
"Benarkah ini tempatnya?" Var menatap kagum sebuah bangunan bertembok putih nan berdiri gagah. Sebuah kubah berwarna keabuan cerah bertengger di atasnya. Delapan buah pilar tinggi menjadi penyangga pintu masuknya. Puluhan tangga berundak-undak dengan taman bunga yang berwarna-warni di kedua sisinya turut menambah kemegahan di sana.
"Ini gedung Balai Pengawas Pusat," kata Lut yang juga menatap gedung besar itu dengan kagum. Balai Pengawas Wilayah di Kota Marianna memang tidak kalah besar, tetapi gedung itu tidak semegah ini.
"Aku bahkan tidak pernah bermimpi dapat masuk ke tempat sepenting ini," Var masih belum percaya telah mendapat undangan untuk hadir ke gedung pengadilan itu. Selama seminggu lebih di kediaman Keluarga van Ryvat, ia tidak melakukan banyak hal. Ia tertarik dengan pelatihan para kesatria di kediaman itu dan disambut baik untuk bergabung.
Pengalamannya sebagai pemburu di Kota Marianna cukup membantu hingga membuatnya tidak dipandang sebelah mata. Teknik berpedangnya memang tidak sebagus para kesatria, tetapi ia memiliki stamina yang tidak dapat diremehkan.
Berbeda dengan Var, Lut diminta oleh Marques Muda Issac van Ryvat untuk menerjemahkan buku-buku dari benua Timur setelah mengetahui pemuda itu dapat membaca dan memahaminya. Ia juga sesekali ikut latihan bersama Var dan para kesatria, tetapi ia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan. Di Kota Marianna, ia adalah penjaga kota yang aktif berinteraksi dengan orang-orang asing.
"Ayo masuk," Lut mulai melangkah menaiki tangga setelah terdiam cukup lama. Var pun buru-buru mengikutinya. Mereka berdua mengenakan pakaian resmi yang dipinjamkan oleh Issac. Mereka juga telah diajari tata krama dasar.
Seorang resepsionis meminta identitas dari kedua pemuda itu. Lut segera memberikan undangan yang didapatkannya dari Istana Mutiara. Resepsionis yang merupakan pria tua itu mengerutkan kening. Ia menatap Lut dan Var secara bergantian.
"Perwakilan dari Kota Marianna, ya? Kami sudah mendengar akan kedatangan Anda berdua," pria tua menaruh undangan Lut di atas meja. Ia pun memanggil seorang pemuda berseragam hitam yang tak jauh dari tempatnya. Dimintanya pemuda itu untuk memandu Lut dan Var ke ruang yang sudah ditentukan.
Puluhan pasang mata menatap Lut dan Var begitu kedua pemuda itu memasuki ruangan. Rasanya sangat mendebarkan. Jantung keduanya berpacu lebih cepat. Untung mereka sudah diberi tahu bahwa sangat mungkin terjadi hal demikian, sebuah kecanggungan yang meresahkan. Jadi, mereka sudah lebih mempersiapkan diri.
__ADS_1
Lut dan Var dipersilahkan duduk di kursi saksi. Mereka disambut dengan senyuman tulus seorang pria yang kira-kira usianya sudah kepala tiga. Kumis di pria itu sangat tebal sehingga membuat senyuman di wajahnya yang sangar terlihat mengerikan. Akan tetapi, aura kebangsawanan tidak luntur darinya.
Lut memperkenalkan teman dan dirinya kepada pria itu. Ia lebih bisa mengendalikan dirinya walau gugup sementara Var hanya duduk terdiam mendengarkan. Pria berkumis tebal itu juga memperkenalkan dirinya. Ia adalah Rwan de Ernest, paman dari Aria de Ernest.
Selama menunggu acara dimulai, Lut mengobrol dengan Rwan yang ternyata merupakan salah satu eksekutif di Balai Pengawas Pusat. Mereka cepat akrab. Selain karena pembicaraannya yang selaras, Lut memang pemuda yang mudah berinteraksi dengan orang asing.
"Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum, Alice vi Alverio memasuki ruangan," seruan seorang penjaga mencuri perhatian semua orang. Kedatangan tokoh penting itu menandakan bahwa acara akan segera dimulai.
Seorang gadis kecil bergaun cantik berjalan masuk. Rambutnya biru gelap berujung kemerahan panjang tergerai rapi dan lurus. Matanya tajam berwarna merah ruby nan cantik. Sosoknya anggun diselimuti kewibawaan. Di sampingnya, seorang wanita muda berkerudung mendampinginya. Mereka berdua pun duduk di kursi pengawas bersama para petinggi lainnya.
"Keselamatan atas siapa pun yang mengikuti petunjuk," ucap Alice membuka sambutannya dengan suara yang jelas terdengar ke seluruh ruangan. Alice menyampaikan salamnya itu karena tidak jelas di matanya mana pengikut Kuil Suci mana penganut monoteisme murni, agama yang tidak mempersekutukan Tuhan dengan apa pun.
