Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Rasa Bersalah Charlotte


__ADS_3

"Hah, rasanya jadi sepi karena Kak Nana tidak pulang-pulang," Charlotte menyandarkan kepalanya di atas meja sambil memainkan jarinya pada seonggok benda kenyal. Melissa, seorang gadis penyihir berambut kecokelatan tersenyum tipis. Sejak Kepala Penelitian Sihirnya itu pergi, rasanya memang ada yang berbeda.


"Kapan Kak Nana akan pulang?" tanya Charlotte tanpa mengharapkan jawaban. Ia sudah menanyakan hal itu sejak berhari-hari lalu. Ia menegakkan kepalanya dan mulai memainkan benda kenyal dihadapannya dengan kedua tangan.


Benda itu berwarna kehijauan. Awalnya berbentuk bulat. Setelah ditekan-tekan oleh Charlotte, ia menjadi gepeng. Sekarang bentuknya berubah menjadi seekor kucing dengan keterampilan tangan Charlotte.


"Misi penumpasan itu tidak sesederhana yang kita kira," Melissa kini duduk di kursi yang ada di depan Charlotte. Jubah penelitiannya yang berwarna krem sudah banyak bernoda oleh bahan-bahan kimia. Entah apa yang sebenarnya ingin ia buat sejak tadi, hasil akhirnya adalah benda kenyal yang dibawa Charlotte sekarang.


"Sudah lama aku tidak menggodanya," Charlotte menunjukkan niat sebenarnya merasa rindu kepada penyihir bar-bar itu, "Aku ingin meningkatkan keahlian sihir penenangku. Kalau tidak ada dia, rasanya sangat susah berkembang."


"Pfft," Melissa menahan tawanya. Hal itu memang dapat menjadi hiburan tersendiri baginya. Walau kadang ia cukup kesal juga saking berisiknya, tetapi ia tetap senang karena suasananya yang lebih hidup.


"Persebaran monster sihir amat tidak terduga," kata Melissa masih berusaha menyembunyikan tawa gelinya. Mereka sudah mendapat beberapa surat sihir akhir-akhir ini. "Gerakan mereka cepat dan sulit terdeteksi."


"Ck! Harusnya dia menyempurnakan alat sihir komunikasinya dulu," gerutu Charlotte. Ia menatap sebuah bola kristal yang mengilap elok di atas meja kerja Nana. "Dengan begitu, aku akan dapat menguji apakah sihirku juga dapat ditransfer dengan benda itu."


"Kamu akan membuat masalah untuk pasukan pembasmi jika Kamu gagal mentransfer sihirmu itu," Melissa mengingatkan. Ia memperhatikan wajah gadis kecil berambut pirang platinum di hadapannya itu yang masih saja lesu. Entah apa yang harus ia lakukan agar gadis itu dapat sedikit lebih ceria lagi.


"Kudengar dari Nana, Kamu sangat ingin berteman dengan Tuan Putri Mahkota el Vierum, ya?" Melissa mencomot asal topik pembicaraan. Saat ini adalah waktu istirahat yang berharga. Jadi, lebih baik bersantai sejenak sebelum mengacak-acak laboratorium lagi.


"Ya, aku ingin," jawab Charlotte. Wajahnya kian lesu. Melissa tahu itu, tetapi ia tidak peduli. Selama dapat mengisi waktu luangnya, mengapa tidak?

__ADS_1


"Ternyata tidak semudah yang kukira," lanjut Charlotte. Ia sudah berjuang melakukan penyelidikan selama ini. Ia berusaha mencari akar masalah yang mungkin menjadi penyebab skeptisnya Putri Mahkota el Vierum pada Menara Penyihir.


"Aku menemukan banyak fakta bahwa sejak dulu Istana Mutiara tidak pernah mau menerima Menara Penyihir," lalu Charlotte membahas sejarah persaingan Ratu Clara yang merupakan utusan Istana Mutiara dengan wanita utusan Menara Penyihir saat itu.


"Konfliknya terlalu panjang. Bahkan ada kasus di mana Baginda Ratu el Vierum hampir diracun dan dihabisi dengan sihir," Charlotte menggeleng miris. Melissa terus menjadi pendengar. Suka melihat gadis yang seimut boneka itu bercerita.


"Dasar, bagaimana utusan Menara Penyihir bisa sejahat itu?" gerutu Charlotte. Ia jadi bisa merasa maklum dengan kebencian para putri di Istana Mutiara terhadap penyihir. "Pasti di mata mereka, semua penyihir itu jahat, tidak berperasaan, dan licik."


