
Kerajaan el Vierum, 6 bulan sebelum Alice vi Alverio menghilang,
Rakyat kerajaan tengah bergembira. Rumah-rumah dan jalanan dihias menawan. Umbul-umbul kehormatan dipancangkan pada sisi-sisi jalan–berjarak hanya sekitar beberapa meter saja.
Para pedagang dari luar ibu kota berdatangan, bahkan dari mancanegara juga. Mereka membawa berbagai macam komoditas, souvenir, dan barang-barang yang jarang ada di ibu kota.
Istana Ruby, pusat pemerintahan Kerajaan el Vierum akan dibuka untuk umum selama seminggu. Istana yang dibangun oleh pendiri kerajaan itu selalu menjadi destinasi utama setiap tahunnya. Orang-orang akan berbondong-bondong ke sana, baik bangsawan, pedagang, maupun rakyat jelata.
Festival Kebangkitan Kerajaan akan berlangsung di sana. Dari istana bernuansa merah yang megah itu, tersebar luas euforia kebangkitan kerajaan ke seluruh penjuru. Keberadaannya seolah menjadi pelipur lara atas perang saudara yang terjadi bertahun-tahun lalu.
"Lottie, bisakah kau lebih cepat?" seru Nana jengkel. Gadis penyihir itu berkacak pinggang di depan kamar adik didiknya, Charlotte de Vool. Ia sudah siap sejak tadi dengan setelan jubah dan topi kerucut khas penyihirnya. Dengan sebal, ia menggerutu, "Kita sudah hampir terlambat. Ayo cepat terlambat. Aku yang akan diomeli pak tua itu jika kita mempermalukan Menara Sihir."
Oke!" Charlotte pun keluar dari kamar dengan senyuman manisnya. Ia baru saja selesai bersiap. Para pelayan terlalu asyik mendandaninya tadi. Karena itulah proses beriasnya jadi lama.
Wajar saja. Wajah Charlotte kelewat imut seperti boneka. Rambutnya panjang berwarna pirang platinum bagai mentari di pagi yang cerah. Orang yang baru pertama kali melihatnya pun pasti akan kagum dan terkesima.
"Heh, cepat masuk kereta!" kata Nana tegas, "Kita tidak bisa buang-buang waktu lagi."
"Oke ...!" balas Charlotte riang. Ia segera berjalan menyusuri lorong untuk keluar dari mansion milik Menara Sihir. Sebuah kereta kuda yang megah telah disiapkan untuk mereka. Emblem Menara Sihir terpasang di pintunya.
Kedua gadis itu akan mewakili menara untuk menghadiri sambutan dari raja bersama para bangsawan lainnya. Sebagai salah satu eksistensi yang berpengaruh pada kerajaan, Menara Sihir selalu mendapat undangan khusus untuk menghadiri acara-acara penting.
Nana Magansei hanyalah rakyat jelata. Namun, bakat sihirnya yang hebat membuat statusnya melejit sebagai bagian dari Menara Sihir. Bangsawan sekelas duke pun tidak boleh meremehkannya.
Adapun Charlotte, dia adalah gadis bangsawan dari keluarga Count de Vool. Bakatnya tidak kalah dengan Nana. Usianya sepuluh tahun, selisih tujuh tahun dengan penyihir dari golongan rakyat jelata itu.
__ADS_1
"Nana," panggil Charlotte menyibak keheningan di kereta kuda yang berjalan konstan, "Apakah kamu pernah mendengar tentang putri dari Keluarga Duke vi Alverio?"
"Ya," jawab Nana singkat, "Ia seumuran denganmu."
"Aku tahu," Charlotte memandang keluar, "Karena itu, aku ingin berteman dengannya."
"Kamu ingin berteman dengan putri yang angkuh itu?" tanya Nana datar. Ia memang tidak menyukai para bangsawan sejak dulu. Baginya, mereka hanyalah penjilat kotor yang suka berlaku semena-mena dengan kekuasaannya. Mereka tak ada bagusnya sedikit pun di matanya.
"Bagaimana Nana bisa mengatainya angkuh?" tanya Charlotte tidak terima. Ditatapnya Nana dengan gemas. Bagaimanapun, ia juga nona bangsawan. "Memangnya Nana pernah bertemu dengannya?"
"Pernah," jawab Nana enteng, "Tiga kali malah. Pertama kali adalah lima tahun yang lalu ketika guruku menemui keluarganya. Saat itu, ia masih terlihat imut dan polos seperti dirimu."
"Lalu?" Charlotte kembali memalingkan wajahnya keluar jendela. Dilihatnya orang-orang berlalu lalang. Kedai-kedai dibuka. Transaksi jual beli meramaikan suasana. Mereka turut antusias merayakan festival.
"Oh ... aku juga pernah mendengar itu," Charlotte teringat percakapan gosip para pelayannya, "Katanya, ia adalah putri yang sangat anggun dan berwibawa, kan? Tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Ia sampai dijuluki Putri Bunga Musim Dingin oleh orang-orang."
