Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Dua Prasangka yang Bersilang


__ADS_3

"Mainne, bagaimana keadaanmu?" tanya Alice begitu mendapati Mainne sudah sadar di ranjangnya. Mainne menyungging seulas senyum. Tatapannya teduh. Ia pun menjawab dengan lembut, "Aku baik-baik saja. Sekarang sudah tidak sakit lagi."


"Benarkah?" tanya Alice cemas belum percaya sepenuhnya. Ia masih ingat bagaimana Mainne tiba-tiba muntah darah sebelum acara makan siang waktu itu. Ia juga masih mengingat sensasi buruk yang sempat dirasakannya di sana.


"Ya, aku sangat sehat sekarang," balas Mainne dengan tawa kecilnya yang membuktikan bahwa ia benar-benar sudah membaik, "Aku bahkan sudah siap untuk kembali belajar sekarang."


"Cukup! Kamu harus istirahat dulu," cegah Alice yang kemudian memberi kabar, "Kita akan menyusul rombongan Akademi Kerajaan beberapa hari lagi. Jadi, jangan memaksakan diri."


"Ah, baiklah. Aku mengerti. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," Mainne tak pernah menyangka akan diperhatikan sebaik ini di Istana Mutiara. Dulu, ia mengira bahwa ia akan selalu mendapat intimidasi dari para bangsawan di Istana Mutiara. Kebanyakan buku yang dibacanya menceritakan seperti itu. Ternyata tidaklah selalu seperti itu. Para bangsawan di Istana Mutiara sangatlah baik dan perhatian. Mereka sangat peka terhadap kondisi rakyat kerajaan.


"Saya sangat bersyukur dapat bergabung dengan Istana Mutiara," ucap Mainne tak lupa memanjatkan syukur pada Tuhan, "Saya dapat belajar banyak bersama orang-orang yang hebat dan terhormat."


"Ya, aku juga senang bisa belajar bersama kalian," Alice mengulas senyum manis. Senyum yang ia tunjukkan kepada sahabat dan orang-orang terdekatnya. Senyum yang tulus dan bermakna.


"Alice, ada surat yang datang dari Duke Muda vi Alverio," Aristia masuk ke ruang rawat Mainne. Ia sudah membawanya sejak tadi, tapi ia baru ingat sekarang, "Surat itu sudah sampai sejak beberapa hari lalu."


"Terima kasih, Tia," Alice menerima surat itu dan langsung membacanya.


Isinya seperti biasa. Kakaknya itu menyatakan dukungan terhadap keputusan yang Alice ambil. Ia yakin Alice dapat mengambil keputusan terbaik. Namun, secara tersirat ia mengatakan keberatannya atas pertunangan Alice dengan Antonio.


Alice tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan lengan baju. Ia mengerti kekhawatiran Derrick saat duke muda itu menceritakan obsesi Antonio yang tidak pantas. Ia pun berkomentar, "Lagi pula, ia sudah meminta maaf. Aku tidak ada dendam dengannya. Dia pasti akan menjadi raja yang bijak suatu hari nanti."


Rosemary yang menemani sejak tadi diam tidak berkomentar. Ia tidak setuju dengan pemikiran Alice. Dilihatnya tuan putri kecil itu dengan iba. Ia berharap kawannya itu tidak akan terluka di masa depan nanti.


Aristia dan Akilla juga berpikiran sama dengan Rosemary. Antonio telah masuk dalam daftar catatan merah mereka. Bagi mereka, ia adalah tipe lelaki yang harus diwaspadai. Lelaki yang berani melirik gadis lain saat ia sudah memiliki calon pasangan. Yah, walaupun masih calon. Tidak sepantasnya dia begitu.


Aria bersikap netral. Ia tak berkomentar sama sekali. Ia hanya berharap Alice dapat bahagia selamanya.

__ADS_1


Hanya Mainne yang mendukung sikap Alice dalam diam. Ia senang segalanya berjalan baik. Tidak ada alasan baginya untuk menolak. Di ranjangnya, ia tersenyum teduh sembari memberi selamat dalam hati.


"Aku tidak mengharapkan persaingan yang sia-sia," gumam Alice kemudian. Suaranya terlampau lirih sampai tak terdengar yang lain. Ia tidak pernah mengharapkan takhta sama seperti ibundanya yang lebih memilih untuk mengalah.


Alice melipat surat ditangannya dan berniat menulis balasan sebelum tidur nanti. Hari sudah malam. Para gadis cendekia akan menginap di Rumah Sakit Saville.


...***...


Antonio tidak mengerti. Hatinya sering gundah akhir-akhir ini. Apalagi sejak keberangkatannya ke County de Vool. Ia merasa seperti ada dorongan aneh dalam dirinya.


Purnama teramat terang malam ini. Bintang-bintang pun dengan ria menemaninya. Antonio berbaring sendirian di sebuah padang yang tak jauh dari tempat rombongan Akademi Kerajaan beristirahat.


