Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Harapan Alice


__ADS_3

"Kota Marianna dikuasai oleh perompak tanpa kita ketahui," Raja Claudius el Vierum II meremas tangannya geram. Masalah monster sihir belum juga selesai, pasukan kesatria masih terpecah, sekarang sebuah kota tiba-tiba dikuasai pihak asing. "Ini adalah aib. Kita tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Pasukan Angkatan Laut telah manarik sauh. Kita para Kesatria Kerajaan akan berangkat mengambil kota itu kembali."


Para Kesatria Kerajaan el Vierum berseru. Dengan langkah rapi, mereka meninggalkan ibu kota. Setiap warga yang melihat parade pasukan besar itu berseru-seru memberi semangat. Mereka yakin keluarga mereka dapat menang dan selamat dengan mudah.


"Sudah sangat terlambat untuk ke sana," Alice mengamati iring-iringan itu dari menara tertinggi di Istana Mutiara. Ia didampingi oleh Aria, si gadis berambut perak yang pendiam. "Tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Jika Kota Marianna terlalu lama dibiarkan, para perompak itu dapat mengambil alih kota lainnya."


"Alice, Kamu tidak perlu risau," hibur Aria. Suaranya lembut penuh perhatian. Tangannya halus saat mengusap rambut Alice yang panjang, "Kesatria Kerajaan pasti bisa menghadapi mereka. Apalagi, Baginda Raja el Vierum turun tangan sendiri untuk memimpin pasukan itu. Mulai hari ini pekerjaan kita akan bertambah."


"Ya, Kita akan mondar-mandir ke Istana Ruby untuk mengurus banyak hal," Alice berpangku tangan dan menggelembungkan pipi. Jika dilihat dari jauh, Alice dan Aria terlihat seperti kakak beradik yang harmonis. Satu berambut gelap, satunya lagi berambut cerah. Alice menghembuskan napasnya, "Hah... aku tidak bisa membayangkan urusan lainnya yang harus kita selesaikan."


"Tenang saja, kita pasti bisa," suara lembut Aria itu terbang dibawa angin dan dengan cepat menghilang. Selama beberapa saat, keheningan menemani mereka. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Pandangan mereka jatuh pada rombongan kesatria yang tampak mulai meninggalkan tembok kota.


"Kalian sudah di sini sejak tadi!? Mengapa tidak mengajak kami?" suara Aristia terdengar begitu keras menyibak kesunyian. Gadis berambut pirang itu datang dengan Mainne.


"Ah, kulihat tadi Kalian sedang sibuk di laboratorium," Alice menjawab dengan simpul, "Jadi, aku tidak ingin mengganggu Kalian."


"Wah... di sini indah sekali," seru Aristia senang. Pandangannya menyapu setiap sudut kota. Hampir semuanya terlihat dari menara itu, "Sebelumnya, kupikir menara ini tidak boleh dimasuki."


"Kamu boleh ke mari kapan saja," Alice ikut senang melihat keceriaan sahabatnya itu, "Asal Kamu berhati-hati. Tempat ini sangat tinggi dan berbahaya."


"Okay!" Aristia menunjukkan ibu jarinya pertanda mengerti. Mainne yang ikut bersamanya sejak tadi diam saja. Matanya menjelajah ke setiap sudut menara. Setelah puas melihat interiornya, ia ikut melihat ke luar. Pasukan kesatria yang akan membebaskan kotanya sudah setengah lebih meninggalkan kota. Di luar benteng, mereka tetap melangkah rapi dan gagah.


"Tuhan telah menjadikan bumi ini mudah dijelajahi," Alice menatap para kesatria yang kini sudah seluruhnya meninggalkan kota. Mereka terlihat seperti barisan semut yang melangkah dengan tertibnya. Panasnya mentari yang menyengat seakan tidak mengganggu mereka sama sekali. "Ingin sekali aku berkelana di bumi-Nya yang luas dan melihat banyak hal. Kelak, kepada-Nyalah aku kembali."

__ADS_1


"Berpetualang, ya?" Aristia tertarik mendengarnya, "Sepertinya itu hal yang sangat hebat. Apa kita bisa melakukannya suatu saat nanti?"


"Entahlah?" Alice menaikkan bahunya tidak tahu pasti, "Kita adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas masa depan negeri ini. Kita tidak boleh sembarangan bertindak. Akan tetapi, jika Tuhan telah menghendaki jalan lain, tentu kita bisa melakukannya. Jika saat itu tiba, aku akan senang Kalian tetap berada di sampingku."


"Kita akan tetap bersama," Aria yang menjawab, "Jika suatu saat nanti Alice ingin berkeliling ke seluruh daratan di muka bumi, maka aku akan dengan senang hati membukakannya untukmu."


"Jangan lupakan kami," Aristia menyahut, "Kami juga ada di sini."


"Hah... ternyata benar Kalian di sini," suara Akilla terdengar muncul tiba-tiba dan mengomel, "Sudah saatnya turun. Aku tahu ini hari libur, tetapi kita masih memiliki banyak pekerjaan dan jadwal penting."


...***...