Di telinga para bangsawan yang cukup akrab dengan permainan lisan dan sindiran, ucapan itu adalah peringatan samar yang memang biasa diucapkan para putri dari Istana Mutiara. Putri Kembar di masa lalu telah banyak menunjukkan kuasanya di hadapan para menteri dan eksekutif kerajaan. Bahkan raja terdahulu sendiri yang merupakan ayah mereka. Sekarang, gadis kecil yang ada di hadapan mereka itu tidak hanya mewarisi Istana Mutiara semata, tetapi juga sikap dan kebijaksanaan pendahulunya.
Para bangsawan yang belum pernah melihat Alice secara langsung meremehkan gadis kecil itu. Pandangan mereka sinis dan dipenuhi dengan iri hati. Mereka mencibir bahwa mereka juga dapat mendapat jabatan tinggi dengan jalur dalam seperti Alice. Ya, itulah faktanya. mereka orang-orang dalam yang mendapat posisi dengan koneksi. Mereka benar-benar tidak mengerti usaha Alice sejak usianya baru menginjak tiga tahun.
"Tempat ini adalah tempat para cendekiawan dan ahli politik berkumpul. Adanya kita di sini adalah sebagai mata dan telinga kerajaan untuk mengetahui posisinya," Alice berseru dengan mantap dan tegas, "Kerajaan ini tidak akan dapat berdiri tanpa keberadaan rakyatnya. Tanggung jawab kita sebagai bangsawan adalah mengayomi dan membangun kemakmuran di negeri ini. Kita tidak akan membiarkan kesewenangan orang-orang serakah mengotorinya."
__ADS_1
"Untuk itulah balai ini berdiri," lanjut Alice setelah mengambil napas sejenak, "Dibangunnya balai ini bukan sekadar untuk bermain-main dengan jabatan dan hukum. Kita tidak mungkin mau menjadi bangsawan busuk yang selalu menutup sebelah mata atas tindakan buruk penguasa yang semena-mena."
Pidato Alice itu berlangsung cukup lama. Ada ketegasan dan wibawa di sana. Para bangsawan cerdas pun mulai memandang potensi gadis yang baru-baru ini dilantik sebagai putri mahkota itu. Mereka yang awalnya meragukan keputusan Raja el Vierum dalam pelantikan dini mulai mengerti. Gadis itu sangat pantas menjadi Putri Mahkota el Vierum.
Berbeda untuk para pseudonobel. Mereka adalah orang-orang bergelar bangsawan yang tidak memiliki kepantasan sedikit pun menyandangnya. Gelar mereka hanyalah pajangan turun-temurun. Di mata mereka hanya ada harga diri dan keegoisan. Mereka memandang sinis kepada Alice. Akan tetapi, mereka tidak akan gegabah memprovokasi pemilik Istana Mutiara itu.
"Dan sembunyikanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Tuhan mengetahui segala isi hati," kata Alice menjelang akhir sambutannya. Tatapannya tajam menyapu para audiens saat mengatakan hal itu. Seakan mengisyaratkan bahwa ini adalah inti pidatonya.
Itu adalah kata-kata provokatif yang dapat dipandang berbeda di setiap telinga yang mendengarnya. Bagi orang beriman, mereka akan segera mengingat Tuhan. Rasa pengawasan Tuhan akan tumbuh di dada mereka. Bisa jadi, bulu kuduk mereka berdiri tanpa sadar saking mengertinya kebesaran Tuhan. Itulah yang terjadi pada Count Rwan, sementara hati Lut sedikit berdesir dan terasa mendingin takut saat mendengarnya.
Orang ateis yang cukup toleran akan menganggap perkataan itu adalah usaha yang bagus untuk membudayakan sifat jujur. Tidak! sebenarnya tidak ada orang-orang yang ateis dalam catatan Kerajaan el Vierum. Mereka adalah orang-orang yang merasa kecewa dengan doktrin Kuil Suci. Doktrin mereka itu susah dimengerti logika. Biasanya keraguan orang-orang ateis itu mencuat saat berusia 18 tahun. Tahun di mana mereka mulai dapat membentuk jalan pikir mereka sendiri dan merenungkan kehidupan.
Di telinga orang yang bodoh, perkataan itu hanya akan berlalu begitu saja. Orang-orang yang bodoh bahkan malah mencibirnya dan menganggapnya omong kosong. Merekalah yang kelak akan menyesal di hari akhir.
Begitu Alice kembali ke kursinya, sidang pun dimulai. Balai Pengawas Pusat kembali mempertegas tujuan diadakannya peradilan itu setelah sebelumnya sudah disinggung oleh Alice. Masalah Kota Marianna akan dibahas secara bertahap dan dihadiri oleh Raja el Vierum nanti.
Hari pertama ini adalah tahap awal yang juga menjadi debut Alice di hadapan lembaga yang dinaungi Istana Mutiara itu. Walau Alice sudah membuka kunci Istana Mutiara sejak dua tahun yang lalu, ia baru mendapat sedikit kuasanya setelah diakui sebagai Putri Mahkota el Vierum. Kekuasaannya itu akan berangsur menguat tergantung dari seberapa berkompetennya ia.
__ADS_1