Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 113: Sihir Penyelamat


__ADS_3

"Sir Charles," panggil Charlotte di tengah perjalanannya menyusuri Hutan Kaskas, "Berkat Anda, kita semua masih dapat selamat sampai sekarang."


"Hm? Tidak," Sir Charles menggeleng pelan, "Ini karena sihir Nona de Vool sangat membantu. Anda sudah bekerja keras dengan baik selama ini."


Charlotte tak membalasnya lagi. Perkataan itu memang benar. Selama ini, ia sudah bekerja keras untuk terus mengalirkan mananya agar tak ada hewan buas yang mendekat. Karena itulah mereka tidak mengalami kesulitan yang besar.


Sebenarnya, Charlotte ingin pergi saja sendiri dari hutan ini. Kalau hanya ia sendiri, Balqis bilang mampu mengeluarkannya. Namun, ia tak tega meninggalkan kawan-kawannya. Lagi pula, kalau ia sendiri yang keluar dari hutan, keluarganya pasti akan semakin terkena masalah. Untuk saat ini, ia hanya bisa meninggalkan jejak sihir, berharap ada penyihir yang menemukannya, lalu menuntun mereka keluar hutan.


"Apa kita akan tetap di sini selamanya?"


"Sudah berapa lama kita terjebak di sini?"


"Apa kita bisa keluar hutan dengan selamat?"


Pertanyaan-pertanyaan pesimis itu kembali keluar dari murid anak-anak. Tampaknya, efek sihir penenang Charlotte sudah hampir habis lagi. Mereka akan meraung-raung dan menangis lagi kalau sampai Charlotte lupa merapalkan sihirnya lagi.


"Mama, Papa, aku mau pulang …"


"Aku lelah, aku mau kasur yang empuk …"


"Teh, kue cemilan, daging … aku rindu kalian …"

__ADS_1


Keluhan-keluhan semacam itu juga sering keluar. Itu masih lebih baik daripada mereka panik dan berbuat yang tidak-tidak. Efek sihir Charlotte hanya dapat mempengaruhi anak-anak sejauh itu. Efeknya pun akan kian menurun setiap harinya. Jadi, kalau mereka tidak bisa keluar atau beradaptasi, rombongan ini sudah pasti kacau.


"Kita beristirahat di sini," kata Antonio memutuskan.


"Yang Mulia, kapan kita akan sampai di luar hutan?" tanya salah seorang murid yang mulai meragukan kepemimpinan Antonio. Pertanyaannya itu dilanjutkan oleh pertanyaan-pertanyaan lainnya. Antonio sampai merasa tertekan mendengarnya.


"Ka … kalian …," putra mahkota itu pun sampai kehabisan kata-katanya. Pertanyaan-pertanyaan yang menuntut itu seolah menjadi lebih mengerikan dari ujung tombak yang teracung di medan perang. Rasanya seperti akan segera tertusuk kalau tidak lari.


"Yang Mulia, mohon kuatkan kami semua," Charlotte menepuk pundak Antonio sambil merapalkan mantra penenang padanya. Antonio adalah pemimpin rombongan ini. Kalau sampai ia jatuh, maka hancurlah persatuan mereka. Hal yang lebih buruk pun pasti akan terjadi setelahnya.


"Ah," Antonio tertegun sesaat melihat Charlotte ada di sampingnya. Ia pun menelan ludah, lalu mengangguk setuju. "Kamu benar. Terima kasih, Lottie."


"Hm," Charlotte juga mengangguk singkat, senang mengetahui mantranya berguna.


Seluruh rombongan terdiam. Wajah mereka tertunduk, penuh kelesuan. Ingin rasanya memberontak, tapi seolah ada yang menghalangi. 


"?!" Charlotte tersentak merasakan gelombang mana di sekitar yang tiba-tiba menjadi kacau. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Karena perubahan yang mendadak, ia jadi kehilangan fokus sampai mantranya rusak.


"Mama …! Papa …!" tangisan seorang gadis menyeruak kencang seketika. Ketakutan yang awalnya dapat dikendalikan pun menyebar. Kepanikan segera menguasai sekitar.


"Hai, Teman-teman," Charles yang masih bisa mengendalikan dirinya berusaha untuk menenangkan mereka. Ia berseru-seru meminta para murid untuk tidak panik. Namun, usahanya berakhir sia-sia.

__ADS_1


"A–apa ini?" Charlotte pun tak kalah paniknya dengan yang lain. Ia bahkan jadi linglung dan pusing. Sihir yang selama ini diandalkannya mendadak tak bisa digunakan karena ia tak bisa berkonsentrasi. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Oh, di sini kalian rupanya," seorang wanita tiba-tiba muncul dari langit-langit hutan. Ia mendarat mulus di hadapan Charlotte, lantas memeluk putri dari Count de Vool itu. Ia terlihat amat heboh seperti seorang kakak yamg sudah bertahun-tahun tak bertemu adiknya.


"Na–Nana …," panggil Charlotte dengan suara bergetar. Ia pun segera membalas pelukan kakak didiknya itu. Air matanya pecah. Akhirnya ia bisa merasa lega sekarang. Masalahnya, kedatangan Nana tidak membuat situasi membaik, tapi malah membuat Charles semakin pusing.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nana dengan cemasnya, "Aku sangat khawatir, tahu?" Kamu sudah hampir sepuluh hari menghilang. Kukira, aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi."


Charlotte tak membalas kata-kata Nana itu. Ia menangis keras, tersedu-sedu di pelukan kakak didiknya. Gadis itu sedang enggan menahan dirinya. Ia ingin melepaskan semuanya. Biarkan saja semua keluh kesah itu mengalir bersama tangis yang pecah.


Orang pertama yang bisa Charles ajak bekerja sama adalah Antonio. Untung saja pangeran itu bisa cepat sadar dari ketertekanannya. Mereka pun menunggu suasana msmbaik dan pulih terlebih dahulu, bafu kemudian msminta Nana untuk menunjukkan jalan ke luar.


"Ah, benar juga," Nana terlihat baru mengingat sesuatu setelah ditanya oleh Antonio dan Charles. Ia memangku Charlotte, membiarkan gadis itu terlelap dengan nyaman di bawah pengawasannya. 


"Ada apa, Nona Penyihir?" Charles merasakan firasat buruk. 


"Aku lupa jalan ke luar," jawab Nana dengan entengnya. Gadis itu malah tersenyum konyol seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Tujuan ke mari hanya untuk menemukan Charlotte. Selama tujuannya tercapai, ia tidal perlu lagi memikirkan yang lainnya.


"Apa Anda–" Charles nyaria saja syok. Ia bahkan hampir ikut berputus asa seperti yang lainnya.


"Tenang saja," kata Nana, memotong ucapa Charles, "Aku punya cara."

__ADS_1


Nana pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mulutnya berkomat-kamit membacakan mantra. Beberapa saat kemudian, sejumlah mana yang besar mengalir dari tangannya, menusuk ke atas, membentuk sebuah pilar.


"Para penyihir akan segera datang," ucap Nana penuh keyakinan, "Tunggu saja di sini dengan sabar."


__ADS_2