
Kerajaan el Vierum, 4 Bulan Sebelum Alice vi Alverio Menghilang.
"Berhati-hatilah! Maaf, ayah hanya dapat mengantarmu sampai sini," kata Duke vi Alverio dengan ramah. Mereka ada di depan Kantor Pemerintahan Pusat yang berhadapan dengan Istana Mutiara.
Alice mengangguk. Harusnya ia yang minta maaf karena menggangu jadwal kerja ayahnya, tapi itu tidak masalah karena ia memiliki hak untuk itu sebagai Putri Mahkota el Vierum.
Di belakang Alice, para gadis cendekia berbaris. Mereka menunggu sang putri untuk naik kereta kuda lebih dulu. Kereta kuda itu sangat besar. Ada enam kuda yang menariknya. Berbagai ornamen indah menghiasinya. Ada emblem Istana Mutiara di pintunya. Hanya para putri di Istana Mutiara yang dapat menggunakannya.
Di depan dan belakangnya, mengawal masing-masing tiga puluh kesatria berkuda. Dalam rombongan itu juga terdapat selusin pelayan, setim juru masak, dan tiga buah kereta kuda lainnya yang membawa perbekalan dan kebutuhan lainnya selama perjalanan.
"Akilla, seperti apa wilayah barat itu?" Rosemary bertanya penasaran. Rombongan telah berangkat. Alice dan para gadis cendekia berada di kereta kuda paling besar. Mereka di temani Anna dan Sarjana Florence.
"Entahlah, aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya," Akilla mengerutkan kening. Ia mencari-cari kata yang cocok untuk menjelaskan, "Bagiku, itu tempat yang tenang."
"Apa begitu di wilayah Marques van Ryvat?" Aristia bergabung dalam obrolan. Ia menjelaskan kalau wilayah barat adalah tempat yang ramai. Ada banyak kebudayaan di sana. Bentang alamnya indah. "Dan yang paling penting, makanan di sana sangat enak."
"Yah, kurang lebih seperti itu," tambah Akilla yang ikut tertarik dengan penjelasan Aristia, "Aku lebih suka di rumah dari pada jalan-jalan keluar. Jadi, aku tidak tahu lebih banyak."
"Kalau menurutmu bagaimana, Aria?" kali Alice yang bertanya. Aria menjawab kalau ia sama seperti Akilla, tidak tahu banyak tentang wilayah kampung halamannya sendiri.
"Kita akan bersama-sama mempelajarinya nanti," Sarjana Florence pun juga tertarik ikut dalam obrolan, "Jadi, nantikan saja saat waktunya tiba."
Para gadis cendekia membicarakan banyak hal. Sesekali mereka menggoda Anna atau Sarjana Florence yang sampai sekarang belum menikah juga. Padahal umur mereka sudah cukup tua.
__ADS_1
"Tidak, umurku masih 22 tahun. Tugasku saat ini adalah melindungi nona sampai dewasa," Anna berkilah, tapi dia memang jujur. Saat ini, tugas utamanya adalah melindungi Alice. Alice yang merasa dirinya disebut menoleh. Ia lalu mengomentari pernyataan Anna, "Padahal aku menanti saat-saat Kakak duduk di pelaminan. Jangan berpikir aku tidak tahu, sudah banyak orang yang berusaha mendekatimu, bukan."
"No... nona, apa yang Anda katakan?" Anna tersipu. Ia jadi teringat dengan para pria menyebalkan yang mengganggu hari-hari tenangnya sebagai dayang Putri Mahkota el Vierum. "Saya tidak akan menerima orang-orang kurang ajar seperti mereka."
"Bahkan para bangsawan?" Alice bertanya lagi dengan polos.
"Saya akan semakin menolaknya," tegas Anna. Ia berasal dari Saville yang bukan bagian dari Kerajaan el Vierum. Kebudayaan dan adat di sana berbeda. Jika memang ia harus menikah di kerajaan ini, maka ia akan memilih pria yang seajaran dengannya. Seperti di wilayah Marquis van Ryvat, County de Ernest, atau Ducy vi Alverio. Akan tetapi, sebisa mungkin ia ingin bersanding dengan orang-orang yang berasal dari kampung halamannya.
Pembicaraan terus berlanjut. Anna mengalihkannya ke keseharian Rosemary dan Akilla sebagai anggota OSIS di Akademi Kerajaan. Mereka bercerita panjang lebar. Tentang betapa sibuknya, alangkah lelahnya, sampai teramat menjengkelkannya diskusi yang berujung debat di kantor OSIS. Terutama dengan Ketua Swan. Pemuda berambut pirang itu adalah rival berat Rosemary.
Alice sudah tidak bergabung dalam obrolan itu. Ia menatap jendela yang tengah menyuguhkan pemandangan ladang gandum yang luas. Para petani yang tengah bekerja tampak menghentikan kegiatannya saat melihat rombongan Alice lewat. Mereka memberi hormat dengan menundukkan kepala atau menunduk. Anak-anak bahkan melambaikan tangan.
"Alice, langkah pertama kita telah dimulai," Aria yang sejak tadi berada di antara Alice dan Mainne berbicara. Suaranya lembut dan tenang. Gadis berambut perak itu punya aura yang hangat. "Perjalanan ini akan menjadi awal dari petualangan kita."
"Kamu benar," Alice menoleh, "Kita akan belajar banyak hal dalam perjalanan ini."
