
"Ayah, aku ingin ke tempat nenek di wilayah barat," ujar Alice di ruang kerja ayahnya sepulang dari Serikat Dagang Saville. Anna menunggu di luar. Ia duduk dengan tenang di taman sambil membaca laporan terbaru dari agen-agen di berbagai daerah. Di tangannya, kertas-kertas kosong bertumpuk sebagai kamuflase. Ia membaca laporan dengan gawai di lensa kontaknya.
"Ke tempat ibu suri? Tumben Kamu sendiri yang ingin ke sana," Duke vi Alverio meletakkan kertas-kertas yang digarapnya. Ia memandang Alice yang duduk di sofa.
"Ya, terakhir kali kami bertemu adalah dua bulan yang lalu, saat penobatanku sebagai Putri Mahkota el Vierum," Alice mengambil sebuah makaron yang disediakan untuknya. Ia pun mengatakan dengan jujur maksud kunjungannya, "Aku mau bertemu nenek dan meminta akses lebih di Istana Mutiara."
"Itu bukan hal yang mudah," Duke vi Alverio mengingatkan. Ia juga cukup khawatir dengan ambisi putrinya itu. Apalagi setelah gadis itu jatuh sakit kemarin. "Kamu tidak perlu memaksakan dirimu, Sayang. Kamu sudah sangat hebat berada di posisimu saat ini."
"Begitukah?" Alice tertunduk. Ia tahu perkataan ayahnya itu benar. Tidak baik untuknya jika terlalu serakah. Apa yang didapatnya saat ini sudah lebih dari cukup. "Tapi tetap ingin ke sana. Aku juga sudah mengajak teman-teman."
"Kalau Kamu hanya ingin mengunjungi nenekmu, maka itu tidak masalah," kali ini Duke vi Alverio menjawabnya sambil tetap mengurus dokumen, "Akan tetapi, apa Kamu tidak ingin menunggu kepulangan baginda raja?"
"Tidak perlu, lagi pula jadwal kepulangannya masih belum pasti," jawab Alice enteng, "Aku akan berangkat akhir minggu ini."
"Yah, itu memang tidak masalah," Duke vi Alverio tersenyum simpul lalu terbatuk. Alice spontan menoleh. Ia pun mendekati ayahnya dan menanyakan kondisinya.
"Ayah baik-baik saja, Alice," Duke vi Alverio mengelus rambut putrinya, "Kamu tidak perlu khawatir."
"Tidak! Ayah harus istirahat. Mengapa paman sangat jahat sampai memberikan tugas menumpuk seperti ini pada ayah?" seru Alice. Jari-jemari mungilnya meraih tangan keras Duke vi Alverio. Ia menariknya untuk pergi dari meja kerja. "Ayah harus istirahat dulu. Ayah bilang jangan memaksakan diri."
__ADS_1
"Ayah bilang tidak apa-apa," Duke vi Alverio menghela napas. Ia menarik Alice ke pangkuannya. Cara itu ia tiru dari sang istri saat gadis kecilnya mulai mencari perhatian. "Kalau begitu, Kamu temani saja ayah bekerja."
"Hari sudah petang? Apa ayah tidak lelah?" tanya Alice lirih. Ia mengamati gunungan perkamen yang digulung di atas meja. Ada juga tumpukan kertas yang tertata rapi. Alice meraih salah satu kertas yang membuatnya penasaran. Sebelum Duke vi Alverio memintanya kembali, Alice lebih dulu bertanya, "Ayah, mengapa Ayah bekerja sekeras ini?"
"Hm? Karena ayah merupakan seorang pemimpin," jawab Duke vi Alverio penuh pengertian. Ia tidak jadi meminta dokumen yang diambil Alice karena ia tahu kertas itu akan tetap aman di tangan anak gadisnya. "Alice juga sudah merasakannya, bukan? Pemimpin itu mengemban tugas yang besar."
"Aku tahu," potong Alice, "Ayah hanya ingin melakukan yang terbaik. Aku juga ingin melakukan yang terbaik. Karena itu, tidak apa kan kalau aku meminta lebih pada nenek nanti?"
"Ayah tidak akan melarangmu kalau Kamu bersikeras begitu," Duke vi Alverio menstempel dokumen yang baru saja ia selesaikan. "Ibu suri pasti akan memberimu ujian yang berat sebelum mengizinkanmu menggunakan akses lebih Istana Mutiara."
