
"Ck! Aku terlalu naif, hah...," pemuda itu berdiri terengah-engah di sebuah gang sempit yang suram. Peluh keringat membasahi keningnya. "Tapi kalau aku diam saja, aku bukanlah manusia. Gadis itu bisa...."
Di jalan-jalan, keributan tengah terjadi. Setiap warga kota pun segera menutup pintu dan jendela. Para gelandangan bersembunyi di kolong-kolong dan setiap gang yang ada. Mereka semua menghindari pasukan keamanan kota yang tidak lain adalah anggota kelompok perompak laut Selatan.
"Mereka sudah tidak mengejar lagi?" gumam pemuda di lorong itu sambil terus mengatur kembali pernapasannya. Ia segera melangkah lebih dalam ke gang suram itu. Belum genap ia berjalan lima langkah, sebuah teriakan terdengar dari belakangnya, "Itu dia! Cepat tangkap!"
Pemuda itu reflek menoleh. Ia segera berlari kembali menyusuri jalanan gang yang sempit dan berliku. Para penjaga keamanan di belakangnya pun mengumpat keras. Mereka berseru-seru untuk menangkap pemuda itu. "Dasar anjing kerajaan. Sini Kau! Akan kubunuh dengan sekali tebas."
Pemuda itu terus berlari melewati apa pun yang ada di hadapannya sembari mengacaukan pengejaran para penjaga gadungan itu. Beberapa balok kayu yang berdiri di lintasannya ia tendang. Balok-balok kayu itu pun mengenai salah seorang penjaga. "Kejar si brengsek itu! Akan kupukul dia sampai jadi bubur."
Penjaga lainnya masih mengejar. Pemuda itu berbelok di sebuah persimpangan. Sebelum para penjaga sempat melihatnya, pemuda itu tiba-tiba diseret oleh sesuatu.
Awalnya ia sedikit kaget. Dilihat seorang berambut cokelat ikal panjang yang kotor. Bajunya lusuh dan bau. Orang itu menariknya sampai di bawah sebuah jembatan.
Sungai buatan yang mengalir di bawahnya berwarna pekat. Jelas sekali tidak terawat. Padahal dulunya sungai sangatlah bersih dan indah. Tanpa berkata apa-apa orang berbaju lusuh itu tiba-tiba mendorong si pemuda ke sungai.
Tentu saja pemuda itu kaget bukan kepalang. Bersamaan dengan itu, darah mengucur entah dari mana. Si pemuda melihat orang lusuh itu membawa belati. Bilahnya bersimbah darah. Begitu pun baju orang lusuh itu. Belum sempat si pemuda mengerti kondisinya, ia sudah terlebih dahulu jatuh ke dalam sungai.
"Dia tadi ke sana," muncul seorang penjaga tepat ketika pemuda itu jatuh ke sungai. Para penjaga segera berhenti dan terheran. Di hadapan mereka hanya ada seorang gelandangan yang bersimbah darah.
__ADS_1
"Ck! Dia si Pewaris Gila. Cepat tinggalkan saja dia sebelum Kau dimakanmu hidup-hidup," kata penjaga itu bergidik lalu pergi. Si pewaris gila terengah-engah. Ia menjatuhkan belatinya yang bersimbah darah. Senyum seringai pun tersungging di wajahnya.
"Apa-apaan tadi itu?" sebuah suara datang dari belakang si Pewaris Gila. Orang lusuh itu pun menoleh. Ternyata pemuda yang didorongnya sudah berhasil keluar dari sungai.
"Kamu baik-baik saja?" tanya si Pewaris Gila. Ia duduk bersandar bantalan sungai. Pemuda yang tadi didorongnya itu menatapnya dengan tajam.
"Apakah aku terlihat begitu?" si pemuda masih belum juga selesai terengah-engah. Sejak tadi ia dipaksa berlari tanpa henti. Dadanya sesak dan pakaiannya basah kuyup. Ia tidak pernah menyangka akan mengalami ini saat berangkat.
"Apa yang akan Kamu lakukan setelah ini? Gerbang kota sudah ditutup rapat-rapat. Kamu tidak akan bisa keluar," si Pewaris Gila memain-mainkan rambut ikalnya di jari. Rambut itu jadi bernoda darah karenanya.
