Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Keluhan Warga Aurelis


__ADS_3

"Tuan Putri, tolong beri keadilan pada kami," seru seorang nenek tua bersuara parau. Orang-orang di sekitarnya menyahut. Mereka meminta hal yang sama.


"Benar! Beri keadilan kepada kami. Para bangsawan itu telah membuat kami menderita," seorang pria yang kelihatan berusia kepala lima berteriak lantang. Orang-orang ramai berkumpul di sebuah auditorium pusat kota. Mereka telah berdatangan sejak pagi. Kebanyakan mengadu hal yang sama.


"Mereka sangat banyak. Bagaimana mana ini?" ucap Mainne cemas. Alice dan para gadis cendekia duduk di balik hijab yang membatasi pandangan para penduduk kota. Itu adalah protokol yang dibuat Duchess Evianna saat mendengar langsung keluhan warganya.


"Madam, tolong suruh komandan kesatria untuk membuat mereka tertib," pinta Alice pada Anna, "Aku tidak akan bisa mendengar mereka jika berisiknya seperti ini."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia," balas Anna dengan formal. Ia pun keluar dari hijab dan menyampaikan pesan Alice kepada seorang pria berzirah lengkap yang sejak tadi menunggu perintah. Dengan satu titah Alice, pria itu pun berteriak lantang sehingga seluruh warga yang berkumpul di auditorium terdiam.


"Bersabarlah dan mengantre dengan rapi. Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum akan mendengar keluhan Kalian satu per satu," jelas komandan kesatria. Ia pun menambah keterangan, "Jika Kalian terus berisik seperti tadi, keluhan Kalian justru tidak akan terdengar jelas oleh tuan putri."


Pos-pos antrean pun dibuka. Hari itu, seluruh penduduk kota libur dari pekerjaannya. Ada yang sangat ingin mengeluh. Ada juga yang hanya berniat mengamati dari dekat. Peninjauan langsung Putri Mahkota el Vierum adalah hal yang jarang. Yah, walaupun pada kasus kali ini, peninjauan itu tidak sengaja.


"Tuan Putri, aku sudah ditipu. Bunga pada utangku terus bertambah. Ladangku dirusak dan rumahku dirampas," keluh seorang pria berpakaian dekil yang mendapat kesempatan untuk datang langsung pada Alice, "Mereka bahkan berniat mengambil putriku sebagai budak."


"Kami sudah mendengar dan mencatat keluhanmu. Kamu akan mendapat keadilan yang sebenar-benarnya. Kamu bisa undur diri sekarang," kata Alice dari balik hijab. Ia duduk bersama Mainne dan Akilla sebagai sekretaris. Anna di sampingnya sebagai penasihat.


Sementara itu, Rosemary, Aristia, dan Aria berada di hijab yang lain. Florence mendampingi mereka dalam melaksanakan tugas. Dua kesatria ditempatkan di luar setiap hijab untuk berjaga-jaga.


Suara di luar amat ramai walaupun tidak segaduh tadi. Orang-orang di auditorium sangat aktif bertukar cerita nasib dan kemalangan. Mereka menyimpan dendam yang begitu dalam kepada para bangsawan Kota Aurelis.


"Tuan muda dari kediaman penguasa itu suka berkeliaran. Banyak wanita jadi korbannya, tapi ia tetap tidak dipenjara walaupun sudah banyak saksi didatangkan," cerita salah seorang warga. Seorang kesatria pun datang dan seketika membuat mereka terdiam. Wajah garang kesatria itu mengerikan. Orang-orang yang mengamati berpikir bahwa akan segera terjadi keributan.


"Siapa nama brengsek yang tidak tahu diri itu?" tanya si kesatria dengan suara yang besar. Orang yang ditanya malah membisu. Si kesatria pun kembali bertanya, "Kutanya, siapa nama tuan muda yang kurang ajar itu? Beraninya dia mengotori nama bangsawan. Biar kihajar dia."

__ADS_1


"Tom, Kamu membuatnya takut. Apa Kamu belum sadar? Wajahnya itu selalu terlihat marah," ledek seorang kesatria yang bersikap lebih supel. Ia pun menanyakan hal yang sama dengan lebih santai. Mereka jadi lebih akrab satu sama lain.


"Kebanyakan masalah para warga berawal dari uang. Para rentenir itu sungguh jahat. Beraninya mereka merampas hak orang lain dengan paksa," omel Akilla. Ia sebal sebab kertas aduan yang ada ditangannya penuh dengan masalah hutang. Mainne mengangguk setuju.


"Para rentenir itu memanfaatkan sistem bunga pada pinjaman," jelas Anna, "Praktek ini adalah riba. Itu suatu hal yang sangat dilarang untuk kita."


"Mereka benar-benar licik. Bunga yang diberikan seolah kecil, tapi sebenarnya sangat besar," Alice memberi pendapatnya, "Bunga satu persen per hari, heh? Hanya orang tak berpendidikan yang tergoda olehnya."


