
Seharian Alice memeriksa laporan terkait Kota Marianna bersama beberapa amtenar yang merupakan asistennya di Istana Mutiara. Ia mencocokkan hasil laporan itu dengan bukti-bukti yang diserahkan oleh departemen-departemen pemerintah lainnya. Jika memeriksanya dari laporan Balai Pengawas saja, pasti tidak akan ditemukan keanehan karena semua laporan itu sedemikian rapinya sampai sulit dicurigai.
"Apakah Anda lelah, Tuan Putri?" seorang wanita paruh baya bertanya halus saat melihat Alice yang mengerjapkan matanya beberapa kali sedangkan tangannya berhenti menggoreskan pena. Alice memang kelelahan. Akan tetapi, ia selalu diajarkan untuk tetap menjaga martabatnya. Jadi, ia berusaha keras melawan rasa kantuknya.
Ditatapnya wanita paruh baya itu beberapa saat lalu ia pun mengangguk. Wanita itu menyarankan agar Alice segera beristirahat saja, "Biarkan kami yang mengurus sisanya. Kami tidak akan mengecewakan Anda, Tuan Putri."
"Terima kasih, Madam Selena. Aku akan beristirahat," ucap Alice dengan senyum tipis di wajahnya. Senyuman itu yang membuat para amtenar di Istana Mutiara menafikan kabar burung bahwa Alice adalah putri yang dingin. Mereka tahu bahwa sebenarnya Alice memiliki hati yang sehangat ibundanya, mendiang Duchess Evianna.
"Minta Madam Anna untuk membawa sebagian berkas itu ke perpustakaan saat ia datang nanti," kata Alice sebelum pergi. Masih banyak dokumen yang harus diperiksanya. Ia tidak ingin menunda terlalu lama.
"Baiklah, Tuan Putri," Madam Selena memberi hormat, "Saya akan menyampaikannya."
Alice pun berjalan sendirian ke perpustakaan pribadinya. Sejak dibuka kembali dua tahunlalu, Istana Mutiara ini menjadi ramai. Para amtenar yang sebelumnya pernah bekerja untuk Duchess Evianna dan Putri Elianna dipanggil kembali.
Awalnya hanya beberapa di antara mereka saja yang diundang untuk mengajari Alice. Akan tetapi, dengan bakatnya, Alice mampu mendapat kepercayaan dari raja dan memulihkan kembali sebagian kuasa Istana Mutiara. Amtenar lainnya pun kembali direkrut.
Setahun kemudian, ia diberi gelar honoris cousa oleh Akademi Kerajaan dan sebulan yang lalu ia menjadi putri mahkota. Kesibukannya terus bertambah dari hari ke hari. Untung saja ia telah lulus kelas etiket yang biasa diterima para bangsawan dengan predikat yang terbaik. Jadi, ia tidak perlu mengulangnya lagi saat di Istana Mutiara.
"Keselamatan atas Putri Mahkota el Vierum," Anna memberi salam saat masuk ke perpustakaan. Dilihatnya Alice berada di salah satu sudut perpustakaan. Ia duduk di sebelah jendela yang mengarah ke taman kembar di Istana Mutiara. Kedua tangannya menyilang di atas sebuah bantal. Kepalanya ditaruh santai di atas kedua tangannya itu sedangkan matanya tertutup.
Alice tetap terlihat cantik saat tertidur seperti itu. Anna ingin membiarkan putri kecil itu untuk beristirahat lebih lama lagi, tetapi kepekaannya terlalu tinggi sampai ia terbangun hanya dengan mendengar langkah Anna yang semakin mendekat.
"Maaf telah mengganggu istirahat Anda, Tuan Putri," sapa Anna dengan formal. Ini adalah jam kerja. Jadi, ia tidak akan sembarang memanggil nona kecilnya itu seperti biasa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Madam," balas Alice sambil membenarkan posisi duduknya, "Aku sudah cukup beristirahat."
Anna pun meletakkan dokumen yang diminta Alice di atas meja. Ia menghela napas heran melihat Putri Mahkota el Vierum itu. Ia sama workaholicnya dengan kakak atau ayahnya.
"Padahal Anda suka mengomeli perdana menteri untuk lebih sering beristirahat," komentar Anna saat Alice mulai mengambil sebuah dokumen, "Mengapa Anda malah memaksakan diri seperti ini?"
"Aku hanya ingin menjalankan tugasku dengan baik," Alice mulai membaca berkas di tangannya. Anna diam tersenyum tanpa berkomentar lagi. Ia pernah membahas yang demikian di masa lalu. Jadi, ia tidak berniat memperdebatkannya lebih jauh lagi.
Waktu berjalan tanpa terasa saat bekerja. Di siang hari, sebelum para gadis cendekia pulang dari Akademi Kerajaan, seseorang telah sampai terlebih dahulu ke Istana Mutiara. Ia mencari-cari putri mahkota yang kelak akan bersanding dengannya. Saat sampai di perpustakaan, ia menyelonong masuk tanpa memberi salam. Itu membuat Alice memasang wajah kesal terhadapnya.
