Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Isi Hati Sang Putri


__ADS_3

"Alice, aku sudah selesai," Antonio meletakkan buku yang dibacanya sembarangan.


"Ha?" Alice menatap pemuda itu tak percaya. Baginya itu baru sebentar, tetapi bagi Antonio, waktunya itu seakan sudah berlalu selama berjam-jam lamanya.


"Mengapa Kamu menatapku seperti itu?" Antonio membalas tatapan Alice lalu membuka kembali buku yang dibacanya. Tulisan dalam buku tebal itu keriting-keriting. Sangat kecil pula. Sulit sekali membacanya.


"Sudah bagus aku bisa membacanya sampai lima halaman," Antonio berkata bangga. Alice menatapnya tanpa ekspresi mengapresiasi. Ia lalu bertanya, "Jadi, kalau tulisannya bagus dan mudah dibaca, Kamu akan betah mempelajarinya?"


"Apa? Mungkin," jawab Antonio. Ada nada keraguan dalam kata-katanya itu. Ia lalu memalingkan wajahnya melihat keluar. Dalam hatinya, ia sedang berusaha mencari alasan untuk keluar dari dunia buku itu.


"Apa yang Kamu lihat?" pertanyaan Alice yang tiba-tiba membuat Antonio tersentak. Habis sudah waktunya mencari alasan. Alice sudah menyodorkan sebuah buku lain. Kali ini sedikit lebih tipis dengan sampul yang cantik.


"Apa ini?" Antonio membolak-balik buku bersampul merah itu penasaran. Ia lalu membukanya. Benar tulisannya lebih rapi, tapi ukuran huruf tidak kalah kecil.


"Kamu masih kesulitan membacanya?" tanya Alice dengan nada menyindir. Antonio mengernyitkan matanya. Ia kembali meminta Alice untuk tidak meremehkannya lalu duduk lagi di tempatnya yang tadi.


Anna tersenyum simpul melihat kelakuan sepasang bocah itu. Ia takjub melihat cara Alice menyuruh tunangannya untuk belajar. Wajahnya yang terlihat kesal itu sungguh menggemaskan ketika memaksa Antonio untuk membaca buku.


"Mereka masih 10 dan 12 tahun. Tidak perlu mengharapkan kisah romantis di antaranya," batin Anna lalu kembali fokus pada pekerjaan setelah suasana benar-benar tenang.


"Permisi," sebuah suara halus menyibak keheningan di perpustakaan. Tiga orang gadis masuk ke sana lalu tersentak kaget melihat Antonio ada di dalamnya.


"Keselamatan atas Putra dan Putri Mahkota el Vierum," sapa mereka penuh hormat. Alice dan Antonio kompak menjawab salam itu. Seorang di antara gadis itu pun menjelaskan maksud kedatangannya, "Madam Selena meminta kami untuk mambantu Anda di perpustakaan. Jadi, kami kemari."


"Begitu, ya? Terima kasih," Alice memberi senyum yang disambut dengan tatapan heran oleh Antonio. Pemuda jelas tidak terima karena sejak awal Alice terus bermuka masam padanya.


"Sungguh tidak adil!" gerutu Antonio pelan tetapi masih dapat terdengar oleh Alice. Gadis itu pun mengepalkan tangan kirinya setelah memberikan beberapa lembar laporan kepada Akilla, Rosemary, dan Aria.


"Yang Mulia Putra Mahkota," panggil Alice lembut. Itu membuat Antonio menoleh. Dilihatnya Alice memberi sebuah senyum yang halus. Saking halusnya, Antonio tak berani menatapnya lama-lama. Senyum gadis itu sungguh mengerikan dan mengintimidasi. Seakan ada kobaran api di sekitar tubuhnya.


"Sepertinya Anda lelah, mari saya temani keluar," kata Alice dengan lebih lembut sampai membuat Antonio merinding. Kepribadian gadis itu berubah total di hadapan para gadis cendekia.

__ADS_1


"Nona Akilla, Nona Rosemary, dan Nona Aria," panggil Alice sebelum berdiri dari duduknya, "Madam Anna akan membimbing Kalian. Aku akan keluar sebentar."


"Tidak masalah, Tuan Putri," Rosemary yang mewakili kawan-kawan menjawab.


