
"Ini menyebalkan!" seru Charlotte kesal, "Buat apa aku ikut dalam acara itu?"
Para pelayannya hanya dapat terdiam. Nona mereka tidak pernah memberontak seperti ini sebelumnya. Gadis itu adalah tipe anak yang manis dan penurut.
"Tidak mau! Aku tidak mau ikut!" Charlotte berlari ke balkon kamarnya yang terletak di lantai dua. Tak ada lagi jalan baginya untuk kabur. Ia akan tertangkap bila tidak melakukan apa-apa.
"Nona! Mohon hati-hati! Anda bisa terluka," seru para pelayan ketika melihat Charlotte yang nekat mau melompat dari balkon. Mereka sangat panik melihatnya. Gadis itu akan benar-benar terluka kalau terjatuh dari lantai dua.
"Nona!" seru para pelayan dengan ekspresi yang cemas lagi ketakutan.
Charlotte benar-benar melompat. Ia merapalkan mantra terbang sederhana sehingga bisa mendarat dengan mulus di tanah. Ia tidak peduli lagi dengan gaun-gaun mewah di kamarnya. Ia hanya ingin kabur sekarang. Padahal ia hanya memakai gaun tidur berwarna merah muda.
Karena itu, ia mengambil selembar kain putih di jemuran belakang dan membalutkannya untuk menutupi tubuh. Kain yang cukup besar itu sukses menjadi jubahnya. Dengan begini, orang-orang county tidak akan mengenalinya sebagai nona kedua dari Keluarga de Vool.
Namun, pemikiran itu ternyata jauh dari benar. Banyak kesatria yang berkeliaran selama masa pemburuan. Mereka semua mengenal Charlotte dengan baik sejak pradebutnya tahun lalu. Gadis itu jadi makin kesulitan di tengah kota.
"Nona, mohon maaf atas ketidaksopanan kami. Ini adalah perintah tuan count," kata seorang kesatria berusaha membujuk, "Mari ikut kami dengan tenang dan berpartisipasi dalam acara ini."
Charlotte tersudut di sebuah gang yang buntu. Ia menatap para kesatria dengan tatapan tajam seperti seekor kucing liar yang berusaha mengintimidasi musuhnya. Diam-diam mulutnya merapal. Kakinya pun dihentakkan. Sekejap kemudian, ia melompat tinggi sampai keluar dari jalan buntu itu.
Para kesatria pada melongo. Mereka tidak akan menyangka kalau Charlotte akan kabur dengan cara seperti itu. Gadis itu terlihat seperti malaikat berjubah putih yang terbang di langit dengan pesonanya. Saat ia menghilang, para kesatria baru sadar dari lamunannya. Mereka tidak tahu kalau Charlotte sudah merapalkan mantra ke mereka.
__ADS_1
Charlotte tidak bisa serta-merta terbang di langit County de Vool. Itu malah akan membuatnya mencolok. Jadi, ia hanya bisa menggunakan mantra peringan tubuh dan berlari dari satu atap ke atap yang lain.
Saat merasa aman, ia berhenti sejenak untuk beristirahat dan mengatur napas. Ia bersandar pada tembok benteng bagian Utara yang sepi. Tawa meletus dalam hati. Pelarian yang barusan itu seru dan menegangkan baginya. Ia pun tersenyum sendiri.
"Oke, karena ayah sangat ingin aku ikut, aku akan datang sebagai pengamat saja," Charlotte berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu. Charlotte bukannya tidak suka ikut di dalam acara itu. Ia hanya tidak ingin dijadikan citra utama dalamnya. Putra mahkota pasti akan menyusahkannya lagi seperti dulu. Rumor-rumor aneh itu sangat mengusik kupingnya.
Ia pun kembali merapal mantra peringan tubuh dan meloncat ke atas tembok. Sekali lagi ia melompat dan sampailah ia di luar. Gadis penyihir kecil itu pun bergegas pergi sebelum ada lagi prajurit yang menyadari keberadaannya.
"Aku memang penurut, tapi aku tidak suka dipaksa," gerutu Charlotte selama perjalanannya menuju tempat pemburuan. Ia meminta tolong pada Bilqis untuk mengawasi sekitar. Kalau ada orang yang berjalan tak jauh darinya, ia akan segera bersembunyi di atas pohon dengan melompat.
