
Hari pertama perjalanan berlalu dengan cepat. Alice dan rombongannya sampai di kota pemberhentian pertama tepat sebelum mentari bersembunyi di balik horison dunia. Mereka menggunakan hotel yang dikelola oleh Serikat Dagang Saville.
"Selamat datang, Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum," sambut direktur hotel dari Serikat Dagang Saville. Para pelayan lelaki berbaris di kanannya, sedangkan para pelayan wanita berbaris di kirinya. Mereka berdiri tegak membuat pagar betis. Saat Alice dan para gadis cendekia lewat, barulah mereka menunduk hormat.
Anna terlihat sedang berkoordinasi dengan direktur hotel itu. Jadi, Sarjana Florence yang mengayomi para gadis cendekia. Setiap kamar ditempati dua orang. Alice dengan Aria, Aristia dengan Mainne, dan Rosemary dengan Akilla.
Dalam perjalanan ini, mereka tidak hanya berlibur. Sebagaimana fungsi Istana Mutiara, Alice dan kawan-kawannya berombongan mengelilingi kota untuk melihat kondisinya. Tidak berbeda jauh dengan jalan-jalan memang, tapi mereka benar-benar menjalankan tugas dengan baik.
"Kita ada di lingkungan pusat kota sekarang, jadi kondisinya terlihat amat baik," Rosemary memberikan pendapatnya. Alun-alun kota sangat ramai. Ada pedagang jajanan di sana-sini. Seorang bard jalanan atau penyair lepas terlihat sedang bersenandung di bawah monumen kota.
"Mari perhatikan lebih detail," Alice mengajak mereka ke salah satu kedai makanan. Mereka mengenakan pakaian para gadis yang lazim dipakai para gadis biasa, atasan berlengan panjang dan juga rok panjang. Intinya mereka menutup aurat. Apalagi Akilla yang lengkap dengan kerudung yang menutup sempurna kepala dan rambutnya.
"Selamat datang, nona-nona cantik," sapa si penjual jajanan itu. Ia tersenyum ramah, tapi dalam hatinya ia terus berusaha mengendalikan diri agar tidak menyinggung para pelanggannya itu. Walau pakaian mereka sederhana, ia yakin setidak mereka adalah para putri pedagang kaya melihat kebersihan pakaiannya.
Aristia yang mewakili kawan-kawannya membeli jajanan itu. Ia dengan lihai menawar harga. Si penjual semakin yakin kalau mereka adalah para gadis pedagang kaya. Jadi, ia tidak banyak melawan.
"Terima kasih, Nona Muda," ucap penjual itu sambil menunduk, "Selamat menikmati makanannya."
"Apa itu?" Mainne baru bertanya setelah mereka pergi dan beristirahat di taman. Di tangannya sudah ada sebungkus makanan goreng yang masih hangat. Baunya harum walau masih kalah jika dibandingkan dengan makanan di Istana Mutiara.
"Ini kentang goreng," jawab Aristia. Ia pun memakan kentang itu dengan lahap. Rasa gurihnya terasa benar memanjakan lidah. Sungguh kenikmatan yang tak dapat didustakan.
__ADS_1
"Setelah ini kita akan ke mana?" Akilla bertanya saat kentang gorengnya hampir habis.
"Kita tunggu Kak Anna dan Kak Flo," Alice sudah selesai makan. Ia memperhatikan sekitar dan melihat Anna dan Florence yang kebetulan hampir sampai.
"Anak-anak, bagaimana? Apa Kalian menikmati jalan-jalan pagi ini?" tanya Florence ceria.
"Hm," Aristia mengangguk. Ia yang paling semangat di sini. "Ayo kita ke tempat yang Kak Anna beritahukan semalam."
"Ya, kita akan ke sana sekarang," Anna mengajak mereka semua berangkat. Mereka tiba di sebuah gang kecil yang bersih. Tidak seperti gang-gang lainnya yang sebelumnya mereka lihat.
"Tempat ini sangat sepi. Apa benar ini tempatnya?" Rosemary bertanya tak yakin. Bagi dirinya yang sangat menjunjung kehormatan dan harga diri bangsawan, berjalan di tempat itu sangat risih walau terlihat bersih.
"Ikuti saja. Kita sudah mendapat informasi dari Serikat Dagang Saville semalam. Sekarang, kita akan meminta dari agen yang ditunjuk langsung oleh Istana Mutiara."
