
Perjalanan berjalan lancar. Tidak ada satu hambatan pun yang berarti. Alice dan rombongannya sampai di Duchy vi Alverio dengan selamat.
"Selamat datang, Alice," sambut seorang pemuda berambut biru khas dengan sedikit warna merah di sana. Matanya biru cerah bagai langit yang jernih di wajah rupawannya. Perawakannya tegap dan berwibawa. Kharisma bangsawan memancar dari dirinya. Ia menyambut tangan Alice yang turun dari kereta kuda.
Para pelayan yang membentuk pagar betis menunduk hormat. Amat rapi dan mengesankan. Dalam diri mereka terdapat kebanggaan dan kesetiaan yang besar. Apa lagi tuan muda dan nona mereka adalah dua orang yang amat dikagumi di kerajaan pada usia yang sangat muda.
"Bagaimana kabarmu?" Derrick mengelus kepala Alice lembut. Senyum hangat terlukis di wajah pemuda itu. Ia yang merupakan penerus Kepala Keluarga vi Alverio memiliki tumpukan tugas yang tidak dapat diabaikannya. Jadi, dia tidak bisa sering berinteraksi apa lagi bersenda gurau dengan keluarga. Ia bahkan harus menunda sedikit banyak pekerjaannya untuk sekadar menyambut adiknya tercinta.
"Aku sangat baik," jawab Alice riang. Saat di depan kakaknya, ia jadi seperti gadis seusianya yang periang dan manja walau masih tersisa sedikit sifat dewasanya. "Kakak sendiri juga baik kan?"
"Ya, tentu saja," kata Derrick bertopeng senyum. Jelas sekali ia sangat kelelahan. Dengan pekerjaan yang menumpuk setinggi gunung itu, bagaimana ia dapat baik-baik saja?
Alice pun menyadarinya. Akan tetapi, ia membiarkannya karena ia tahu kakaknya itu mampu. Tidak seperti Duke vi Alverio yang sudah mulai harus banyak mengambil istirahat.
Mengingat ayahnya, ekspresi Alice berubah sesaat. Rasa kecewanya masih belum padam. Ia pun lekas menutupinya dengan keceriaan agar tidak mengganggu kakaknya yang sibuk.
"Aku harus pergi sekarang, Alice," kata Derrick sesampainya di aula kediaman. Ada sedikit rasa bersalah di wajahnya.
"Tak apa. Aku akan bermain bersama Madam Anna saja," kata Alice mengerti, "Kakak bisa mencariku di taman jika ada perlu nanti."
"Maaf, harusnya aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu denganmu," kata Derrick sedikit kecewa. Alice yang dulu akan merengek padanya agar meluangkan waktu tiap kali ia pulang dari ibu kota. Sepertinya itu berubah setelah pertunangannya. Mungkin posisi duke muda di hati adiknya itu sudah bergeser.
__ADS_1
"Nona yakin meninggalkan tuan duke muda begitu saja?" tanya Anna di taman Kediaman vi Alverio. Jelas ia melihat noda kekecewaan pada wajah Derrick.
"Biarkan kakak bekerja sendiri saja. Aku pulang untuk berlibur, bukan untuk bekerja," jawab Alice lalu menyeruput teh yang diseduhkan untuknya. Ia duduk berhadap-hadapan dengan Anna memintanya menjadi teman mengobrol. "Ada banyak hal yang harus kuurus untuk menghadapi Menara Penyihir. Kuharap Kak Anna bersedia untuk membantu."
"Tidak," jawab Anna membuat Alice sedikit memiringkan wajah dan mengerutkan keningnya. "Saya pastikan Anda tidak perlu melakukan apa pun jika Tuhan berkehendak."
"Apa maksudmu aku terlalu lemah?" kata Alice cemberut.
"Tepat sekali, Anda terlalu lemah untuk berhadapan dengan Menara Penyihir secara frontal," jawab Anna jujur. Matanya terpejam menikmati teh yang diseduhnya. Sosoknya seolah memancarkan aura kebijaksanaan.
"Hm? Setidaknya aku harus tahu perkembangannya," Alice menawar. Informasi sudah cukup baginya untuk menyusun rencana.
"Mohon jangan gegabah, Nona," Anna memeringatkan seolah tahu apa yang dipikirkan Alice. Ia memberi gadis kecil itu sebuah kacamata berlensa digital. Saat dipakai, ia bisa melihat perpustakaan digital yang Anna tunjukkan. Di sanalah tempat penyimpanan data-data yang Biro Rahasia kumpulkan.