"Alice, ayo jalan-jalan ke luar. Ada tempat bagus yang ingin kutunjukkan padamu," kata pemuda~tidak! Panggilan bocah lebih baik untuk Putra Mahkota itu, begitulah pikir Alice.
"Tidak bisa, saya sedang sibuk!" jawab Alice ketua lalu mengusirnya dengan sedikit sopan, "Saya mohon Anda bermain di luar saja."
"Lagi pula, mengapa Anda datang tanpa memberi kabar begini?" Alice tanpa sadar mulai mengomel. Pemuda yang tidak lain adalah Antonio itu pun hanya dapat berdiri terdiam.
"Hai, apa maksudmu?" potong Antonio tidak terima, "Bukannya aku sudah bilang? Aku tidak suka kelas yang membosankan seperti itu."
"Kalau Anda dapat menerapkannya dengan benar, saya pasti tidak akan meminta kepada Baginda ratu seperti itu. Makanya, saya harap Anda mengerti."
"Alice, aku punya nama. Panggil aku Antony atau An," kata Antonio tidak menghiraukan etika yang dibicarakan Alice. Putri Mahkota el Vierum itu pun mendengus kesal.
"Ok-ok, An," kata Alice pasrah lalu juga menghilangkan formalitasnya, "Tolong keluar atau bantu aku bekerja dan jangan ribut."
__ADS_1
Anna mengamati perdebatan kedua putra-putri kerajaan itu. Tentu ia tidak dapat fokus dengan keributan yang terjadi. Ia melihat Antonio yang sepertinya sedang menimbang-nimbang.
Pemuda itu lalu mendekati Alice sampai membuat wajah gadis itu semakin kesal. Ia bermaksud untuk meraih tangan mungil Alice dan mengecupnya sebagaimana etika yang dipelajarinya, tetapi Alice lebih dulu menghindar dan memukulkan penanya ke tangan Antonio.
"Apa yang Kamu lakukan?" protes Alice. Antonio menatapnya dengan heran. Harusnya, ia yang protes di sini. Ia sudah bertindak sesuai etika.
"Apakah baginda ratu belum memberitahumu kalau aku mengikuti adat Keluarga van Ryvat?" tanya Alice sekaligus menjawab tatapan heran Antonio itu. Ia mulai sewot lagi membahas tentang etika, "Kamu mungkin tunanganku, tetapi masih ada batas di antara kita. Ingat itu! Jangan menyentuh wanita selain keluargamu."
Alice menyebutkan satu per satu wanita yang termasuk keluarga menurut ajaran Agama Monoteisme Murni. Mulai dari ibu, anak perempuan, saudari, dan bibi dari ayah maupun ibu. Lalu keponakan perempuan dari saudara maupun saudari, ibu dan saudari sepersusuan, juga mertua maupun menantu.
Selanjutnya Alice menjelaskan juga aturan janda beranak dan anak tiri terhadap masalah itu. Jika janda itu belum digauli lalu dicerai, maka putrinya juga masih belum menjadi anak tiri.
"Apa Kamu mengerti?" tanya Alice menatap Antonio yang jelas terlihat jenuh dengan kuliah singkatnya. Alice dan Antonio adalah sepupu. Jadi tidak ada larangan bagi mereka untuk bertunangan dan menikah. Akan tetapi, mereka masih ada jarak sampai benar-benar mengucapkan akad pernikahan. Mengingat topik itu, Alice berkata, "Kamu tidak boleh menghimpun dua wanita yang bersaudara dalam satu pernikahan kecuali jika salah satu di antara mereka telah lama meninggal atau diceraikan."
"Cukup-cukup! Aku mengerti," potong Antonio spontan, "Aku akan membantumu bekerja saja."
"Benarkah?" Alice menatap Antonio dengan keraguan yang sangat jelas. Putra Mahkota el Vierum itu pun meyakinkan Alice. Ia minta gadis itu agar tidak meremehkannya.
"Ok," Alice memberi sebuah buku tebal kepada Antonio. Jelas itu bukan dokumen yang dikerjakannya. Akan tetapi, sebuah buku sejarah yang membahas politik kerajaan di masa lalu.
"Apa ini? Kamu menyuruhku belajar?" Antonio tidak terima. Ia sudah jenuh belajar di Akademi Kerajaan sejak tadi pagi dan berniat mengajak tunangannya berkencan. Sekarang, ia malah disuruh tunangannya itu untuk kembali belajar.
Anna memandang Antonio iba. Seperti itulah nasibnya yang berjodoh dengan gadis workaholic. Benar-benar pangeran yang malang.
__ADS_1
"Itu karena Kamu harus menjadi raja yang bijaksana," Alice malah kembali mengomeli Antonio, "Pelajarilah itu dengan tenang agar Kamu mengerti apa yang harus Kamu kerjakan di masa depan."
Antonio hanya dapat menghela napas. Ia lalu mengambil tempat duduk di hadapan Alice dan mulai membaca. Ia berharap gadis itu segera lelah dan mau menerima undangan jalan-jalannya.