
"Kalau kamu ingin berkeliling, lebih baik kamu bersama mereka," Charles menatap para gadis cendekia, mengisyaratkan pada Charlotte untuk ikut saja dengan para gadis itu. Kalau gadis itu mau, mungkin Charles tak perlu lagi mengantarnya ke kota nanti.
"Tidak bisa! Nona de Vool harus kembali ke kota sekarang. Keluarganya sudah sangat khawatir," bantahan Rosemary membuat semua orang sontak menoleh. Gadis berambut cokelat itu datang dengan menunggang kuda. Tatapannya tajam menusuk ke arah Charlotte yang mulai merasakan firasat buruk, "Antarkan dia sekarang!"
"Hm, begitu, ya? Nona de Vool, mari ikut saya," Charles mengulurkan tangannya, "Utusan Count de Vool pasti sedang menunggu di luar."
Charlotte enggan menerimanya. Ia sudah bersusah payah kabur sejak kemarin. Apa akhirnya semua akan sia-sia?
"Tidak, mereka langsung pergi setelah minta kerja sama dengan panitia tadi. Aku melihatnya sebelum kemari," Solid menyampaikan secercah harapan bagi Charlotte. Gadis itu ingin kembali memohon untuk tetap tinggal sebentar saja, tapi ia takut saat ditatap oleh Rosemary. Gadis itu seakan ingin ia segera pergi.
"Kita juga harus mendampingi putra mahkota setelah ini, tidak akan sempat untuk mengantarnya ke kota," lanjut Solid mengingatkan. Dia memang kadang suka membuat onar, tapi ia adalah orang yang selalu memenuhi amanahnya. "Mary, apa kalian bisa mengantarkannya?"
"Kita serahkan saja pada para guru dari Akademi Kerajaan. Mereka pasti bisa segera mengantarnya," usul Rosemary. Ia dan para gadis cendekia juga sibuk setelah ini. Mereka tidak ada waktu untuk mengantar gadis asing itu.
"Sepertinya Nona de Vool keberatan dengan itu," Aria masuk dalam diskusi. Sejak tadi, tak ada yang memperhatikan Charlotte selain ia. Padahal gadis itu adalah topik utama dalam pembicaraan ini. Lottie kecil hanya bisa menunduk dan bermuka masam saja. "Apakah ada yang ingin Anda sampaikan, Nona?"
Ini adalah kesempatan Charlotte untuk mengutarakan pendapatnya. Ia mungkin bisa menetap di perkemahan jika mengatakannya. Namun, kesempatan itu malah ia buang sia-sia. Gadis kecil itu menggeleng lemah karena takut dengan atmosfer di sekitarnya.
"Walaupun dia keberatan sekalipun, kita tetap tidak bisa menahannya di sini. Nona kecil ini harus tetap pulang sekarang," akhirnya Rosemary tak memberi celah sedikit pun. Ia dengan tegas memutuskan hasil diskusi singkat itu. "Aria, bisa tolong minta panggilkan guru untuk mengantar Nona de Vool?"
"Baiklah, aku akan memanggilnya," Aria mengangguk. Ia pun memalingkan pandangannya pada Charlotte dan berkata, "Kamu tunggulah di sini sebentar. Kami akan segera mengantarmu ke rumah. Dah, senang bertemu denganmu."
__ADS_1
"Apa aku benar-benar tidak bisa tinggal di sini?" entah mengapa Charlotte baru bertanya setelah Aria pergi. Seperti yang ia takutkan, Rosemary langsung menatapnya tajam. Gadis itu pun buru-buru menunduk takut.
"Mary, wajah galakmu itu membuatnya takut. Bisakah kamu lebih santai sebentar saja? Setidaknya saat aku ada di dekatmu," ucap Solid sembarangan. Lagi-lagi, ia tanpa sadar menyinggung gadis itu. Tubuhnya pun merinding saat tatapan Rosemary menusuknya.
"Apa lagi yang kalian tunggu di sini? Apa kalian masih ada urusan?" Aristia menyibak ketegangan yang sedang terjadi. Ia kemudian menyindir Charles, "Atau mungkin Charles masih berharap untuk mengantar ladynya?"
Gurauan Aristia dibalas dingin oleh Charles. Ia tidak menjawab apa-apa selain keheningan. Setelah berpikir dan mengambil keputusan cepat, ia pun menghela napas dan berkata, "Kami memang tidak ada urusan lagi. Maaf telah mengganggu waktu kalian. Solid, ayo pergi. Putra mahkota mungkin sudah menunggu kita."
Bersamaan dengan perginya kedua pemuda itu, datang Adelina di White. Ia mencari Charlotte setelah mendengar kabar dari Aria. Jadi, ia segera bergegas sebelum gadis kecil itu pergi.
