sebelum malam semakin larut, Anna mengajak Alice untuk segera mengakhiri turnya. Gadis kecil itu terlihat lesu kecewa sesaat. Akan tetapi, ia segera menurut dan naik ke kamarnya di lantai atas.
...***...
"Tuan putri tidak ada di sini katamu!" bentak seorang pria utusan Menara Penyihir menggetarkan Direktur Hotel Marine, "Harusnya mereka di sini. Bagaimana Kau mengelola hotel sampai Putri Mahkota el Vierum tidak mau mampir di hotel terbaik sekota ini."
"Ampun, Tuan," Direktur Hotel Marine bersujud memohon. Tubuh gembulnya bergetar hebat. Bola berlemak itu berkeringat dingin saking takutnya. Ia melaporkan, "Putri Mahkota tiba-tiba membatalkan kunjungannya dan pindah ke Hotel Cahaya Bulan yang dikelola Serikat Dagang Saville. Saya tidak tahu apa-apa terkait keputusan itu."
"Saville?" geram pria utusan Menara Penyihir itu. Serikat Dagang Saville sama halnya dengan Istana Mutiara. Mereka menolak kontak dengan Menara Penyihir. Setiap didatangi, mereka selalu menolak dengan halus.
Di sisi lain, pria itu juga lega. Ia bisa memberi alasan logis atas kegagalannya. Selama tidak bertemu Voxnus, nyawanya pasti selamat.
Harusnya hotel ini menjadi panggung sandiwara pencitraan Menara Penyihir. Sebenarnya rencana itu cukup konyol. Seorang yang disewa akan berpura-pura menjadi penjahat lalu utusan dari Menara Penyihir itu jadi sosok pahlawannya untuk mendapat pengakuan dari Putri Mahkota el Vierum.
"Ck, mengapa gadis bodoh itu yang menjadi ketua timnya?" gerutu pria utusan Menara Penyihir itu. Bayangan penyihir wanita tersadis muncul di benaknya. Sekejap kemudian ia merasa merinding. Ia akan diledakkan kalau tidak memilik alasan sempurna untuk kegagalannya itu.
__ADS_1