Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Peringatan Sang Ratu


__ADS_3

"Ibu Ratu, saya datang menghadap," Antonio menyapa hormat ibunya yang telah menunggu cukup lama di saung Taman Baugenvillaea dengan beberapa lembar kertas. Pangeran muda itu tidak melihat peralatan minum teh dan camilan yang biasanya ada di sana. Hanya tersedia satu kursi pula yang telah dipakai sang ratu.


"Ini pertanda buruk. Ibu pasti sedang marah," batin Antonio. Ia berdiri tanpa berani menatap mata ibunya. Ia pasti akan diperlakukan begini jika membuat masalah atau kenakalan.


"An, Kamu tahu? Ibu sangat malu," Ratu Clara mulai membuka mulutnya. Nada bicaranya lembut tapi menusuk. Antonio sedang menerka-nerka kira-kira masalah apa yang akan diungkit ibunya saat ini.


"Ibu adalah orang kepercayaan Putri kembar yang diamanahkan untuk menjadi ratu kerajaan ini," Ratu Clara memulainya dengan bercerita dan menyalahkan diri sendiri, "Ibu berhasil menjadi ratu seperti harapan kedua putri, tapi apakah ibu telah gagal sebagai orang tua yang bertugas mendidik anaknya?"


Hati Antonio bergetar. Ada suatu perasaan yang menyeruak dalam dirinya. Ia semakin tak berani menatap mata ibunya.


Para dayang yang awalnya menemani ratu telah pergi sejak Antonio datang, tapi salah satu di antara mereka telah memasang sihir penyadap di saung. Jadi, ia dapat mendengar pembicaraan sepasang ibu dan anak itu. Ia berpisah dari para dayang yang lain untuk berkonsentrasi mendengarkan.


"An, apa Kamu tahu bagaimana perasaan ibu dulu saat diutus dari Istana Mutiara?" Ratu Clara menatap tajam putranya. Tak ada senyum di wajahnya, tapi suaranya tetap lembut. Antonio hanya dapat menggeleng ketika mendengar pertanyaan itu.


"Ibu sangat gelisah. Menjadi ratu berarti memanggul tanggung jawab yang besar. Ibu harus bisa mendukung baginda raja untuk mengayomi kerajaan yang luas ini," Ratu Clara menghela napasnya sejenak. Rekaman-rekaman memori berputar dibenaknya. Ia mengingat bagaimana dulu mendiang Duchess Evianna menyemangatinya. "Ibu menyadari itu. Seandainya disuruh memilih, mungkin ibu akan lebih memilih untuk menikahi dengan keluarga yang setara saja."


"Apakah semua gadis bangsawan seperti itu?" Antonio hanya dapat terus berdiri dan terdiam. Ia jadi berpikir kalau mungkin saja Charlotte de Vool berpikir seperti ibunya. Mungkin gadis itu tidak ingin terlalu terbebani sebagai ratu. "Padahal aku merasa cukup hanya dengan berteman dengannya saja."


"Ibu juga harus menyiapkan hati kalau saja suatu saat nanti baginda raja mengambil seorang permaisuri untuk bersanding dengannya," Ratu Clara terus menceritakan perasaannya saat itu, "Dengan memikirkannya saja, rasanya sangit berat bagi ibu. Bohong jika dibilang ibu tidak akan cemburu."


"Ayahanda tidak akan melakukannya," Antonio spontan membalas. Ia ingin mengatakan kepada ibunya bahwa ia tidak perlu khawatir. Sang raja pernah bersumpah di hadapannya untuk tidak akan menduakan sang ratu. Pangeran muda itu pun jadi ikut-ikutan bersumpah dengannya.

__ADS_1


"Ibu tahu," Ratu Clara menoleh ke sebuah bangunan megah yang merupakan tempat sang raja bekerja, "Karena itu, ibu sangat bersyukur dia begitu setia, terlebih saat Kamu terlahir sebagai laki-laki. Kekhawatiran ibu semakin berkurang karena Kamu pasti akan tumbuh menjadi pemuda yang hebat seperti ayahmu."


"Ibu juga sangat menginginkan seorang putri," air mata Ratu Clara perlahan menetes. Pipinya basah, tapi ia tetap melanjutkan kalimatnya, "Ibu amat sedih ketika tidak dapat melahirkannya dengan selamat."


Antonio hampir menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata itu, tapi entah mengapa ia tidak dapat melakukannya. Ia hanya dapat menatap lantai yang membisu. Tak kuasa ia melihat tangis sang ibu.