Setelah sepasang pewaris takhta itu keluar dari perpustakaan, para gadis cendekia saling berpandangan. Akilla lalu memulai obrolan, "Apakah kita mengganggu mereka?"


"Benarkah?" Rosemary baru menyadarinya. Aria si gadis berambut perak memiringkan sedikit kepalanya tanpa berkata sepatah kata pun. Tapi ekspresinya menunjukkan tanda tanya yang sama dengan Rosemary.


"Bukan begitu," Annalah yang menjawab pertanyaan itu. Ia bermaksud segera memberi mereka pengarahan sebelum para gadis itu mulai menggosip. "Tuan putri justru sungkan akan membebani Kalian. Jadi, beliau keluar sebentar untuk menyelesaikan urusannya. Mari segera kita mulai."


Anna memberi senyuman simpulnya yang khas. Para gadis cendekia pun mengangguk semangat. Anna benar-benar guru yang berbakat. Jadi mereka sangat suka.


"Mungkin Nona Alice sedang mengusir putra mahkota sekarang," batin Anna sembari menunggu para gadis itu siap, "Benar! Urusannya adalah mengusir dengan halus putra mahkota."


"Jadi, kita akan ke mana?" Antonio bertanya ragu-ragu karena melihat Alice masih membawa beberapa lembar pekerjaannya saat keluar perpustakaan. Jelas Alice sedang tidak mengajak Antonio untuk bersantai.


"Ke taman," jawab Alice singkat. Nadanya masih lembut walau sudah tidak di hadapan kawan-kawannya, "Tapi saya hanya dapat menyiapkan teh karena Anda tidak memberi kabar sebelumnya."


Di sebuah saung taman, Alice duduk dengan anggun pada salah satu kursi putih. Ia pun mempersilakan Antonio untuk duduk juga. Lalu ia meminta seorang pelayan yang kebetulan berada di taman untuk menyiapkan perangkat teh.


"Jadi, apa yang ingin Anda diskusikan?" Alice masih sengaja memakai bahasa formalnya. Ia mengisyaratkan untuk membahas hal-hal penting saja.


"Hentikan formalitasmu itu! Aku hanya ingin berbicara santai denganmu," Antonio seakan dapat mengerti maksud Alice. Jadi, ia bicara sejujurnya saja.


"Baiklah," penerimaan langsung Alice sedikit membuat Antonio terkejut. Sungguh tidak biasa gadis itu berbuat demikian. Seperangkat teh yang diminta Alice pun datang. Gadis itu sendiri yang sekarang tengah menyeduhnya. "Jadi, apa yang ingin Kamu bicarakan, An?"


"Aku masih sibuk," Alice memberikan teh yang diseduhkannya kepada Antonio. Pandangannya menunduk sama sekali tidak bertatapan dengan Antonio. "Aku hanya dapat menemanimu sampai teh ini habis. Maka, katakan apa yang ingin Kamu katakan."


"Eh?" Antonio tertegun. Suasana canggung tiba-tiba menyeruak di Taman Aster itu. Alice dengan tenang siap mendengar cerita tunangannya. Ia tak berniat untuk mengoceh sama sekali.


Antonio belum juga mengeluarkan sepatah kata pun sampai beberapa saat. Ia hanya mengamati Alice yang menyeruput tehnya dengan anggun. Entah mengapa, itu sudah cukup menghiburnya. Para pelayan yang diam-diam mengintip dari luar taman terheran-heran dengan kondisi itu. Akan tetapi, di mata mereka, itu tetaplah pemandangan mendebarkan.

__ADS_1


"Hah...," Alice menghela napasnya heran. Ia kemudian menatap Antonio dengan sinis. Wajahnya yang biasa dilihat pemuda itu sudah kembali. Ia kembali berbahasa formal, "Apa tidak ada yang ingin Anda diskusikan? Saya akan pergi kalau begitu."


"Tunggu! Alice," tahan Antonio. Ia tidak ingin ini berakhir begitu saja. Ia terus memikirkan topik yang pas sejak tadi. Sayangnya, ia terlalu lambat. "Kamu bilang akan menemaniku sampai tehnya habis. Masih ada setengah di sana."


