Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Sebenarnya, Siapa yang Salah?


__ADS_3

"An," panggil seorang pemuda berparas tampan. Rambutnya cepak berwarna cokelat. Matanya biru seperti langit yang gelap. Ia adalah kesatria pelindung Antonio sekaligus kakak kelasnya di Akademi Kerajaan. Usianya seumuran dengan Derrick vi Alverio. "Apa ada yang mengganggumu? Kamu terlihat murung akhir-akhir ini."


"Bukan apa-apa," Antonio menghela napasnya berat. Apanya yang bukan apa-apa? Jelas seminggu terakhir ini ia sedang dalam masalah besar. Alice, si gadis kaku itu tiba-tiba saja memarahinya. Lalu Charlotte, si gadis baik hati itu tiba-tiba menghindarinya.


"Solid, apa aku terlihat seperti orang yang kurang ajar?" tanya Antonio sambil memutar-mutar pena dalam jemarinya. Solid menatap sahabatnya heran. Putra kedua Marques von Denburg itu tidak mengerti jalan pikir si putra mahkota, "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Para gadis membenciku," gumam Antonio pelan. Solid semakin terheran. Seminggu terakhir ini, tetap banyak gadis yang membicarakan sahabatnya itu seperti biasa. Bisa dibilang, Putra Mahkota el Vierum itu adalah murid baru paling populer di Akademi Kerajaan terlepas dari statusnya yang seorang pangeran.


"Ah, apa maksudmu Tuan Putri Mahkota el Vierum?" tebak Solid kemudian. Sejauh yang Solid tahu, hanya putri Keluarga vi Alverio itu yang tidak tertarik dengan pesona tuannya. Gadis itu memang pantas mendapat julukan Sang Putri Musim Dingin.


"Dia salah satunya," Antonio kembali menghela napas. Kemarahan Alice masih terngiang di kepalanya. Seakan ia tidak dapat hilang bagaimanapun caranya.


"Salah satunya? Kamu benar-benar brengsek! Kamu berselingkuh setelah memiliki tunangan?" bentak Solid dengan suara lirih, memastikan tak ada seorang pun yang mendengarnya.


"Apa yang Kamu bicarakan?" Antonio malah menatap Solid sinis. Masalahnya mungkin terlupakan untuk sejenak karena melihat wajah sok tahu Solid itu. "Aku pria yang setia seperti ayahku. Jangan sebut aku brengsek!"


"Benarkah? Lalu yang tadi itu apa? Para gadis membencimu?" Solid mencibir tak percaya. Dia mungkin satu-satunya kesatria pelindung yang berani bersikap tidak sopan kepada majikannya. Yah, itu karena ia belum resmi menjadi kesatria walau kemampuan berpedangnya diakui dan sangat hebat. Ia juga teman akrab Antonio sejak kecil.


"Entahlah, itu bukan urusanmu!" Antonio bangkit dari bangkunya lalu mengajak Solid ke lapangan latih tanding. Semua pelajaran dalam kelas telah usai siang ini.


"Lihatlah wajahmu itu! Apa Kamu mau lampiaskan amarahmu padaku?" Solid menatap wajah mengerikan majikannya dengan santai. Pedang panjang telah terhunus di tangannya. Sifatnya yang santai itu semakin membuat Antonio emosi.


"Sudah kubilang, itu bukan urusanmu!" Antonio menerjang maju. Solid dengan lihai menangkisnya sambil menggeser badan satu langkah sehingga Antonio tetap melesat maju dan hampir terjatuh.


"Kamu masih seperti biasa, sembrono dan asal maju," komentar Solid tajam, "Jangan biarkan emosi memperdayamu. Tenangkan batin dan jasmanimu."


"Aku tahu itu," Antonio kembali melesat maju. Pedangnya sangat cepat terayun ke badan Solid. Lagi-lagi, kesatria pengawal bermata biru gelap itu menangkisnya dengan mudah. Sejurus kemudian, Solid menusukkan pedangnya kepada Antonio. Ujung pedang itu berhenti tepat di depan leher tuannya. "Apa ini kemampuan siswa terbaik di kelas satu?"

__ADS_1


"Hah, begitulah," Antonio menghembuskan napas, "Apa mau dikata? Lawanku adalah siswa terbaik kelas akhir."


"Kamu harus banyak belajar, Bocah," Solid menepuk kepala adik didiknya itu. Tinggi Antonio tidak lebih dari telinga Solid. Yah, untuk anak seusianya, ia sudah termasuk tinggi karena Solid adalah pemuda yang bahkan lebih tinggi dari kakaknya, Leonius von Denburg.


"Ck! Semua orang selalu menyuruhku untuk terus belajar," gerutu Antonio sebal. Peluh keringat mengucur di dahinya. Ia barusan menyelesaikan beberapa ronde lagi dengan Solid.


Antonio adalah tipe pemuda yang ingin bebas ke mana pun. Sayangnya, takdir sebagai Putra Mahkota el Vierum mengekangnya di istana. Masa depan Kerajaan el Vierum kelak akan ditaruh di pangkuannya.