"Semua cabang masalah itu pada akhirnya kembali ke Keluarga Baron Puliu. Mereka dapat secara tiba-tiba mendominasi pasar sejak 5 tahun yang lalu," Akilla membacakan hasil penyelidikannya, "Karena itu, sejak Serikat Dagang Saville membuka cabangnya di sini. Mereka merasa sangat dirugikan."


"Mengapa mereka cemas dengan kedatangan Serikat Dagang Saville?" Mainne merapikan kertas yang diurusnya lalu menoleh.


"Serikat Dagang Saville menawarkan kerja sama yang sehat. Mereka tidak memberi bunga ataupun sejenisnya sehingga orang-orang pun cenderung padanya," terang Anna, "Karena para pembuat ulah tak dapat berurusan langsung dengan serikat besar seperti Serikat Dagang Saville, mereka pun mengusik orang-orang kecil yang dapat mereka raih."


"Seperti kakek tua hari itu?" Mainne memastikan tebakannya.


"Balai Pengawas Wilayah cabang Aurelis berani-beraninya memalsukan laporan selam ini. Hanya demi seonggok emas tak berguna, mereka menggadaikan amanahnya," gumam Alice sebal. Ia sudah menggeledah Balai Pengawas Wilayah kemarin sore. Banyak sekali bukti transaksi mencurigakan di sana.


"Anda tidak perlu terlalu memikirkannya, Tuan Putri," Anna melihat Alice yang sudah jelas mulai kelelahan, "Sekarang, mohon istirahat terlebih dahulu."


"Benar, Matahari sudah di atas kepala, ayo kita istirahat dulu," Akilla mendukung permintaan Anna sebelum Alice menolaknya.


"Baiklah," Alice pun setuju. Berkas-berkas segera dibereskan. Mainne berinisiatif untuk membawanya. Kebetulan Rosemary dan lainnya juga mengajak beristirahat saat itu.


Suara-suara berisik di luar masih terdengar. Kedengarannya seperti dengungan para lebah di sekitar sarangnya. Seruan dari komandan kesatria pun membuat suasana seketika hening. Waktu rehat diumumkan sehingga membuat beberapa orang kecewa.

__ADS_1


"Tuan putri juga butuh istirahat. Tolong bersabarlah dan menunggu giliran masing-masing. Kami akan kembali buka besok jika hari ini masih belum selesai juga," komandan kesatria mengumumkan.


Walaupun masih menyimpan kecewa, penduduk Kota Aurelis tetap mengikutinya. Sebagian dari mereka pun bubar, sebagian lagi memutuskan untuk tetap menunggu agar bisa mendapat antrean terdepan di sesi berikutnya.


"Ini sangat melelahkan. Tanganku sangat pegal seharian ini," keluh Aristia. Rosemary pun menepuk pundaknya. "Kamu boleh istirahat jika mau."


"Apa Kamu juga ingin istirahat?" tanya Aristia dengan kemilau harap di wajahnya.


"Aku akan tetap mengerjakan tugasku," tegas Rosemary dengan nada sedikit menyindir. Kemilau di wajah Aristia pun sirna digantikan dengan wajah lesunya yang kelelahan.


"Aku akan menemanimu," Akilla meniupkan angin segar lalu menoleh kepada Alice, "Boleh, kan?"


"Silakan saja. Aku tidak akan memaksa Kalian lebih keras," Alice mempersilakan. Sekejap kemudian, ia merasakan hawa yang tidak mengenakkan. Matanya pun tajam menyapu langit-langit ruang peristirahatan. Kosong. Tak ada apa pun di sana.


"Mungkin hanya perasaanku saja," Alice menghela napas. Para pelayan berdatangan membawakan makan siang. Belum sampai mereka di meja saji, suasana mencekam kembali membelai Alice.


"Akh!" Mainne menutup mulutnya. Matanya terbelalak seperti seorang yang sangat terkejut. Aria yang berada di sampingnya pun langsung bergerak.


"Mainne apa yang terjadi?" kata Aria panik. Perhatian orang-orang segera tertuju padanya. Para pelayan yang mengantar makanan berhenti di tempat. Seakan ada sesuatu yang menahan mereka.


"A ...," Mainne terus menutup mulutnya. Napasnya tampak tidak teratur. Anna langsung mendekat untuk memeriksanya.


"Mainne, ada apa?" tanya Anna cemas. Gadis yang ditanya itu seperti menahan sesuatu. Sekejap kemudian, cairan merah merembes dari sela-sela tangan Mainne yang menutupi mulutnya. Tanpa diberi tahu sekalipun, semua orang tahu bahwa itu adalah darah.


"Mainne!" seru Alice dan para gadis cendekia saat melihat Mainne tiba-tiba pingsan. Telapak tangannya merah oleh darah. Hidung dan mulutnya juga.

__ADS_1


"Panggilkan tabib! Cepat! Siapa pun panggilkan tabib!" seru Anna yang menahan Mainne di pelukannya. Seakan baru tersadar, para pelayan pun segera bergerak kembali.


Alice mengisyaratkan agar makanan ditarik terlebih dahulu. Rosemary pun meminta pelayan yang lain untuk menyiapkan tempat tidur yang nyaman. Para gadis cendekia sangat terkejut masalah yang terjadi itu.


__ADS_2