"Aku," si pemuda masih berusaha mengatur napasnya, "Lincoln."
"Aku... harus kembali ke... ibu kota," kata Lincoln masih sedikit patah-patah. Ia sudah mulai dapat mengatur napasnya dengan baik. Si Pewaris Gila mengetuk-ngetuk dagunya, terlihat sedang berpikir.
"Menyerah saja. Kamu tidak akan bisa keluar dari sini," ujar si Pewaris Gila akhirnya. Ia dengan santai mematahkan harapan Lincoln. Tanpa menoleh lagi, ia pun berjalan pergi meninggalkan Lincoln.
"Tunjukkan jalan ke gorong-gorong padaku!" Lincoln menepuk bahu si Pewaris Gila. Ia yakin gelandangan lusuh itu tahu arahnya. Si Pewaris Gila mendengus. Ia kembali berjalan dan diikuti oleh Lincoln.
Mereka terus berjalan sampai hari hampir gelap. Si Pewaris Gila pun akhirnya berhenti. Ia menunjuk ke sungai. Saat Lincoln turut melihat ke arah yang ditunjuknya, lagi-lagi ia mendorong pemuda malang itu.
__ADS_1
Lincoln jelas kaget. Ini kedua kalinya. Ia melihat sebuah lubang yang cukup besar di tembok penahan sungai. Mungkin itulah yang dimaksud si Pewaris Gila.
Benar saja. Kali ini, gelandangan itu ikut terjun ke sungai. Ia pun masuk ke lubang itu diikuti Lincoln. Saat sampai di permukaan, hanya ada gelap yang menyambut mereka.
Tangan Lincoln lagi-lagi ditarik. Ia merasakan tepian sungai di depannya. Air semakin dingin. Jadi, ia lekas naik sebelum mati membeku.
Sebuah suara ketukan terdengar membentuk sebuah pola. Hening tidak ada apa pun yang terjadi. Ketukan pun kembali terdengar. Kali ini, sebuah cahaya temaram muncul di penglihatan Lincoln.
"Di mana ini?" Lincoln sontak bertanya.
"Tempat pengungsian," jawab si Pewaris Gila. Cahaya temaram yang mereka lihat semakin mendekat. Lalu tampak seorang gadis muda yang tengah membawa obor. Gadis itu pun berkata, "Tuan Muda, Anda sudah kembali."
Tepat di atas gorong-gorong pengungsian itu, sebuah bangunan yang sudah lama ditutup rapat-rapat menunjukkan kehidupan. Ada seberkas cahaya lilin di ruang paling dalamnya. Cahaya lilin itu menerangi tumpukan buku, pena, dan kertas-kertas dokumen, juga seorang pria berkacamata bundar yang duduk di kursi santai.
Bangunan itu gedung Serikat Dagang Saville. Pria berkacamata bundar itu adalah agen Biro Rahasia yang dipegang Anna. Ia sudah mengirim kondisi terbaru kota sejak pagi. Penutupan gerbang kota benar-benar membuatnya resah.
Baru saja ia mendapat pesan. Kerajaan el Vierum akan mengirim armada Angkatan Laut dari pelabuhan di barat. Tentu saja akan menyusul pasukan infanteri dan kavaleri darat. Untuk mempermudah penyerangan, agen itu harus membebaskan para pasukan kota yang setia di jeruji penguasa kota.
Agen itu mengetuk-ngetuk meja tanpa suara. Ia memerhatikan sebuah peta digital yang muncul di lensa matanya. Peta itu adalah peta gorong-gorong Kota Marianna. Beberapa cabangnya tersambung dengan kediaman penguasa kota. Yah, itu memang difungsikan untuk jalur pelarian sekaligus celah yang besar.
__ADS_1
Titik-titik merah bermunculan di peta. Itu menunjukkan keberadaan makhluk hidup di sana. Agen itu sudah pernah memeriksanya sebelumnya. Ia pun tersenyum dan mengingat seorang sosok karismatik yang menjadi inti di pengungsian itu. Untuk melancarkan misinya, ia harus bernegosiasi dengan sosok itu untuk membantu.