"Karena itu, aku ingin menunjukkan kepada Sang Putri Musim Dingin bahwa tidak semua penyihir seculas itu," Charlotte merenung sebentar. Ia sudah sukses menjadi teman Putra Mahkota el Vierum. Bahkan mereka terkadang berjalan-jalan dan minum teh bersama.


"Kudengar, Tuan Putri Mahkota el Vierum sudah kembali ke ibu kota sejak seminggu yang lalu. Aku sudah meminta kepada An untuk memperkenalkanku kepada tuan putri, tetapi sepertinya hubungan mereka sedang tidak baik. Padahal mereka tunangan."


"Jangan-jangan karena aku...," Charlotte meremas rambutnya. Ia yakin sekali. Pasti karena Putri Mahkota el Vierum itu telah mendengar kedekatannya dengan Antonio sehingga hubungan keduanya menjadi renggang. "Kak Mellie, aku telah membuat masalah besar. Bagaimana ini?"


Melissa memalingkan pandangannya. Wajahnya berubah masam. Ia kira gadis kecil itu akan bersemu merah atau apalah itu. Ternyata malah dia menyesal dan menyalahkan dirinya begini. "Padahal Kamu adalah harapan Menara Penyihir."


Melissa pun menghela napas. Waktu istirahat ternyata sudah sejak lama habis. Mereka berdua sudah banyak menghabiskan waktu.


"Sudahlah, itu bukan salahmu," hibur Melissa, "Ayo kita kembali bekerja."


...***...

__ADS_1


"Nona, apa Anda yakin sudah baik-baik saja?" Anna bertanya khawatir saat turun dari kereta kuda. Alice hanya mengangguk saja. Ia pun berjalan menuju ke kantor pamannya, Raja el Vierum untuk melaporkan hasil penyelidikannya.


Anna membawakan sebagian berkas yang menjadi bukti kuat pelanggaran penguasa Kota Marianna untuk dibawa kepada Raja Claudius. Sisanya akan dikirim ke Kantor Inspeksi Kerajaan dan Balai Hukum untuk menjalankan proses selanjutnya.


Pagi itu, Alice tidak bertemu lagi dengan Antonio di istana. Pemuda itu sedang berada di Akademi Kerajaan sekarang. Walau bocah itu adalah putra mahkota, ia masih belum memiliki hak dalam campur tangan perpolitikan Kerajaan el Vierum seperti Alice.


Seminggu sudah berlalu sejak pertengkaran kecil mereka. Antonio belum juga mengirim permintaan maaf. Lagi pula, Alice tidak merasa membutuhkannya. Ia juga tidak merasa bersalah walau ia yang marah-marah secara sepihak waktu itu.


"Begitu, ya?" Raja Claudius manggut-manggut membaca ringkasan yang Alice laporkan. "Aku sudah mendengar sebagiannya dari perdana menteri. Kamu sudah bekerja keras, Tuan Putri."


"Terima kasih atas kepercayaannya, Baginda," kata Alice dengan wibawanya yang terpancar khas, dingin dan elegan.


"Kudengar Kamu sakit karena Antonio kemarin," Raja Claudius menunjukkan senyum pedulinya. Di matanya, Alice sudah seperti putri sendiri. Istrinya sudah tidak dapat mengandung sedangkan ia tidak tega menduakannya. "Aku sudah menegurnya. Dia memang masih harus banyak belajar untuk memahami perasaan. Kuharap Kamu mau memaafkannya."


"Yang Mulia Putra Mahkota el Vierum sendiri yang harusnya meminta maaf, Baginda," jawab Alice mengisyaratkan bahwa dirinya berada di pihak yang benar, "Saya tidak menaruhnya dalam hati. Saat itu, saya hanya kelelahan saja."


"Kamu sungguh murah hati," Raja Claudius tersenyum lega. Matanya seakan menerawang ke masa lalu. Ada kenangan yang berputar di benaknya. "Serahkan sisanya pada orang dewasa. Kamu beristirahat saja dulu sampai benar-benar pulih."


"Sungguh Baginda lebih bermurah hati," kali ini Alice memasang sebuah senyum yang amat membuat Raja Claudius bernostalgia. Sungguh senyum para putri itu benar-benar mirip.


"Saya harap Perdana Menteri vi Alverio pun mendapat kemurahan hati yang sama," dengan halus Alice menyindir. Raja Claudius sudah menduganya. Ia bilang akan mempertimbangkan hal itu. Setiap Alice mengungkitnya, ia selalu teringat dengan tumpukan berkas yang sering menghantuinya.

__ADS_1


__ADS_2