
Di hari kedua, tepatnya setelah para gadis cendekia sarapan pagi, Countess de Ernest mengajak para gadis untuk mengunjungi peternakan kuda militer yang dikelola Keluarga de Ernest. Peternakan itu sangat luas. Ada arena pacuan kuda juga di sana.
"Ada ratusan kuda militer di tempat ini," jelas Countess de Ernest, "Apa Kalian mau mencobanya?"
"Eh? Bolehkah?" seperti biasa Aristia bersemangat. Countess de Ernest menjawab riang, "Tentu."
"Kalo begitu, saya akan mencobanya," Rosemary menerima.
"Aku belum bisa naik kuda," ucap Mainne khawatir.
"Aku juga," Akilla memberi jawaban serupa.
"Tenang saja. Kalian dapat mulai belajar untuk menaikinya dulu," Countess de Ernest maklum. Para gadis bangsawan memang tidak diwajibkan dapat mengendarai kuda, tapi mereka adalah gadis cendekia. Jadi, Countess de Ernest akan secara langsung mengajari mereka. "Bagaimana dengan Tuan Putri?"
"Aku juga akan mencobanya," Alice memang pernah belajar berkuda, tapi kemampuannya masih belum seberapa.
"Siapkan kuda yang tepat untuk para putri," titah Countess de Ernest. Seorang pesuruh segera bergegas pergi melaksanakan perintahnya. "Aria, ajak teman-temanmu untuk berganti pakaian dulu."
"Baik, Ibunda," jawab Aria singkat. Sifatnya yang hemat bicara selalu membuat Countess de Ernest teringat dengan suaminya yang dingin, tapi itulah yang menjadi daya tariknya. Countess de Ernest merasakan kemenangan besar saat dapat menikah dan mendapat perhatian dari suaminya yang mirip gunung es itu.
Aria mengajak kawan-kawannya ke sebuah paviliun yang ada di dekat peternakan. Para pelayan menunjukkan berbagai model pakaian berkuda untuk para gadis cendekia. Ada banyak jenisnya.
Alice memilih baju kemeja berwarna biru muda. Celananya terlihat besar mengembang, tapi tetap pas dipakainya. Sabuk abu keperakan menghias di pinggangnya.
__ADS_1
Akilla mengenakan model yang tak jauh berbeda dengan sepupunya. Kerudung yang selalu ia pakai dililitkannya dengan rapi. Ia takut-takut menyentuh kuda yang disiapkan untuknya.
"Ayo," Aria sudah menunggang di atas kuda kesayangannya. Kuda itu terlihat akrab dengannya. Dia dengan patuh dan gagah mengikuti perintah Aria.
"Naik pelan-pelan, Nona Akilla, Nona Mainne, juga Tuan Putri," Countess de Ernest menuntun Akilla untuk naik. Ia juga menemaninya duduk di atas kuda itu, tapi Akilla masih belum dapat menghilangkan ketakutannya.
Florence menemani Mainne. Gadis yang baru menjadi bangsawan itu tak jauh berbeda dengan Akilla. Alice dibantu oleh Anna. Ia sudah berani menunggang sendiri, tapi masih harus berhati-hati.
"Anda baik-baik saja, kan, Tuan Putri?" Anna memastikan. Alice mengangguk. Ia dapat mengatasinya dengan baik.
"Nona Aristia, bagaimana dengan Anda?" Countess de Ernest menoleh ke gadis berambut pirang itu. Aristia mengangguk singkat. Wajahnya tersenyum penuh optimisme. Ia tidak ingin kalah dengan Aria yang terlihat amat gagah seperti seorang kesatria.
"Aria, pimpin jalannya," Countess de Ernest menunjuk putrinya. Ia berkuda dengan Akilla sekarang. Jadi, ia akan lebih fokus pada gadis berkerudung itu.
"Hm," Aria mengangguk. Ia pun memacu kudanya dan berjalan di depan. Rambut peraknya yang dibiarkan tergerai melambai-lambai bersama angin. Jika sebilah pedang dan panah di pasangkan padanya, ia akan terlihat seperti gadis kesatria yang keren.
"Kamu baik-baik saja, Nona Mainne?" Florence memperhatikan gadis yang duduk di depannya. Tubuhnya gemetaran. Ia terlihat berusaha berpegangan dengan erat.
"Sa... saya baik-baik saja, Madam," jawab Mainne terbata. Tubuhnya masih gemetaran. Apalagi saat kuda mulai berjalan.