"Ssst! Ada yang datang," si Pewaris Gila mengahalangi jalan Lincoln saat hendak mencari jalan keluar dari gorong-gorong. Mereka baru saja selesai beristirahat di pengungsian. Menurut perhitungan si Pewaris Gila, harusnya di permukaan sudah terang sekarang.


"Tuan Muda Illumity, saya tahu Anda di sana," panggil sebuah suara menyibak kesunyian yang ada. Si Pewaris Gila menggertakkan giginya. Lincoln sampai tersentak saat mendengarnya.


"Dasar tidak sopan! Sudah kubilang jangan sebut nama itu lagi!" tiba-tiba si Pewaris Gila keluar dari tempat persembunyiannya. Melihat hal itu, Lincoln menyimpulkan bahwa orang yang membawa lentera cahaya itu adalah kenalan si Pewaris Gila.


"Tuan Muda Illumity? Berarti Kamu adalah anak penguasa kota sebelumnya," tanya Lincoln merasa mendapat hal bagus.


"Bukan! Aku bukan orang itu! Dia sudah mati," si Pewaris Gila dengan keras menyangkalnya. Jika cahaya menerpa wajahnya saat itu, pasti terlihat jelas wajahnya yang merah padam karena marah. "Kau! Apa yang Kau inginkan dariku? Tidak ada lagi yang tersisa. Cepat pergi!"


"Tenanglah, Tuan Muda," suara si Pembawa Lentera itu tenang penuh kewibawaan. Terdengar jelas bahwa ia sudah banyak melakukan suatu transaksi dan negosiasi. "Pemerintah sudah mengirim bantuan. Pasukan kerajaan akan sampai dalam beberapa hari."

__ADS_1


"Lantas apa hubungannya denganku? Tidak ada gunanya aku tahu. Cepat pergi!" usir si Pewaris Gila penuh kekesalan. Berbeda dengan Lincoln yang terdengar lega dari helaan napasnya.


"Tuntun saya menuju penjara bawah tanah Kota Marianna," si Pembawa Lentera itu pun langsung masuk pada intinya. Ia tahu bahwa si Pewaris Gila adalah orang yang keras kepala, tetapi bukan berarti ia orang yang mengabaikan rakyatnya. "Terserah Anda ingin mengambil tindakan apa nantinya. Pertama-tama, kita harus menyelamatkan pasukan Kota Marianna yang dikurung di bawah tanah."


"Lakukan saja sendiri! Sudah kubilang aku tidak akan ikut," si Pewaris Gila tak henti-hentinya berteriak. Ia memang tidak ingin berurusan dengan aristokrasi lagi.


"Apakah Anda tidak sadar seberapa kalutnya kondisi di atas?" si Pembawa Lentera itu kini bersuara dingin. Walau tetap tenang, suaranya penuh ketegasan. "Apakah Anda akan tetap berdiam walau sudah mengetahui faktanya."


"Diam! Aku tidak ingin mendengarnya," si Pewaris Gila menutup kuping dengan kedua tangannya. Ia menggeleng-geleng cepat seakan menolak sesuatu. Ia pun sampai berlutut di lantai.


"Permisi," Lincoln memutuskan untuk mengambil alih. Ia sudah sedikit mengerti kondisinya. Orang lusuh yang sejak kemarin bersamanya itu adalah pewaris sah keluarga yang menguasai kota ini. Sedangkan orang yang membawa lentera itu kemungkinan adalah abdi dalam atau orang yang berhubungan dengan pemerintah. "Dari mana Anda mendapat informasi itu? Apa mungkin gerbang sudah dibuka?"


"Mana mungkin? Karena ulahmu, pintu itu ditutup kemarin. Situasinya menjadi semakin runyam," si Pembawa Lentera itu terdengar mengomeli Lincoln. Yah, itu tidak salah. Karena identitasnya sebagai mata-mata kerajaan sudah terbongkar, penguasa kota yang baru tidak akan membiarkannya keluar.


"Ah, maaf," Lincoln sedikit menyesali perbuatannya. Apa boleh buat? Ia benar-benar tidak tega melihat seorang gadis teraniaya. Gadis itu sudah lari saat Lincoln dikejar. Semoga ia baik-baik saja.


"Sampai kapan Anda ingin berpura-pura gila seperti ini?" kali ini, nada bicara si Pembawa Lentera itu terdengar kesal. "Anda pikir, orang-orang di dalam sana dapat bertahan sampai kapan jika situasinya terus seperti ini."


Tidak ada jawaban. Hanya gelak tawa mengerikan yang tiba-tiba terdengar. Sepertinya, si Pewaris Gila itu benar-benar sudah gila. Maka, tidak ada gunanya lagi memaksanya.


"Semoga Anda sehat selalu," si Pembawa Lentera itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Yah, si Pewaris Gila memang tidak terlalu penting. Selama pasukan yang ditahan dapat dibebaskan, itu sudah cukup untuk sekarang. Misinya juga bukan untuk membuat orang itu merebut kota


"Tunggu! Kamu juga orang dari kerajaan, bukan?" Lincoln memutuskan untuk mengikuti orang itu. Penting untuk saling berbagi informasi. Kalaupun dia bukan dari kerajaan, toh mereka punya tujuan yang sama. Jadi, tidak akan sulit untuk bekerja sama nantinya.

__ADS_1


__ADS_2