Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Dua Sisi yang Mulai Bersiap


__ADS_3

"Kakak, ayo cepat," teriak Charlotte mendesak. Dia berdiri di depan sebuah kereta kuda beremblem Keluarga de Vool. Emblem itu berbentuk bunga salju. County de Vool berada di wilayah utara yang dingin. Jadi, itu menjadi ciri khas mereka. "Jangan sampai kita melewatkan Festival Panen Raya."


"Huah...," Nana menguap lebar. Matanya masih belum terbuka sempurna. Rambutnya yang runcing juga sangat berantakan. Dia baru saja bangun.


"Kakak!" bentak Charlotte sambil berkacak pinggang. Tidak ada yang berani melakukan itu salain dirinya. Siapa yang berani membuat masalah dengan penyihir kerajaan?


"Aku datang," jawab Nana lirih. Melissa yang mengantar sampai gerbang menatap sebal. Dia mendorong sahabatnya itu dengan sengaja.


"Aduh!? Melly! Apa yang Kamu lakukan?" protes Nana yang tersungkur di tanah. Charlotte menahan tawa. Melissa membalas tatapan tajam Nana yang melotot padanya. Para pelayan yang ada di situ hanya bisa terdiam. Tidak ingin ikut campur dalam masalah merepotkan para penyihir.


Para penyihir lain yang ikut mengantar sampai gerbang bersiaga untuk kemungkinan terburuk. Nana dan Melissa bisa jadi bertikai dan membuat masalah. Dulu, mansion atau yang lebih tepat disebut asrama gadis penyihir itu pernah porak poranda gara-gara ulah mereka. Mereka sangat suka membuat masalah karena hal sepele, tapi itu mulai jarang terjadi sejak Charlotte yang ahli sihir penenang datang.


"Apa Kamu tidak melihat Lottie sudah menunggu sejak tadi?" jawab Melissa, "Cepat pergi!"


"Kamu mengusirku, hah?" balas Nana tidak terima dengan cara Melissa mengantarnya. Ia sudah berdiri dengan kuda-kuda siap bertarung. Mananya mulai meluap. Ia bisa menggunakannya kapan saja.


Madam Amiru, kepala pengasuh asrama itu melirik Charlotte yang masih terdiam memperhatikan. Di saat seperti ini, gadis paling kecil itu yang dapat diandalkan untuk menghindari kerugian.


Mata Charlotte pun saling bertemu pandang dengan Madam Amiru. Ia mengerti maksud tatapan wanita berkeriput itu, tapi ia masih ingin menonton keseruan dua kakak didiknya.


"Aku hanya ingin Kamu cepat pergi," Melissa sama sekali tidak menyembunyikan maksudnya. Ia menghunuskan dua bilah belati sepanjang 50 senti. Mana mengalir di tiap bilah belati itu.


Nana mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia merapal mantra dengan sangat cepat. Melissa sudah siap menghindar. Matanya awas mengamati sekitar.


Plop!

__ADS_1


Charlotte lebih dulu menyelesaikan mantranya. Nana dan Melissa menjadi tenang walau mantra yang mereka gunakan masih aktif. Bola-bola oranye di tangan Nana hampir sempurna dan dapat meledak kapan saja, sedangkan belati Melissa nyaris terbang saat mantra Charlotte mengenainya.


"Ayolah, Kakak-kakak," suara cempreng Charlotte mencuri perhatian semua orang, "Aku hampir terlambat. Kak Nana, aku akan meninggalkanmu kalau tidak bergegas."


Bola-bola oranye di tangan Nana pun menyusut dan kemudian menghilang. Belati Melissa juga sudah disarungkan. Orang-orang bernapas lega sebab tak ada hal buruk yang terjadi. Mereka memandang Charlotte seperti malaikat yang turun dari langit. Sihir penenang itu juga mengenai mereka.


"Eh, ya? Aku datang," Nana segera menghampiri kereta kuda Keluarga de Vool. Melissa hanya terdiam menatap sahabatnya pergi. Ia tidak jadi memberi salam perpisahan yang seru.


"Dadah...," Charlotte melambai-lambaikan tangannya keluar jendela saat kereta kuda berangkat. Senyum malaikat tersungging di bibirnya. Orang-orang di mansion Menara Penyihir membalas lambaian itu. Mereka akan merindukan peri kecil mereka.


"Huah...," Nana kembali menguap bersamaan dengan kesadarannya yang mulai menipis. Padahal matanya sudah terbuka lebar saat hampir berduel dengan Melissa tadi. Charlotte pun memandangnya dengan sebal.


"Kita bahkan belum keluar gerbang ibu kota," omel Charlotte, tangannya bersedekap, "Sebenarnya, selarut apa Kakak tidur semalam?"


"Sangat larut. Mungkin tengah malam lebih," Nana mengedip-ngedipkan matanya, "Melissa tidak mengizinkanku untuk tidur."


"Ada yang harus dipersiapkan," Nana menjawabnya dengan keadaan setengah sadar, "Hal itu sangat penting."