"Jadi, Kamu murung karena Tuan Putri Mahkota el Vierum selalu menyuruhmu belajar?" kata Solid dengan asal mencomot topik pembicaraan. Antonio berdecak pelan. Air mukanya kembali keruh. Sungguh kakak kelasnya itu tidak berperasaan sama sekali.


"Jangan ingatkan aku, aku sedang tidak ingin membahasnya," Antonio tertunduk merenung. Tebakan kesatria pengawalnya itu sangat tepat.


"Hm, jadi begitu, ya," Solid manggut-manggut pelan. Ia tidak kapok juga membuat Antonio emosi. "Lalu, bagaimana dengan gadis yang lainnya?"


"Lottie menghindariku," tak diduga Antonio mau membahasnya. Solid menatapnya tertarik. Kisah romantis cinta segitiga. Siapakah yang akan bocah itu pilih nantinya.


"Eh? Jadi, seleramu adalah gadis-hadis berbakat?" Solid tersenyum usil. Nada bicaranya itu membuat Antonio mendengus kesal.


Setelah cukup beristirahat, Solid mengajak tuannya untuk kembali. Ia mendengar bahwa Antonio dimarahi habis-habisan oleh tunangan. Pengawal dari Keluarga von Denburg itu pun menyimpulkan, "Jadi, itu semua salahmu. Kamu harusnya marah pada dirimu sendiri."


"Ya, Kamu kira aku merah pada gadis rapuh itu," kata Antonio cuek, tetapi ada kekhawatiran di wajahnya walau samar terlihat. "Mana mungkin aku marah padanya? Gara-gara aku, kondisi kesehatannya menurun setelah hari itu."


"Kalau begitu, Kamu harus menjenguknya dan minta maaf," nasihat Solid. Antonio terus berjalan sambil sedikit tertunduk. Jelas ia sedang ditimpa perkara.


"Tidak semudah itu," gumam Antonio pelan.


Solid menatapnya mengerti. Ia lalu melihat Rosemary vi Cornelia di kejauhan. Ia ingin meminta gadis dari Istana Mutiara itu untuk membantu tuannya.

__ADS_1


"Nona vi Cornelia," panggil Solid dengan senyum ramah yang merekah. Rosemary segera menoleh. Gadis itu pun menatap dingin kepada kawan sekelasnya itu.


"Ada apa?" Rosemary berdiri tegak dengan anggun sebagaimana etiket bangsawan yang dipelajarinya. Ia adalah gadis berharga diri tinggi.


"Bagaimana keadaan Alice saat ini?" Antonio yang bertanya. Ia sungguh mengkhawatirkan gadis tunangannya itu.


"Anda benar-benar keterlaluan," ucap Rosemary setelah menghela napas, "Anda baru bertanya sekarang setelah seminggu kondisi tuan putri memburuk?"


"Itu salahku," Antonio menyadari kesalahannya. Ia kembali menanyakan hal yang sama.


"Tuan putri sudah baikan sekarang," jelas Rosemary. Gadis cendekia itu tidak sendiri. Ada Akilla di sampingnya. Ia siswi kelas dua sama dengan Aristia dan Aria. Sementara Mainne adalah gadis kelas satu, teman sekali Antonio yang pendiam.


"Beliau langsung sibuk setelah dapat bangkit dari kasurnya," lanjut Rosemary, "Kalau Yang Mulia ingin bertemu dengan beliau, saya harap Anda mengikuti etiket yang ada agar tuan putri tidak marah lagi."


"Baiklah, bisa Kalian menunggu sebentar?" Antonio pun berniat untuk berkunjung, "Aku ingin bertemu dan meminta maaf dengannya. Kuharap Kalian dapat menyampaikan suratku."


"Tidak masalah," Akilla yang menjawab kali ini. Wajahnya dingin dan tidak mengulas senyum sama sekali. Persis seperti Rosemary. Antonio telah mendapat penilaian buruk dari semua gadis cendekia.


"Jadwal tuan putri sangat padat akhir-akhir ini," Akilla memperingatkan, "Sebaiknya Anda yang menyesuaikan waktu dengan beliau."


"Ok," Antonio mengajak mereka ke kelasnya. Ia menulis surat di sana dan segera menyerahkannya pada Rosemary. Gadis berambut cokelat itu menatapnya aneh. Sebuah surat tanpa segel adalah surat tidak resmi. Itu sama saja tidak mengikuti prosedur.


"Akan kami sampaikan," Rosemary berkata maklum. Anggap saja ini surat pribadi. Setidaknya, pangeran ceroboh itu mau segera minta maaf.


"Para gadis benar-benar membencimu," kata Solid enteng setelah Rosemary dan Akilla meninggalkan ruang kelas. "Sebenarnya, apa yang Kamu lakukan pada Tuan Putri Mahkota el Vierum sampai beliau sakit."


"Sudah kubilang, dia gadis yang rapuh, tetapi dia selalu memaksakan diri," Antonio meremas kepalanya kesal pada diri sendiri, "Padahal aku hanya berniat mengajaknya untuk bersantai sejenak. Hah... sebenarnya, siapa yang salah?"

__ADS_1


"Jelas sekali, itu adalah salahmu," jawab Solid ketus, "Ingatlah, para wanita itu tidak pernah mau salah."


__ADS_2