Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Pertikaian di Pusat Kota


__ADS_3

Kota Coulmer, Wilayah Kekuasaan Count de Clarence


"Beraninya Kamu menghina sesembahan kami!" suara teriakan seorang penduduk terdengar sampai tempat Alice dan para gadis cendekia beristirahat di sebuah kafe. Terlihat dua orang yang sedang berdebat di jalanan. Orang-orang di sekitarnya pun segera mengerubunginya.


"Aku hanya bertanya, apa yang Kalian dapat dari patung-patung itu?" seorang pemuda berpakaian rapi membalas teriakan itu dengan tegas. Di hadapannya, seorang pria paruh baya berjubah khas Kuil Suci tampak geram.


"Padahal Kalian membuatnya sendiri, mengapa Kalian menyembahnya?" lanjut pemuda itu tak gentar. Orang-orang mulai berbisik-bisik. Ada mengasihani pemuda itu, ada yang mencelanya, ada juga yang merenungi perkataannya.


"Jangan sembarangan bicara. Mereka adalah artefak suci yang menghubungkan kami dengan Tuhan," jelas pria berjubah Kuil Suci, "Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkannya sejak kecil, Bocah?"


"Apa Kalian bodoh? Bagaimana Kalian berpikir terhadap Tuhan?" si pemuda menolak pernyataan lawannya, "Apa Kalian pikir Tuhan itu jauh sampai membutuhkan perantara yang dibuat dengan tangan Kalian sendiri? Apa Kalian pikir Tuhan itu tuli sampai tak mendengar ibadah-ibadah dan doa-doa yang Kalian panjatkan?"


"Bocah, Kamu pasti penganut ajaran sesat," tuding pria paruh baya, "Kamu orang kafir yang tidak beriman pada Tuhan."


"Bagaimana Kamu menuduhku orang yang sesat sedangkan aku beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa?," balas si pemuda. Matanya menatap tajam tanpa ada ketakutan. Ia berdiri tegap di hadapan orang-orang yang mengerubunginya. "Bagaimana bisa Kalian menjadi Sang Rasul sebagai anak Tuhan sedangkan Sang Rasul telah mengajak kita untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa."


"Bocah!" tubuh pria itu bergetar. Ia ingin membalas pertanyaan pemuda itu, tapi tak ada yang dapat dikatakannya. Demi menjaga kehormatannya, ia semakin keras menuding, "Kamu dari aliran sesat. Pergi dari sini sebelum Kuil Suci bertindak."


"Aku tidak takut dan tidak akan pergi," si pemuda bersikukuh, "Aku hanya ingin memperingatkan Kalian untuk kembali pada jalan yang lurus. Jalannya para nabi dan rasul, yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya."


"Siapa orang itu, Bibi?" Rosemary akhirnya bertanya saking penasarannya.

__ADS_1


"Dia pasti pengikut yang tersisa dari para Arisian," jawab Countess de Clarence. Sebenarnya Kuil Suci sudah berkali-kali meminta kerja sama dengan Keluarga de Clarence untuk mengusir kelompok itu, tapi Count de Clarence menolak karena tidak ingin ikut campur dalam konflik dalam ranah keagamaan. Ia bahkan lebih condong pada pemikiran para Arisian itu yang lebih masuk akal itu.


"Arisian?" Mainne baru pertama kali mendengarnya.


"Mereka adalah kelompok yang mengikuti pemikiran Arius Sang Pandita Lurus," Alice yang menjelaskan. Ia sering mendengar tentang mereka. Keluarga vi Alverio bahkan menjamin keselamatannya. Pada dasarnya, keyakinan mereka adalah monoteisme murni yang sama dengan yang dianut Keluarga van Ryvat, "Cendekiawan agama yang menentang klaim Kuil Suci bahwa Sang Rasul adalah anak Tuhan."


"Sepertinya keributan akan segera terjadi," Aristia memperhatikan pria paruh baya yang kini mengangkat tongkat kehormatannya tinggi. Si Pemuda Arisian segera menghindar. Orang-orang yang berkerumun pun mulai ribut. Mereka tidak ingin terlibat masalah dengan Kuil Suci. Mereka harus membayar jika ingin mendapat surat penebusan dosa nantinya.


"Bibi, di mana kesatria yang harusnya berpatroli di sekitar sini?" Akilla bertanya khawatir. Gadis berkerudung itu tak berani melihat kelakuan yang diperbuat oleh pria dari Kuil Suci.


"Tenanglah, mereka akan segera datang," Countess de Clarence berkata dengan santai. Benar saja. Dua orang kesatria yang berpatroli telah datang dan kini mengamankan pemuda itu. Pemuda itu dibawa ke pos keamanan terdekat.


"Apa orang itu ditangkap?" Alice memperhatikan dengan seksama. Tatapannya tajam memperhatikan kejadian itu. Melihat itu, Countess de Clarence pun memberinya penawaran, "Apa Anda ingin memastikannya, Tuan Putri?"