"Ya ampun, padahal aku masih ingin mengobrol denganmu," keluh Adelina, "Kamu akan berkunjung lagi kan?"
...***...
Pagi yang cerah datang menyambut ibu kota. Lonceng dari kuil berdentang sebanyak tiga kali, menunjukkan bahwa rutinitas umum akan segera dimulai. Jalanan kota pun telah ramai oleh hiruk-pikuk perkotaan.
Alice menatap menara kuil dari balkon di Kediaman vi Alverio. Sejak kawan-kawannya pergi, ia terus tinggal di kediaman keluarganya untuk merawat Duke vi Alverio. Walaupun kondisinya sudah membaik, Alice masih melarangnya untuk bekerja. Ia sudah seperti nyonya rumah di kediaman itu. Derrick pun tidak bisa menentang perintahnya.
Pandangan Alice pun menyapu ke pusat kota. Dilihatnya monumen paling terkenal yang merupakan ikon ibu kota. Itu adalah patung raja pertama. Patung seorang pria bersandarkan pedang yang tertancap di tanah.
Menurut kisah yang diceritakan keluarga kerajaan turun-temurun, raja pertama adalah orang yang bijak dan cakap. Ia mampu menyatukan beberapa kota dan mengembangkannya dengan baik. Raja pertama pun sangat perhatian pada rakyat sehingga sangat terkenal kebaikannya. Sebelum masa pemberontakan, Kuil Suci mengkultuskan namanya sebagai seorang saint.
__ADS_1
"Karena pujian yang berlebihan, ia jadi disembah-sembah sekarang. Padahal ia tidak pernah menginginkannya," gumam Alice di tengah kekesalan saat melihat beberapa penduduk melakukan ritual pagi di depan patung itu. Sayangnya, ia tidak bisa banyak bertindak sekarang. Posisinya belum setinggi itu untuk membuat aturan di kerajaan sekalipun ia seorang putri mahkota.
"Bagaimana Tuhan begitu baik pada hamba-hamba-Nya?" lanjut Alice dengan mata sendu yang menatap ke langit, "Padahal mereka telah melupakan dan menduakan-Nya. Padahal mereka tidak pernah meminta lagi pada-Nya. Mengapa Tuhan tidak menghukum mereka?"
Alice bukannya tidak tahu jawaban atas gumamannya itu. Ia hanya sedang memikirkannya ulang dan merenung. Gadis itu pun ingat reruntuhan kota di salah satu perjalanannya. Kota itu telah mati sejak lama. Konon, mereka ditimpa bencana besar. Menurut saksi yang selamat, bencana itu menerpa mereka saat mereka sedang lengah dan bermain-main.
Begitulah wujud kemurkaan Tuhan. Tidak ada yang tersisa dari kaum itu. Mereka adalah orang-orang yang telah mendustakan para nabi dan risalahnya. Hanya orang-orang yang berimanlah yang selamat.
Tangan Alice bergetar tanpa disadarinya. Ia menunduk dalam meratapi ketidakberdayaannya. Gadis itu ingin menyeru di tengah-tengah kaumnya, tapi ia tidak bisa melakukan itu. Ia hanya bisa menjadi pendukung bagi orang-orang yang melakukannya.
"Apa yang kamu pikirkan sampai ketakutan begitu?" pertanyaan Derrick menyadarkan Alice dari renungannya. Gadis itu pun menoleh dan baru menyadari kalau tangannya bergetar.
"Kakak, apa yang kamu pikirkan tentang mereka?" tanya Alice sambil memandang pusat kota.
Derrick mengikuti arah mata Alice memandang. Dilihatnya patung raja pertama yang mulia. Orang-orang menyebut-nyebut dan meminta di sekitarnya.
"Orang-orang itu?" Derrick memastikan. Alice mengangguk. Kakaknya pun menjawab, "Mereka orang-orang bodoh yang malang. Semua perbuatan baik mereka akan sia-sia."
"Apa kita tidak bisa melakukan apa-apa?" Alice mempertanyakan dirinya sebagai bangsawan. Harusnya ia dapat mengayomi mereka sehingga tidak tersesat pada kultus bodoh seperti itu. Namun, ia malah tidak berdaya walau sekedar mengingatkan mereka.
"Tolong jangan berlebihan dalam mengukur tanggung jawabmu. Kamu lebih cocok sebagai pemberi teladan bagi para ladies di pergaulan sosial nanti," hibur Derrick yang secara tersamar mengambil alih beban di pundak Alice, "Mereka akan menjadi urusan kami, para lelaki nanti."
__ADS_1