"Hm? Bagaimana ujian yang dijalani ibunda dahulu?" Alice jadi penasaran. Ibunya menjadi Penguasa Kota Marianna sejak sebelum menikah. Tepatnya, setelah menghilangnya Sang Putri Srikandi, Elianna el Vierum. Alice bahkan sudah lebih cepat lagi. Ia mengambil kunci Istana Mutiara saat masih belia, tepatnya dua tahun yang lalu.
Alice memang sudah pernah melakukan ujian itu, tapi masih yang tingkat dasar dan itu sudah sangat sulit. Menurut sepengetahuannya, ibunya mengambil ujian sampai di tahap kedua, sedangkan bibinya sampai ditahap ketiga. Tahap terakhir yang memungkinkannya menggerakkan pasukan dan berpotensi menjadi ratu masa depan.
"Ayah, aku pulang dulu," kata Alice begitu melihat mentari yang semakin dekat dengan peraduannya. Duke vi Alverio mengangguk. Ia menurunkan putrinya dan mengantarkannya sampai ke pintu. Anna sudah menunggu di depan sana.
...***...
"Alice, akhirnya Kamu datang," sambut Aristia senang, "Apa benar kita akan melakukan perjalanan ke wilayah barat?"
__ADS_1
Alice mengangguk. Dilihatnya para gadis cendekia sedang berdiskusi. Mereka terlihat amat bersemangat. Apalagi Akilla dan Aristia. Mainne terlihat menahan diri untuk memperlihatkan kesenangannya. Rosemary menunjukkan sikap yang dewasa, sedangkan Aria selalu tenang seperti biasa.
"Kita sudah mendapatkan izin dari akademi," Sarjana Florence yang selama ini membantu Anna mengayomi anak-anak gadis itu masuk bergabung dalam obrolan. Ia membawakan alat minum dan camilan. "Aku jadi ikut senang karena mendapat bonus libur."
"Ya, itu benar!" seru Aristia mendukung.
"Tapi kita ke wilayah Utara bukan hanya untuk berlibur," Rosemary menunjukkan jadwal yang disusunnya bersama Anna, "Kita akan mengunjungi beberapa wilayah bangsawan dan mengamati kondisi di sana."
"Benar, dalam perjalanan nanti, Kalian harus bisa mengambil banyak pelajaran," sambung Anna. Ia menyeduhkan teh di gelas-gelas yang sudah disusun Sarjana Florence.
"Apa nanti kita akan mengunjungi wilayahku?" Aristia bertanya antusias. Wilayahnya berada dalam jalur ke wilayah barat.
"Ya, kita akan mengunjungi wilayah Tia, Aria, dan yang pasti Akilla," Sarjana Florence menjelaskan. Rosemary dan Anna mengangguk. "Ini bisa jadi kesempatan untuk melepas rindu dengan keluarga Kalian."
"Aku tidak sabar menantikannya," Aristia mengambil tehnya dan juga sebuah kue bolu cokelat yang lembut. Ia sangat suka kue bolu. Dinikmatinya cemilan itu dengan lahap dengan tetap memperhatikan etika makan. Yaitu mengambil yang terdekat.
"Aku juga membawa kabar gembira lainnya," Alice mulai ikut bersuara, "Terkhusus untuk Mainne."
Semua orang terdiam. Apalagi Mainne yang tiba-tiba namanya disebut. Ia memosisikan dirinya untuk mendengarkan Alice dengan seksama.
__ADS_1
"Mulai hari ini, ia dan keluarganya dianugrahi gelar kebangsawanan," kata Alice membuat Mainne terkejut. Aristia dan Aria menunjukkan wajah semringah mengisyaratkan ucapan selamat mereka. Akilla dan Rosemary tersenyum memberi sikap hormat untuknya. "Keluarga Hamra telah memberi kontribusi besar dalam pembebasan Kota Marianna. Ayah Mainne ditunjuk sebagai penguasa baru kota itu menggantikan mantan Viscount Illumity dengan gelar baron."
"Selamat, Mainne," ucap Sarjana Florence dengan senyum yang tulus. Orang-orang yang tinggal di Istana Mutiara tidak pernah memandang status. Lebih tepatnya, mereka yang dapat masuk ke Istana Mutiara adalah orang-orang toleran yang memiliki pemikiran terbuka. Karena itu, selama lima generasi gadis cendekia, tidak sedikit rakyat biasa yang masuk ke sana. Mereka bahkan menjadi orang-orang yang hebat di ranahnya masing-masing.