Countess de Clarence mengangguk dengan senyum yang mengembang. Ia punya firasat bahwa ada hal menarik yang akan terjadi. Ia memikirkan bagaimana gadis yang diakui sebagai pemilik Istana Mutiara sekaligus Putri Mahkota el Vierum itu akan berhadapan dengan masalah ini.


"Kalau begitu, ayo kita pergi," ajak Alice. Ia bangkit dari tempat duduknya diikuti para gadis cendekia. Countess de Clarence mengurus pembayaran di kasir. Anna memberi instruksi kepada kesatria Istana Mutiara untuk segera bersiap, sementara Florence mendampingi para gadis cendekia. Mereka pun diantar ke tempat pemuda itu dibawa.


"Aku sama sekali tidak memulai perkelahian," suara pemuda Arisiun itu terdengar sampai ruang tunggu. Seorang petugas yang berjaga baru saja masuk hendak memberi kabar kedatangan Alice dan rombongannya. Ia sangat kaget saat Putri Mahkota el Vierum dan para gadis cendekia datang. Apalagi Countess de Clarence datang bersama mereka.


Suara ribut-ribut di ruang interogasi pun berhenti. Tak lama kemudian, seorang kesatria berkumis tebal keluar dari ruangan itu. Ia memberi salam dengan hormat pada para tamunya yang tidak terduga.

__ADS_1


"Maaf, apa yang membuat Tuan Putri dan Nyonya Countess datang ke tempat yang sempit dan sederhana ini?" tanya kesatria yang merupakan komandan di pos itu. Ia sedikit was-was khawatir ada masalah yang rumit.


"Di mana bocah kurang ajar itu?" suara teriakan yang serak terdengar. Pintu terbuka dengan kasar. Seorang pria tua berpakaian khas Kuil Suci masuk dengan wajah geram. Penjaga yang ada di belakangnya terlihat kewalahan tak dapat berbuat apa-apa.


Semua mata langsung menatap ke pria tua berwajah geram itu. Alice, Countess de Clarence, dan komandan kesatria menatap dingin. Rosemary, Aristia, dan Aria berekspresi datar, sedangkan Akilla dan Mainne sedikit terkejut. Mereka langsung berpaling dengan tetap menjaga wibawa gadis cendekia.


"Tuan Uskup Otto mohon tenang," komandan kesatria pun memecahkan ketegangan itu. Ia menghela napas lalu mempersilakan Uskup Otto untuk keluar terlebih dahulu.


"Aku datang untuk menangkap orang sesat yang membuat keributan di pusat kota," Uskup Otto menyela tanpa memperhatikan sekitar, "Kesatria Kuil yang akan mengurusnya."


"Apakah Tuan Uskup tidak memberi muka pada kami yang hadir lebih dulu di sini?" suara sindiran Countess de Clarence mengejutkan sang uskup. Pria tua itu baru menyadari kalau para gadis yang berada di hadapannya adalah rombongan Countess de Clarence. Barulah ia menenangkan diri dan bersikap sopan.


"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya Nyonya Countess," ucap Uskup Otto dari Kuil Suci itu, "Ini adalah masalah penting yang harus segera ditangani."


"Masalah apakah itu?" Alice yang bertanya. Suaranya sangat dingin. Saat Uskup Otto melihatnya, ia terdiam menebak-nebak identitas gadis yang menyelanya itu.


"Beliau adalah pemilik Istana Mutiara, Putri Mahkota el Vierum," Countess de Clarence menjelaskan kebingungan Uskup Otto, "Apa Tuan Uskup tidak mendengar kabar kedatangan beliau kemarin?"


"Oh, maafkan saya, Tuan Putri," Uskup Otto sedikit tersentak. Ia tak menduga seorang pemilik Istana Mutiara sekaligus Putri Mahkota el Vierum adalah gadis sekecil itu. Rumor kehebatan sudah tersebar ke seluruh penjuru kerajaan. Jadi, Uskup Otto menduga bahwa gadis itu mungkin telah berusia di atas tujuh belasan tuhun, usia normal para gadis bangsawan merayakan upacara kedewasaannya.


"Seperti yang saya bilang tadi, ada orang sesat yang mengacau di pusat kota," Uskup Otto menjelaskan kembali maksud kedatangannya yang ia ucapkan dengan angkuh tadi, "Kami harus segera mengatasinya."

__ADS_1


"Orang sesat? Apa maksud Anda adalah pemuda yang berseteru dengan Anda tadi?" tanya Alice tanpa menyingkirkan tatapan yang tajam. Nadanya yang dingin menguatkan kesannya yang seorang Putri Musim Dingin di mata orang-orang luar.


"Jadi Anda mengetahuinya, maka ini akan jadi lebih mudah," Uskup Otto menyimpulkan senyum percaya diri. Ia kembali tersentak saat Alice bertanya, "Mengapa Anda menuding bahwa pemuda itu adalah orang sesat?"


__ADS_2