Angin berhembus lembut membawa dingin sehingga membuat Antonio segera merapatkan jubah tebalnya. Bersamaan dengan itu, datang Charles von Martinez menghampirinya. Ia membawa dua tusuk sate kelinci yang baru saja dibakar. Itu adalah hasil buruannya siang ini.


"Kamu terlihat gusar," ucap Charles yang langsung membuat Antonio terduduk, "Ada masalah apa sampai kamu jadi seperti itu? Bukannya tuan putri sudah memaafkanmu?"


"Hah? Apa yang membuatmu gugup?" Charles terlihat tak percaya.


"Sudah kubilang aku juga tidak tahu. Suasana hatiku sedang buruk sekarang," jawab Antonio sebelum menggigit potongan sate keduanya.


"Oh! Jangan-jangan...," Charles menggantungkan kalimatnya sampai membuat Antonio penasaran, "Kamu merindukan gadis yang kamu kejar beberapa waktu lalu."


Duk!


"Auw! Apa maksudnya ini? Padahal aku sudah memberimu sate kelinci yang paling sedap," Charles mengelus kepalanya yang barusan dipukul Antonio. Anak kutu buku itu baru pertama kalinya menerima hal itu. Padahal Solid sekalipun belum pernah bisa melukai kepalanya.


"Sedap apanya? Sate kelincimu bau amis. Tengahnya belum matang," bantah Antonio sarkastis, "Lagian, apa maksud kata-katamu tadi?"

__ADS_1


"Aku hanya menebak. Kenapa harus memukulku?" protes Charles, "Sate kelinciku juga tidak seburuk itu. Aku sudah berusaha keras membakarnya tahu."


"Kamu harus belajar dari Kak Solid. Dia bisa membuatnya jauh lebih enak darimu," saran Antonio yang diikuti gelak tawa seseorang dari belakang.


"Itu benar, aku akan dengan senang hati mengajarimu," Solid datang dan bergabung dengan mereka. Ia duduk di samping Charles dan menatap bulan yang indah malam ini.


Charles tidak membalasnya. Ia menatap dengan sinis Solid, lalu kembali menyantap sate kelincinya yang tersisa. Ternyata rasanya memang buruk. Bagaimana ia tidak merasakannya tadi?


"Kalian sedang membicarakan Nona de Vool kan?" Solid menyambung obrolan, "Aku jadi penasaran bagaimana rupa gadis yang dapat menarik hati putra mahkota."


"Sebaiknya, urungkan niatmu," kata Antonio dengan dingin. Sesaat kemudian, ia jadi linglung. Apa yang sebenarnya ia katakan? Ia pun beralasan, "Dia gadis yang dingin. Kami tidak akan bisa mendekatinya."


"Hah, bukankah tuan putri lebih dingin?" Solid ingat pertemuannya dengan putri kecil itu, "Kudengar, ia gadis yang ramah kok. Karena ia menolakmu, aku akan coba mendekatinya."


"Kau!" Antonio menahan dirinya saat mengingat peringatan ibunya. Ia harus menjauhi gadis dari Keluarga de Vool itu.


Hanya Charles yang tak tertarik dengan pembicaraan itu. Padahal ia yang memulainya. Ia merutuki kecerobohannya dalam membakar daging kelinci tadi. Ia pun menghela napas dan menghabiskan potongan terakhirnya.


"Heh, jadi Kamu memang masih mengharapkannya?" sindir Solid, "Tuan putri akan sedih mendengarnya."


"Siapa bilang aku masih mengejarnya?" bantah Antonio sampai salah tingkah. Solid terkekeh. Untung dia tidak melihat wajah Antonio yang merona karena remang. Ia pun memutuskan untuk kembali menggoda, "Kalau begitu, aku akan mendekatinya."


"Solid, apa Kamu pedofil?" pertanyaan Charles membuat Solid menoleh cepat, "Nona de Vool itu masih kecil dibandingkan dengan dirimu."


"Hai! Aku hanya bercanda. Dasar Otak Buku!" bantah Solid yang diikuti ledekan. Charles membalas ledekannya. Begitulah mereka. Selalu menjadi seperti anjing dan kucing yang bersaingan.


Antonio merasa lega dengan bantahan spontan Solid. Ternyata ia memang hanya bercanda. Ia masih ada kesempatan. Tidak! Ia sudah berjanji pada ibunya. Ia akan menjauhi gadis itu. Akan lebih bagus kalau Solid mendekatinya. Ia jadi lebih mudah menjauhinya.

__ADS_1


Kontradiksi batin semakin membuat hati Antonio gusar. Ia semakin sulit untuk fokus dan beristirahat. Wajah Alice dan Charlotte silih berganti memenuhi kepalanya. Ia ditimpa dilema yang tak pernah disangkanya.


__ADS_2