"Kita hampir sampai. Balqis, Lihat tenda-tenda yang banyak itu," Charlotte yang berdiri di atas dahan pohon menunjuk tenda-tenda yang didirikan para utusan bangsawan di luar kota. Ada berbagai macam Panji di sana. Termasuk milik Akademi Kerajaan dan Istana Mutiara. Melihatnya, Charlotte pun bergumam, "Tuan Putri pasti di sana kan? Aku ingin bertemu dengannya. Apakah ia masih membenciku?"
Charlotte pun turun tanpa melihat ke bawah. Ia menggunakan sihirnya untuk agar mendarat dengan mulus seperti bulu. Jauh sebelum ia sampai di tanah, seorang berteriak dan mengganggu konsentrasinya, "Hai! Hati-hati!"
"Aduh!?" seru Charlotte bersamaan dengan seorang pemuda yang tadi meneriakinya. Charlotte langsung terbangun, tapi tidak dengan pemuda itu.
"Si—siapa dia?" Charlotte amat cemas melihat pemuda yang tak kunjung bangkit itu. Ia berpikir cepat untuk mencari cara penyelesaiannya. Namun, berbagai pikiran buruk membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih.
"Uh—bagaimana ini? Dia tidak mati kan? Hai, bangun! Apa kamu mendengarku?" ucap Charlotte dengan paniknya. Wajah pemuda itu terlihat familiar, tapi ia tak dapat mengingatnya. Ia lebih fokus menenangkan diri untuk memulai sihir penyembuhan.
"Kamu bisa, Lottie. Kamu bisa," Charlotte berusaha meyakinkan dirinya. Ia pun mulai membaca mantra dan berniat menyentuh dada pemuda itu untuk mengaktifkannya. Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi sampai membuat Charlotte berteriak saking kagetnya.
__ADS_1
Tubuh Charlotte menggigil kuat. Tangan gadis itu dicengkeram pemuda yang baru saja mau disembuhkannya. Ia sangat ketakutan melihat tatapan tajam pemuda yang tidak jelas asal usulnya itu.
"Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu melompat dari pohon yang tinggi itu?" tanya pemuda itu selidik.
Charlotte tak dapat menjawab saking takutnya. Tubuhnya makin gemetaran ketika ditanya pemuda itu. Tak satu pun mantranya dapat digunakan untuk menenangkan diri.
"Hai, apa kamu mendengarku? Hai!" seru pemuda itu. Suaranya terdengar galak ditelinga Charlotte. Gadis itu pun pingsan saking takutnya.
"Eh!? Apa-apaan ini?" pemuda itu melepas tangannya setelah Charlotte pingsan. Situasinya berbalik sekarang. Pemuda itulah yang kini diliputi rasa takut dan was-was.
"Solid, apa yang kamu lakukan di sini?" Charles datang sambil menunggang kuda. Ia lantas menatap Solid dengan curiga begitu melihat seorang gadis kecil yang pingsan di dekatnya, "Hai, apa yang kamu lakukan pada anak kecil itu?"
"Aku tidak melakukan apapun. Gadis ini jatuh dari pohon dan aku menangkapnya agar tidak terluka," sanggah Solid dengan jengkel saat melihat tatapan merendahkan Charles. Ia pun berseru, "Singkirkan pikiran kotor yang ada di otakmu itu!"
"Heh, kamu pikir aku percaya padamu?" Charles berniat menggoda Solid yang tampak lucu saat emosi. Ia ingin memanas-manasinya lagi. Namun, sebelum ia kembali bicara, Solid lebih dulu berkata, "Bawa gadis ini ke tenda medis sekarang. Aku masih ada pekerjaan."
"Apa? Hai!" Charles protes. Solid dengan sengaja mengangkat gadis itu ke kuda. Ia memang sedang ada keperluan mendesak sekarang.
"Tolong jaga dia. Sepertinya dia gadis desa yang tersesat," Solid sudah pergi menjauh dan meninggalkan Charles bersama gadis itu di kudanya.
Pemuda berkuda itu hanya dapat berdecak kesal. Ia mengantar Charlotte sambil menggerutu tidak jelas. Mana mungkin ia bisa meninggalkan seorang gadis lemah seperti rivalnya itu.
__ADS_1
"Tabib, ada seorang gadis yang sakit," seru Charles begitu sampai di tenda medis. Ia segera membopong putri tidur itu ke tenda yang ditunjukkan seorang pria tua. Saat ia hendak pergi, orang tua itu melarangnya dengan berkata, "Kamu harus menunggu adikmu sampai bangun. Kami harus merawat pasien lainnya."
"Apa? Dia ...," Charles belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi tabib itu sudah pergi meninggalkannya.