
"Surat dari Derrick?" Ratu Clara mengerutkan kening saat Henrietta menyerahkan surat bercap lilin milik duke muda itu, "Apa akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke pergaulan sosial ibu kota?"
"Ck, ternyata bukan," Ratu Clara berdecak kecewa begitu membaca surat dari ponakannya yang berbakat itu, "Dia menegurku atas masalah yang diperbuat Antonio. Bagaimana gosip itu terdengar sangat cepat sampai ke telinganya?"
Henrietta tak berniat sama sekali untuk berkomentar. Ia duduk di sofa ditemani tumpukan kertas yang datang bersamanya pagi ini untuk diperiksa. Sayangnya, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan adanya gerutuan Ratu Clara itu. Apa yang dikatakan sang ratu jadi membuatnya penasaran.
"Sungguh," kata Ratu Clara setelah terkekeh sebentar dan membuat Henrietta semakin penasaran, "Anak itu sangat pandai memuji. Aku akan terkesima kalau ada ketulusan di dalamnya. Sindirannya sangat menusuk. Padahal itu bukan ciri khas Keluarga vi Alverio. Dia pasti meniru cara ibunya merangkai kata-kata seperti ini. Alice juga punya ciri khas yang sama dengannya. Cara seorang ibu mendidik sangat berpengaruh untuk anaknya, ya?"
"Hm," Henrietta mengangguk, "Itu benar, Baginda."
"Haha," Ratu Clara tertawa hambar. Henrietta tanpa sadar juga telah menyindirnya. "Apa yang salah dengan caraku mendidik Antonio. Dia hiperaktif sejak kecil. Sangat sulit mengendalikannya. Apakah ini salahku? Tidak, ini adalah ketidakmampuanku."
"Bukan begitu, Baginda," hibur Henrietta, "Anda sudah berusaha dengan sangat baik. Pangeran Antonio telah mendapat pendidikan yang mumpuni sejak dini. Anda tidak perlu khawatir."
"Kuharap Kamu benar," Ratu Clara merenggangkan tubuhnya yang pegal karena terlalu lama duduk di kursi, "Tapi, dia selalu kabur dari pelajaran-pelajarannya. Tugas kecilnya bahkan sering terbengkalai kalau aku tidak menegurnya. Aku sangat penasaran dengan cara Duchess Evianna mendidik kedua anaknya yang tenang dan dewasa itu."
"Mereka berdua adalah jenius abad ini, Baginda," Henrietta memberi pendapat, "Kerajaan el Vierum dan Keluarga vi Alverio memiliki masa depan yang cerah."
"Yah, itu adalah kabar gembira untuk kita," Ratu Clara setuju, "Kita harus menjaga tunas yang elok itu agar dapat tumbuh besar dan membawa manfaat bagi banyak orang."
"Baginda, Keluarga vi Alverio adalah pendukung setia Keluarga Kerajaan el Vierum sejak dulu," Henrietta mencurahkan pikirannya begitu mendengar kalimat dari Ratu el Vierum itu, "Pengaruh mereka sangat besar dan kuat. Anda tidak perlu risau dengan putra dan putri mahkota karena mereka memiliki dukungan yang kuat."
"Itu benar," Ratu Clara mengangguk-angguk setuju, "Bisa dibilang, kekuatan Keluarga vi Alverio lebih besar dari Keluarga el Vierum saat ini, tapi kesetiaan mereka tak kalah besar dengan kekuatan mereka. Harusnya aku tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Apa maksud, Baginda?" tanya Henrietta begitu melihat ekspresi Ratu Clara yang menyimpan kegelisahan.
"Derrick, Duke Muda vi Alverio saat ini sangat menyayangi Putri Mahkota el Vierum," tutur Ratu Clara, "Kalau sampai An kecilku menyakiti adik kesayangannya itu, pandangannya terhadap Keluarga el Vierum pasti memburuk. Aku takut...."
Ratu Clara berhenti sejenak. Pandangan berpaling keluar jendela. Dilihatnya menara Istana Ruby yang tinggi mencakar langit. Bendera pusaka milik Kerajaan el Vierum berkibar gagah di atasnya.
"Jika kelak pertunangan Antonio dan Alice sampai gagal, Keluarga vi Alverio pasti akan berpihak kepada putrinya," lanjut Ratu Clara dengan pandangan mata sendu, "Mereka tidak akan tinggal diam terhadap Keluarga el Vierum."
Henrietta menjadi penyimak setia curahan hati sang ratu. Ia meninggalkan pekerjaan dan fokus mendengarkan.
