
"An, apa Kamu tidak ikut dengan tuan putri ke wilayah barat?" tanya Solid menggoda. Ia mengusap keringat di dahinya. Mereka baru saja selesai latih tanding.
"Apa Kamu bodoh?" Antonio melotot tajam kakak tingkatnya, "Itu adalah perjalanan para gadis. Mana mungkin aku ikut?"
"Hah... senangnya. Mereka mendapat jatah libur lebih awal dari yang lain," Solid malah menunjukkan kecemburuan kecilnya. Ia menenggak air dari kantong yang dibawanya lalu bertanya, "An, apa Kamu tidak ada jatah perjalanan seperti itu? Seperti inspeksi mungkin. Tenang saja. Aku akan setia menemanimu seperti biasa."
"Ck! Niatmu terlalu kentara," ucap Antonio ketus, "Lebih baik aku mengajak Charles saat dapat jadwalnya nanti."
"Hai, padahal aku yang lebih hebat," Solid membanggakan diri. Charles yang kebetulan baru datang langsung menjitak kepalanya. "Siapa bilang Kamu yang lebih hebat?"
"Itu kenyataannya," seru Solid setelah mengaduh. Ia langsung berdiri untuk membalas. Charles pun mundur menghindar dan menghunuskan pedang.
"Kenyataannya, nilai akademikmu tidak pernah lebih baik dariku," Charles mulai membandingkan kelebihan mereka. Solid juga sudah menghunuskan pedang. Mereka siap bertanding.
"Cih, Kamu sekali pun tidak pernah menang dariku dalam bermain pedang," Solid menunjukkan sikap tegap seorang kesatria yang siap bertarung. "Dalam inspeksi, keselamatan Yang Mulia Pangeran adalah yang utama. Anak kutu buku sepertimu bisa apa, heh?"
"Apa Kamu pikun? Kamu pikir sudah berapa kali aku mengalahkanmu?" Charles mulai melesatkan serangan, "Aku ingat saat itu Kamu berlutut sambil tersengal-sengal."
"Itu karena kondisiku kurang prima," Solid beralasan. Ia menangkis serangan Charles dengan mudah. Fakta kalau ia adalah ahli pedang terbaik di generasinya memang tidak terbantahkan.
"Yah, Kamu juga mengatakan hal yang sama waktu itu," kali ini Charles menangkis serangan balasan Solid. Ia pun kembali menyerang. Pedangnya terayun ke pundak kesatria pelindung yang tak tahu sopan-santun itu.
Traang...! Traang...!
Suara benturan logam terdengar bersahut-sahutan. Entah sejak kapan mereka ada di tengah lapangan. Debu mengepul. Mereka saling memprovokasi satu sama lain.
__ADS_1
Antonio yang memperhatikan mereka dari pojok lapangan menghela napas. Ini selalu terjadi saat kedua pemuda itu bertemu. Mereka seperti air dan minyak yang tak mau bersatu, tapi juga seperti dua sisi uang logam yang tak dapat dipisahkan. Mereka sangat hebat saat bekerja sama.
"Yang Mulia Pangeran," panggil seorang pesuruh muda dari belakang. Antonio menoleh. Pesuruh itu menyampaikan panggilan ratu untuknya.
"Aku akan segera ke sana," ucap Antonio. Ia mengamati duel kedua rekannya sedikit lagi kemudian segera beranjak dari tempatnya. Ia bergumam, "Hah... mereka akan berhenti dengan sendirinya saat lelah."
Seperti biasa, ratu mengundang Antonio untuk ke Taman Bougainvillaea. Ia dengar Alice juga sudah menunggu di sana. Mungkinkah gadis itu hendak pamit?
Dalam perjalanan, Antonio melihat Charlotte berjalan bersama seorang gadis. Ia berniat menyapanya. Tangannya bahkan hampir melambai, tapi tiba-tiba ia menarik dan mengepalkannya. Ia khawatir gadis itu akan menghindarinya lagi.
"Kapan aku bisa berbaikan dengannya?" gumam Antonio sambil menatap tangannya yang mengepal. "Kuharap tak lama lagi."
Antonio pun kembali berjalan. Ia menuju ke Taman Baugenvillaea sambil terus merenungkan kesalahannya pada Charlotte. Ia berdecak. Percuma saja. Nihil. Hasilnya tidak ada. Ia benar-benar tidak mengerti gadis itu.
"Akhirnya Kamu tiba," sambut Ratu Clara senang. Alice yang ada di sampingnya berekspresi tenang. Ia menikmati teh yang ada di tangannya.
Kecanggungan menyeruak. Lagi-lagi, Antonio tak dapat berkata-kata di hadapan Alice. Ada rasa tidak nyaman dalam dirinya. Ia tidak tahu. Ratu Clara yang melihat tindak-tanduk putranya itu menatap tak suka. Ia seperti menyadari sesuatu.
