Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Rencana di Ibu Kota


__ADS_3

"Syukurlah kita sampai di ibu kota dengan selamat," Lut memandang gerbang ibu kota Kerajaan el Vierum yang mulai terlihat. Tampak orang-orang yang sedang mengantre di sana. Para pedagang, pelancong, dan warga yang baru menyelesaikan urusan mereka di luar benteng.


"Babi brengsek itu jelas tidak akan mengikuti kita," Var berkomentar. Aura dendam dan kemarahan tak pernah sirna sejak ia meninggalkan Kota Marianna. Padahal saat di dalamnya, ia selalu menjadi tikus pengecut yang tidak dapat berbuat apa-apa. "Ia pasti tahu kita tidak akan pernah diterima."


"Sudahlah, kita masih belum tahu sampai mencobanya," Lut berusaha menghibur. Sebenarnya ia merasa jengkel dengan setiap gerutuan Var. Akan tetapi, ia tidak berhak berkomentar apa pun.


Keluarganya beruntung tidak disentuh oleh penguasa kota. Adik perempuannya tinggal di ibu kota sedangkan ibunya sakit-sakitan dan hanya dapat di rumah saja. Ia jadi bersyukur dengan penyakit yang diderita ibunya itu. Itu seperti terpaan debu yang mengganti lemparan batu.


Mereka berdua masuk dengan lancar ke ibu kota. Biaya masuk gerbang masih terjangkau untuk mereka. Masalah selanjutnya adalah mencari cara untuk menyampaikan suratnya. Tentu saja mereka tidak dapat masuk ke Istana Mutiara sembarangan.


"Ayo kita cari kediaman Profesor Alverous dulu," Lut memberi saran, "Hanya beliau kenalan yang kupunya di ibu kota."


"Apa Kau ada alamatnya?" Var bertanya pesimis. Baginya masih tidak mungkin menghubungi orang besar seperti itu. Di antara dirinya dan para bangsawan, ada tembok besar yang memisahkan keduanya. Sebanyak apa pun Var mencobanya, ia tak akan dapat melewatinya.


"Entahlah," jawab Lut santai. Jawabannya itu membuat Var menjadi kesal. Ia ingin sekali menonjok Lut jika saja ia tidak berkata, "Tenanglah, Kawan. Profesor Alverous adalah orang yang terkenal di penjuru kerajaan. Pasti orang-orang akan tahu tempatnya. Kita hanya harus bertanya atau Kamu bisa mencoba cara lain yang Kamu punya."


"Aku akan ke Kuil Suci," kata Var kemudian. Mungkin ia ingin menyucikan jiwanya dulu di sana agar tenang atau mungkin tidak. Var menggerutu setelah sepakat berpisah dengan Lut, "Semoga Kuil Suci di ibu kota tidak sebusuk di Marianna."


Lut berhasil menemukan alamat Profesor Alverous dalam setengah hari. Rumah orang besar yang baik itu ada di kawasan bangsawan. Jadi, setidaknya ia harus merapikan penampilan terlebih dahulu.


"Aku tidak pernah menyangka akan menggunakan plakat dari profesor secepat ini," Lut menatap sebuah batu halus berukir lambang kediaman Profesor Alverous di latarnya. Untung saja ia tidak menolaknya dulu. Profesor Alverous sangat kagum dengan Mainne sampai-sampai ia memberikan barang sepenting itu padanya. Dengan menunjukkan plakat tersebut, ia akan menjadi tamu terhormat di kediaman sang profesor.


"Maaf, Tuan," tatapan seorang yang menjaga berubah ketika melihat plakat yang dibawa oleh Lut itu. Ia memberi hormat dan mengatakan, "Profesor sedang pergi ke luar ibu kota. Anda dapat kembali beberapa hari lagi. Apakah ada yang ingin Anda sampaikan?"

__ADS_1


"Apa?" Lut memberi tatapan tak percaya. Akan tetapi, penjaga itu tak memiliki alasan untuk membohonginya. Ia berpikir sejenak. Waktunya tidak banyak. Ia harus secepat mungkin menyampaikan masalah-masalahnya ini kepada Istana Mutiara.


"Tidak, terima kasih atas bantuannya," Lut pun pergi meninggalkan kediaman Profesor Alverous. Ia lalu mencoba ke Akademi Kerajaan untuk mencari koneksi di sana. Tidak ada seorang pun yang membantunya. Bahkan plakatnya tidak berguna.


"Ck, bagaimana ini?" Lut menepuk dahinya berusaha menjernihkan pikiran. Ini sore keduanya di ibu kota. Baru saja ia pulang dari Akademi Kerajaan setelah penantian berjam-jam yang sia-sia.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Var yang sudah pulang ke penginapan sejak tadi bertanya. Keputusasaan kembali tercetak di wajahnya yang kehilangan harapan. Bayang-bayang seorang gadis menghantui hatinya. Ia merutuk dalam hati atas kelemahannya.


"Menunggu Profesor Alverous atau nekat ke Istana Mutiara," jawab Lut lirih. Tak ada keseriusan dalam perkataannya itu. Lagi pula, Var sudah tidak mendengarnya. Ia menutup mata dengan lengannya sembari berbaring di kasur.