"Seandainya ia dapat selamat, ia pasti seumuran Alice sekarang," Ratu Clara menghapus sendiri air matanya. Ia benar-benar sedih saat mengingat wajah putri cantiknya yang masih bayi tepat sebelum dimakamkan. Setelah itu, ia tak dapat mengandung lagi.


"Kelahiran Alice adalah penghibur bagi ibu," kali ini Ratu Clara tersenyum samar, "Ibu senang melihatnya dapat tumbuh dengan baik sampai sekarang. Ibu harap, ia selalu bahagia selamanya."


Antonio masih belum menangkap maksud ibunya. Kakinya mulai terasa pegal karena terlalu lama berdiri. Ini yang tidak ia suka saat ibunya marah.


"An, aku tidak akan tinggal diam kalau Kamu membuatnya menderita," kata-kata yang diucapkan Ratu Clara kali ini sangat menusuk. Antonio sampai dapat merasakan desiran takut di hatinya. Matanya pun langsung tertunduk saat melihat tatapan tajam ibunya.


"Aku mendengar sesuatu yang tidak enak akhir-akhir ini," bisik Ratu Clara. Sihir penyadap yang dipasang dayang tak dapat menangkap bisikan itu. Empunya mendesis geram di kejauhan.


"Berhati-hatilah dengan tindakanmu. Kamu yang sekarang sangat lemah dan rapuh," bisikan Ratu Clara membuat mata Antonio bergetar, "Namamu sebagai Putra Mahkota el Vierum tidak akan berguna jika Kamu membuat masalah yang besar."


"Ibu," Antonio baru menyadari inti cerita sang ratu saat ia mengingat gosip yang menyebar akhir-akhir ini. Karena gosip itu, Solid yang biasa dekat dengannya jadi lebih menjaga jarak. "Aku tidak akan melakukan apa pun yang ibu khawatirkan. Aku akan menjaga tunanganku apa pun yang terjadi. Gadis dalam gosip itu...."


Antonio terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang pas, "Aku hanya ingin berteman dengannya, Nona de Vool. Dia juga ingin berteman dengan Alice."

__ADS_1


"Cukup! Jangan Kamu dekati dia lagi," Ratu Clara sudah berhenti berbisik, "Kalau aku jadi Alice, aku tidak akan suka mendengarnya. Kamu harus menjauh darinya sejauh mungkin."


"Baik, Ibunda," Antonio menekuk wajah. Ia mengangguk paham. Kini tembok antara dirinya dan Charlotte semakin besar.


...***...


"Wanita itu lagi-lagi menghalangi rencana kita," Dorothy berseru geram. Ia memukul meja kayu yang ada di hadapannya dengan keras.


"Guru, apa yang selanjutnya akan kita lakukan?" Melissa bertanya gugup. Walaupun ia gadis penyihir yang suka sembrono, tapi ia tidak akan berani melawan gurunya apalagi saat sedang marah.


"Kita harus menyingkirkannya," Nana memberi usulan, "Wanita itu akan menjadi penghalang antara Lottieku tercinta dengan pangeran kecil."


"Bagaimana kita akan menyingkirkan ratu kerajaan ini?" Melissa bertanya tak percaya. Nana pun dengan entengnya menjawab, "Racun."


"Apa Kamu gila?" bentak Melissa menolak mentah-mentah, "Menara Penyihir akan kehilangan kredibilitasnya jika sampai ketahuan."


"Kalau begitu, kita hanya perlu melakukannya dengan hati-hati agar tidak ketahuan," Nana menyeringai. Ia menjadi wanita iblis sejak bergabung dengan Menara Penyihir. Padahal usianya baru 17 tahun. Kebenciannya terhadap bangsawan membuat tak sungkan melakukan apa saja.


"Jangan main-main!" Melissa memperingatkan.


"Kurasa itu tidak masalah," Dorothy memberi persetujuan. Ia menyuruh Nana untuk menyusun rencananya. Tak peduli apa pun efeknya bagi Menara Penyihir, toh ia tak akan terpengaruh dengan itu. Ia hanya ingin mendapat persembahan yang selama ini diincar-incar oleh Voxnus, gadis perawan berdarah keluarga kerajaan.

__ADS_1


Melissa meremas rambutnya. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti saja. Ia pun bergumam, "Apa setelah ini aku akan benar-benar menjadi antagonis?"


__ADS_2