Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Orang-Orang di Sisinya


__ADS_3

"Kamu sudah terbiasa dengan benda-benda ini, kan?" Nenek Rubia menunjukkan sebuah gelang perak. Alice mengangguk. Itu adalah gelang yang sering dipakai oleh Anna, tapi versinya sedikit berbeda.


"Milik Anna khusus untuknya dan milikmu khusus untukmu," Nenek Rubia memasangkan gelang itu ke lengan Alice. Ukurannya menyesuaikan lengan Putri Mahkota el Vierum itu. Data sidik jari, lensa mata, dan suara Alice telah dimasukkan ke gelang perak, jadi hanya Alice yang dapat menggunakan fungsinya.


"Ini hanya akan menjadi hiasan sederhana di tangan orang lain," jelas Marchioness Rubia, "Tapi, ini akan membantumu dalam berbagai hal."


"Perhitungan akutansi?" Alice menebak. Ia tahu fungsi kalkulator, tapi ia tidak membutuhkannya. Ia lebih suka menggunakan kecerdasannya langsung.


"Itu adalah fungsi paling dasarnya," Nenek Rubia tersenyum mengangguk, "Masih banyak yang lain. Kita bisa saling berkomunikasi dengan ini, menyimpan berbagai informasi penting, mengabadikan suatu kejadian, dan lain sebagainya."


Alice mengamati gelang perak yang kini terpasang di lengannya itu. Ketika ditekan pada titik tertentu, gelang itu akan melebar sehingga lebih mudah melepasnya.


"Fungsi terpentingnya adalah pelacakan. Kuharap Kamu tidak keberatan atau merasa terbebani dengan ini," Nenek Rubia meminta pengertian Alice, "Kami dapat tahu di mana pun Kamu berada selama Kamu menggunakan gelang ini. Kamu bisa mengirim sinyal bantuan kapan saja. Orang terdekat yang terpaut dengan dengan aplikasi kami akan datang menolongmu dengan izin Tuhan tentunya."


"Hm," Alice mengangguk. Ia tersenyum manis lalu memeluk Nenek Rubia. "Terima kasih, Nenek."


Nenek Rubia pun mengelus kepala cucunya lembut. Hatinya menghangat seakan suatu yang pernah hilang di masa lalu datang kembali. Kerinduannya meluap seperti ladang kering yang disiram hujan keberkahan. Ia sama sekali tidak ingin melepaskannya.


"Nenek," panggil Alice lirih. Terdengar nada penyesalan dan kesedihan di suaranya. Dalam pelukan neneknya itu, ia meneteskan air mata. "Maafkan Alice. Harusnya Alice sering datang sejak dulu."


"Nenek bisa mengerti kondisimu, Putri Mahkota," hibur Nenek Rubia. Ia melihat mata Alice yang tertutup dan berlinang air mata di pelukannya. Dengan menyebut Alice 'Putri Mahkota', ia mengingatkan tanggung jawabnya. Walau ia tidak ingin melepaskannya, ia juga tidak ingin mengekangnya. "Nenek tidak masalah dengan itu. Selama mendengar Kamu baik-baik saja, nenek pun baik-baik saja."


Alice terus terisak. Ia tidak menjawab lagi kata-kata neneknya. Ia ingin merasakan pelukan hangat ini sedikit lebih lama. Ia ingin merasakan belaian hangat seorang ibu yang sudah lama tak dirasakannya.


"Alice, nenek tidak melarangmu untuk mengambil ujian ketiga," Nenek Rubia memandang busur latihan putri kembarnya yang kini dipajang di ruang kerjanya, "Tunggulah sampai waktunya tiba. Jika Kamu dapat lulus, nenek akan memberimu senjata yang berbeda dari lainnya."


Alice masih tidak menjawab. Isakannya telah berhenti. Napasnya berhembus tenang. Air matanya selesai berlinang. Ia tertidur pulas di pelukan neneknya.

__ADS_1


Suara berdering terdengar di telinga Nenek Rubia. Antingnya bergetar perlahan. Ia pun segera menekan gelangnya dan seketika telepon tersambung.


"Nenek, kudengar dia datang ke kediaman?" suara seorang gadis muncul dari anting Nenek Rubia. Suara gadis itu terdengar bersemangat dan ceria, mirip-mirip dengan Aristia, tapi logatnya berbeda. "Bolehkah aku juga berkunjung?"


"Apakah sekolahmu sudah libur?" Nenek Rubia bertanya balik. Tangan masih sibuk mengelus-elus cucunya, Alice.


"Belum, tapi aku bisa minta izin, kan?" kali ini, nada gadis itu terdengar kecewa.


"Tidak boleh, Alicia" tegas Nenek Rubia membuat gadis di sebrang sana menghembuskan napas semakin kecewa.


"Aku hanya ingin bertemu dengannya," gadis yang dipanggil Alicia itu menawar, "Sebentar saja, Nenek. Hanya satu hari. Tidak akan berpengaruh apa pun pada nilai ulanganku."


"Tidak boleh, Sayang," ucap Nenek Rubia lembut, tapi mengandung ketegasan, "Nenek tutup telponnya, ya?"


"Tunggu!" tahan Alicia, "Setidaknya, sampaikan salamku padanya."


