
"Kak, orang-orang Saville sudah ke sana kan?" tanya Alice di pagi hari saat persidangan akan dilaksanakan. Beberapa hari telah berlalu sejak Aria diserang. Alice tidak sempat mengirim pengintai ke hutan yang ada di selatan kota.
"Bagaimana Anda tahu?" Anna menatap Alice biasa. Gadis itu entah bagaimana selalu mengetahui gerak-gerik Biro Rahasianya. Anna sampai merasa itu tidak perlu dirahasiakan lagi dari Alice. Toh, salah satu misinya adalah melindungi gadis itu.
"Eantahlah? Kakak selalu membaca laporan di sembarang tempat. Jadi, aku hanya menyimpulkan saja," Alice menjawab enteng.
"Padahal itu dilengkapi sistem kamuflase," Anna mengetuk-ngetuk gawai di tangannya, merasa benda itu sedang rusak. Kalau tidak begitu, berarti nonanya yang kelewat pintar. Harusnya gadis seusianya itu tidak akan berpikir demikian.
"Kakak tidak pandai berakting," Alice membalas, "Jadi, apakah Saville ingin mengurusnya sendiri atau membiarkan kesatriaku yang mengurusnya?"
"Akan lebih mudah kalau Nona yang mengurusnya," Anna tersenyum simpul, senang dengan tawaran tuan putrinya.
Alice pun mengulurkan tangannya. Anna sempat tidak mengerti sampai Alice sendiri yang meminta, "Beri kami data informasinya."
"Itu mahal," gurau Anna yang dibalas oleh Alice dengan serius, "Aku juga punya saham di Saville. Bagaimana kalau aku meminta hakku yang selama ini tertahan?"
"Otoritas Anda belum cukup. Ini adalah titah wali Istana Mutiara," Anna menanggapi dengan serius walaupun senyumnya masih kentara. Alice pun menggelembungkan pipinya, lantas berseru, "Bukannya Kakak bilang ingin menyerahkannya pada kami? Ayolah berbagi informasi. Kita ada dalam satu kereta yang sama."
"Baiklah-baiklah, saya akan membaginya," Anna mengalah dan tersenyum puas, "Serikat Dagang Saville akan memberikannya pada Anda sebelum sidangnya dimulai nanti."
Sesuai janjinya, detail informasi mengenai para cenayang disampaikan pada Alice sebelum sidangnya dimulai. Calastine de Noman pun dipanggil untuk memimpin pasukan. Ia memimpin satu kompi kesatria gabungan yang terdiri dari empat peleton. Setiap peleton terdiri dari 26 kesatria. Mereka mengepung dari empat jalur berbeda.
__ADS_1
"Calastine de Noman, Komandan Kesatria Biru Istana Mutiara akan melaksanakan titah Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum dengan sebaik-baiknya," kata Calastine sambil berlutut di hadapan Alice. Gadis itu pun memberinya satu dua patah kata sekaligus mendoakannya. Selesai upacara seremonial simbolis, para kesatria yang dipimpin langsung olehnya pun berangkat.
Di gedung pengadilan Balai Pengawas Wilayah, Count de Bourne sudah menunggu. Para tersangka, saksi, dan hakim duduk di tempatnya masing-masing. Kesatria-kesatria yang gagah penjaga di setiap sisi ruangan.
Alice memasuki gedung ditemani Rosemary dan Anna. Ia disambut oleh kesatria Istana Mutiara yang tersisa di kanannya dan Kesatria Kerajaan di kirinya. Mereka memberi gerak penghormatan penuh sesuai etiket yang berlaku.
"Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum memasuki ruangan," teriak seorang penyeru. Orang-orang di dalam gedung pun berdiri. Tidak ada yang melihat jelas rupa Alice. Gadis itu langsung masuk ke hijabnya kemudian duduk di tempat yang disediakan. Dengan satu kalimat salam darinya, para hadirin pun duduk kembali.
Satu per satu tersangka dipanggil, tuduhan-tuduhan dibacakan, dan saksi didatangkan. Tak sedikit yang berusaha mengelak. Akan tetapi, suara mereka selalu kalah oleh para saksi yang kebanyakan merupakan rakyat biasanya yang tertindas.
Tibalah giliran Baron Perres Puliu dihakimi. Bangsawan yang baru bangkit dari keluarga pedagang itu hanya terdiam saat tuduhan-tuduhan dibacakan padanya. Wajahnya tertunduk. Tangan dan kakinya samar-samar terlihat gemetar.
"Aku... aku...," Baron Puliu tak dapat memberikan pembelaan apa pun saat diberi kesempatan. Ia tidak dapat menyangkal barang bukti yang jelas-jelas harusnya sudah lenyap.
"Baron Puliu, kuingatkan dirimu," Alice bersuara begitu mendengar pengakuan konyol itu. Ia tidak marah pada wanita yang dipanggil 'Saintess' Arabella. Arabella benar-benar orang yang taat dan beriman bagaimana pun orang-orang menganggapnya. Ia bukan orang yang ingin disembah, melainkan wanita yang selalu mengajak untuk tidak menyekutukan Tuhan. Akan tetapi, orang-oranglah yang berlebihan menganggapnya.