"Mungkin Kamu sudah mendengarnya," pada akhirnya, Alice yang memulai pembicaraan. Ia menatap lurus Antonio. Pemuda bermata ruby itu sampai terkesima olehnya.
"Aku hanya ingin berpamitan. Besok aku akan ke wilayah barat bersama para gadis cendekia," Alice menjelaskan. Ia memejamkan mata lalu menyeruput lagi tehnya. Wajah tenangnya itu semakin membuat Antonio terpana, tapi ia mulai bisa menyambung pembicaraan sekarang, "Ya, aku sudah mendengarnya. Ke wilayah selatan? Apa Kamu akan mengunjungi nenek?"
"Hm," Alice mengangguk kecil saat membuka matanya, "Apa Kamu tertarik untuk ikut juga?"
"Uhuk!?" Antonio tersedak tehnya mendengar pertanyaan itu. Ini kedua kalinya ia ditanya demikian. Kali ini bahkan Alice langsung yang bertanya seakan memberi tawaran. Ratu Clara menatap putranya, penasaran dengan jawaban anak itu.
__ADS_1
"Kurasa tidak," Antonio spontan menjawab, "Ada yang harus kulakukan."
"Begitukah? Maka, aku tidak akan memaksa," Alice menaruh cangkirnya. Ratu Clara menghembuskan napasnya kecewa. Ia juga akan ikut jika putra semata wayangnya itu bergabung dengan perjalanan Alice. Sepertinya akan menyenangkan.
"Yah, ada banyak tugas juga dari akademi," Antonio menambah alasan. Ia sudah telanjur menolak dan memang tidak berniat untuk ikut. Kali ini Ratu Clara menatap si putra mahkota dengan curiga. Anak itu selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakan tugas. Sekarang ia malah menggunakan alasan itu untuk menolak ajakan Alice.
"Aku suka Kamu bekerja keras," Alice menunjukkan senyum yang jarang diperlihatkannya di luar Istana Mutiara. Itu adalah senyum tertulusnya pada Antonio. "Kudoakan Kamu bisa menjadi pemimpin yang hebat dan amanah di masa depan."
Antonio terdiam. Sesaat ia tidak dapat memikirkan apa pun. Ia jarang mendapat pujian dan doa yang setulus itu.
Sebagai putra mahkota, banyak orang yang berusaha mendekatinya. Mereka memuji-muji dan menyanjungnya. Ada rasa yang spesial memang. Akan tetapi, rasa itu tiba-tiba menjadi kosong tak lama kemudian.
Berbeda dengan apa yang gadis itu berikan. Kehangatan segera menyelimuti hati Antonio saat melihat senyumnya. Gadis itu jarang memberinya pujian. Lebih sering menegur malah. Akan tetapi, senyumannya tidak menyembunyikan motif apa pun selain kejujuran.
Saat Antonio tenggelam dalam pikirannya, Ratu Clara dan Alice saling berbincang mengenai perjalanan itu. Ratu Clara bahkan meminta buah tangan saat Alice pulang nanti. Dengan senang hati, Alice menerima permintaannya.
Tanpa terasa, waktu berlalu. Sudah waktunya Alice pulang. Sampai akhir, Antonio tidak dapat bergabung dalam obrolan. Ia hanya melihat keluwesan Alice saat berbincang dengan ibunya. Jelas sekali berbeda saat gadis itu bercakap dengannya. Itu membuat Antonio sadar bahwa ada tembok tebal antara Alice dengan dirinya.
"Aku pulang dulu, Bibi. Keselamatan ke atas Kalian," Alice berpamitan. Anna yang menunggunya di sisi lain taman pun datang. Sejak tadi, ia bercakap-cakap ria dengan para dayang ratu.
"Ibu, aku juga pergi dulu," Antonio bangkit dari kursinya. Ia keluar taman sendirian. Saat hendak kembali ke lapangan latih tanding, ia bertemu lagi dengan Charlotte. Kali ini, tatapan mereka saling bertemu.
Lagi-lagi, Charlotte segera memalingkan wajahnya dan beranjak pergi. Antonio yang tidak berbuat apa-apa menghembuskan napas. Rasa penasarannya semakin bertambah. Ia semakin tidak mengerti dengan gadis yang misterius itu.
"Padahal ia sangat sering keluar-masuk istana. Aku bahkan berteman dengannya," gumam Antonio kembali berjalan ke tempat tujuannya, "Tapi, ia semakin jauh seakan tak lagi mau bertemu denganku."
__ADS_1
"Lari lebih cepat lagi!" sebuah suara teriakan membuyarkan lamunan Antonio, "Apa begini generasi muda terbaik Kerajaan el Vierum, heh?"
Antonio mengenal pemilik suara itu. Ia melihat seorang pria berbadan kekar tengah berdiri di pinggir lapangan, sedangkan Solid dan Charles sedang berlari mengitari tempat latih tanding yang sudah berantakan itu. Hanya dengan melihatnya, Antonio paham. Kedua kakak tingkatnya itu pasti sudah membuat keributan.