Anna masih tidak menyangka kalau Alice sudah terbiasa dengan semua teknologi itu dan menjaga kerahasiaannya. Yah, itu wajar. Mendiang Duchess vi Alverio sering mengajarinya untuk menjaga lisan dan kehormatannya. Jadi ia tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga rahasia dan tidak suka bercerita apa lagi mendengar gosip para bangsawan di pergaulan sosial.
"Ini peta kerajaan?" Alice memerhatikan peta digital yang terlihat di matanya dan Anna saja. Ada beberapa warna yang berbeda di sana. Wilayah Duchy vi Alverio dan Keluarga von Ryvat juga beberapa wilayah bangsawan berkuasa lainnya berwarna hijau. Itu menandakan bahwa mereka di luar pengaruh Menara Penyihir.
Ada juga wilayah berwarna kuning yang menandakan bahwa wilayah itu bersahabat dengan Menara Penyihir namun tidak memiliki hubungan yang erat.
Lalu yang paling mendominasi adalah wilayah berwarna merah. Mereka wilayah yang memiliki hubungan khusus dengan Menara Penyihir. Ibu kota termasuk di antaranya kecuali komplek Istana Mutiara.
__ADS_1
Di peta itu terlihat bahwa lebih dari lima puluh persen adalah wilayah merah. Wilayah kuning kurang dari tujuh persen sementara sisanya adalah wilayah hijau.
"Warna di County de Vool sangat pekat," Alice berkomentar saat melihat wilayah yang cukup besar itu. Di sampingnya adalah Wilayah Otonomi Sirisia yang merupakan daerah Menara Penyihir dibangun. Di sana merupakan pusat perkembangan sihir. Oleh karena itu para penyihir memiliki posisi yang setara dengan bangsawan menengah. Kalau ia menjadi Penyihir kerajaan, ia akan setara dengan bangsawan kelas atas.
"Keluarga de Vool, ya?" Alice berpikir merasa mengingat sesuatu, "Oh! gadis yang jatuh dari langit waktu itu, kudengar dia putri kedua Count de Vool dan juga murid penyihir yang berbakat."
"Ya, dia punya citra yang cukup baik di mata para bangsawan seperti Anda, Nona," Anna menjelaskan. Foto lukisan Charlotte de Vool muncul di panel digital. Muncul data diri gadis penyihir yang berbakat itu. "Bisa dibilang ia memiliki popularitas yang cukup besar walaupun belum melaksanakan debutnya."
"Atribut sihirnya adalah penyembuh," Alice membaca data diri itu, "Dia ramah dan pandai bersahabat dengan siapa saja."
"Kecuali dengan Nona," tambah Anna. Alice menatapnya dingin. Anna tidak bergemin dengan itu. Itulah kenyataannya. Sihir pemikat gadis penyihir itu tidak dapat berefek pada Alice. ia memiliki tabir tak kasat mata yang melindunginya dari segala sihir dan guna-guna.
"Aku akui bocah itu memang baik dan tulus, tapi sayangnya aku tidak bisa menerimanya selama ia berhubungan dengan sihir," kata Alice lalu mencomot makaron yang disediakan di meja.
"Apa Anda tidak ingin memberi tahunya?" Anna juga ikut mengambil camilan di meja. Tangan kiri tengah asyik mengetik sesuatu di atas meja. Jika dilihat dari jauh, akan terlihat bahwa Anna sedang mengetuk-ngetuk meja.
"Entahlah, bisa jadi ia menyeretku ke dalam situasi yang berbahaya," jawab Alice dengan tatapan yang tidak peduli pada gadis penyihir itu. "Aku tidak akan mengambil risiko kecuali ia bersikeras."
"Apa mungkin Anda ingin berteman dengannya?" Anna penasaran. Jika nona kecilnya itu ingin berteman dengan si gadis penyihir yang ramah, maka Anna harus memikirkan cara untuk memutuskan kontrak antara gadis itu dengan makhluk astralnya agar ia tidak lagi menggunakan sihir.
"Aku sudah memiliki cukup teman," jawab Alice kemudian melepas kacamata digitalnya. Anna pun mematikan perpustakaan digital dari lensa kontaknya.
__ADS_1
"Aku ingin sedikit berolahraga. Mari temani aku bermain belati," Alice membuka peti beludrunya yang berisi sepasang belati peninggalan Putri Elianna el Vierum. Peti itu diberikan oleh Duchess Evianna sehari sebelum kematiannya.
"Saya dengan senang hati menemani Anda bermain," Anna menghunus sepasang belatinya pula. Ia memasang posisi kuda-kuda bertahan. Selama ini, Alice belum dapat mengenainya sama sekali. Di gedung pelatihan yang khusus dibangunkan untuk Alice itu, keduanya saling beradu.