Charlotte penasaran. Ia ingin tahu lebih dalam. Bisa saja ia menggunakan sihirnya untuk itu, tapi ia tidak ingin melakukannya pada Nana.


"Gadis itu harus...," perkataan Nana terpotong. Matanya tertutup sempurna. Mulutnya terlihat masih komat-kamit seakan menyelesaikan kata-katanya, tapi tidak terdengar apa-apa. Ia sudah kembali tertidur rupanya. Tepat saat kereta kuda keluar gerbang ibu kota.


"Gadis? Siapa?" Charlotte semakin penasaran. Mungkinkah dirinya? Tidak! Kedua kakaknya tidak pernah menyebut dirinya seperti itu.


"Mungkinkah Tuan Putri Mah...," Charlotte menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak berani memikirkan sampai ke situ, tapi ada rasa khawatir sekaligus curiga dalam hatinya. Ia menatap tak percaya Nana yang tertidur pulas.

__ADS_1


...***...


Duchy vi Alverio, Kastil Keluarga vi Alverio


"Alice sudah sampai di rumah nenek dengan selamat, ya?" Derrick membaca kertas surat yang diterimanya. Wajahnya seakan tidak berekspresi, tapi tatapannya itu mengandung perhatian seorang kakak yang hangat. "Syukurlah kalau begitu. Dia pasti bersenang-senang di sana. Apa yang akan dilakukannya jika mendengar rumor tentang bocah ingusan itu?"


Sama seperti Marchioness van Ryvat, Duke Muda vi Alverio juga selalu mendapat kabar terbaru tentang ibu kota. Di usianya yang ke lima belas tahun, ia sudah membangun jaringan intelijennya sendiri. Pemuda berambut biru malam itu selalu mengawasi perkembangan politik di ibu kota.


"Apa yang akan Kamu lakukan, Alice?" Derrick meremas surat di tangannya saat mengingat Antonio. Sedari awal, ia tidak menyukai pertunangan adiknya yang terlalu dini. Akan tetapi, kepala keluarga tetaplah ayah. Ia hanyalah wali diurutan kedua sejak kakeknya meninggal. Otoritasnya dalam perwalian tidak sebesar ayahnya.


"Hans, ambilkan kertas dan pena!" kata Derrick begitu melihat meja bacanya bersih. Di lacinya hanya ada kertas dokumen-dokumen penting. Pada rak di dekatnya hanya ada gulungan-gulungan perkamen lama.


Setelah ajudan pribadinya itu memberi yang ia minta, ia segera menulis sesuatu di atasnya. Penanya menari-nari dengan lincah. Dalam waktu yang singkat, ia sudah menulis sepucuk surat untuk sepupunya.


Derrick pun membubuhkan cap lilin pribadinya pada surat itu. Bentuknya berbeda dari cap Keluarga vi Alverio yang beremblem kepala harimau. Itu adalah cap tulisan namanya dengan kaligrafi kuno.


Ia menulis surat lagi. Kali ini untuk bibi ratunya, kemudian ayahnya. Keheningan meliputi sekitarnya. Sinar mentari menembus masuk jendela ruang bacanya, menemaninya yang sendirian.


Surat terakhir yang ia tulis adalah untuk adiknya yang beralamatkan Istana Mutiara. Isinya menegaskan dukungan Keluarga vi Alverio untuk Putri Mahkota el Vierum, apa pun keputusannya. Sama seperti sebelumnya.


"Kirimkan semuanya dengan pos Serikat Dagang Saville," Derrick menyerahkan setumpuk surat yang ditulisnya kepada Hans, "Aku ingin surat-surat itu sampai secepatnya."


"Baik, Tuan," Hans memberi hormat.


Derrick berpikir untuk mulai menghimpun kekuatan. Perbuatan Antonio yang bisa dibilang tidak tahu malu itu dapat menjadi sasaran bagi para penjilat negeri ini. Sangat mungkin ia dijadikan raja boneka suatu saat nanti. Sebagai kerabat dekatnya, Derrick harus memanfaatkan kondisi sepupunya itu dengan baik demi menyingkirkan parasit-parasit yang bersembunyi dalam tubuh Kerajaan el Vierum.

__ADS_1


"Hah... ini memang masih spekulasi," Derrick mengetuk-ngetukkan penanya ke meja, "Aku harap dia bisa menjadi pria yang bertanggung jawab di masa depan. Aku tidak akan memaafkannya jika ia berani menyakiti atau mengecewakan Putri Keluarga vi Alverio."


Saat Hans kembali, ia datang dengan membawa tumpukan surat lainnya. Derrick menatap surat-surat itu dengan malas. Ia sudah bisa menebak apa isinya. Surat-surat itu adalah kiriman dari beberapa keluarga bangsawan ternama. Sebagian lagi adalah surat dari nona-nona bangsawan yang bahkan tidak dikenalnya~atau mungkin dilupakannya~ sama sekali.


__ADS_2