
"Dia baru mau minta maaf setelah aku mulai sibuk?" Alice mengerutkan kening. Senyum tipis terlukis di wajah cantiknya. Gadis itu tetap merasa lega.
Ia duduk dengan anggun di kursi empuknya. Gaun tidur yang dikenakannya berwarna merah muda dan bermotif bunga. Lengannya panjang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, tangan, dan kaki. Ia lebih suka model yang seperti itu.
"Apa Kamu akan menerimanya, Alice," Aristia yang suka hal-hal romantis bertanya penasaran. Ia sudah membaca banyak novel di perpustakaan Alice.
Kebanyakan novel itu menyampaikan adat istiadat Keluarga van Ryvat secara tersirat. Ada juga beberapa novel klasik lain. Akan tetapi, Aristia lebih menyukai novel romansa khas Keluarga van Ryvat sejak tiba di Istana Mutiara.
"Tentu saja, aku akan menyerahkan pengaturan jadwal pertemuannya kepada Bibi Clara," jawab Alice dengan wajah tenang. Ia sudah bertunangan, tetapi tak ada rasa spesial di dadanya. Mungkin belum atau baru mulai tertanam. Baginya, pertunangan itu adalah pertunangan politik biasa sebagaimana kewajibannya sebagai putri bangsawan.
"Apa Kamu selalu ditemani Bibi Clara jika bertemu bocah itu?" kali ini Rosemary yang bertanya. Ia lebih suka novel romansa klasik di perpustakaan, tetapi romansa khas Keluarga van Ryvat juga menarik perhatiannya, "Bukankah itu merepotkan? Kamu harus bersama wali jika ingin bertemu dengan tunanganmu."
"Aku pernah minum teh dengannya tanpa kehadiran bibi. Cuma dua kali. Kalau tentang wali, itu tidak masalah bagiku," Alice menjawab sambil tetap membaca surat yang diterimanya. Tulisan pada surat itu sangat buruk. Padahal Alice yakin bahwa tulisan tunangannya tidak seburuk itu. Berkeriting dan agak sulit dibaca. Mungkin karena ditulis dengan terburu-buru. "Menurutku cara itu lebih menghormati pihak wanita. Pihak pria tidak akan dapat macam-macam padanya seperti yang terjadi di masa kuno. Masa di mana wanita tak lebih dari sekadar barang."
"Ya, aku tahu cerita itu," Aristia menyahut. Gadis berusia 14 tahun itu merujuk pada salah satu novel yang pernah dibacanya. Novel yang mana protagonis wanitanya sangat tertindas dan diperebutkan oleh banyak pria. Pada akhirnya, protagonis itu mati jika ceritanya tidak berakhir bahagia. "Sungguh para pria yang tidak tahu malu."
"Kamu membaca cerita seperti itu?" Akilla menatap kawannya aneh dan tidak percaya. Ia tidak terbiasa dengan novel yang seperti itu.
__ADS_1
"Kakakku yang membacakannya," kata Aristia enteng. Sebenarnya, Ia tidak mengerti betul maksud dari cerita-cerita itu. "Kakak berpesan setelah membacanya."
"Pesan apa?" Mainne penasaran karena Aristia menggantungkan kata-katanya. Ia mulai bisa beradaptasi di kalangan elit setelah sebulan lebih tinggal di Istana Mutiara layaknya putri bangsawan.
"Jangan mudah terperdaya dengan lelaki tampan yang bermulut manis," Aristia menyampaikan pesan kakaknya dengan gaya bahasanya sendiri, "Para pria yang hanya mengumbar janji dan menggombal itu adalah pengecut. Lebih baik cari yang tegas dan berani langsung datang melamar kepada walimu, merekalah pria sejati. Jika tidak suka parasnya, tinggal tolak saja."
Keheningan nan sunyi tercipta setelah Aristia menuturkan pesan panjang kali lebarnya. Para gadis cendekia menatap mata berkilau gadis pecinta novel romansa itu. Alice bahkan memperhatikannya dan meninggalkan surat yang tinggal sedikit lagi dibacanya.
Sesaat kemudian, ocehan Aristia kembali menyibak kesunyian itu, "Pertunangan dalam adat Keluarga van Ryvat biasanya tidak berlangsung lama. Hanya dengan beberapa bulan saja, mereka akan langsung menikah. Makanya, aku heran. Alice, apa pertunanganmu itu tidak terlalu dini? Kalian belum menetapkan waktu pernikahan, bukan?"