"Dia sedang tidur?" Alicia kembali antusias, "Foto dia dan berikan padaku!"


"Iya-iya," Nenek Rubia tidak keberatan, "Nenek tutup dulu, ya?"


"Ya!" suara Alicia terdengar riang. Ia pun mengucapkan doa salam perpisahan kemudian mengingatkan, "Kutunggu fotonya."


Telepon berhenti. Nenek Rubia pun memotret Alice sesuai janjinya. Gadis kecil itu amat ayu dan imut saat sedang tidur. Tidak ada aura kedewasaan yang memancar darinya seperti biasa. Ia terlihat jelas seperti anak gadis seumurannya.


"Nenek?" Alice terbangun begitu Nenek Rubia selesai memotretnya, tapi ia terlihat masih mengantuk. Mata berkadap-kedip menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk padanya.


"Kamu mendapat salam, Alice," Nenek Rubia langsung menunaikan amanahnya. Alice menatap heran masih dengan kondisi mengantuk.

__ADS_1


"Dari siapa?" tanyanya kemudian.


"Seorang yang sangat ingin bertemu denganmu," jawab Nenek Rubia. Sebelum ia sempat melanjutkan penjelasannya, Alice sudah kembali terlelap duluan. Nenek Rubia pun menggendongnya sampai ke kamar dan menurunkannya di kasur.


"Nenek, dia terlihat sangat lelah," ucap Akilla yang tadi bertemu dengan Nenek Rubia di tengah jalan lalu memutuskan untuk ikut, "Apakah ia akan sanggup menanggung semua bebannya?"


"Nenek lebih berharap ia lepas dari takdir itu," kata Nenek Rubia yang kemudian mengajak Akilla keluar dari kamar Alice, "Nenek tidak ingin dia bernasib seperti para putri terdahulu. Semoga dia tumbuh dengan baik sampai akhir hayatnya nanti."


"Nenek, dia akan bertahan, kan?" Akilla bertanya cemas. Kepalanya tertunduk saat berjalan. Telunjuknya memilin-milin ujung kerudung yang ia pakai. Ia benar-benar khawatir pada sepupunya itu.


"Dia pasti bisa," Nenek Rubia menjawab optimis, "Dia memiliki kita. Bukankah kita akan membantu dan mendukungnya?"


"Hm," Akilla menegakkan kepalanya kemudian mengangguk mantap. Ia pun mengeluarkan belati kembarnya dari pinggang dan menatapnya dengan tajam. Saat ini, ia sedang dalam pelatihan rahasia yang pernah dilalui Anna dulu. Ia tidak ingin kalah dengan Aria dan kawan-kawannya yang lain. Ia juga ingin melindungi sepupu kecilnya itu.


Rosemary akan mendukung Alice dalam birokrasi. Aristia akan mendukung Alice dalam diplomasi. Mainne akan mendukung Alice dalam pendidikan dan kebudayaan. Aria akan mendukung Alice dalam kemiliteran. Akilla pun bertekad untuk mendukung sepupunya dari balik bayangan dan pengumpulan informasi, walau sebenarnya ia akan berada di posisi yang sama dengan Rosemary nantinya.


"Kalian teman-teman yang baik," puji Nenek Rubia, "Alice tidak salah memilih Kalian. Dengan begitu, nenek tidak akan khawatir lagi untuk menitipkannya. Teruslah berjuang bersama dan jangan lupa bahwa Tuhan akan membersamai setiap langkah Kalian."


"Ya, saya akan mengingat pesan Nenek dan menyampaikannya pada teman-teman," Akilla memberikan hormat pada Nenek Rubia kemudian pamit.


Saat Akilla tidak lagi terlihat di hadapan Nenek Rubia, Anna datang dan menyampaikan sebuah surat. Itu adalah surat bercap lilin dari Derrick. Walau jaraknya paling jauh dari wilayah Duchy vi Alverio, surat itu paling pertama sampai ke tujuannya karena prioritas yang dimiliki Marchioness van Ryvat.


Wanita tua yang menjaga perbatasan paling barat Kerajaan el Vierum itu membuka surat yang ia terima di kantornya. Begitu selesai membaca, ia langsung membalasnya dan menyetujui proposal persiapan aliansi yang dibuat cucunya itu.


"Anna, sampaikan ini kepada Derrick segera," titah Marchioness van Ryvat, "Aku sudah lama ingin mengobrol akrab dengan cucuku yang kaku itu. Dia membuat kejutan-kejutan besar sama seperti adiknya. Selain itu, sudah lama sekali sejak kami terakhir bertemu. Dia selalu beralasan sibuk jika diundang kemari. Dasar anak laki-laki yang gila kerja. Workaholic."


Anna mendengarkan semua omelan Marchioness van Ryvat sampai selesai. Ia pun pamit dan segera meneruskan surat itu ke pos di Serikat Dagang Saville. Surat itu sampai kurang dari tiga hari kemudian.

__ADS_1


Derrick tidak kaget dengan kecepatan komunikasi itu menimbang hubungan neneknya dengan Serikat Dagang Saville. Itu justru sangat membantu. Ia pun segera bersiap. Kini, giliran dia yang menuju ke wilayah perbatasan barat Kerajaan el Vierum.


__ADS_2