"Ck!" Alice berdecak kesal tetapi ia kembali duduk, "Kamu yang mengajakku untuk jalan-jalan. Cepat katakan sesuatu jika ada yang ingin Kamu katakan."


"Bukannya Kamu yang biasanya suka mengoceh?" Antonio langsung protes, "Mengapa sekarang Kamu malah menyuruhku bercerita?"


"Siapa yang menyuruhmu bercerita?" Alice tidak terima dengan tuduhan tunangan bocahnya itu. Tanpa sadar, perdebatan mereka mengalir begitu saja, "Lagi pula, aku tidak suka mengoceh. Kamulah yang setiap datang selalu membuatku sebal."


"Apa Kamu membenciku?" Antonio bertanya dengan nada yang terdengar serius. Alice tidak langsung menjawab. Ia tampak sedang berpikir sejenak.


"Tidak, tapi Kamu sering membuatku kesal," jawab Alice kemudian. Antonio tentu saja heran, "Bagaimana aku membuatmu kesal? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa."


"Kamu selalu datang tanpa diundang. Kamu sudah jelas melanggar aturan," kata Alice penuh emosi. Wajahnya mulai merah padam. Kedua tangannya mengepal erat di atas meja sehingga dapat dilihat oleh Antonio. "Aku sudah menyuruhmu untuk memperbaiki etika, tapi itu tidak bertahan selain sehari saja."


Antonio tidak dapat berkata apa-apa. Ia melihat tangan dan tubuh Alice yang mulai gemetar. Para pelayan yang mengintip pun mulai khawatir. Mereka mengutus seseorang untuk segera memanggil Anna.


"Ini tidak adil," air mata Alice mulai tumpah. Antonio semakin tidak dapat berkata-kata. Gadis itu mulai kembali mencurahkan isi hatinya, "Harusnya Kamu yang lebih sibuk dari pada aku. Kamu yang lebih tua. Tanggung jawabmu akan lebih besar kelak. Aku selalu bekerja keras, mengapa Kamu hanya bermain-main saja? Apa Kamu pikir aku dapat menerimanya begitu saja?"


Alice terisak-isak. Lebih banyak lagi keluhan yang ia sampaikan kepada pemuda di hadapannya itu Air matanya tidak dapat terbendung. Wajahnya memerah. Begitu pula matanya yang berwarna Ruby semakin memerah.


"Alice...," Antonio memanggil dengan lembut. Omelan Alice tadi terus terngiang di kepalanya. Entah sejak kapan, tangannya juga ikut gemetar. Ia seakan mulai dapat melihat beban yang selama ini Alice emban. Sebelum ia dapat melanjutkan kata-katanya, seorang lebih dulu menyela, "Putra Mahkota, apa yang terjadi?"


Itu adalah Anna. Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh tanda tanya dan kekhawatiran. Ia segera menghampiri Alice dan memeluknya agar tenang. Sesaat kemudian, matanya menatap tajam kepada Antonio. Bocah itu masih gemetar tanpa sadar.


Anna menghela napasnya agar tenang. Ia harus berkepala dingin sebagai dayang kepercayaan Putri Mahkota el Vierum. Tidak patut baginya hanya menilai dengan apa yang terlihat.


"Yang Mulia, sepertinya tuan putri sedang dalam kondisi yang kurang baik," kata Anna kemudian. Ia menggantikan Alice mengusir Antonio dengan lembut, "Mohon maaf karena tidak dapat menyambut Anda dengan hangat. Mohon biarkan tuan putri beristirahat."


"Baiklah, aku akan segera pergi," jawab Antonio dengan suara sedikit bergetar. Ia baru sadar kalau tangannya gemetaran. Ia pun keluar dan memacu kudanya pergi meninggalkan Istana Mutiara. Tangannya memegang erat tali kekang pada kudanya. Hatinya berdebar kencang. Ia menggertakkan giginya kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Selama beberapa hari, kata-kata Alice terus terngiang di benak Antonio. Ia tidak berani untuk mengunjungi tunangannya itu sampai beberapa waktu. Ratu Clara sampai cemas melihatnya. Wanita nomor satu sekerajaan itu harus segera mendamaikan keduanya.


__ADS_2