Lut menghela napasnya. Ia tak tega melihat kawannya itu tambah menderita. Ia yang tidak memahami cinta apalagi memiliki kekasih tentu tak mengerti dalamnya penderitaan pemuda pengecut itu.


Lut pun keluar dari penginapannya. Dilihatnya langit kemerahan yang semakin meredup. Mentari akan segera kembali ke peraduannya. Jika ini adalah Marianna, ia akan dapat melihat matahari terbenam itu di salah satu tempat favoritnya.


Lut berjalan ke tempat yang tadi sempat dilihatnya ketika pulang dari Akademi Kerajaan. Sebuah bangunan terpencil yang diapit dua buah bangunan bertingkat lainnya.


Untuk masuk ke sana, Lut harus menyusuri sebuah gang kecil yang cukup bersih. Berbeda dengan gang-gang kecil lainnya. Tak ada sampah, kotoran, maupun gelandangan. Hanya ada hawa gelap sebab cahaya yang tak leluasa menghampirinya.


Seorang pria tua mendongakkan wajahnya ketika mendengar suara langkah kaki Lut. Ia berhenti menyapu gang yang mengarah ke rumahnya itu. Tidak! Itu tidak pantas disebut rumah. Itu hanyalah bangunan kubus yang tak berjendela dan hanya memiliki satu ruang.


"Anak muda, apa yang Kamu cari di sini?" tanya pria tua itu. Sangat jarang ada pengunjung yang datang ke tempatnya itu. Jika ada, biasanya orang-orang yang datang itu membawa sebuah urusan.


"Kakek, izinkan saya ikut bersembahyang di sini," jawab Lut dengan sopan. Pria tua itu mengerutkan dahinya. Ternyata pemuda itu bukan salah satu dari orang-orang yang biasa mencarinya. Ia pun mengangguk pelan dan mempersilakan Lut untuk masuk ke tempatnya.

__ADS_1


Walau kecil, tempat pria tua itu memiliki tempat untuk bersuci. Lut lega melihatnya sehingga ia tak perlu kembali ke penginapan jika butuh nanti. Tak lama kemudian, datang seorang bocah yang kemudian duduk dengan tenang di salah satu sudut ruangan.


Pria tua menyuruhnya menyalakan pencahayaan dan dia pun bangkit tanpa bersuara. Satu per satu lilin yang ditempel di dinding ia nyalakan. Ruangan itu pun menjadi lebih terang sehingga terlihat sebuah rak berisi buku-buku tua yang mulai lusuh.


Setelah pria tua menyelesaikan urusannya di luar, ia segera masuk dan memimpin sembahyang. Lut merasa lega dalam hatinya karena ia datang ke tempat yang tepat.


Bocah kecil segera pamit pada pria tua selesai ia berdoa sehabis sembahyang. Sebagaimana kedatangannya, kepergiannya itu tidak menimbulkan suara sedikit pun.


Lut memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat itu. Baginya, di sini lebih tenang dari pada mendengar gerutuan Var yang tiada habisnya. Ia memikirkan berbagai cara untuk menyelesaikan masalahnya dan menyampaikan surat untuk Mainne. Tanpa ia disadari, pria tua sudah mengamati kegelisahannya itu dan menghampirinya.


"Anak muda, apa yang begitu membebanimu sampai seperti itu?" tanya pria tua penasaran. Lut mendongak. Dilihatnya pria tua itu adalah orang baik-baik. Maka ia pun berani menceritakan masalahnya.


"Begitu ya?" kata pria tua manggut-manggut mendengar cerita Lut, "Itu gawat sekali. Lalu apa yang Kamu rencanakan di sini?"


Lut kembali menceritakan rencananya untuk memanfaatkan relasi Mainne dengan Putri Mahkota el Vierum. Ia berharap sang putri dapat menyampaikan keluhan rakyat Kota Marianna kepada raja. Pria tua pun terkekeh dan berkata, "Anak muda, biar kuberi tahu. Aku sudah banyak mengalami kepahitan selama hidupku ini dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia."


Lut terdiam tidak mengerti maksud pria tua itu. Pandangannya kembali tertunduk sampai pria tua berkata, "Akan tetapi, rencanamu itu boleh juga."


Lut melihat seberkas harapan dari pria tua itu. Barangkali doanya akan terkabul segera. Pria tua berkata, "Ikutlah denganku besok. Biar kutunjukkan jalur yang dapat menyampaikan surat kepada adik berbakatmu itu."


"Benarkah, Kakek? Apakah Anda benar-benar memilikinya?" Lut bersyukur dalam hati. Doanya selama berhari-hari ini akhirnya terjawab. Ia bisa bernapas lega. Tak lama kemudian, bocah kecil pun datang lagi. Sudah masuk waktu bersembahyang rupanya. Selepas bersembahyang, barulah Lut kembali ke penginapannya. Kini dengan hati yang berbahagia dan penuh syukur.


Ia merenungkan kata-kata pria tua itu lagi dalam perjalanannya kembali ke penginapan. Ia pun mengerti bahwa tempat berharap dan bersandar itu hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

__ADS_1


__ADS_2