"Orang yang sudah mati tak akan dapat menolongmu. Siapa peduli kalau dirimu adalah pengikutnya yang paling taat dan setia. Kamu bersalah, dia tidak akan dapat menolongmu," seru Alice dengan lantang. Orang-orang sepenuhnya terdiam. Baron Puliu terlihat jelas amat gemetaran. Suara Alice yang nyaring dan lantang membuatnya tak dapat berkata-kata.
"Biar kutanya pada Kalian semua," lanjut Alice dari dalam tabir hijab merahnya yang khas dengan Keluarga Kerajaan el Vierum. Suaranya yang teramat jelas dan fasih akan membuat siapa pun tidak percaya kalau umurnya masih sepuluh tahun. Mulailah ia bertanya, "Apakah Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahakuasa atas seluruh alam-alam ini membutuhkan perantara untuk menyembah-Nya?
"Apakah hanya orang suci lagi dikuduskan yang dapat berdoa pada-Nya? Padahal ia adalah Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Mengampuni. Ia Maha Mendengar doa hamba-hamba-Nya lagi Maha Mengetahui. Apakah Kalian masih ingin mengangkat orang-orang saleh sebagai tandingan-Nya?"
__ADS_1
Pidato Alice menyinggung perwakilan Kuil Suci yang hadir, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena ini adalah ranah kekuasaan Istana Mutiara. Apa juga pendeta yang mulai berpikir seakan baru tersadar. Sebagian lagi memilih untuk tidak menghiraukannya. Bahkan ada yang terkantuk-kantuk di pojok ruangan.
Pada akhirnya, Baron Puliu tidak memberikan pembelaan pada dirinya maupun menyangkal. Ia sudah tertekan dengan ceramah singkat Alice. Hatinya bahkan mulai terbuka dan berjalan pada petunjuk yang lurus. Kelak ia akan meminta seorang pengajar di dalam jeruji besinya sehingga ia mati dalam keadaan beriman.
Amat berlainan dengan putranya, Baron Muda Preves Puliu. Ia adalah satu-satunya tersangka yang tak hadir dalam persidangan. Pasukan kesatria pun dikerahkan untuk menangkapnya. Akan tetapi, ia tidak akan dapat ditemukan sampai beberapa tahun ke depan.
Pemuda sesat itu akan semakin tenggelam dalam kegelapan bersama para penyihir yang mengikutinya. Dalam pengawasan Dorothy Magansei, ia akan bangkit sebagai musuh dari Alicia Evianna el Vierum kelak. Ia adalah bayang-bayang di balik cahaya yang terang.
...***...
"Ayolah, Anak Muda," ajak Dorothy yang mendapati Preves kabur menghindari para kesatria. Anak muda itu amat ketakutan. Celananya bahkan hampir basah oleh aibnya jika ia tak dapat bertahan.
"Si... siapa Ka... Ka... Kamu...?" Preves terbata saat tiba-tiba didatangi wanita misterius berpakaian serba gelap itu. Ia langsung tersungkur ke belakang begitu saja. Walaupun ia sangat ketakutan, gengsinya membuat tatapan mata yang ia punya tetap tajam. Dendamnya masih terus berkobar sekalipun dalam situasi genting.
"Xixixi," kekeh Dorothy dengan seringai seramnya. Para pengikut yang ada di belakangnya pun masih merinding saat mendengarnya. Ratu Dunia Bawah yang beriasan tebal itu adalah perwujudan dari gelapnya bayang-bayang. Ia adalah nenek sihir terkuat yang setara dengan Voxnus.
"Aku paling suka dengan mata yang tajam itu," ujar Dorothy akhirnya. Seringai seakan tak dapat hilang dari wajah penjahat itu. Ia memberikan penawaran yang paling menggiurkan bagi seorang pendendam seperti Preves, "Kuberi Kau kekuatan yang paling besar untuk membalas dendam. Apakah Kamu mau menerimanya?"
"A... apa ya... yang Ka... Kau katakan?" Preves amat terkejut saat Dorothy menunjukkan pesonanya. Wanita tua itu sangat jelita bagai gadis yang sampai pada usia matangnya. Preves bahkan tak menyangka bahwa wanita itu sudah jauh lebih tua dari ibunya.
"Aku akan memberimu kekuatan, maka jadilah pelayanmu," tawar Dorothy. Tangan halusnya membelai leher Preves yang masih kebingungan. Dorothy pun membisikkan di telinganya sebuah tawaran yang menggiurkan, "Bagaimana jika kuberi Kau Menara Penyihir? Bukankah dengan begitu Kau dapat menguasai kerajaan, bahkan benua ini?"
__ADS_1
Preves tidak lagi dapat berpikir jernih. Ia telah terjebak dalam pesona Dorothy. Dalam keadaan yang setengah mabuk, ia pun menyetujuinya.
"Sungguh anak baik," Dorothy tersenyum senang sambil memetik jarinya. Dalam sekejap, kesadaran Preves terhisap. Dorothy pun memerintahkan pengikutnya untuk memungut anak muda yang tersesat itu agar tidak ditangkap para kesatria. Ia berseringai puas. Sekarang ia punya senjata untuk menyaingi Voxnus tanpa harus mengotori tangannya.