Semua mata menatap Alice kali ini. Gadis berambut biru gelap berujung kemerahan itu terdiam sejenak. Ia meletakkan surat yang sudah selesai dibacanya lalu membenarkan anak rambut yang mengganggu kenyamanannya. Rambutnya yang disanggul setengah itu amat menawan dan halus dipandang mata.
"Kamu bersikeras menjadi ratu?" Rosemary yang paling tua bertanya sungguh-sungguh. Para putri di Istana Mutiara memang berhak mengambil takhta. Akan tetapi, jika gadis berambut cokelat yang anggun itu menjadi putri, ia lebih memilih untuk menyerahkannya pada para pangeran. Perebutan takhta itu sangat rumit~menurut yang dibacanya dari buku sejarah.
"Aku harap hubungan kami tidak akan terputus," Di wajah tenang Alice, tersirat kesedihan dan ketakutan di sana. "Tetapi jika hal buruk itu terjadi dan aku harus bersaing dengan An, maka aku tidak akan sekalipun menyerah kecuali bocah itu lebih pantas menjadi raja."
"Intinya, Kamu tidak akan terlalu berambisi jika pangeran layak menjadi pewaris takhta," rangkum Akilla, "Semua usahamu ini demi Kerajaan el Vierum, bukan? Bagaimana Kamu bisa seteguh itu hidup menjadi putri. Kamu tahu? Sikapmu tidak seperti anak seusiamu."
__ADS_1
"Apa Kalian membencinya?" pertanyaan Alice membuat Akilla terdiam. Ia tidak bermaksud menyinggung sepupunya. Dalam hatinya, muncullah rasa bersalah. Ia pun segera menjelaskan kalau tidak mungkin ia bisa membenci Alice.
"Alice, aku akan mendukung setiap keputusanmu," untuk pertama kalinya Aria bersuara. Gadis pendiam berambut perak itu memiliki paras yang lembut dan baik hati. Walau terlihat lemah, sebenarnya ia gadis yang kuat dan pandai berkuda serta memanah.
"Aku juga," Rosemary dengan ulas senyum hangatnya mengikuti Aria. Akilla dan Aristia pun kompak menyatakan dukungannya. Terakhir adalah Mainne yang cemas dengan kemampuannya. "Saya pasti akan mengikuti Anda, Tuan Putri."
"Sungguh Tuhan berkenan," ucapan Alice mengakhiri bincang para gadis cendekia. Anna dan Sarjana Florence serta beberapa dayang masuk ke tempat meraka dan menyeru untuk tidur.
Sebagaimana kebiasaannya tiap malam, Alice memejamkan mata. Sembari menunggu ruhnya dibawa ke alam bawah sadar, ia bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan. Malam ini, ia telah mendapatkam kesetiaan besar dari sahabat-sahabatnya. Bagaimana mungkin ia dapat mendustakannya? Hanya orang-orang kufur yang tak tahu diuntung.
...***...
"Jadi, An sayangku sudah memutuskan untuk meminta maaf," Ratu Clara mengulas senyum saat membaca lembar-lembar surat yang dibacanya. Alice mengirim keputusannya sekaligus surat dari Antonio kepada bibinya itu.
Kertas yang digunakan Antonio adalah kertas yang Mainne kembangkan sebelum ke Istana Mutiara. Sementara itu, Alice menggunakan kertas yang lebih berkualitas produksi langsung pabrik yang disponsori Istana Mutiara. Saat ini, kertas sebagus itu masih barang langka dan mewah menimbang betapa sulitnya memproses pembuatan kertas itu. Hanya para bangsawan tinggi dan internal Istana Mutiara yang menggunakannya.
Ratu Clara senang membacanya. Tidak! Sebenarnya, ia hanya suka tulisan Alice yang rapi. Sementara tulisan putra semata wayangnya seperti cacing sekarat. Sulit sekali membacanya. Padahal ia yakin kualitas tulisan putranya tak seburuk itu. Mungkin ia sedang gugup saat menulisnya.
__ADS_1
"Ya ampun, tapi mengapa gadis itu masih saja padat jadwalnya," Ratu Clara mengerutkan kening saat membaca dokumen jadwal putri kecil itu. "Aku jadi kesusahan menyesuaikannya. Dia benar-benar gadis yang keras kepala. Persis seperti Elianna dan Evianna."
Ratu Clara pun berteguh hati akan menasihati keponakan tercintanya itu di pertemuan selanjutnya. Kasus yang menimpa putri kembar tidak boleh menimpa dirinya. Ratu Clara tidak akan pernah membiarkan hal itu.