"Aku tidak masalah jika Alice menjadi ratu tanpa Antonio nantinya. Itu berarti, dia memang belum cukup pantas," Ratu Clara kini memandang lukisan putri kembar di ruangannya, "Aku hanya khawatir Antonio malah meminta bantuan kepada Menara Penyihir nantinya. Tidak hanya pengaruh para cenayang itu semakin, Alice juga bisa jatuh dalam bahaya jika kalah dengannya nanti."
"Itu hanyalah kekhawatiran kita yang berlebihan, Baginda," Henrietta berkata yakin. Begitulah sifatnya yang penuh optimisme. Ia selalu dapat menjadi pendukung orang-orang di sekitarnya. "Putra dan putri mahkota pasti dapat berhubungan dengan baik."
...***...
"Salam, sepupuku, " Antonio membacanya dengan jelas. Ia sedang sendirian di kamar. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Bagaimana kabarmu? Semoga Kamu baik-baik saja di sana. Kamu sudah tidak membolos lagi, kan? Itu sudah pasti. Kamu kan sudah menjadi Putra Mahkota el Vierum."
Antonio berhenti sejenak. Pembuka surat dari sepupunya itu jelas sekali menyindirnya. Anehnya, itu tidak membuat dirinya kesal.
"Kamu pangeran yang sudah dewasa. Calon seorang raja yang bijaksana dan setia. Seluruh kerajaan pun setia pada sang raja yang bertanggung jawab. Kamu tidak mungkin menyia-nyiakan kesetiaan mereka, bukan?"
__ADS_1
Pujian itu tidak sampai ke hati Antonio. Jelas sekali tidak ada ketulusan di sana. Itu lebih seperti peringatan. Antonio dibuat merenung olehnya.
"Sepupuku, Kamu adalah kesatria yang berbakat. Teknik pedangmu sangat hebat menurut yang kudengar selama ini. Kamu sang jenius pedang di generasimu. Kamu memiliki wibawa kepemimpinan yang besar."
Antonio mengerutkan keningnya. Memang banyak orang yang memujinya seperti itu. Seorang calon ahli pedang yang berbakat dan berwibawa. Akan tetapi, nyatanya ia masih belum dapat mengalahkan seniornya sama sekali. Ia merasa tidak pantas dengan pujian-pujian itu.
"Aku mendengar suara angin akhir-akhir ini. Angin itu entah membawa angin sejuk atau panas. Ah, bukan. Itu hanyalah suara angin yang konyol."
Antonio tak mengerti maksudnya. Ia pun terus melanjutkan.
"Aku ingat bahwa Kamu hanya akan setia pada Alice seorang, bukan? Sama seperti sang raja yang setia kepada ibumu. Akan tetapi, angin itu berkata kalau Kamu telah tergila-gila dengan gadis lain."
"Tergila-gila apanya? Aku hanya ingin bersahabat," sanggah Antonio. Ia mengepal tangan kirinya yang tidak memegang surat. Lagi pula, ia sudah tidak melirik gadis itu sejak diperingatkan oleh ibunya.
"Yah, itu hanyalah kabar burung. Sepupuku yang cerdas pasti tidak benar-benar melakukannya. Aku percaya Kamu adalah orang yang sama seperti Raja Claudius el Vierum II. Kamu kan anak semata wayangnya."
Antonio membaca surat yang penuh sindiran itu dengan berbaring. Cahaya mentari sore menembus masuk ke kamarnya lewat ventilasi jendela yang terbuka.
"Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan sampai membuat adikku menangis lagi. Aku tidak akan membiarkanmu jika hal itu terjadi. Ingatlah untuk tidak bertindak macam-macam. Aku tidak ingin ada permusuhan di antara kita."
Inilah inti dari surat Derrick yang berbelit-belit. Sepupunya itu sedang menyatakan ancaman. Ia bisa maklum. Alice adalah sosok putri yang berharga bagi banyak orang. Akan tetapi, mengapa akhir-akhir ini Antonio merasa hampa jika mengingatnya.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai mudah terpengaruh oleh rayuan setan. Masa depan kerajaan ini ada di tanganmu. Jika Kamu baik, baik pula seluruh kerajaanmu. Sekian dariku.
__ADS_1
Sepupumu dari Keluarga vi Alverio, Derrick vi Alverio."
Antonio menghela napas begitu selesai membaca suratnya. Ia menaruhnya di meja untuk dibaca ulang nanti. Sekarang ia sangat lelah. Matanya tanpa sadar tertutup. Nyawanya pun menguap ke alam bawah sadar. Ia tertidur dengan pula diterpa sinar mentari hangat yang menenangkan.