Aria dapat berkuda dengan sangat baik. Ia memimpin kawan-kawannya untuk keluar dari peternakan menuju ke fief yang dikelola Keluarga de Ernest. Sebelum keluar, Aria meminta panah kepada ibunya. Mereka berencana pergi berburu dengan ditemani beberapa kesatria dari County de Ernest dan Istana Mutiara.
"Alice, Keluarga de Ernest adalah kerabat Keluarga van Ryvat juga," kata Aria sambil menarik anak panahnya dengan kuat. Seekor kelinci gemuk terlihat duduk terdiam tak jauh darinya. Dalam sekali tarikan napas, Aria melepaskan anak panahnya hingga meluncur tepat mengenai badan kelinci yang diincarnya. "Kita adalah sepupu. Keluarga de Ernest akan selalu berdiri mendukung Istana Mutiara. Jangan takut karena Kamu tidak akan sendirian."
__ADS_1
"Ya, terima kasih," Alice menatap kelinci yang berlumuran darah itu tanpa takut. Ia merasa sahabatnya yang berambut perak itu tengah menghiburnya. Yah, menghibur dirinya yang entah sejak kapan mulai gelisah. Tidak terus-menerus memang. Kadang muncul kadang hilang.
Alice tak mengerti apa itu. Pikirannya sepanjang pagi ini terpaut pada masalah yang mungkin terjadi di masa depan. Konflik perebutan takhta itu sangat mungkin terjadi jika hubungannya dengan Antonio benar-benar terputus. Ia tidak ingin mengalami itu. Bahkan walau ia memiliki kekuatan yang setara dengan Sang Putri Srikandi, Putri Elianna el Vierum.
"Alice, jangan terlalu memikirkan hal yang belum pasti," tambah Aria. Ia baru saja menyuruh seorang pelayan untuk mengurus buruannya. Ia pun menepuk pundak Alice. "Itu hanya akan menjadi beban yang tak berguna bagimu."
"Aku tahu," Alice tertunduk. Ia tidak benar-benar ingin memikirkan hal buruk itu. Saat pikirannya hampir kembali ke sana, Aria menariknya dan berkata, "Lihatlah gunung-gunung itu!" Aria menunjuk pegunungan Kaskas yang berderet memanjang dari timur ke barat. "Bukankah kita akan berpetualang suatu saat nanti. Pasti akan ada masalah yang menghampiri. Kita akan menghadapi masalah itu bersama."
Saat bersama Alice, Aria seakan dapat mengekspresikan setiap pikirannya. Ia tidak benar-benar pendiam seperti yang dikira oleh orang-orang. Hanya saja, frekuensi hatinya tak dapat terpaut dengan sembarangan orang.
...***...
"Bocah itu tidak lagi mengejar adik kecil kita," gumam Melissa saat mengamati Charlotte yang sedang fokus pada penelitiannya. Nana menoleh. Ia pun ikut mengamati peri dari Menara Penyihir itu.
"Benar, apakah dia sudah menyerah?" ucap Nana kemudian.
"Mana mungkin. Ini pasti pengaruh dari Baginda Ratu," sanggah Melissa. Ia sudah menggunakan beberapa sihir pada Putra Mahkota el Vierum. Harusnya sihir itu bisa bekerja. "Ngomong-ngomong, bagaimana prosesnya?"
"Semua berjalan lancar," Nana menyeringai. Ia merogoh sesuatu di saku jubahnya. Sebuah botol kecil berisi cairan bening tampak di genggamannya. "Tidak ada yang curiga. Racun itu akan berefek pada bulan purnama kedua."
"Apakah orang kita dapat melakukan tugasnya dengan baik," Melissa berbisik ragu, "Ramuan itu harus dikonsumsi secara rutin."
"Sudah kubilang, semuanya berjalan lancar," kata Nana optimis. Ia menatap botol kecil di genggamannya, "Henrietta yang seteliti itu pun tidak menyadarinya. Jadi, berhentilah khawatir."
__ADS_1
"Nana, aku tidak yakin cara ini akan berhasil," kekhawatiran Melissa sama sekali tidak berkurang, "Bagaimana jika bocah itu tetap tidak melirik Lottie untuk selamanya?"
"Itu tidak akan terjadi," Nana pun tak kehilangan optimismenya, "Lagi pula, ada banyak cara lain. Ini hanyalah permulaan. Masih ada banyak waktu sampai beberapa tahun ke depan."