"Kamu mengetahui itu dan masih berniat untuk berteman dengannya?" heran Nana. Stigma buruknya terhadap bangsawan menghalangi ia untuk berpikir objektif. Ia tidak paham dengan jalan berpikir Charlotte yang cenderung terbuka pada siapa saja. Baginya, hanya Charlotte dan keluarganya yang baik di antara para bangsawan.
"Tentu!" jawab Charlotte mantap, "Aku bisa berteman dengan siapa pun, tak seperti seorang ibu guru yang hanya mengurung diri demi riset-risetnya di laboratorium."
"Apa?" Nana memasang tampang mengerikannya. Ia tak suka terlihat tua, apalagi di usianya yang masih sangat muda. Panggilan 'ibu guru' itu membuat ia terdengar tua baginya. Dia memang gadis yang sensitif sejak dulu. "Charlotte de Vool ...! Apa yang kamu katakan barusan?"
"Ibu Guru," kata Charlotte dengan wajah tanpa dosa. Ia sengaja memprovokasi kakak didiknya itu. Itu karena intimidasi Nana tak berpengaruh padanya, padahal sais yang mengemudikan kereta kuda mereka di luar tiba-tiba menggigil.
Charlotte sudah biasa merasakannya karena Nana itu gadis yang emosian. Sekali ia mengamuk, bisa fatal akibatnya. Nana bahkan pernah menghancurkan laboratorium pusat di istana. Untung saja gajinya besar. Jadi, dia bisa langsung menggantinya tanpa masalah.
__ADS_1
"Kamu sengaja mengejekku, heh?" Nana mengepalkan tangannya begitu mendengar jawaban Charlotte yang singkat.
"Tentu saja tidak," Kata Charlotte percaya diri, "Aku menghormatimu sepenuh hati, Madam."
"Madam? Kamu membuatku terdengar semakin tua!" bentak Nana. Sais kereta kuda sampai kaget. Ia semakin merinding dibuatnya, sementara Charlotte masih tampak tenang-tenang saja di dalam kereta. Gadis itu bahkan dapat tersenyum ceria.
"Baiklah, baiklah, Nana," kata Charlotte akhirnya menenangkan emosi Nana. Jari-jemari mungilnya menggenggam tangan Nana. Muncul seberkas cahaya di sana. Perasaan Nana pun kembali tenang. Sihir yang Charlotte rapalkan bekerja dengan baik. Sais di luar kereta pun ikut lega.
Istana Ruby mulai terlihat. Kereta kuda Menara Sihir memasuki kawasan khusus setelah pemeriksaan singkat. Nana dan Charlotte pun turun di depan gerbang bangsawan. Kedua utusan Menara Sihir itu berjalan melewati taman untuk sampai ke aula penyambutan.
Kawasan khusus sangat ramai oleh para bangsawan yang baru datang. Mereka saling berkenalan dan berbincang seakan sudah lama kenal. Festival Kebangkitan Kerajaan adalah musimnya sosialita. Di tempat ini, mereka saling membangun relasi dan kerja sama antarwilayah.
"Hah ... kenapa kita harus ikut ke acara penyambutan yang membosankan itu?" keluh Nana. Charlotte malah tertawa mendengarnya, "Nana yang mendesakku tadi. Sekarang, malah Nana sendiri yang mengeluh."
"Aku hanya ingin segera pergi ke festival rakyat, Lottie." Wajah Nana terlihat lesu. Ia sudah membayangkan bagaimana pidato panjang Raja el Vierum yang berbelit-belit dan membosankan. Gadis penyihir itu sudah sering menontonnya. Makanya, ia tidak begitu menyukainya.
"Tidak bisa, Nana," Charlotte mengingatkan, "Kita harus tetap menghadiri acara pergaulan sosial ini sebagai wakil Menara Sihir. Reputasi Menara Sihir akan jatuh kalau kita salah bertindak."
"Cih! Aku tidak suka berurusan dengan etiket-etiket bangsawan yang rumit. Kenapa kalian suka sekali membuat banyak aturan? " gerutu Nana kesal, "Kau sendiri saja yang mewakili menara sana!"
"Apa maksudmu? Padahal kamu begitu mendesakku saat sedang berdandan tadi," protes Charlotte dengan berkacak pinggang. Ia tidak suka sisi Nana yang egois dan seenaknya ini. Itu membuatnya sebal sampai ia ingin menjambak rambut Nana yang sependek tengkuk itu. Sayangnya, Charlotte belum cukup tinggi untuk meraihnya.
"Sudah kubilang, aku ingin segera pergi ke festival rakyat," balas Nana sambil terus berjalan ke aula penyambutan. Padahal, dulu ia sering diam-diam kabur jika datang bersama kepala penyihir, Penyihir Agung Voxnus Audrew. Hanya sejak bertemu Charlotte ia seakan tidak memiliki daya untuk melakukannya.
"Kita sampai," ucap Charlotte yang kemudian merekahkan senyum seringai di wajahnya, "Tetap duduk di sampingku! Jangan ke mana-mana, Nana. Kau mengerti kan?"
__ADS_1