Tidak lama setelah mereka masuk lebih dalam, sebuah suara lantunan yang merdu terdengar. Ini berbeda dengan syair yang disenandungkan bard di alun-alun. Bahasanya tidak dapat mereka mengerti, tapi membuat orang betah mendengarnya.
Anna mengucapkan salam di depan sebuah bangunan yang ada di ujung gang itu. Sesaat kemudian, suara lantunan berhenti dan suara orang tua yang menjawab salam Anna terdengar.
"Oh, apakah Anda sekalian rombongan tuan putri?" tanya seorang pria tua berjubah putih yang janggutnya sudah beruban. Suaranya barat. Rosemary dan lainnya tak percaya bahwa pria itu yang baru saja membacakan lantunan barusan, tapi memang tak ada seorang pun selain ia di sana.
Anna mengangguk. Ia memperkenalkan Alice pada pria tua itu yang sesaat kemudian menunduk hormat dan mempersilakan mereka masuk ke dalam bangunan.
__ADS_1
Tempat itu sangat longgar. Tak ada perabotan selain rak yang berisi buku-buku tua. Lantainya beralaskan permadani antik yang sudah hilang beludru-beludrunya. Jadi, tempat itu terasa sedikit kasar walau hangat. Untuk pakaian para gadis cendekia yang halus dapat mengatasinya.
"Aku sudah mendengar rombongan Tuan Putri yang datang kemarin," pria tua itu pun menanyakan keperluan Alice.
"Bagaimana kondisi kota selama ini?" tanya Alice tanpa basa-basi.
"Kota ini dalam keadaan baik terutama setelah penguasa kota mendengar rencana kedatangan Tuan Putri," pria tua mulai menjelaskan, "Beliau segera memperbaiki jalan rusak yang proyeknya sempat tertunda dulu. Panti-panti asuhan di pinggiran kota juga mendapat santunan tiba-tiba. Itu wajar karena di masa lalu penguasa kota pernah mendapat teguran dari Pemilik Istana Mutiara sebelumnya."
Pria tua itu juga menjelaskan kondisi pertanian di kota. Arus perdagangan dan perputaran ekonomi juga keamanan di lingkar dalam kota. "Masih sering terjadi pencurian di sekitar pinggiran kota, tapi tuan penguasa sudah bertindak dengan menugaskan penjaga di sana."
"Itu cukup. Terima kasih informasinya," Alice menatap lantai permadani yang kusam. Mendengar penguasa kota telah menjalankan amanatnya dengan cukup baik membuat Alice dapat bernapas lega. Akan tetapi, ia masih khawatir dengan masalah di pinggiran kota.
"Apa yang tadi Anda nyanyikan sebelum kamu datang?" Aristia bertanya membuat yang lain ikut penasaran. Mereka jadi teringat dengan lantunan itu setelah mendengarkan kondisi kota panjang lebar. Pria tua mengerutkan kening. Ia pun menjawab, "Itu bukan nyanyian maupun syair, Nona Muda. Itu adalah bacaan kitab suci."
"Apa maknanya? Sepertinya itu ditulis dengan bahasa yang berbeda," tanya Rosemary tertarik dengan lantunan itu.
"Pujian ke atas Tuhan dan kuasa-Nya, pernyataan dalam penghambaan, serta permohonan agar senantiasa diberi jalan yang lurus," terang pria tua. Ia lalu menjelas surat selanjutnya yang ia baca, "Sungguh tidak ada keraguan dalam kitab ini. Ia adalah sumber dari segala pengetahuan. Ayat-ayat yang diturunkan oleh Tuhan. Jika ditenemukan suatu pernyataan atau teori manusia yang bertentangan dengan kitab ini, maka koreksi ulang teori itu. Sejatinya, teori itu hanyalah dugaan manusia yang belum terbukti kebenarannya. Kitab ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang beriman."
Tanpa mereka sadari, mentari telah hampir naik ke puncaknya. Anna pun berpamitan dan pergi dengan para gadis cendekia. Ia berterima kasih atas informasi yang pria tua itu berikan.
"Sepertinya lantunan itu mirip dengan yang sering Tuan Putri bacakan," ujar Mainne membuat Aristia dan Rosemary menoleh. Mereka lalu mengangguk setuju. Sebenarnya bukan hanya Alice yang membacanya. Akilla dan Aria juga sering membacanya di istana.
__ADS_1
"Itu memang sama. Apa Kalian ingin mempelajarinya?" Alice menawarkan, "Kak Anna yang akan membimbingnya nanti."
"Ya, Kami ingin," ucap Mainne, Aristia, dan Rosemary serempak.