Mainne yang ada di samping Aria turut menyimak dengan khidmat. Ia yang sekarang juga menjadi bagian dari putri bangsawan masih tetap merendah seperti biasa. Mendengar perkataan Aria, ia jadi teringat dengan percakapan di menara.
"Aku akan terus berada di samping Putri Alice dan mencatat jurnal perjalanannya," batin Mainne. Seulas senyum terukir di wajahnya. Sejak menjadi bagian dari gadis cendekia, penelitian dalam pengolahan kertas semakin baik. Kertas-kertasnya sudah menjadi produk khusus Istana Mutiara sekarang. Pemakainya adalah orang-orang pemerintahan dan para bangsawan kelas tinggi.
Pada awalnya, Mainne berniat membuat kertas hanya untuk membaca. Ia tidak pernah membayangkan dapat menjadi orang kepercayaan Putri Mahkota el Vierum. Alice bahkan berjanji akan memberinya kunci kearsipan dan perpustakaan di masa depan. Itu artinya, ia akan menjadi bagian dari menteri yang berpengaruh dalam sistem pendidikan.
...***...
__ADS_1
Aula Tenung, Puncak Merana Penyihir
"Sampai sekarang, rencana kita tidak berjalan juga," Voxnus si Pemilik Menara Penyihir memandang langit yang gelap. Awan kehitaman menutupi langit malam. Bulan yang temaram pun tak kuasa menerangi malam.
"Mohon ampun, Penyihir Agung," seorang penyihir senior berlutut sambil gemetaran di belakang Voxnus. Kehadiran Pemilik Merana itu saja sudah mengintimidasi, apalagi dengan adanya raja serigala yang amat besar di sampingnya.
Serigala itu duduk dengan tatapan yang tajam. Ia tidak mengikuti perintah selain dari Voxnus. Ia bahkan sudah beberapa kali memakan penyihir yang dalam penglihatannya. Keberadaannya itu hanya diketahui segelintir ekskutif Menara Penyihir. Raja el Vierum sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Padahal konon katanya, Menara Penyihir amat setia pada Keluarga Kerajaan.
"Penangkapan monster sihir lebih sulit dari yang diduga," penyihir senior itu melaporkan seadanya. Setelah lepasnya kreebs dan binatang mutasi lainnya, Menara Penyihir harus fokus pada mereka. Jadi, rencana untuk penculikan gadis berdarah Keluarga Kerajaan tidak dapat dijalankan, "Nona Nana masih fokus menghadapi mereka. Tak lama lagi ia akan kembali untuk menghadap."
"Dasar tidak berguna!" Voxnus berbalik menatap penyihir senior itu. Ia sangat ingin mengorbankannya pada iblis, tapi penyihir senior itu masih memiliki sedikit guna jika dibandingkan dengan penyihir muda sebelumnya. "Pergi dari sini! Aku sudah muak mendengarmu."
Penyihir senior itu memberi salam. Di luar aula tenung, ia bernapas lega. Akan tetapi, kedua tangannya masih gemetaran saking takutnya.
"Dorothy, akhirnya Kamu datang juga," kata Voxnus sambil tetap memandang angkasa. Di belakangnya, kepulan asap hitam membumbung. Saat asap itu lenyap, seorang wanita berpakaian gelap muncul di sana. Ada burung hitam di pundaknya. Ia menyeringai dengan seram tanpa rasa takut pada Voxnus.
"Seperti biasa, Kamu orang yang kaku, Vox," wanita bernama Dorothy itu berjalan mendekat. Ia membelai surai raja serigala dengan berani. Serigala itu menggeram marah, tapi tak dapat bergerak karena Voxnus tidak mengizinkannya.
"Nenek Tua, Kamu pun tidak berubah. Muridmu sama merepotkannya seperti dirimu," Voxnus menyindir. Dorothy memang berpenampilan seperti wanita cantik, tapi sebenarnya ia adalah nenek-nenek berusia lebih dari setengah abad. Ia berseru membentak Voxnus, "Jaga mulutmu Muka Dua! Kamu hanya orang sok bijak yang menjilat kaki singa."
"Hah? Mulutmu masih saja beracun ya, Nenek Tua," kali ini Voxnus berpaling melihat sosok wanita yang cantik itu, "Kamu sungguh tidak tahu diri sedang berada di mana."
"Hm, Kamu pikir aku tidak dapat membunuhmu sekarang, hah? Dasar Serigala Bau!" ejek Dorothy. Ia saling beradu tatap dengan Voxnus. Di dunia penyihir, hanya ada sedikit orang yang mampu menyaingi Pemilik Menara Penyihir itu. Salah satunya adalah ia. "Kamu bahkan belum dapat menyelesaikan misimu sejak dulu."
__ADS_1
"Diam! Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi belasan tahun lalu. Putri sialan itu tiba-tiba menghilang," Voxnus marah mengingat kegagalan di masa lalu. Untung saja eksistensi Menata Penyihir dapat bertahan, "Malam itu adalah malam berdarah yang indah. Para penyihir terbaikku bahkan tidak kembali. Hanya tubuh-tubuh tak bernyawa mereka yang ditemukan. Aku masih curiga kabut itu Kamu yang mengirimkannya."
"Heh, omong kosongmu itu tak berhenti juga," Dorothy kesal karena dituduh sembarangan. Ia bahkan tidak berperan sama sekali dalam kasus hilangnya Putri Srikandi itu. Ia tidak ingin membayangkan ada sosok lain yang melahap sang putri.